
Aku memasukkan nomor yang tertara di bawah nama Duhan ke dalam daftar kontak di ponselku, ini adalah kartu tanda pengenalnya, ternyata sekarang dia menjabat sebagai direktur bank Nasional milik negara, jabatannya tertulis jelas di kartu ini.
Aku menatap nanar langit-langit kamar, mengelus kasur yang kosong di sampingku, lalu mengalihkan pandangan pada sofa panjang tempat favorit aku dan tuan Arga duduk.
Ah, sepertinya aku merindukan laki-laki menyebalkan itu. Gumamku tersenyum sendiri.
Ingin sekali rasanya menanyakan kabar laki-laki itu, tapi aku bahkan tidak tau harus menghubunginya lewat apa, meskipun pernikahan kami berjalan hampir lima bulan lamanya, tapi tidak sekalipun laki-laki itu menanyakan nomor ponselku.
Sakit kepalaku mulai kambuh, aku berjalan menuju meja rias sambil memijat pelipisku sendiri, ku buka laci paling atas, mencari obat sakit kepala yang kemarin Salimah berikan padaku
Aku mengambil sebuah tablet berisi beberapa kapsul, namun mataku terhenti melihat sebuah alat tes kehamilan terpampang nyata di dalam laci itu, tepat di samping obat yang aku cari.
Bagaimana jika aku melakukan tes kehamilan saja, mungkin ini bisa menjawab teka-teki yang membuatku merasa sangat aneh pada diriku sendiri.
Lama aku terduduk mematung melihat alat itu, sampai niatku benar-benar terkumpul.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Masuk," ucapku sedikit berteriak. Aku menoleh ke arah pintu yang mulai terbuka.
"Nona," ucap Salimah tersenyum sambil membawa nampan.
"Ini, coklat hangat kesukaan nona." Dia mendekatiku sambil meletakkan coklat hangat di atas meja dekat tempat tidur.
"Wah, terimakasih banyak, Salimah."
"Maafkan sikap pengawal yang sudah membuatmu kesal, Nona. Kami semua di sini berusaha menjalankan perintah tuan Arga dengan baik," ujar Salimah menunduk.
"Tidak apa-apa, Salimah." Aku tersenyum menatapnya, memang sikap para pengawal itu sangat berlebihan bahkan memalukan, tapi aku memakluminya. Mereka sedikit gila seperti itu karena majikannya juga gila, jadi hal yang lumrah jika mereka cepat tertular, sepertiku juga.
"Saya permisi dulu, Nona." Salimah beranjak pergi, sesaat sebelum dia menutup kembali pintu kamarku dengan rapat, aku kembali memanggilnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Salimah kembali mendekat.
"Bolehkan aku bertanya sesuatu?"
"Silahkan." Salimah mengangguk.
"Emm, apakah wanita yang mengkonsumsi pil kontrasepsi masih bisa hamil?" tanyaku ragu.
"Tentu saja bisa, Nona."
"Bukankah pil itu bisa menghambat kehamilan?"
__ADS_1
"Ya, memang fungsi pil itu menghambat kehamilan, tapi dengan campur tangan Tuhan, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini," ujar Salimah.
"Baiklah, terimakasih atas jawabanmu, Salimah."
"Sama-sama, Nona. Semoga kebahagiaan segera datang di rumah ini." Salimah tersenyum ramah sebelum benar-benar pergi.
Setelah mendengar apa yang Salimah sampaikan, aku memantapkan hati membawa alat tes kehamilan itu menuju kamar mandi, ku tampung air seniku di dalam wadah kecil yang sudah menjadi satu paket dengan alat itu.
Dengan hati-hati aku meletakkan ujung alat itu sampai terendam air seniku setinggi satu centimeter. Jantungku berdegup sangat kencang, menantikan alat itu menampakkan garis merah yang kian jelas.
Pertama kali aku melihat satu garis merah terang, lalu di bawahnya nampak garis kedua sedikit samar, aku mengambil alat itu dan membiarkannya tergeletak begitu saja di atas meja.
Jantungku berdebar hebat, apakah memang aku benar-benar hamil?
Beberapa menit kemudian aku kembali meraih alat itu, melihat dengan tatapan tidak percaya, bahwa dua garis merah tergambar jelas di sana.
Aku hamil, aku hamil. Benarkah ini?
Aku masih berdiri mematung, tidak percaya dengan apa yang aku lihat, apakah ini sebuah keajaiban? anugrah? atau ini adalah sebuah cobaan?
Pikiranku langsung tertuju pada sosok tuan Arga, menebak-nebak bagaiman reaksi laki-laki itu jika tau tentang kehamilanku ini.
Aku akan memberitahunya saat dia pulang nanti.
Hatiku seakan berbunga-bunga, aku bahkan tidak bisa berhenti untuk tersenyum, kebahagiaanku tidak bisa lagi di gambarkan melalui kata-kata, ini seperti kebahagiaan level tertinggi yang sudah aku capai.
Aku duduk di sofa menatap ke arah luar jendela kaca, mungkin ini sudah saatnya aku bahagia, meskipun tuan Arga tidak pernah mengungkapkan perasaan apapun padaku, tapi aku percaya, jika dia sudah menumbuhkan rasa itu di dalam hatinya.
Ingin sekali aku segera bertemu laki-laki itu, lalu memeluknya dengan mesra, sambil berbisik di telinganya, "Aku hamil".
Ah, dunia bahkan seperti milik kami berdua, yang lain cuma ngontrak boleh lah ya.
...
Makan malam kali ini aku masih sendirian, namun di rahimku bersemayam seorang bayi mungil yang membuatku tidak lagi merasa kesepian.
Aku tetap makan banyak seperti sebelum-sebelumnya, meskipun perutku seperti tidak ingin menerima apapun, tapi aku berusaha tetap makan lebih banyak agar anakku terpenuhi kebutuhan gizinya di dalam sana.
"Nona, sepertinya kau sedang sangat bahagia," tanya Salimah sambil menuangkan segelas jus jeruk di sampingku.
"Bagaimana kau bisa tau, Salimah?"
"Dari tadi, nona lebih sering senyum-senyum sendiri."
__ADS_1
"Wah, aku memang sedang menyiapkan kejutan untuk tuan Arga," jawabku tersenyum lebar.
"Memangnya ada acara apa sampai-sampai memberikan kejutan kepada tuan Arga, Nona?"
"Ah, hanya kejutan sederhana kok."
"Jika nona perlu bantuan, saya dan para pelayan siap membantu nona menyiapkan semuanya," ujar Salimah.
"Tidak perlu, Salimah. Ini hanya antara aku dan tuan Arga."
"Baiklah, Nona. Semoga apa yang kalian cita-citakan segera tercapai, saya permisi dulu."
Aku mengangguk, Salimah kembali menuju dapur. Memang benar, aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku ini sendiri, aku bahkan tidak sadar banyak pasang mata menatapku heran karena sedari sore aku sangat ceria dan lebih sering tersenyum sendiri.
Tidak sabar rasanya menunggu kepulangan tuan Arga, entah ini kabar bahagia atau kabar yang kurang bisa di terima olehnya, tapi dalam hatiku berkata bahwa dia juga menginginkan hal yang sama denganku, semoga saja apa yang ada di dalam pikiranku akan sesuai dengan reaksinya nanti.
Usai makan malam, aku kembali ke kamar mengambil ponselku lalu duduk di ruang tengah untuk menonton tv.
["Kapan kalian pulang?"] Terkirim, aku mengirimkan pesan pada tuan Joe melalui aplikasi berwarna hijau di ponselku.
["Bahkan kami baru saja sampai, nona sudah menanyakan kapan kami akan pulang?"] balasnya.
Huh, menyebalkan sekali, padahal aku sudah tidak sabar bertemu tuan Arga. Ingin rasanya aku mengatakannya sekarang, tapi ini nanti bukan lagi kejutan namanya.
Akhirnya aku tidak lagi membalas pesan tuan Joe, lalu berpindah penerima dan mengirimkan pesan kepada Riani, aku mengatakan kalau akan cuti selama beberapa hari, sambil menunggu kepulangan tuan Arga, aku juga menjaga kondisi tubuhku agar tetap sehat, karena di awal kehamilan memang sering terjadi keguguran jika terlalu lelah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...