TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Butik baru


__ADS_3

Matahari nampaknya masih malu-malu menampakkan sinarnya, udara sejuk dari luar masuk melalui celah-celah ventilasi udara, aku meregangkan tubuhku yang sudah siap untuk beraktifitas kembali seperti biasa.


Sejak kepergianku pasca keguguran, dan sejak kembalinya aku ke rumah ini, aku lebih sering menghabiskan waktu di rumah menemani suamiku tercinta, hanya sesekali datang ke butik untuk melihat-lihat dan mengecek laporan keuangan butik.


Aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan laki-laki tampan yang masih terbuai dalam mimpi indahnya.


Keluar dari kamar mandi, aku sudah melihat tuan Arga duduk di tepi ranjang, ia sedang sibuk dengan ponselnya.


"Selamat pagi, Honey." Ku cium bibir laki-laki itu, aku bahkan sudah sangat terbiasa lebih agresif dari dia.


"Hai, Sayang. Selamat pagi, kau buru-buru sekali jam segini sudah mandi," ujarnya meletakkan ponsel kembali di atas meja.


"Aku mau ke butik lebih pagi, Honey. Aku sedang banyak pekerjaan," kataku sambil mengusap rambut basahku dengan handuk kecil.


"Kita akan berangkat bersama, jam 8."


"Kenapa harus jam 8, Honey. Jam 7 saja, atau setengah 8."


"Baiklah, setengah 8, aku akan mandi, setelah itu kita sarapan," ujarnya bergegas menyambar handuk miliknya di samping pintu kamar mandi.


Sambil menunggunya mandi, aku berdandan sedikit dan menyiapkan pakaian untuknya. Hari ini memang aku harus bertemu dengan seorang calon pengantin yang butuh design gaun terbaru dan yang paling unik, jadi dia meminta untuk bertemu langsung denganku.


Usai laki-laki itu siap dengan pakaian rapi, aku mengajaknya segera menuju meja makan agar tidak sampai berangkat terlalu siang.


Sarapan di lakukan dengan sangat cepat, sesuai perkiraan, kami berangkat bersama pukul setengah 8 tepat.


Tuan Arga membantuku membuka pintu mobil, dan dia langsung kembali duduk ke kursi kemudi. Sedangkan bang Bimo di belakang kami dengan mengendarai mobil sendiri.


"Kenapa tumben sekali kau mengajakku berangkat bersama, Honey?" tanyaku penasaran, karena sejak pertama kali menikah, laki-laki itu sama sekali tidak pernah menawarkan diri untuk mengajakku berangkat bersama meskipun tujuan kami satu arah.


"Tidak apa-apa," jawabnya cuek.


"Lalu, untuk apa aku punya sopir jika kau masih mengantarku, seharusnya bang Bimo saja yang menyetir, apa bedanya dengan dia mengikuti di belakang kita," ujarku sedikit kesal. Buang-buan bensin saja menggunakan dua mobil dengan satu tujuan.


"Oksigen di dalam mobil ini hanya cukup untuk kita berdua, kalau dia ikut disini, maka dia bisa mati," jawab tuan Arga santai.


Hah, alasan macam apa itu.


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Karena kau hanya boleh berbagi udara denganku, aku tidak suka ada laki-laki lain yang berada dalam satu ruangan denganmu," ujar tuan Arga melirikku, lalu kembali fokus ke jalanan. Aku mendengus kesal.


Ada-ada saja pikiran laki-laki itu, kenapa dia bisa jadi segila ini sih, semakin hari sikapnya semakin tidak masuk akal, menyebalkan.


Karena perasaan dongkol luar biasa, aku tidak lagi bertanya atau mengajaknya bicara, malas sekali jika harus membicarakan hal-hal yang aneh menurutku.


Eh, bukannya butikku sudah terlewat, ya. Kenapa sampai kesini? Batinku.


Aku clingak-clinguk memperhatikan jalanan sekitar, seharusnya aku sudah sampai, dan butikku terletak sebelum lampu merah ini, tuan Arga sengaja diam saja mengemudikan mobil ini tanpa bersuara.

__ADS_1


"Honey, bukankah butikku sudah terlewat? ini terlalu jauh," ujarku cemas, kenapa sekarang dia malah berbelok menuju jalan arah ke kantornya.


"Butikmu? Hahaha, bukankah kau hanya menyewanya?"


Hah, bagaimana dia bisa tau kalau butik itu hanya ku sewa?


"Eh, tapi kan aku membayar sewa, jadi otomatis butik itu adalah milikku sementara, Honey." Aku beralasan.


"Aku sudah lama tau tentang itu, kenapa kau tidak jujur padaku, Sa?"


"Emm, aku ...."


"Kau takut aku mengejekmu karena tidak mampu membeli sepetak ruang kerja sendiri?"


"Eh, bukan begitu, Honey."


"Lalu kenapa?"


"Aku berniat membeli ruko itu dengan hasil tabunganku sendiri setelah masa sewa tahun ini telah usai, mungkin tinggal satu bulan lagi," ujarku.


"Uang tabunganmu sudah cukup?"


"Cukup, mungkin.


Hah, belum cukup padahal, masih kurang beberapa juta lagi, dan aku bingung harus mendapatkannya dari mana, karena bulan ini adalah bulan bonus untuk para karyawanku, jadi aku juga punya tanggungan yang sangat banyak.


"Masa sewa rukomu sudah lewat, ini adalah hari terakhir sesuai kesepakatan yang kau buat," ujarnya membuatku terkejut.


Ya Tuhan, benar. Ini adalah hari terakhir masa sewa ruko itu, kenapa aku bisa lupa, dan kenapa pemilik ruko tidak menghubungiku?


"Kau tau dari mana, Honey?"


"Tidak ada hal yang tidak aku ketahui, Sayang."


Terserah! kau memang sok tau.


"Lalu, kita akan kemana?" tanyaku dengan wajah pucat, aku begitu bingung saat ini, bagaimana nasib Riani dan teman-temanku, pasti mereka sangat bingung karena tempat kerjanya sudah bukan milikku lagi.


"Rahasia." Tuan Arga membelokkan mobilnya ke sebuah ruko dua lantai berukuran besar yang lebih mirip seperti sebuah butik modern.


Kesan mewah sudah terlihat dari luar, warna cat putih yang berkolaborasi dengan warna emas membuat tempat ini sangat elegan. Tanaman bunga-bunga di susun rapi menghiasi terasnya, terdapat dua kursi besi dengan satu meja bundar terletak di samping pintu.


Pintu kaca dengan hiasan lampu warna warni di atasnya sangat menarik, bagian depan tempat ini memang full kaca transparan, namun semuanya masih di tutup dengan tirai berwarna kuning keemasan.


"Tempat ini masih tutup, Honey, kau mau apa?" tanyaku, karena aku tidak mengerti kenapa dia membawaku datang kesini.


"Bukan tutup, hanya saja belum di buka."


"Sama saja!" Ku pukul pelan bahunya. Dia hanya membalas dengan senyuman yang sangat manis, membuatku meleleh bagai bongkahan es di kutub utara.

__ADS_1


"Ayo turun," ajaknya, ia lalu bergegas membukakan pintu untukku. Dan ternyata bang Bimo sudah berdiri di belakang mobil.


"Tapi tempat ini masih tutup," kataku.


"Sudah, ayo masuk." Tuan Arga menggandeng lenganku, lalu membuka dengan pelan pintu kaca yang tergantung tanda Close di dalamnya.


"Taraaaaaaa, kejutan!" ujar Riani dan beberapa teman karyawanku secara serentak, ternyata mereka sudah berkumpul di tempat ini. Aku begitu terkejut, bingung dengan semua ini.


"Loh, kalian semua kenapa ada disini?" tanyaku sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.


"Ini butik milikmu, Sayang," ujar tuan Arga berbisik di telingaku, kini ia sudah memelukku dari arah belakang.


"Tempat ini? milikku?" tanyaku memastikan jika aku tidak salah dengar.


"Ini hadiah untukmu," lanjut tuan Arga.


"Apa aku sedang tidak bermimpi? hadiah apa maksudnya, Honey?" Aku membalikkan badan, menatap netra coklat laki-laki di hadapanku yang kini berbinar.


"Ini sebagai hadiah pernikahan kita, bukankah selama kita menikah aku tidak pernah memberimu hadiah apapun?" ujarnya meletakkan kedua tangan di pinggangku.


"Ah, terimakasih, Honey. Kau memang yang terbaik." Aku meloncat kegirangan lalu memeluknya, ku hujani wajah laki-laki itu dengan banyak ciuman.


"Aku mencintaimu, Sa."


"Aku juga." Ku rekatkan kembali dua bibir kami dengan lembut, sebelum terdengar suara benda jatuh dari arah belakang.


Seketika aku berbalik, menyadari semua orang melihat aksi romantis yang sejak tadi aku dan suamiku lakukan. Sedangkan benda yang baru saja jatuh itu adalah sebuah pensil, yang mungkin sengaja di jatuhkan oleh Riani. Aku bahkan lupa jika beberapa pasang mata memperhatikan kami.


Wajahku bersemu merah mirip kepiting rebus, aku melihat semua orang di ruangan ini kini menatapku dengan menahan senyum. Memalukan sekali tingkahku.


"Aku akan ke kantor dulu, jam sebelas siang kita akan ke rumah sakit, jadi bersiaplah," pamit tuan Arga sekaligus mengingatkan.


"Baiklah, Honey. Terimakasih banyak," ujarku masih dengan perasaan bahagia tak terkira.


Sebelum laki-laki itu berbalik dan pergi, ia tidak lupa memberikan satu kecupan hangat di keningku, membuatku benar-benar menahan malu.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2