TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Di jemput sopir


__ADS_3

Pagi ini tuan Joe akan datang mengambil berkas-berkas yang sudah aku tanda tangani, semua berkas itu hanya berisi aturan-aturan pernikahan yang harus aku patuhi, semuanya terasa sangat mengekang setiap gerakanku, kalau bisa, dia akan menerbitkan peraturan baru, agar aku berhemat nafas disekitarnya, mungkin ini gila, tapi jelas dia bisa melakukannya, dia kan sama gilanya dengan boss-nya.


Ting! Bel berbunyi.


karena ibu dan bi Ijah sedang ke pasar, aku yang membukakan pintu.


"Selamat pagi, Nona." Tuan Joe sudah rapi sepagi ini.


"Selamat pagi tuan, silahkan duduk dulu, saya akan buatkan minum." Tawarku.


"Tidak perlu repot nona, kamarikan saja berkas yang sudah di tanda tangani, dan ini berkas peraturan baru untukmu, tentang jam kerja, hari dan hal-hal yang harus kau jaga saat bekerja tanpa pengawasan boss."


"Baiklah, saya akan ambilkan berkasnya dulu di kamar."


Aku bergegas masuk kamar mengambil yang diperlukan, dan kembali secepat kilat.


"Ini tuan." aku menyodorkan berkas ke meja di depannya.


"Hahaha, kau benar-benar menyetujui semua ini nona? nyalimu ternyata besar juga."


Kenapa dia tertawa begitu sih, tawanya sedikit manakutiku.


"Saya akan berusaha mematuhi semua aturan ini, Tuan." Aku mencoba meyakinkan.


"Yakin sekali dirimu, Nona." Dia menatapku sinis.


"Saya memang orang yang percaya diri." Aku menjawab sambil menahan malu.


"Baiklah, nanti malam aku akan menjemputmu untuk bertemu dengan boss, jangan lupa untuk pelajari semua peraturan baru tentang pekerjaanmu, aku pergi dulu," lanjutnya.


"Nanti malam?" aku terkejut.


"Tahun depan!"


"Memangnya ada apa sampai mengundang saya datang kepadanya?"


"Bukan urusanku, turuti saja perintahnya, kau bilang tadi akan memenuhi semua peraturan itu, nyatanya kau terus saja membantah."


"Eh, bukan maksud saya seperti itu, Tuan." Mendadak aku takut.


"Kau hanya perlu patuh, Nona, jangan membantah!"


"Baik, baik, saya mengerti, Tuan."


"Aku pergi dulu, bersiaplah untuk nanti malam, aku tidak akan mau menunggumu lama-lama hanya untuk berdandan."


"Baik, Tuan."


Aku mengantarkannya sampai ke teras depan rumah.


Laki-laki ini sama persis dengan boss-nya, bedanya hanya dia bersikap normal saat membahas hal lain selain tentang sang boss, tapi saat sudah memasuki pembicaraan serius tentang sang majikan, dia tidak kalah menakutkan, kalau boss-nya menakutkan karena sikap diamnya, laki-laki ini menakutkan karena ucapannya, berjodoh sekali mereka! Huh.

__ADS_1


Kring! ponselku berdering.


Ternyata itu pesan dari Riani, aku sudah memberitahukan dia tentang semua tugas-tugas butik dan beberapa pertemuan dengan clien, semuanya dia yang mengurus, aku sangat mempercayainya, dari awal, dia sudah tau bagaimana aku merintis usaha ini dari benar-benar nol.


[Saa, kapan kau akan ke butik?]


[Belum tau, mungkin beberapa hari lagi, Ri]


[Kau sakit? aku akan datang menjengukmu]


[Eh nggak usah, aku sedang sibuk di rumah, aku baik-bik saja]


[Aku kira kau sakit, yasudah, jaga kesehatanmu Saa, aku akan mengurus semua pekerjaan dengan baik]


[Aku percaya padamu, jangan pulang terlalu sore ya, santai saja, terus kabari aku perkembangan penjualan kita]


[Siap boss]


Aku menutup ponselku, membiarkannya tergeletak diatas meja, berganti mengambil berkas yang tadi diberikan tuan Joe, aku penasaran dengan isinya. Aku membaca semuanya dengan sangat teliti, dia benar-benar detile menuliskan semua peraturan ini, ternyata tidak terlalu rumit, aku pasti bisa menjalaninya tanpa kesalahan, aku percaya diri.


...


Malam ini aku sudah bersiap, aku sudah mengatakan pada ibu dan ayah kalau malam ini tuan Joe akan menjemputku untuk bertemu dengan boss-nya.


Aku memakai gaun biru tanpa lengan dengan hiasan mutiara dibagian pinggangnya, sedikit memoleskan make up dan menata rambutku serapi mungkin.


Apa yang aku lakukan? berdandan seperti ini untuk membuatnya jatuh hati padaku? bahkan pertemuan makan malam kemarinpun laki-laki itu tidak peduli dengan penampilanku, hanya melirik sekilas, sepertinya dia sama sekali tidak tertarik padaku.


"Sudah, Bu."


"Cantik sekali, tuan Arga akan sangat senang melihatmu dengan dandanan cantik seperti ini." Puji ibu.


"Jangan berlebihan, Bu." Aku tersenyum malu-malu.


"Tuan Joe sudah menunggu dibawah."


"Baiklah, ayo kita turun, Bu." Ibu menggandeng tanganku dengan tersenyum sambil menuruni anak tangga.


Aku gugup sekali, ada apa dia menyuruhku datang padanya, seharusnya kan dia yang datang kesini, dia itu laki-laki, sudah seharusnya mendatangi sang wanita yang akan dinikahi. Ah... situasi kali ini kan beda. Aku ini hanya remahan peyek, jangan berharap diistimewakan.


"Kau cantik sekali malam ini, Nona" Dia tersenyum hangat.


"Terimakasih," ucapku pelan sambil menganggukkan kepala.


"Mari kita pergi sekarang, boss sudah menunggumu," lanjutnya.


Aku hanya mengangguk dengan pipi yang sudah merah merona menahan malu atas pujiannya. Aku kemudian pamit pada ayah dan ibu dan bergegas pergi.


...


Di dalam mobil, tuan Joe hanya diam saja, dia hanya manggut-manggut mendengarkan suara musik yang diputar di tape mobil ini.

__ADS_1


"Tuan, kita mau kemana?" aku memberanikan diri bertanya.


"Tentu saja bertemu calon suamimu, Nona."


"Maksudku, ke restoran atau cafe atau rumahnya?"


"Nanti juga kau akan tau."


"Mengapa dia meminta untuk bertemu dan menyuruh anda repot-repot menjemput saya?"


"Mungkin kau akan dimakannya, Hahahaha." Dia tertawa lebar, menakutkan.


"Boleh saya bertanya?" aku kembali mencari topik.


"Silahkan, apa saja pertanyaanmu asal jangan bertanya alasan diriku setampan ini, Hahaha."


"Anda ni percaya diri sekali tuan." Aku merasa aneh dengan manusia ini.


"Biarkan saja, memang aku ini tampan, akui saja." Dia masih cengengesan.


"Anda ini bekerja sebagai apa atau siapanya tuan Arga?" tanyaku penasaran.


"Aku cuma sopir, Nona."


"Apakah Anda sudah lama mengenal tuan Arga, kenapa dia jutek begitu? kenapa dia angkuh? kenapa terlihat sombong sekali?" aku mendaratkan pertanyaan bertubi-tubi.


"Kau akan memiliki banyak masalah jika tak pandai mengatur bibir kecilmu itu, Nona." Dia menyeringai.


"Memangnya kenapa dengan bibir saya?" seketika aku mengeluarkan kaca kecil dari dalam tas yang sedang aku letakkan diatas pahaku, dan berkaca.


"Hahaha, maksudku, kau akan banyak masalah jika terlalu banyak bicara, boss tidak menyukai orang cerewet sepertimu, cukup berbicara seperlunya, jangan banyak bertanya, cukup diam dan tersenyum, itu saja, itu akan membuat umurmu lebih panjang," jelasnya.


Aku malu sekali, aku pikir salah memakai lipstik sampai dia bilang kalau bibirku menimbulkan masalah. Aku menyudahi obrolan ini dan mengalihkan pandangan keluar, memperhatikan lalu lalang kendaraan yang ramai sepanjang jalan, memikirkan alasan mengapa tuan Arga menyuruh sopirnya menjemputku.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa klik Like dan beri komentar ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2