
Hari ini aku datang ke rumah sakit guna melakukan pemeriksaan rutin, aku begitu tidak sabar melihat kondisi bayi kecilku di dalam perut.
Usia kandunganku sudah memasuki bulan ke empat, gerakan-gerakan halus di dalam perutku sudah mulai terasa, mungkin bayi kecilku kini sudah mulai ingin bertingkah di dalam sana.
Hampir setiap pagi, suamiku selalu rutin memijat kakiku yang selalu kram setiap bangun tidur, aku sering tidak bisa berjalan karena kram yang datang tiba-tiba. Beruntung, suamiku selalu sigap tanggap saat aku membutuhkannya.
"Bagaimana, Dok?" tanyaku.
"Usia kandungannya sudah 15 minggu lebih 3 hari, Nona. Besarnya kira-kira sudah seukuran buah apel, beratnya mencapai 75 gram dengan panjang 10 sentimeter dari kepala sampai kaki," jelas dokter.
Sementara suamiku, ia fokus mendengarkan penjelasan dokter tanpa menyela sedikitpun. Aku tau, selama ini dia sudah mencari banyak informasi tentang kehamilan, dia sudah seperti perawat pribadiku yang siaga selama 24 jam.
"Di kehamilan trimester kedua, kebanyakan ibu hamil akan mengalami perubahan emosi yang naik turun, seperti cemas berlebihan, mudah marah, mudah tersinggung, atau bahkan stress."
"Aku harap, kau benar-benar sudah paham tentang hal ini, Ga. Berdebat dengan ibu hamil bukan solusi yang baik saat berbeda pendapat, diam dan mengalah adalah hal yang paling menguntungkan," lanjut dokter. Suamiku hanya mengangguk tanda mengerti sambil terus mengawasi layar monitor yang menampilkan penampakan bayi kami.
Tidak terasa, air mataku mengalir, aku menangis haru melihat bayi kecil tengah bersantai di dalam rahimku, tidak ku sangka, kini aku telah membawa satu permata indah dalam tubuhku.
"Kau bahagia?" tanya suamiku, kini ia membantuku bangun dari atas ranjang.
"Hati-hati," ujarnya seraya menuntun tubuhku kembali duduk di kursi.
"Apakah mual dan muntahmu sudah berkurang, Nona?" tanya dokter.
"Sudah, jauh lebih baik, Dok. Seminggu terakhir, aku hanya muntah empat kali, kalau cuma mual biasa memang masih sering terjadi setiap pagi," jawabku.
"Bagaimana dengan nafsu makanmu?"
"Meskipun tidak banyak, tapi aku berusaha makan sesering mungkin dalam porsi sedikit."
"Bagus, pertahankan usahamu ini, Nona. Jaga kesehatan, kurangi aktifitas fisik yang berlebihan, olahraga secukupnya, karena kau juga akan mudah lelah."
"Aku berikan obat penambah darah dan penambah nafsu makan, ini untuk mual muntahnya, tapi jika tidak berlebihan, tidak perlu di minum," lanjut dokter sambil menjelaskan fungsi-fungsi obat yang berjejer di atas meja.
"Kapan harus kembali?" tanya suamiku.
"USG bisa di lakukan tiga bulan sekali, dua bulan sekali, atau bahkan tiap bulan."
"Apa itu tidak menimbulkan resiko?"
"USG tidak menimbulkan resiko untuk ibu hamil, Ga. Yang beresiko itu melakukan rontgen saat hamil."
"Oh, baiklah. Bulan depan aku akan datang lagi," kata suamiku.
__ADS_1
"Siap, jika ada pertanyaan atau keluhan apapun, jangan sungkan-sungkan hubungi aku," ujar dokter tersenyum.
Setelah cukup lama kami berbincang, akhirnya aku mengajaknya untuk segera keluar dari ruangan dokter itu, karena pasien di belakang kami sudah banyak yang mengantre, namun saat ku tarik tangan laki-laki di sampingku itu, dia malah berbalik kembali menatap ke arah dokter.
"Emm, Ren. Boleh ku tanya sesuatu yang sedikit pribadi?" kata suamiku, ia berbicara dengan nada pelan sampai aku harus mendekat untuk mendengarkan percakapan mereka.
"Ada apa? katakan saja."
"Emm, bolehkah kami tetap melakukan hubungan itu?" tanyanya malu-malu.
Hah, kenapa harus menanyakan hal seperti itu sih?
Apa tidak ada pertanyaan lain?
"Tentu saja boleh. Dengan tempo yang lebih singkat dan jangan terlalu sering. Lakukan dengan hati-hati agar istrimu tetap merasa nyaman," jawab dokter sambil menahan senyum.
Lagi-lagi suamiku ini tidak punya malu sampai harus menanyakan hal itu secara terang-terangan kepada dokter. Padahal seharusnya kan kita bisa mencari jawaban itu dari internet, dasar!
Dengan rasa kesal aku menggandengnya keluar dari ruangan. Memang bukan aku yang bertanya, tapi entah mengapa rasanya aku juga yang kecipratan malunya.
"Honey, sepenting itukah sampai kau menanyakan perihal berhubungan badan pada dokter?" tanyaku kesal, ku monyongkan bibirku sambil meliriknya.
"Tentu saja itu penting, Sayang. Aku sudah berpuasa selama lebih dari tiga bulan lamanya, kau mau aku mati berdiri menunggu enam bulan lagi?" ujarnya dengan nada memelas seperti orang teraniaya.
Kemanapun kami pergi, bang Bimo yang selalu setia menjadi sopir yang siap sedia tatkala di butuhkan. Suamiku yang pencemburu itu mulai mengalah saat aku memintanya duduk manis di kursi belakang bersamaku, meskipun dengan berat hati ia menerima kehadiran bang Bimo dalam satu mobil bersama kami, namun ia tetap pasrah jika aku yang meminta.
"Kau mau jalan-jalan?" tanyanya.
"Boleh," jawabku senang, tentu saja menghabiskan waktu berbulan-bulan berdiam diri di rumah adalah hal yang sangat membosankan.
"Kita ke taman atau ke mall?" tanyanya.
"Terserah."
"Tidak ada jawaban terserah, ke taman atau ke mall?" Dia menegaskan.
"Baiklah, ke mall."
Dengan aba-aba yang di berikan suamiku, akhirnya bang Bimo membelokkan setir menuju tempat parkir mall besar di kota ini. Mall yang juga pernah ku kunjungi bersama Salimah beberapa bulan yang lalu.
Dengan berjalan santai, kami mengelilingi lantai dasar mall ini sesuka hati, bang Bimo hanya mengikuti kami sedikit lebih jauh, sedangkan laki-laki di sampingku ini tidak pernah sedetikpun melepaskan genggaman tangannya padaku.
"Kau ingin beli apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Melihat-lihat saja sudah membuatku senang, Honey," jawabku tersenyum sumringah.
Memang begitu, cuci mata bagi sebagian wanita tidak harus membeli dan memiliki, terkadang hanya dengan melihat-lihat saja sudah bisa menyenangkan hati.
"Baiklah, kita beli baju untukmu, persiapan jika nanti baju-baju di rumah sudah tidak muat," ujarnya sambil menggandeng tanganku menaiki eskalator.
"Hah, memangnya akan segendut apa aku sampai-sampai baju di rumah tidak muat?"
"Ya, untuk berjaga-jaga saja, Sayang. Lagipula aku akan senang jika kau memakai baju yang sedikit longgar, takut si kecil sesak nafas," ujarnya terkekeh.
Akhirnya kami memasuki toko besar yang menyediakan produk-produk kehamilan, seperti baju hamil, celana hamil, bantal, guling dan berbagai pernak pernik wanita hamil.
Suamiku mendorong troli besar di depan, sedangkan aku hanya mengekorinya saja. Aku memang tidak memiliki niat untuk membeli sesuatu, aku setuju hanya karena tidak ingin membuatnya marah.
"Yang ini bagus, motif bunga-bunga," ujarnya sambil merentangkan daster lucu di depan dadanya. Aku hanya mengangguk.
"Kita beli yang ini, ya, Sayang. Kau juga bisa tidur nyenyak kalau pakai ini." Dia memasukkan bantal guling yang di jahit menyatu untuk ibu hamil ke dalam troli.
"Bagaimana kalau ini?" satu pasang sandal bulu-bulu empuk berwarna abu juga tidak luput dari pandangannya.
"Untuk apa?" tanyaku heran, sudah ada lebih dari lima pasang sandal yang tersedia di kamar.
"Tentu saja untukmu, pakai sandal yang empuk dan nyaman juga penting agar kau tidak mudah lelah saat berjalan."
Aku menghembuskan nafas kasar, aku yang hamil, kenapa dia yang rempong.
Setelah lelah mengikutinya berkeliling, aku memutuskan untuk duduk menunggunya di sofa panjang dekat meja kasir dan membiarkannya memilih apapun yang dia inginkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...