TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Rumah Papa


__ADS_3

Ini adalah pagi yang direncanakan untuk berkunjung ke rumah papa mertuaku, entah ada kepentingan apa sehingga tuan Arga mengajakku datang kesana. Meskipun dia terlihat lesu dan tidak bersemangat untuk berkemas, namun dia tidak merubah keputusannya untuk pergi.


"Sudah siap?" tanya tuan Arga saat aku merapikan beberapa alat make up di meja rias, rencananya ini akan aku bawa, karena kami akan berada di rumah papa selama beberapa hari.


"Sebentar lagi, apakah semua pakaianku sudah di masukkan koper?" tanyaku.


"Sudah."


"Tidak ada yang tertinggal?"


"Tidak, semuanya sudah aku cek," kata tuan Arga, sejenak dia duduk di tepian kasur lalu kembali berdiri, "Eh ada yang belum," lanjutnya lalu kembali memasuki ruang ganti.


Beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawa sebuah lingerie hitam favoritnya, dia selalu suka jika aku memakainya, bahkan tidak pernah absen untuk merasakan apa yang ada di dalamnya.


Usai berkemas dan merapikan barang-barang, aku dan Arga turun lebih dulu, sedangkan koper di tinggal di dalam kamar, akan ada pelayan yang membantu membawanya. Inilah nikmatnya menjadi permaisuri sang raja, apapun di layani dan di sediakan.


Di ruang tamu, tuan Joe sudah berdiri dengan bersandar di tembok sambil memainkan ponselnya, dia memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya saat melihat kedatangan kami.


"Aku menyerahkan semuanya padamu, Joe. Mungkin aku akan pergi selama tiga atau empat hari," ujar tuan Arga.


"Siap, Boss. Aku akan mengurus perusahaan dengan baik, selama ini semuanya berjalan normal dan lancar, kau jangan khawatir," jawab tuan Joe meyakinkan.


Entah mengapa, meskipun aku sudah mengetahui kebenaran tentang tuan Joe, tapi tidak sekalipun aku melihat api kecemburuan di matanya saat melihatku bermesraan dengan tuan Arga. Sebaik itukah dia menyembunyikan sebuah perasaan? pandai sekali.


Bang Bimo kini sudah berdiri di samping mobil dan menyambutku dengan senyum yang begitu ramah, dia membantu pelayan memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.


"Sudah ku bilang, jangan sekali-kali membuka pintu mobil untuk istriku saat ada aku!" teriak tuan Arga sambil menepis tangan bang Bimo yang sudah memegang pintu.


"Baik, Tuan. Maafkan atas kekhilafan saya," ujar bang Bimo ketakutan, belum apa-apa, di sudah kena semprot.


Aku dan tuan Arga duduk di kursi belakang sambil saling berpegangan tangan, ku sandarkan kepalaku di bahunya, kini laki-laki itu membelai rambutku dan mencium pucuk kepalaku.


Mungkin perjalanan akan memakan waktu lebih dari tiga jam, namun tak apa, asalkan ada tuan Arga yang menemani di sampingku, pasti ini tidak akan membosankan.


"Hai sopir! jangan melirik istriku dari spion itu," sentak tuan Arga. Kelihatannya bang Bimo memang diam-diam memperhatikan kami dari spion yang berada di atas kepalanya. Aku menyadari, siapapun pasti penasaran dengan kegiatan yang di lakukan sepasang suami istri dalam diam di kursi belakang.


"Saya tidak meliriknya tuan, saya hanya melihat ke arah belakang mobil kita," ucap bang Bimo beralasan.


"Alasan! sekali lagi aku melihatmu mencuri-curi pandang pada istriku, aku pastikan akan mencongkel bola matamu!" hardik tuan Arga.


Kejam sekali kata-katamu, tuan. Tidak bisakah kau bicara lebih lembut pada orang lain, padahal baru beberapa hari lalu dia berjanji akan bersikap baik pada bang Bimo, sekarang dia mulai lagi.


"Ini peringatan untukmu, kau paham?"


"Paham, Tuan. Saya sangat paham, maafkan saya," ujar bang Bimo terbata-bata. Sekarang pasti dia sedang gemetar dan ketakutan. Aku tidak ingin membelanya dan ikut berdebat, karena sudah pasti tuan Arga yang maha benar ini tidak akan pernah terbantahkan, percuma aku bicara.


Setelah dua jam perjalanan, kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan makan di sebuah resto sederhana yang unik, letaknya yang berada di dekat jalan raya namun berdiri di atas sawah membuat suasananya sangat asri dan nyaman.


Tidak ada kursi di resto ini, semua pengunjung bisa makan dengan lesehan, hanya ada meja setinggi tiga puluh centimeter yang berjejer-jejer rapi mengelilingi ruangan terbuka, sambil makan, disini bisa menikmati pemandangan hamparan sawah luas yang di tumbuhi padi yang sudah merunduk dan menguning, terlihat beberapa petani di ujung sana sedang melakukan pemotongan padi, atau sedang memanen.


Perjalanan kami meninggalkan kota, memasuki sebuah daerah yang padat penduduk dengan mayoritas petani. Aku tidak tau dimana papa mertuaku tinggal, karena setiap ku tanya tuan Arga, dia hanya mengangkat bahu, lalu mengatakan bahwa ini akan jadi kejutan.


Usai makan dan berselonjor kaki, kami kembali melanjutkan perjalanan, perut yang kenyang dan badan yang lelah, membuatku merasa ngantuk, aku memilih menyandarkan kembali kepalaku di bahu tuan Arga, melilitkan lenganku di perutnya sambil memejamkan mata.

__ADS_1


"Tidurlah, jika sudah sampai, aku akan membangunkanmu," ucapnya mengelus rambutku.


"Apakah masih lama?"


"Mungkin satu jam kalau jalanan lancar."


"Baiklah, aku tidur sebentar, Honey."


...


Entah sudah berapa lama aku tertidur, namun saat terbangun tiba-tiba, aku menyadari mobil sudah berhenti dan terparkir di halaman rumah besar bercat.


"Kita sudah sampai?" tanyaku sambil mengucek mata.


"Sudah, setengah jam yang lalu," jawab tuan Arga memijat bahu yang sudah ku pinjam untuk bersandar, pasti rasanya sangat kram menahan berat kepalaku berjam-jam.


"Kenapa tidak membangunkan aku, Honey?"


"Tidurmu sangat nyenyak, aku tidak tega."


"Ya sudah, ayo turun," ajakku. Aku merapikan pakaian dan rambutku terlebih dahulu, lalu memakai sepatu heels yang ku lepas saat akan tidur tadi.


Tuan Arga dengan sigap membantu membuka pintu mobil yang berada di sampingku, sedangkan bang Bimo sedang duduk di teras rumah sambil memainkan ponselnya.


"Ayo masuk," ujar tuan Arga menggandeng tanganku.


Bang Bimo yang duduk kini berdiri sambil tersenyum ke arah kami.


"Jangan tersenyum pada istriku!" sergah tuan Arga, lagi-lagi dia mencari masalah, menyebalkan.


"Baik, Tuan." Hanya kata itu yang keluar dari mulut bang Bimo, kali ini wajah laki-laki itu berubah datar tanpa ekspresi.


"Kenapa dia tidak boleh tersenyum padaku, Honey. Senyum adalah ibadah," ujarku menatapnya heran.


"Aku tidak mau nantinya kau tergoda dengan senyumannya," jawabnya melirikku tajam. Rasanya aku ingin tertawa terpingkal-pingkal atau ingin jungkir balik mendengar alasannya tidak memperbolehkan bang Bimo tersenyum.


"Kau pemilik senyum paling indah dan menggoda, mana mungkin aku tertarik dengan senyuman yang lain," ujarku sambil bergelayut manja di lehernya.


"Jangan membual."


"Aku serius," ujarku tersenyum menampakkan barisan gigiku yang rapi.


"Kau serius?" tanya tuan Arga memastikan.


"Tidak, aku hanya menggoda. Hehehe." Aku sedikit tertawa melihat ekspresi wajahnya yang menggemaskan, kali ini ku cubit kedua pipinya yang sedikit mengembang.


Kami berjalan memasuki teras, rumah ini tidak sebesar rumah milik tuan Arga, bangunan dua lantai dengan design minimalis membuatnya terlihat sederhana namun indah. Di halamannya terdapat taman bunga berbagai jenis, dari tanaman gantung sampai bunga dahlia dan bunga anggrek, ada sebuah kolam kecil sebagai tempat tanaman air tumbuh.


"Ini rumah papa?" tanyaku pada tuan Arga.


"Tentu saja, mana mungkin aku mengajakmu ke rumah tetangga," candanya.


Saat pintu terbuka, seorang pelayan laki-laki berlari tergopoh-gopoh menghampiri kami, dia menunduk hormat sembari tersenyum ramah.

__ADS_1


"Selamat datang, Tuan muda," ujarnya menunduk.


"Selamat datang juga, Nona."


"Papa di rumah?" tanya tuan Arga tanpa basa basi.


"Tuan besar sedang keluar sebentar, ada keperluan mendesak yang sedang beliau selesaikan. Silahkan masuk," kata pelayan itu.


"Kamar untuk tuan muda dan nona sudah kami siapkan," lanjutnya. Kini dia berjalan mendahului kami untuk menunjukkan tempat beristirahat.


Rumah yang terlihat sederhana di luar kini sangat berbeda dengan keadaannya di dalam, ruang tamu yang luas dengan ornamen-ornamen hiasan dinding yang sangat mewah, beberapa patung kaca berukuran besar bertengger di sudut ruangan.


Rumah yang cantik dan terawat, entah berapa banyak pelayan yang bekerja disini, mungkin sama banyaknya dengan yang bekerja di rumah tuan Arga.


Kami memasuki kamar yang tertata rapi dengan aroma bunga yang segar, tempat tidurnya cukup besar, terdapat juga meja rias yang sederhana dengan ukiran kayu jati yang khas. Tidak ada ruang ganti seperti yang ada di kamar kami di rumah, tapi di sediakan lemari kaca berukuran cukup besar untuk menampung pakaian ganti yang telah kami bawa.


"Apakah ini kamarmu dulu, Honey?" tanyaku duduk di tepi kasur.


"Ini kamar tamu, kamarku yang dulu sudah tidak terpakai," ujarnya ikut duduk bersamaku.


"Kenapa? aku ingin melihat kamarmu."


"Tidak usah, kamar itu sudah seperti gudang, banyak barang-barang tidak terpakai yang aku letakkan disana."


"Hmm, baiklah kalau begitu, aku ingin ganti baju sebentar," ujarku lalu beranjak untuk mengambil pakaian ganti di dalam koper.


"Ganti disini saja, tidak perlu ke kamar mandi."


"Tidak mau, aku malu."


"Malu, kau malu pada siapa sayang?" tanya tuan Arga tersenyum.


Iya ya, aku malu pada siapa, bukankah laki-laki itu sudah mengetahui semua lekuk tubuhku, tidak sejengkal pun dia lewatkan untuk di nikmati.


"Kemarilah, aku akan membantumu membuka baju," ujarnya menarik paksa tanganku.


Tarikan yang tiba-tiba membuatku terhuyung jatuh di pelukannya, membuat dada ini berdesir menatap kedua netra coklatnya.


Perasaan aneh selalu saja muncul saat kami bersitatap dan saling memeluk, jantungku selalu berdetak cepat merasakan rengkuhan yang menggetarkan jiwa, kini ku lihat mata laki-laki itu sudah penuh dengan hasratnya yang menggelora, keinginannya yang mulai menguasai dirinya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2