TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
-


__ADS_3

Hari yang di rencanakan akhirnya tiba juga, kini Sabrina dan Arga dengan rela hati mempersiapkan acara lamaran Joe dan Claire, di hadiri oleh papa Arga dan keluarga besar Sabrina.


Berhubung Joe dan Claire adalah yatim piatu, maka semua acara di lakukan di rumah besar Arga.


Semua orang yang hadir mengenakan dress code baju putih, Sabrina tetap cantik meski kini perutnya semakin membesar karena kehamilan ketiganya, Chamomile kini sudah berusia 4 tahun, sedangkan adik laki-lakinya belum genap 3 tahun, sedangkan Sabrina sedang menanti kehadiran anak ketiganya.


Di ruangan tengah dengan cahaya paling terang, Joe dan Claire berdiri saling berhadapan.


"Claire, aku tau jika semua ini sudah sangat kadaluarsa, namun tidak ada kata terlambat dalam menyatakan cinta. Claire Genisha, maukah kamu menikah denganku?" Joe berlutut di depan Claire, ia menyodorkan cincin emas putih dengan butiran kristal.


Claire terharu, ia mencoba membendung tangisan yang hampir saja meledak karena bahagia. "Aku, menerimamu, Joe"


Dengan bahagia Claire menyambut tangan Joe, mereka saling bertukar cincin.


Semua penghuni rumah bertepuk tangan meriah melihat momen yang sangat mengesankan, tangis haru mewarnai acara sakral ini, tidak luput juga Sabrina, ia hampir membasahi jas putih suaminya karena terlalu bahagia.


Bagaimanapun, Sabrina dan Arga adalah saksi nyata tentang perjuangan Claire saat di campakkan begitu saja oleh Joe, dan perjuangan Joe saat di tinggal Claire bersama laki-laki lain.


Sungguh, cinta itu memang rumit. Sekuat apapun kau menggenggam, jika dia bukan jodohmu, maka akan terlepas juga.


Namun sekuat apapun kau mencoba menjauh, jika dia adalah jodoh yang di kirim Tuhan untukmu, maka kalian akan bertemu di pelaminan juga, tentunya sebagai seorang pengantin.


"Honey, lihat, mereka serasi, bukan?" ujar Sabrina haru.


"Sudah, jangan menangis, Sayang. Ingat, jagoan di dalam perutmu juga akan bersedih," jawab Arga sambil mengelus perut buncit Sabrina.


"Ini bukan sedih, aku bahagia, Honey. Akhirnya ...."

__ADS_1


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Pesta pernikahan di gelar dengan mewah, para tamu undangan berasal dari berbagai kalangan, kali ini Joe tampak sangat bahagia, begitu juga dengan Claire.


Keluarga ini semakin besar dengan hadirnya anak-anak yang membuat suasana semakin meriah dan ramai.


Safira tidak datang, ia memilih meneruskan kuliah S2 di negara tetangga, setelah mengetahui asal usul dirinya, dia mulai berubah, tulus ataupun tidak, namun itu membuat Sabrina cukup lega.


"Claire, selamat." Duhan datang sendirian dengan wajah ceria yang di buat-buat. Semua orang tau, di antara ratusan tamu undangan yang hadir, dia adalah laki-laki yang paling tersakiti hari ini.


"Duhan ...." Claire meraih lengan laki-laki itu, tersenyum ramah mencoba menguatkan.


"Tidak apa-apa, Claire. Aku bahagia atas pernikahan kalian, sungguh." Lagi-lagi Duhan menampakkan senyum palsunya.


Semua mata yang awalnya fokus pada panggung pengantin, seketika panik saat Sabrina jatuh tersungkur, ia mengalami kontraksi tiba-tiba yang hebat, dengan sigap Arga menelpon pihak rumah sakit untuk bersiap.


"Tenang, Sayang. Tahan," ujar Arga sambil menggendong iatrinya masuk ke dalam mobil.


"Joe! tunggu!" seru papa Arga.


"Kalian tetap di sini, acara pernikahan belum selesai. Arga pasti bisa menangani ini, aku akan menyusul mereka."


Joe dan Claire menurut, meskipun dengan perasaan cemas, mereka tetap menemani para tamu undangan yang belum tuntas menyaksikan pesta meriah yang di gelar.


Arga dan Sabrina sampai di rumah sakit dengan cepat, mereka langsung di sambut oleh tim medis.


Melalui pemeriksaan yang rumit, dokter menyarankan agar Sabrina melakukan operasi.

__ADS_1


"Maaf, Tuan Arga. Sepertinya nona tidak mungkin bisa melahirkan normal, kondisinya kritis, nona terlalu lemah," ungkap dokter wanita yang menangani Sabrina.


"Baik, baik. Lakukan yang terbaik, aku hanya ingin istri dan anakku selamat." Arga yang sangat panik dan ketakutan hanya pasrah dengan apapun saran dokter, yang terpenting baginya adalah keselamatan istri dan calon anaknya.


Ini adalah kali ketiga Arga menemani Sabrina melahirkan, namun rasa takut dan khawatir selalu sama menghantuinya.


Arga menemani Sabrina di dalam ruang oprasi, ia mengajak Sabrina untuk terus bercerita, meskipun dalam hatinya ia merasa sangat gelisah.


Suara tangisan bayi laki-laki memecahkan keheningan ruangan, ruangan dingin operasi yang tadinya hanya terdengar suara alat-alat operasi, kini menjadi riuh karena suara tangisan bayi yang melengking.


"Selamat, Nona. Bayinya laki-laki, sehat," ujar dokter sambil meletakkan bayi merah itu di atas dada Sabrina, mereka berdua tersenyum haru menyambut kehadiran anggota baru di keluarga ini.


Chamomile dan Charles sudah menunggu di luar ruang operasi, mereka tersenyum gembira mendengar kabar kelahiran adiknya.


Usai acara pernikahan rampung, Claire dan Joe langsung bergegas menuju rumah sakit tempat Sabrina melahirkan, mereka merelakan malam pertamanya tertunda demi bisa menjenguk Sabrina dan keponakan mereka yang baru lahir.


πŸ–€ENDπŸ–€


Author sudah menepati janji ya, cerita ini sudah berakhir.


Terimakasih semuanya ❀️❀️



(Sabrina)


Tolong jangan bully Sabrina yang gendut dan kriting πŸ˜‚

__ADS_1



(Arga)


__ADS_2