
Ingin sekali aku mendatangi mereka, namun keberanian ini rasanya menciut saat melihat dengan jelas bahwa wanita yang bersama dengan tuan Arga jauh lebih cantik dariku, bahkan kecantikanku mungkin hanya seujung kukunya.
Kulit putih bersih terlihat mencolok meskipun dalam keadaan lampu yang remang-remang, rambutnya lurus sepinggang berwarna hitam dengan sedikit cat kemerahan di bagian ujung bawahnya, gaun putihnya begitu pas membalut tubuh ramping nan seksinya. Sungguh dia seperti bidadari kemalaman.
Aku memperhatikan mereka dari kejauhan, sepertinya mereka sedang begitu asik mengobrol, hingga tuan Arga sampai lupa kalau dia membawaku datang kemari. Wanita cantik itu beberapa kali menggoda tuan Arga, aku melihatnya beberapa kali mencubit pipi tuan Arga dengan gemas, sedangkan laki-laki yang di cubitnya bisa tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan si wanita.
Ada perasaan kecewa saat melihat kejadian memilukan seperti ini, meskipun kami memang menikah bukan karena perasaan cinta, setidaknya aku juga ingin di hargai sebagai seorang istri.
Kau mengajakku datang kesini hanya untuk melihatmu bersenda gurau dengan wanita lain, begitu maksudmu, Tuan?
Aku tidak cemburu, sungguh.
Tapi ada perasaan yang begitu tersakiti saat tidak di anggap ada, tidak di pedulikan, bahkan terlupakan keberadaannya.
Saat nafasku sudah naik turun menahan sesaknya dada, tiba-tiba aku melihat dengan jelas wanita itu bergelayut di leher tuan Arga dengan sangat manja, tuan Arga mencoba menepis tangannya, namun akhirnya dia kalah dan memilih pasrah di dekati wanita seksi itu.
Meskipun aku tidak mendengar apapun yang sedang mereka bicarakan, namun sudah terlihat sekilas raut wajah tuan Arga yang begitu bahagian bercengkrama dengan wanita itu.
Untuk apa aku ada disini?
Menonton adegan romantis suamiku dengan wanita bar? lebih baik aku pergi dari tempat ini sebelum emosiku naik ke ubun-ubun.
Aku kemudian berdiri dengan kasar dan menarik tas milikku, melangkahkan kakiku dengan cepat menjauhi sepasang manusia yang sepertinya sedang dimabuk asmara. Bermesra-mesraan di tempat umum, seperti tidak tau malu.
Untung saja kunci kamar tadi di letakkan di dalam tasku, jadi aku langsung bisa kembali ke kamar tanpa menunggu tuan Arga selesai dengan urusan bersama wanitanya.
Perasaan jengkel, kecewa, marah, semuanya bercampur jadi satu memenuhi dada. Bisa-bisanya tuan Arga bercanda mesra dengan wanita lain sedangkan aku di anggurkan duduk sendirian seperti orang hilang, dimana letak otak laki-laki itu.
Aku mengunci pintu kamar, lalu menuju dapur mini, membuka sebuah lemari pendingin dan mengambil beberapa potong roti dan selai nanas yang sudah tersedia, aku menyeduh segelas jumbo susu hangat. Mungkin kalau perutku ini kenyang, rasa kesalku akan hilang.
Jika sepulang dari tempat ini lalu timbangan berat badanku bergeser ke kanan, maka kau yang harus bertanggung jawab, tuan Arga. Ini semua salahmu, aku harus makan banyak untuk menghilangkan kegelisahan hatiku karena ulahmu. Pokoknya ini salahmu!
Aku membanting separuh roti yang masih tersisa dengan penuh emosi, sepertinya tuan Arga juga sukses menghilangkan nafsu makanku. Sialnya diriku karena terlalu percaya dengan laki-laki itu, ternyata dia bahkan memiliki wanita simpanan di belahan negara lain, bukan hanya nona Hana.
Aku kembali menuju ruang tempat tidur sambil membawa segelas susu hangat yang belum aku icipi sama sekali, lalu meletakkannya diatas meja dekat sofa panjang samping jendela.
Aku menghempaskan tubuhku dengan kasar diatas tempat tidur, mengatur pola nafasku agar stabil. Aku tidak mau punya penyakit hipertensi diumurku yang masih sangat muda ini, apalagi hanya gara-gara memikirkan suami yang tidak tahu diri itu.
Ting ... Ting ... Ting ...
Suara bel kamar berbunyi sangat nyaring, aku mendekati pintu, mengintip di lubang pintu yang tersedia untuk melihat siapa yang berdiri di sana.
Ah, ternyata tuan Arga, biarkan dia berdiri disana semalaman.
__ADS_1
Aku kembali menuju tempat tidur, membiarkan laki-laki itu menunggu di depan pintu.
Ting ... Ting ... Ting ....
Suara bel itu terus ditekan tak henti-hentinya, aku segera menutup telingaku dengan bantal.
Sukurin! tidur saja diluar, aku tidak akan membukakan pintu untukmu. Makiku dalam hati.
Beberapa menit kemudian bel itu berhenti ditekan, mungkin tuan Arga sudah menyerah dan memilih pergi dari tempat ini, mungkin dia akan menyewa kamar sendiri ataupun tidur di trotoar jalanan, aku tidak peduli. Sudah terlanjur sakit hatiku.
Apa jangan-jangan tuan Arga kembali ke wanita bar itu, lalu tidur sekamar dengannya?
Pikiranku segera meraba hal yang bukan-bukan, aku terlonjak mengambil kunci lalu membuka pintu dengan gugup.
Ceklek!
Aku melihat tuan Arga bersandar di kursi dekat pintu sambil memejamkan matanya.
Kau pasti sangat lelah usai bermesra-mesraan dengan wanita barmu itu, Tuan.
Aku kembali menutup pintu dengan keras tanpa menguncinya, lalu kembali ke tempat tidur dan mengubur seluruh tubuhku di bawah selimut.
Beberapa menit kemudian aku mendengar tuan Arga masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan pelan. Lalu dia duduk diujung tempat tidur.
"Kau sudah tidur?" tanyanya. Aku hanya diam pura-pura tuli.
Hah, kau mencariku? sudah jelas-jelas kau sedang asik bersama wanita itu, untuk apa kau mencariku lagi?
"Kau jangan pura-pura tidur, Sabrina. Aku tau kau mendengarku." Dia mencoba menarik selimut yang menutupi kepalaku, namun aku menahannya.
"Kenapa kau pergi, jawab!" Dia melantangkan suaranya.
Seharusnya aku yang marah, kenapa jadi kau yang marah sih.
"Saya ngantuk," ucapku sewot.
"Alasan, buktinya sampai sekarang kau masih belum tidur."
"Tadi ngantuk, sekarang sudah tidak lagi," lanjutku.
"Katakan, kenapa kau pergi begitu saja, aku sampai lelah mencarimu, merepotkan!"
"Kenapa tuan mencari saya? bukankah wanita bar itu sudah bersedia menemani tuan disana?" tanyaku dengan membuka sedikit selimut yang menutupi wajahku.
__ADS_1
"Wanita bar? siapa?"
Aku membuka seluruh selimut yang menutupi tubuhku, lalu beranjak duduk menatap wajah polos tuan Arga kali ini.
"Wanita bergaun putih seksi yang bergelayut mesra dilehermu, Tuan. Apa kau sudah hilang ingatan?" Aku menatap kedua netra coklat laki-laki itu dengan tatapan serius, baru kali ini aku berani melakukannya.
Namun laki-laki yang aku tuduh telah bermain di belakangku ini malah tertawa terbahak-bahak di hadapanku setelah mendengar apa yang baru saja aku katakan, bahkan dia sampai memegang perutnya karena tertawa terlalu keras.
"Kau cemburu?" Dia bertanya lalu melanjutkan tawa renyahnya seakan tak memiliki dosa.
"Siapa yang cemburu, saya tidak cemburu!" Aku mencebik, membuang muka.
"Wajahmu sudah memerah, akui saja kalau kau cemburu," ucapnya masih memegang perutnya sambil mengusap ujung mata yang berair.
"Hentikan tawa tidak berdosa itu, Tuan. Saya tidak cemburu!"
"Lalu kenapa kau marah sampai-sampai pergi dari bar itu tanpa berpamitan padaku?"
"Saya hanya kesal!"
"Kesal? karena melihatku dengan wanita cantik itu?"
"Tidak!"
"Lalu kenapa? katakan padaku." Dia lalu duduk mendekatiku.
"Siapa wanita itu, Tuan?" Aku memberanikan diri bertanya, sudah sesak rasanya dada dipenuhi kecurigaan yang belum tentu kebenarannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...