TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Libur dulu


__ADS_3

Mobil melaju pelan meninggalkan rumah besar milik papa, aku dan tuan Arga duduk di kursi belakang sambil berbincang-bincang tentang hal-hal yang kami temui sepanjang perjalanan, seperti sebuah sekolah SMA yang baru saja kami lewati, disitulah dulu tuan Arga menimba ilmu, memang bukan sekolah elite, karena saat itu ia sedang dalam kondisi kurang beruntung.


Namun ia masih merasa bersyukur karena bisa terus melanjutkan sekolah meskipun perekonomian mereka saat itu sedang sangat buruk.


Tuan Arga menceritakan tentang beberapa temannya yang tinggal di dekat sekolah itu, dia juga menunjukkan tempat dimana dulu dia pernah mengamen demi bisa jajan.


Ada rasa ngilu yang menjalar di dadaku, aku masih beruntung bisa merasakan hidup berkecukupan dari lahir sampai sekarang, meskipun setelah lulus sekolah aku lebih memilih mandiri, namun kedua orang tuaku tetap membantu jika aku kesulitan dalam keuangan.


Memutuskan untuk menerima perjodohan demi keselamatan bisnis ayahku memang terasa sangat berat di awal, namun lambat laun, aku merasa sangat beruntung karena perjodohan itu. Aku bersyukur karena sudah berjuang dan bertahan sejauh ini, setidaknya semua usahaku tidak pernah sia-sia. Aku mendapatkan seorang laki-laki yang begitu mencintaiku.


...


Perjalanan kami sudah memakan waktu lebih dari empat jam, karena aku meminta berhenti beberapa kali di sebuah pom bensin untuk buang air kecil, lalu sekali untuk istirahat makan di sebuah resto.


Setelah sampai di rumah, hari sudah hampir sore. Aku dan tuan Arga bergegas mandi secara bergantian dan membereskan barang-barang yang sudah kami bawa dari rumah papa, sebenarnya hanya baju-baju lama milik tuan Arga yang masih ingin dia kenakan kembali.


"Istirahatlah sebentar, Honey. Tidurlah, aku akan membangunkan mu di jam makan malam nanti," ujarku seraya mengelus rambutnya yang masih basah.


"Jika aku tidur, kau juga harus ikut tidur bersamaku," jawabnya lalu mencium punggung tangan kananku.


"Aku mau ke dapur sebentar, lagi pengen makan mie."


"Hmm, aku akan menunggumu."


"Tidak perlu, tidur saja, Honey."


"Baiklah kalau kau memaksa, bangunkan aku sebelum jam makan malam, ya."


"Siap."


Muach, ku kecup keningnya dengan manja, dia sangat menyukai jika aku melakukannya.


Tanpa menunggunya tertidur, aku langsung bergegas menuju dapur, meminta pada Salimah untuk memasak semangkok mie seperti biasa untukku.


Semangkok mie hangat tersaji di hadapanku, aromanya yang nikmat sudah sangat aku rindukan, taburan bawang goreng dan irisan cabai membuatnya terlihat sangat menggugah selera. Aku memakannya sambil duduk di taman samping, dan memastikan bahwa tanaman mawar favoritku masih dalam keadaan hidup dan terawat.


...


Setelah hari mulai malam, aku membangunkan tuan Arga dengan menghujani wajahnya dengan beberapa kecupan, lalu menggelitik area perutnya sesaat.


"Ah, kau selalu saja," ucap tuan Arga langsung menarik tubuhku lalu di dekapnya.


"Bangunlah, sebentar lagi waktunya makan malam."


"Hmm, lima menit lagi," ujarnya dengan malas.


"Tidak ada lima menit lima menitan, ayo bangun sekarang!" Ku tarik tangannya agar ia duduk


"Lima menit." Tuan Arga kembali menjatuhkan tubuhnya dengan kasar, sepertinya mata itu masih begitu berat menahan kantuk.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membawa makan malam kita kesini, lanjutkan tidurmu lima menit lagi," ujarku langsung turun dari kasur.


Tuan Arga tidak menanggapinya, namun aku bergegas menuju dapur dan mengatakan pada para pelayan untuk membawa hidangan makan malam ke dalam kamar.


Setelah aku sampai di kamar, tuan Arga baru saja keluar dari kamar mandi, sepertinya ia baru saja mencuci mukanya.


"Kau tidak mandi?" tanyaku melongo.


"Brrrrr, dingin. Besok saja," jawab tuan Arga sambil mempraktekkan badan gemetar kedinginan.


"Kau kan seharian baru mandi satu kali, Honey. Badanmu bau!"


"Kata siapa? aku tetap wangi." Tuan Arga mengangkat kedua lengan lalu mencium ketiaknya secara bergantian.


"Dasar jorok!"


"Kalau aku mandi, kedinginan, masuk angin, lalu sakit. Bagaimana?"


"Tapi kan ada air hangat, Honey."


"Tetap dingin, Sayang. Lagipula meskipun aku tidak mandi selama satu minggu, aku tetap tampan kok," ujarnya dengan rasa penuh percaya diri.


Ah, mulai sombong dia.


"Ya sudah terserah." Aku pasrah, tumben sekali laki-laki itu malas mandi.


Beberapa saat kemudian seorang pelayan datang membawa meja dorong dengan berbagai menu makan malam yang lumayan banyak.


"Kenapa koki di sini selalu memasak makanan yang banyak sekali, Honey," tanyaku penasaran, karena aku merasa setiap hari entah sarapan, makan siang, atau makan malam, semua menunya berbeda dan berbagai macam.


"Memangnya mereka masak hanya untuk kita? mereka juga memasak untuk semua pelayan di rumah ini, sopir, tukang kebun, satpam."


"Apa yang kita makan, harus sama dengan apa yang mereka makan. Aku tidak membandingkan makanan untukku atau untuk mereka," lanjut tuan Arga.


Wah, pantas saja para pelayan di rumah ini sangat betah bekerja di sini meskipun mempunyai majikan yang sangat menjengkelkan. Mereka mendapatkan fasilitas yang sangat baik.


"Hmm, baguslah kalau begitu, Honey."


"Aku membayar mereka dengan gaji sama bahkan melebihi gaji karyawan kantor. Jika tidak ada mereka, aku tidak tau bagaimana kondisi rumah sebesar ini," kata tuan Arga sambil melahap sepotong rendang.


Diam-diam tuan Arga juga merasa membutuhkan orang lain, aku kira laki-laki ini tidak butuh siapa-siapa, melihat kekuasaannya yang begitu besar.


Kami makan dengan lahap dan menghabiskan seluruh isi piring tanpa sisa, dua cangkir coklat hangat menjadi penutup menu makan malam kali ini.


"Malam ini, kita libur dulu, ya," ucapku memelas sambil berkedip beberapa kali padanya.


"Libur apa?" Dia bertanya dengan melirik tajam.


"Libur, itu ...."

__ADS_1


"Memangnya kenapa? ada yang sakit?" Wajahnya kini terlihat khawatir.


"Aku hanya lelah, Honey. Badanku terasa sangat sakit, di bagian itu masih terasa ngilu," ujarku.


"Apa aku terlalu kasar melakukannya?"


"Tidak, mungkin karena terlalu sering."


"Begitu, ya?"


Ya iyalah, kamu pikir aku ini mesin apa, yang bisa bertempur 24 jam non stop, aku juga punya titik lelah.


Ya, meskipun kegiatan itu memang sangat menyenangkan, tapi jika terlalu sering, maka badan rasanya seperti baru di pukuli orang sekampung, remuk!


"Baiklah, aku akan bertahan malam ini," ujar tuan Arga dengan wajah kecut.


"Ah, terimakasih, Honey. Kau memang yang terbaik." Aku berhambur memeluknya.


"Aku sudah menghubungi dokter Budi, dia bilang besok kita bisa cek kesehatan ke rumah sakit," kata tuan Arga mengelap mulutnya dengan tisu.


"Besok? kau bilang minggu depan."


"Lebih cepat lebih baik, Sayang."


"Tapi, besok aku mau ke butik."


"Kita ke rumah sakit siang, pagi kau bisa bekerja dulu."


"Baiklah."


Usai kami selesai makan dan menghabiskan secangkir coklat, tuan Arga memanggil pelayan untuk membereskan piring-piring dan sisa makanan yang belum termakan.


Ah, nikmat sekali. Akhirnya aku bisa tidur pulas dengan sangat tenang.


Ku rebahkan tubuhku di atas kasur sambil memainkan ponsel, beruntung sekali malam ini aku bisa tidur tanpa berolah raga terlebih dahulu.


Memang setelah melakukan pertempuran sengit, aku dan tuan Arga biasanya langsung bisa tertidur dengan pulas bahkan sampai bangun kesiangan. Aku sendiri sangat heran, mengapa setelah bertempur rasanya mata sangat berat dan lebih cepat tertidur?


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2