
Padahal aku berharap malam ini kami libur bertempur dulu, semalam saja cukup untuk mengistirahatkan badan yang sudah hampir remuk ini. Namun gara-gara perdebatan tentang sate kambing, tuan Arga tidak bisa lagi di tolak, dia terus merayu dan menggodaku sampai dapat.
Pasrah, adalah hal yang sudah biasa aku lakukan demi memenuhi keinginannya.
Usai pertempuran tamat, kami kembali terbuai dalam mimpi indah masing-masing, dia masih dalam posisi memeluk tubuhku.
...
Pagi ini aku terbangun sebelum sang surya menampakkan sinarnya, aku sudah beberapa kali terbangun semalaman, gelisah. Entah apa yang membuatku gelisah sampai sulit untuk tidur dengan nyenyak.
Pikiranku melayang-layang pada nasib papa, laki-laki yang usianya sudah semakin senja itu hidup sendirian di rumah ini, meskipun banyak pelayan yang berada satu atap dengannya, namun mereka hanya orang lain, bukan keluarga papa.
Ku arahkan pandanganku pada tuan Arga yang masih tidur dengan nyenyak, lengan kekarnya masih merangkul di perutku, bahkan bibirnya ia tempelkan di pundak ku, karena aku memang tidur terlentang dari semalam.
Mengusap rambutnya dengan lembut, meraba setiap inci wajahnya, terakhir mengusap bibirnya yang basah.
Bersamanya setiap hari selama 24 jam tidak serta merta membuatku bosan mengagumi ketampanannya.
"Cium aku!" desah tuan Arga, wajahnya semakin di dekatkan.
"Muach" Satu kecupan mendarat di bibirnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting," bisiknya, kini bibir itu ia tempelkan di dekat leherku, aku bisa merasakan dengan jelas nafas hangatnya.
"Hmm, aku hanya kasihan pada papa, ia menjalani masa tua sendirian di rumah sebesar ini."
"Itu sudah menjadi keinginannya, jika sudah begitu, kita bisa apa," jawab tuan Arga pasrah.
"Memangnya kau tidak bisa membujuknya untuk tinggal bersama kita?"
"Tidak mungkin, aku mengenal papaku lebih baik dari siapapun. Terlalu banyak kenangan yang akan sulit ia tinggalkan tentang rumah ini, Sa. Kau tidak akan paham."
"Hmm." Aku menghela nafas. Memang benar, aku melihat begitu banyak cinta yang papa curahkan kepada mendiang istrinya, mana mungkin ia meninggalkan rumah bersejarah saksi bisu kisah cinta mereka.
"Ini adalah rumah yang papa hadiahkan saat hari pernikahan mereka, puluhan tahun yang lalu, meskipun sudah beberapa kali mengalami tahap renovasi, tapi semua yang di ubah hanya atas keinginan mama."
"Tentu saja sebelum ia pergi meninggalkan kami dengan begitu kejamnya," lanjut tuan Arga.
Baiklah, cukup. Aku tidak ingin lagi membahas masalah itu sebelum tuan Arga kembali kehilangan kewarasannya, sudah cukup aku tau tentang hal ini, aku tidak ingin lagi menyelam lebih dalam.
"Kita mandi, yuk. Setelah itu sarapan," ajakku mengalihkan pembicaraan, sambil menepuk pipi kanannya pelan.
"Mandi bersama?"
"Boleh, tapi dengan satu syarat," ujarku menunjukkan satu jari telunjuk di depan wajahnya.
"Apa syaratnya?"
"Tanpa adegan yang iya-iya, setuju?"
__ADS_1
"Tidak mau! lima menit yang iya-iya."
"Tidak ada lima menit bahkan lima detik, mandi, hanya mandi," ucapku tegas.
"Pelit!"
"Biar saja aku pelit, yang penting cantik!"
"Dasar pelit!" ejeknya lagi. Aku menggeser tubuh dan segera meraih handuk untuk menutupi tubuhku yang tak berbusana ini.
"Kau mau mandi bersama atau tidak, Honey?" tanyaku lagi, dia masih diam sambil pura-pura tidur.
"Baiklah, aku mandi sendiri."
"Tunggu, lima menit. Aku masih ngantuk, Sa."
"Tidak ada lima menit, cepat atau aku akan berubah pikiran." Aku mengancam.
Dengan mata yang masih sedikit merem dan tubuh yang oleng, laki-laki itu turun dari tempat tidur, dia berjalan dengan kaki yang di seret seperti robot kehabisan baterai, sedangkan aku berdiri menunggu di dekat pintu dalam kamar mandi.
Saat ia sampai di depan bak mandi, aku langsung menyiram kakinya dengan air dingin.
Brrrrr!
Udara disini memang sangat dingin, air yang di simpan di bak mandi juga ikut menjadi air es, tentu saja tuan Arga terkejut dan langsung membuka bola matanya penuh sambil meraba bulu-bulu halus di kulitnya yang berdiri tegak karena dingin.
"Jangan mengagetkanku, kau tidak hanya membuat bulu kuduku berdiri, tapi kau juga membuat senjataku berdiri," ujarnya melirikku, lalu berjalan menyalakan air hangat untuk mengisi bath up.
"Berendamlah disini, tubuhmu pasti lelah karena sering melayaniku," ujar tuan Arga menunjuk bath up yang terisi setengahnya.
"Ah, kau pengertian sekali, Honey," pujiku seraya menceburkan diri di dalamnya. Dia mencium keningku dengan lembut lalu berjalan menuju shower untuk membersihkan dirinya sendiri.
Usai kami selesai mandi, aku dan tuan Arga bergegas merapikan semua pakaian dan barang-barang yang akan kami bawa kembali pulang ke kota, terutama lukisan yang tidak akan ketinggalan. Lukisan itu sudah di bungkus dengan koran untuk menutupi gambar yang tidak pantas di lihat khalayak umum, hanya untuk kami pribadi.
"Sudah semua?" tanyaku saat menyerahkan baju terakhir yang harus di masukkan ke dalam koper.
"Sepertinya sudah. Ayo kita sarapan, papa pasti sudah menunggu," ajak tuan Arga.
Kami bergegas keluar dari kamar, lalu mendapati papa sedang duduk santai membaca koran di ruang tengah.
"Pa, yuk sarapan," ajakku.
"Ah, iya. Papa sedang menunggu kalian," jawab papa langsung berdiri dan berjalan menuju meja makan bersama kami.
"Oh ya, kalian akan kembali pagi ini?" tanya papa.
"Iya, Pa. Lain kali kami akan berkunjung lagi," jawab tuan Arga.
"Baiklah kalau begitu."
__ADS_1
Setelah sampai di meja makan, semua makanan sudah terhidang di atas meja, aku dengan sigap langsung mengambilkan nasi dan lauk pilihan yang di sukai tuan Arga, tidak lupa aku juga mengambilkannya untuk papa.
"Oh ya, apakah Sabrina sudah melakukan cek kesehatan pasca keguguran, Ga?" tanya papa. Ku lihat raut wajah tuan Arga berubah bingung, ia tak bisa menjawab pertanyaan papa.
"Emm, anu ...." Tuan Arga menggaruk kepalanya.
"Kenapa? anu kenapa?" sergah papa seakan tidak sabar mendengar jawaban tuan Arga.
"Sabrina belum sempat cek kesehatan lagi, Pa. Rencananya masih minggu depan setelah pulang dari sini, karena beberapa waktu lalu kami masih merasa sangat kehilangan, jadi tidak terpikirkan untuk mengunjungi dokter," jawabku.
"Oh begitu. Ya sudah, kamu hubungi dokter Budi, Ga. Biar dia yang akan mencari dokter kandungan terbaik untuk istrimu."
"Baik, Pa. Arga memang sudah merencanakannya."
Sepertinya papa memang tidak mengetahui kepergianku selama satu bulan lebih itu pasca keguguran, karena ia sama sekali tidak pernah membahasnya. Mungkin tuan Arga tidak ingin papanya terlalu khawatir.
Acara sarapan pagi ini terasa lebih hangat dengan obrolan-obrolan tuan Arga dan papa yang terlihat mulai membaik.
...
"Jangan lupa memberi kabar kalau sudah sampai," ujar papa mengantarkan kami ke depan pintu utama. Aku mengangguk.
Tuan Arga dan bang Bimo sedang membereskan barang bawaan kami untuk di masukkan ke dalam bagasi belakang.
"Kami pamit dulu, Pa," pamit tuan Arga menghampiriku setelah beres dengan pekerjaannya.
"Hati-hati di jalan, Nak." Aku dan tuan Arga bergantian mencium punggung tangan papa.
Kali ini bang Bimo terlihat sangat paham, ia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi tanpa menyapaku ataupun membantu membuka pintu.
Ah, kejadian beberapa hari lalu pasti membuatnya takut dan kapok. Memang, tuan Arga ini sangat keterlaluan, ia bahkan sangat sensitif dan berlebihan.
Terkadang aku merasa senang karena sikap tuan Arga yang menampakkan perhatiannya padaku di depan umum, tidak hanya saat kami sedang berduaan. Tapi di sisi lain, sifatnya yang over protective membuatku serba salah di hadapan orang-orang di sekitarku.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...