
Hari ini adalah hari ke empat aku datang bulan, rencananya aku dan suamiku akan berkunjung ke rumah sakit untuk menemui dokter Daren sesuai anjuran yang ia berikan beberapa hari lalu.
Usai sarapan pagi, aku menyempatkan untuk membuka beberapa pesan yang sudah menumpuk di salah satu aplikasi hijau.
Dari sekian banyak pesan yang di kirim Claire dan Riani, terselip satu pesan yang di kirim oleh Ibu.
[Nak, lusa, ayah dan ibu akan keluar kota selama beberapa hari, kami akan berlibur untuk merayakan hari anniversary kami. Jika tidak keberatan, pulanglah, ibu titip adikmu di rumah.]
Pesan yang di kirim ibu membuatku begitu bahagia, setelah hampir tiga tahun mereka tidak berkesempatan liburan untuk merayakan hari jadi pernikahan mereka, di tahun ini akhirnya semua keinginan mereka terwujud.
"Dari siapa, Sayang? Kelihatannya kau bahagia sekali," tanya suamiku sambil mengganti pakaiannya.
"Dari ibu, ibu bilang lusa akan pergi berlibur keluar kota bersama ayah untuk perayaan anniversary mereka," jawabku.
"Lalu?"
"Ia memintaku untuk pulang selama beberapa hari, Safira di rumah, ibu menitipkannya padaku."
"Dia sudah besar, Sayang. Untuk apa di titip-titipkan," tutur suamiku.
"Bagaimanapun, dia adalah adikku, Honey. Sudah menjadi tanggung jawabku menjaganya kalau ayah dan ibu tidak ada."
"Baiklah, jika kau menginap, aku akan ikut." pintanya.
"Kau mau menginap di rumahku?"
"Rumahmu? rumahmu itu disini, Sayang."
"Iya, iya. Maksudku rumah orang tuaku."
"Tentu saja aku mau, aku tidak akan bisa jauh-jauh darimu, dimanapun kau berada, akan ada aku disana."
Aku tersenyum melihat semakin hari ia bertingkah semakin manja, laki-laki es krim itu kini sudah meleleh bahkan mencair, hanya ada rasa manis yang ku rasa.
Usai berganti pakaian dan bersiap, kami langsung menuju rumah sakit. Hari ini dokter Daren hanya menerima pasien di siang hari, karena pagi ini jadwalnya di kosongkan khusus hanya untuk menanganiku.
"Selamat pagi, Ren," sapa suamiku saat kami sudah memasuki ruangan serba putih yang di tempati dokter itu.
"Selamat pagi kalian. Silahkan duduk," ujar dokter itu sopan, ia menyodorkan satu botol air mineral pada kami.
"Minumlah, Ga. Agar tidak terjadi lagi ketegangan diantara kita," ucap dokter gagah dengan kulit sawo matang itu sambil tertawa kecil.
Bukan Arga namanya kalau bersikap manis kepada orang lain selain padaku, istrinya. Dia dengan kasar meraih air itu dan meneguknya sampai tandas.
"Kau haus sekali, rupanya." Lagi-lagi dokter menggodanya.
"Langsung saja, Ren. Aku bisa katarak kalau melihat wajahmu berlama-lama," timpal suamiku.
"Kau ini sama sekali tidak berubah, Ga. Baiklah, hari ini aku mau kembali melakukan USG pada istrimu, untuk melihat kondisi rahimnya," ujar dokter.
Beberapa menit kemudian, seorang suster datang dan membantuku melakukan hal seperti waktu itu, membuka sebagian baju untuk mempermudah alat USG menempel di permukaan kulit perutku.
Kali ini suamiku tampak tenang, mungkin dia sudah paham dengan apa yang sedang dokter lakukan. Sesekali ia melirik layar monitor yang menampilkan kondisi di dalam rahimku, meskipun dia tidak paham cara membacanya. Hanya dokter ahli yang paham dan mengerti cara membaca hasil USG.
"Bagaimana?" Kalimat itu terlontar dari mulut suamiku saat pemeriksaan selesai di lakukan.
"Semuanya baik-baik saja. Aku akan memberi vitamin asamfolat dan penyubur kandungan untukmu, Nona," ujar dokter.
"Oke," jawabku singkat.
"Aku akan menjelaskan beberapa hal penting yang harus kalian lakukan demi keberhasilan program hamil ini."
__ADS_1
"Pertama, kalian harus cukup istirahat, cukup tidur, makan makanan bervitamin dan rajin olahraga. Kedua, melakukan hubungan badan hanya di waktu-waktu tertentu, tidak boleh setiap hari," lanjut dokter.
"Apa? tidak boleh? kenapa begitu?" sela suamiku cepat.
"Sabar dulu dong, baru juga mau di jelaskan." Dokter muda itu seakan tau permasalah yang di hadapi suamiku.
"Aku akan memberi jadwal kapan kalian boleh berhubungan badan dan tidak, ini sesuai dengan masa ovulasi yang terjadi padamu, Nona. Masa ovulasi adalah waktu terbaik menanam benih, kesempatan hamil sangat besar di masa itu."
"Kenapa harus ada jeda untuk melakukan hubungan? karena kualitas ****** yang baik adalah yang di simpan selama tiga hari, jadi di harapkan saat ****** dalam kondisi berkualitas, di saat itulah sel telur juga dalam kondisi matang dan siap di buahi." Dokter menjelaskan dengan detile.
"Untuk Arga, aku tidak memberi syarat khusus, karena dia bukan perokok dan tidak mengkonsumsi minuman beralkohol, jadi bisa di pastikan tidak ada masalah."
"Baiklah, itu saja?" timpal suamiku.
"Ya, tapi jangan lupa beberapa hal yang ku sebutkan di awal, gaya hidup sehat adalah kunci utamanya."
"Kau tunggu sebentar, aku akan menghitung masa subur istrimu, dan menyiapkan semua jadwal beserta vitaminnya."
Aku dan suamiku memutuskan keluar dari ruangan dokter untuk menghirup udara sejenak, kebetulan ruangan ini terletak di tengah lorong yang langsung berhadapan dengan taman berukuran kecil.
"Kau ingin sesuatu?" tanya suamiku.
"Tidak, Honey."
"Kapan kita ke rumah orang tuamu?"
"Mereka berangkat besok. Pagi-pagi sekali, kita akan mampir kesana sebelum bekerja untuk bertemu ayah dan ibuku sebentar. Lalu langsung pulang ke sana setelah bekerja, kau mau?" tanyaku.
"Baiklah jika itu maumu, setelah ini kita berkemas."
Hampir satu jam kami menunggu, namun dokter Daren belum juga keluar dari ruangannya. Suamiku mondar mandir bagai ayam yang ingin bertelur. Beberapa kali ia sibuk dengan panggilan di ponselnya, sepertinya kantor sedang benar-benar membutuhkannya.
"Kau tidak apa-apa jika ku tinggal?"
"Tidak, suruh saja sopir datang menjemputku, Honey. Aku akan langsung ke butik setelah ini."
"Baiklah, Sayang. Sepertinya ada masalah serius di kantor, aku harus segera pergi."
"Jaga diri baik-baik, langsung ke butik dan jangan mampir-mampir jika tidak penting. Hubungi aku kalau ada apa-apa," lanjutnya, ia mencium keningku kilas lalu bergegas pergi ke kantor.
Aku tersenyum menatap punggung laki-laki itu yang semakin menjauh, entah mengapa dia selalu saja membuatku terkejut dengan sikapnya yang manis dan begitu memanjakanku.
"Nona." seseorang menepuk bahuku dari arah belakang, suaranya terdengar seperti dokter Daren.
"Eh, iya, Dok?" Aku refleks menoleh.
"Dimana Arga? Kau sendirian?"
"Dia sedang ada urusan mendadak di kantor, jadi langsung berangkat," jawabku, ia hanya manggut-manggut.
"Ini vitamin dan penyubur kandungan untukmu, di minum rutin, cukup satu kali sehari. Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Silahkan, Dok."
"Sebelumnya, kau sempat mengkonsumsi pil kontrasepsi atau memakai alat kontrasepsi lain?"
"Eh, iya, Dok. Tapi tolong, jangan katakan ini pada suamiku," ujarku sedikit memelas.
"Baiklah, aku tidak akan terlalu ikut campur urusan pribadi kalian. Vitamin dan obat itu fungsinya untuk mengembalikan kestabilan hormon tubuhmu yang sudah terkena imbas dari pil kontrasepsi yang kau konsumsi. Semoga semuanya berjalan dengan lancar," ujar dokter itu tersenyum ramah. Aku mengangguk lalu memasukkan satu bungkus plastik berisi obat pemberiannya ke dalam tas.
"Oh ya, kalian akan datang ke pesta pernikahanku?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Kami akan datang, Dok. Undangannya sudah sampai di rumah."
"Oke, aku akan menunggu kedatangan kalian."
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya aku pamit untuk segera pergi ke butik. Berbagai pekerjaan sudah menantiku disana.
Untung saja bang Bimo sudah lebih dulu sampai di halaman parkir rumah sakit, aku segera menemuinya dan meminta langsung tancap gas menuju butik.
...
"Sa, kita dapan pesanan yang fantastis," ujar Riani dengan memasang wajah wow.
"Fantastis? ulangku.
"Ah, pejabat besar memesan seragam keluarga untuk acara pesta mereka, dia hanya memberikan contoh model gaun kebaya dan kemeja untuk kau rombak sesuai keinginanmu, asal pantas dan lebih menarik. Dan kau tau jumlahnya? lima puluh pasang, Sa."
"Tapi mereka ingin kau mengirim design-nya sebelum melakukan proses produksi."
"Kapan mereka datang?" tanyaku.
"Tadi pagi, mereka langsung meninggalkan cek kosong, kau bisa mengisi sendiri jumlah yang kau inginkan untuk biaya keseluruhannya," ujar Riani sangat girang.
Setelah sekian lama bergelut di dunia design, ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan pesanan gaun dan kemeja yang sangat banyak, apalagi akan di pakai salah satu keluarga dari pejabat daerah ini.
"Gaun pengantin yang kemarin, sudah kau selesaikan?" tanyaku lagi.
"Sudah di ambil sama yang punya tadi pagi, dia suka, Sa. Dia bilang akan kembali datang memesan gaun-gaun baru untuk acara fashionnya."
"Terimakasih sudah membantuku sampai sejauh ini, Ni. Aku tidak tau lagi jika tidak ada dirimu, terimakasih." Ku peluk sahabat baikku itu dengan erat, aku yakin, persahabatan kami bertahan lama karena rasa saling percaya diantara kami.
"Ah, aku hanya membantu semampuku, Sa. Semua ini adalah cita-citamu, ini adalah hasil kerja kerasmu selama ini, semoga kedepannya, design butik ini semakin di lirik kalangan atas," ujar Riani membalas pelukanku.
Semoga semua ini adalah awal dari impianku, menjadi designer handal yang mampu menembus pasar internasional. Aku sangat mengidolakan Claire sebagai motivatorku.
Jika butikku berkembang semakin pesat, maka aku akan butuh tempat batu sebagai rumah jahit yang hanya di khususkan untuk tempat menjahit semua pesanan, dan aku juga butuh karyawan tambahan untuk mempercepat proses produksi.
Sampai saat ini, karyawan khusus penjahit hanya ada lima orang saja. Menurutku itu sudah cukup karena kami hanya mendapat pesanan dalam jumlah yang sedikit. Dan, semua pekerjaan mereka di lakukan di tempat ini juga, di ruangan lantai bawah bersebelahan dengan ruang administrasi.
Di ruanganku, tanganku sibuk menghitung semua uang tabunganku, merinci setiap keperluan yang ku butuhkan untuk memenuhi seluruh pesanan, sebaiknya memakai dana pribadiku dulu, melihat jumlah yang di perlukan memang tidak sedikit, uang kas butik tidaklah cukup.
Aku juga mulai merencanakan membeli lagi beberapa mesin jahit, dan membuka lowongan kerja bagi penjahit baru, tidak perlu mahir, asal niat belajar, aku tidak akan keberatan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1