
Sebuah lagu ia dengarkan melalui ponsel pintarnya. Lagu yang mungkin sedang mewakilkan perasaannya saat ini, aku masih berdiri mematung di belakangnya.
Tak 'ku mengerti mengapa begini
Waktu dulu 'ku tak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dariku
Pergi tinggalkanku
Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari kata hatiku saja
Tapi mengapa cinta datang terlambat
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dariku
Pergi tinggalkanku.
Lirik lagu itu begitu menyentuh, tidak terasa air mataku lolos begitu saja, aku mencoba menahan isak yang mulai menguasai diriku.
Ku pegang bahu tuan Arga dengan lembut dari arah belakang, laki-laki itu menoleh seketika, matanya merah dan masih terlihat basah, berkantung hitam, wajahnya begitu pucat.
"Sa, Sabrina," ucapnya terbata-bata.
Dia berdiri lalu memeluk tubuhku erat, aku menumpahkan tangisku di dadanya, aku begitu rindu, aku begitu egois meninggalkannya sendiri.
"Aku tau kau pasti akan pulang, aku tidak pernah putus asa mencarimu."
"Duniaku hampir runtuh karena kehilanganmu, aku begitu takut, aku takut kau tak kembali, maafkan aku, maafkan aku," ucapnya sambil mendekap tubuhku erat.
Tangisku semakin pecah, aroma tubuh laki-laki ini begitu ku rindukan, hangat pelukannya sangat aku nantikan. Aku tidak bisa berkata-kata saat ini, aku hanya ingin meluapkan rasa rindu ini dalam pelukannya.
"Kau kemana saja, Sayang. Aku takut kau pergi terlalu jauh, aku takut kau meninggalkanku selamanya."
"Maafkan aku yang tidak pernah memahami perasaanmu, maafkan aku karena terlambat menyadari arti kehadiranmu, kau begitu berarti untukku."
"Berjanjilah, kau tidak akan pernah pergi lagi."
Bibirnya terus mengucapkan kalimat-kalimat maaf, air matanya jatuh membasahi punggungku, aku merasakan pelukannya begitu kuat, bahunya berguncang, dia menangis memelukku.
Aku membiarkan laki-laki ini meluapkan segala perasaannya, ku balas pelukannya dengan lembut sampai dia sedikit tenang.
__ADS_1
"Duduklah, Sayang," ucapnya memintaku duduk di sofa, sedangkan dia berjongkok di depanku.
Aku hanya menurut dan terus diam, tapi air mataku jatuh menetes tanpa henti, bahkan tidak ada kata-kata yang bisa ku ungkapkan saat ini.
"Kau merindukanku," tanyanya menatap mataku. Aku mengangguk. Lalu dia mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke seluruh area wajahku.
Dia menggenggam kedua tanganku, "Aku mencintaimu, berjanjilah untuk tetap tinggal," ujarnya dengan mata sembab, kali ini laki-laki gagah yang selalu aku kagumi terlihat begitu rapuh.
"Cinta itu mengukir bahagia, bukan memahat luka," kataku lirih.
"Aku akan membangun kebahagiaan kita, kita akan memulai semuanya dari awal, aku akan berusaha menyembuhkan luka yang pernah aku torehkan," jawabnya menciumi kedua punggung tanganku.
"Aku tidak perlu mengatakan pada dunia bahwa aku mencintaimu, yang paling penting, cinta itu tumbuh bersama dalam hati kita, karena sejatinya cinta itu dalam hati, tak berbentuk. Tapi ketika melihatmu, aku tau bahwa cinta itu adalah dirimu," lanjutnya.
"Terimakasih telah kembali, aku hampir mati memikirkanmu." Dia kembali memelukku.
Sampai berjam-jam lamanya, laki-laki itu terus menatapku, memelukku, menciumi diriku dengan penuh kerinduan.
Kalimat-kalimat maaf selalu terlontar dari mulutnya, dia terlihat begitu rapuh. Wajah yang biasanya ku pandang segar dan selalu terawat, kini tampak kusam dengan rambut-rambut halus yang entah sejak kapan ia biarkan tumbuh begitu saja. Dia berantakan, seolah enggan merawat dirinya.
"Aku akan mandi sebentar," kataku, karena tubuhku mulai gerah setelah perjalanan jauh selama seharian penuh.
"Kau tidak akan pergi jauh lagi? kau hanya mandi kan?" tanyanya penuh penekanan.
"Iya, aku hanya perlu mandi sebentar untuk membersihkan diri." jawabku tersenyum, lalu dia kembali memeluk tubuhku erat, seakan aku akan pergi jauh lagi.
"Aku takut jauh darimu." Dia masih enggan melepaskan pelukannya.
"Baiklah, berjanjilah kau hanya pergi untuk mandi, jangan terlalu jauh dan terlalu lama," katanya memohon sekali lagi.
"Baiklah, aku berjanji, hanya lima menit."
Laki-laki itu melepaskan pelukannya dengan sangat terpaksa, dia duduk di tepi kasur sambil melihatku berjalan menuju kamar mandi.
Sikapnya memang aneh, kamar mandi ini terletak di depan mata, tapi tuan Arga seakan begitu takut aku menjauh.
Setelah hampir sepuluh menit berlalu, aku keluar dari kamar mandi, begitu terkejutnya diriku saat sosok tuan Arga duduk berselonjor di lantai tepat di depan pintu kamar mandi.
"Honey, kenapa kau duduk disini?" tanyaku sambil membantunya berdiri.
"Aku menunggumu, kenapa kau begitu lama pergi," ujarnya dengan mata mengembun. Seketika ku peluk tubuhnya, membuatnya agar lebih tenang.
Aku merasakan ada hal-hal janggal yang terjadi pada tuan Arga.
Sebaiknya besok aku menemui Joe, sepertinya tuan Arga tidak sedang baik-baik saja, aku takut. Apa yang telah terjadi padanya mungkin karena kesalahanku.
Setelah tuan Arga tenang, aku mengajaknya menuju ruang ganti, dia menungguku berganti pakaian.
Tok ... Tok ... Tok ....
Suara pintu di ketuk membuat kami berdua bergegas menuju arah sumber suara, tuan Arga membukanya, sedangkan aku berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Seorang pelayan laki-laki datang dengan meja dorong membawa semangkok mie berukuran jumbo dengan dua cangkir coklat hangat.
Aroma sedap mie rebus dengan kuah yang tidak terlalu banyak membuat aku lapar, taburan bawang goreng dan irisan cabai membuatnya semakin menggugah selera, dua buah telur rebus di potong menjadi bentuk bunga menambah keistimewaan tersendiri.
"Terimakasih," ujar tuan Arga pada pelayan itu sambil tersenyum ramah. Ini adalah pertama kalinya tuan Arga bersikap begitu ramah pada seorang pelayan, biasanya dia hanya cuek dan terkesan dingin, tidak peduli.
"Ayo kita makan," ajaknya menggandeng tanganku sesaat setelah pintu kamar kembali tertutup.
"Aku tau ini menu favoritmu, aku selalu meminta pelayan untuk membuat mie setiap hari, berjaga-jaga jika kau pulang," ujarnya menatapku.
"Terimakasih, sekarang aku sudah pulang." Aku tersenyum membingkai wajah sayu itu dengan kedua telapak tanganku. Mata laki-laki itu berkaca-kaca, dia kemudian mencium lembut keningku.
"Berjanjilah untuk tidak pernah pergi, ini adalah yang pertama dan terakhir. Aku bisa mati memikirkanmu," ucapnya memeluk tubuhku dengan erat.
Setelahnya, kami memakan semangkok mie berdua dengan saling menyuapi, tatapan mata laki-laki itu tidak pernah sesaat pun teralih dengan lain hal, dia selalu menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.
Kali ini aku menyadari, bahwa dalam hal kehilangan ini, bukan hanya aku yang merasakan sakit, tentu saja tuan Arga juga sama sepertiku, namun karena keegoisanku, membuat diri ini lupa untuk melihat isi hatinya lebih jauh. Aku begitu menyesal telah meninggalkannya.
...
Usai mengisi perut, aku dan tuan Arga merebahkan tubuh kami berdua di atas kasur empuk saksi bisu berseminya benih-benih cinta kami selama ini, hanya saja kami tidak pernah menyadari itu.
Biarlah cinta ini terlambat, daripada tidak sama sekali.
"Aku mencintaimu, Sa," bisiknya di telingaku. Aku tersenyum menatap kedua netra coklatnya. Tangannya menyelipkan anak rambut yang menjuntai menutupi pipiku ke belakang telinga.
"Kau sangat cantik," lanjutnya.
"Benarkah?"
"Kau bersenang-senang di luar sana?"
Kau berpikir aku bersenang-senang saat meninggalkanmu yang bersedih?
Itu jelas tidak mungkin, mustahil. Bahkan aku tidak pernah sedikitpun bisa menghilangkan bayanganmu sedetikpun dari pikiranku saat itu, aku juga sama terlukanya sepertimu.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...