TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Papa Mertua


__ADS_3

Melihat wajah tampan dan menyebalkan itu membuat selera makanku langsung hilang begitu saja, perasaan kesal yang bergemuruh merasuki jiwa dan pikiranku, seakan menghilangkan nafsu makanku yang biasanya menggebu-gebu.


"Kau tidak makan?" tanyanya melihatku mengaduk nasi di piring.


"Makan." Jawabku singkat, tanpa menoleh kearahnya.


"Apa hanya dengan melihat dan mengaduk nasi, kau akan kenyang?"


"Hmm." Malas sekali meladeninya.


"Kau tidak suka masakan ini?"


"Suka."


"Kau ini kenapa?" Dia membanting sendok dan garpu diatas piringnya, mengejutkan beberapa pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja makan, sedangkan aku tetap biasa saja.


"Memangnya aku kenapa, Tuan?" tanyaku dengan santainya.


"Kenapa kau menjawab singkat-singkat seperti itu?"


"Lalu saya harus menjawab bagaimana?"


"Jawablah dengan jelas saat di tanya," ucapnya kesal, para pelayan yang melihat tuannya berkacak pinggang di depanku merasa takut.


"Saya sudah menjawabnya dengan singkat, padat dan jelas, lalu kurang apa lagi?" jawabku masih selow.


"Kau ini," Dia mengepalkan tangannya, nafasnya ngos-ngosan seperti baru saja lari marathon seribu kilometer, lalu mendudukkan kembali pantat seksinya dengan kasar dikursi.


Aku hanya meliriknya, enggan menanggapi ataupun memohon-mohon meminta maaf karena membuatnya kesal, sepertinya aku sudah gila karena berani bersikap seperti ini padanya.


Ah biarkan saja di kesal, Hahaha. Lagi pula, saat dia marah dan kesal seperti itu, lalu aku bersikap cuek, seperti ada sensasi gimana gitu ya, Hahaha.


"Aku ada urusan di kantor siang ini," ucapnya sedikit melunak.


"Ya." Aku tetap cuek tidak menanggapi.


"Kau jawab seperti itu lagi, aku akan memasukkan biji kedondong ke mulutmu, dasar gadis keriting, jelek, tidak tau diri." Dia berdiri mengumpat, memaki, mengoceh tidak karuan lalu berjalan entah kemana aku tidak ingin tau.


Pergi saja, pergi yang jauh, kalau perlu tidak usah kembali, Hahaha. Kau benar-benar terlihat lucu saat aku cuek dan tidak peduli.


Setelah kepergiannya, aku melanjutkan memakan nasi yang sudah terlanjur ku aduk-aduk bercampur sayur.


"Nona." Salimah berlari kecil menghampiriku yang sedang asik menyantap makanan di depanku.


"Ada apa, Salimah?" tanyaku.


"Nona baik-baik saja?" Wajah Salimah sedikit pucat.


"Tentu saja aku baik-baik saja, Salimah, memangnya kenapa?"


"Apa tuan tidak melakukan sesuatu pada nona?"


"Tidak, tuanmu itu hanya terserang sedikit gangguan jiwa, makanya seperti itu. Hahaha"


"Syukurlah, Nona, tadi saya mendengar tuan sepertinya sedang marah, saya takut terjadi apa-apa dengan nona."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Salimah, kan kamu sendiri yang bilang kalau itu sudah sifatnya."


"Ya sudah, silahkan lanjutkan makannya, Nona." Salimah mengangguk pamit kembali ke dapur.


...


Usai makan siang, aku menyempatkan diri menuju ruang tamu, mencari kardus berisi buku bacaan yang di maksud tuan Joe waktu itu.


Setelah ku temukan kardus berukuran lumayan besar, aku meminta beberapa pelayan laki-laki untuk mengangkatnya menuju kamar, sudah tidak sabar aku ingin membaca buku-buku yang di berikan tuan Joe, sudah lama aku meninggalkan hobbyku membaca novel-novel cinta yang menguras air mata, bahkan dulu saat masih duduk di bangku SMA, aku sering merana sampai tidak bisa tidur hanya karena menangisi akhir dari novel-novel yang ku baca.


Aku mulai membuka kardus, betapa terkejutnya aku, kardus ini berisi hampir seratus buku lebih, dari novel remaja, novel percintaan, majalah, sampai komik juga ada, betapa pengertiannya tuan Joe memberikanku semua ini. Entah dia membeli buku-buku ini dengan uang pribadinya, atau mungkin sebenarnya tuan Arga yang memberinya perintah untuk membeli semua ini.


"Nona, nona," ucap Salimah memasuki kamar tanpa mengetuk dengan badan gemetas dan nafas yang naik turun.


"Ada apa, Salimah, buru-buru sekali," tanyaku heran.


"Eh itu, Non," ucapnya gelagapan.


"Apa sih, tarik nafas dulu, jangan sampai lupa nafas ya," ucapku sambil nyengir.


"Itu, ada tuan besar."


"Tuan besar? tuan besar siapa, Salimah?" Aku sedikit terkejut.


"Anu, tuan Sam."


"Lalu bagaimana, Salimah, kamu kan tau sendiri kalau tuan Sam tidak tau kalau anaknya menikah denganku," ucapku kebingungan.


"Saya juga bingung, Nona." Salimah menggaruk-garuk kepalanya sambil celingukan.


"Menurutmu aku harus bagaimana?"


"Apa tuan Arga tidak akan marah?" tanyaku ragu.


"Tuan besar orangnya sangat baik dan ramah, nona bisa berlindung dari kemarahan tuan Arga melalui tuan besar."


"Apakah tidak ada saran yang lebih baik, Salimah?"


"Saya juga bingung harus bagaimana, tapi tuan besar tadi tiba-tiba langsung menanyakan nona," ujar Salimah.


"Hah, menanyakanku?"


"Sepertinya tuan besar sudah tau, Nona."


"Baiklah, akan aku temui kalau begitu."


Aku berjalan dengan cepat sambil merapikan baju dan rambutku, di ikuti Salimah di belakangku.


"Tuan," sapaku pada laki-laki yang usianya kira-kira lebih dari setengah abad, laki-laki ini terlihat lebih tua dari ayahku, tapi penampilannya masih gagah dan rapi.


"Oh, kamu siapa?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.


"Saya, saya Sabrina, Tuan," ucapku gemetar.


"Kau ini, istri putraku?"

__ADS_1


"Iya, Tuan." Aku ragu-ragu menjawab.


"Dasar anak kurang ajar, aku ini papanya, dia menikah diam-diam tanpa memberitahuku, dia pikir aku ini sudah mati. Awas kau Arga!"


Aku mendekat, meraih tangan keriput laki-laki di hadapanku, lalu mencium punggung tangannya hormat.


"Maafkan suami saya, Tuan, mungkin dia hanya ingin memberi kejutan," ucapku menenangkannya.


"Tapi dia sudah kelewatan!"


"Mungkin suami saya berfikir kalau ingin langsung memperkenalkan saya sebagai istrinya, bukan lagi calon istrinya."


"Hmm, mungkin benar kata-katamu, Nak."


Hahaha, kali ini aku menyelamatkanmu, tuan Arga, kau harus membayarnya nanti. Baik sekali aku memanggilmu dengan kata suamiku, lidahku gatal rasanya mengucapkan kata-kata itu.


"Baiklah, Nak Sabrina, sekarang cepat hubungi dia, suruh dia pulang," ucapnya sambil menepuk-nepuk pinggiran sofa.


"Tapi, dia bilang sedang ada urusan penting, Tuan."


"Katakan saja kalau aku disini."


"Baik."


Aku bergegas menemui Salimah yang mengintai kami dari kejauhan, karena selama ini aku tidak pernah tau berapa nomor tuan Arga.


"Salimah, tolong hubungi tuan Arga, katakan kalau disini ada papanya," ujarku pada Salimah.


"Baik, Nona," ujar Salimah berlalu menuju meja tempat telepon rumah diletakkan.


Aku kembali menemui papa mertuaku dengan membawa secangkir coklat hangat.


"Silahkan, Tuan," ucapku sambil menaruh cangkir porselen diatas meja.


"Duduklah disini, Nak." Dia menggeser duduknya dan menepuk sofa di sebelahnya. Aku mengangguk lalu menuruti perkataannya.


"Jangan panggil aku tuan, panggil saja papa, kamu kan menantuku," ujarnya sambil tersenyum hangat.


Wajah keriputnya tidak membuat laki-laki di hadapanku ini kehilangan aura ketampanannya, mungkin inilah yang di sebut buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, bisa jadi perawakan dan ketampanan tuan Arga menurun dari sang papanya.


Hampir satu jam kami mengobrol, ada suara mobil berhenti tepat di depan pintu utama rumah ini, terdengar seseorang melangkah cepat memasuki rumah.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2