TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Bulan madu part 3


__ADS_3

Aku membaringkan tubuhku menghadap jendela kaca, meskipun badan sudah terasa lelah karena perjalanan kesini, tapi mataku masih enggan terpejam.


"Kau belum tidur?" ucap tuan Arga seraya menempelkan bibirnya di pundakku.


"Belum."


"Kau menungguku?"


"Ti, tidak. Saya belum mengantuk," ucapku sambil menarik selimut menutupi kakiku sampai ke pinggang.


"Bohong, sepertinya kau sudah tidak sabar menghabiskan malam yang indah ini bersamaku," ujarnya sambil menelusuri seluruh bagian pundak dan punggungku dengan bibirnya.


"Tolong jangan seperti ini, Tuan." Aku bergeser menjauhinya.


"Kau menolakku lagi?" Dengan kasar dia membalikkan tubuhku agar menghadap dirinya.


Aku diam, tidak bergerak sama sekali, jantungku sudah memacu begitu cepat, bahkan suara detaknya terdengar begitu jelas di telingaku.


"Baiklah kalau kau tidak ingin melayaniku, aku akan pulang meninggalkanmu sendirian," ucapnya lalu berdiri membelakangiku.


"Lalu, saya bagaimana, Tuan?" Keringat dingin mulai membasahi tubuhku.


"Bukan urusanku, silahkan jadi gelandangan disini, aku akan pulang." Dia lalu meraih kemejanya yang tergantung di belakang pintu.


Dengan cepat aku mendekat, meraih tangannya sambil memohon agar dia tidak pergi meninggalkanku sendirian disini, bagaimana nasibku jika dia benar-benar serius dengan ucapannya.


"Tuan, saya mohon, jangan tinggalkan saya disini," ucapku sambil merangkul lengan kekarnya.


"Aku tidak sudi punya istri yang tidak mampu melayaniku!"


"Baiklah, saya akan melayani tuan, tapi saya mohon jangan pergi," ucapku sambil menarik-narik kemeja putih yang belum sempurna dia kenakan.


Lagipula kau sudah terlanjur merebut paksa keperawananku, untuk apa lagi aku menutupinya.


"Terlambat, aku sudah tidak bergairah melihatmu." Dia membuang muka, enggan menatap wajahku.


"Saya mohon, Tuan. Mari kita lakukan semalaman penuh, jangan tinggalkan saya sendirian." Aku memeluknya dari belakang dengan erat, sudah putus urat maluku, aku tidak peduli lagi, aku benar-benar takut dia meninggalkanku disini.


"Pergi!" Dia memberontak melepaskan pelukanku.


Aku tetap pada pendirianku, masih berusaha memeluk tubuhnya sekuat tenaga.


"Pergi dari hadapanku, aku sudah muak dengan pernikahan sialan ini, pergi!"


Seketika air mataku meleleh begitu saja, sesaknya dada membuatku seperti kehilangan oksigen untuk bernafas, tuan Arga menatapku dengan tatapan tajam, mukanya merah padam menahan emosi yang begitu membara, dia lalu berjalan mendekati jendela kaca sambil menatap keluar.


"Tuan." Aku masih mencoba mendekatinya, meraih tangannya.

__ADS_1


"Singkirkan tanganmu, aku sudah tidak berselera," ucapnya sambil mengibaskan tanganku dengan kasar, bahkan dia sama sekali tidak menolehku.


Aku menghapus air mata yang mengalir deras membasahi kedua pipiku dengan kasar, mengacak-ngacak rambutku frustasi. Tapi aku masih punya satu senjata untuk merayunya, senjata yang membuatku akan kehilangan muka dan juga rasa malu di hadapannya, namun sepertinya hanya itu satu-satunya cara agar dia memaafkanku.


Aku melangkah mundur menjauhinya, dengan pelan aku melepaskan lingerie berwarna hitam yang membalut tubuhku, aku melepaskan sisa-sisa kain yang menempel, hingga tidak ada lagi sehelai benangpun yang menutupi rasa maluku, masa bodoh, aku sudah kehilangan akal.


Aku menarik nafas panjang mengontrol emosiku yang sudah naik turun, tanpa menunggu waktu lama, pandangan mata tuan Arga langsung terfokus padaku, dia menelan ludahnya beberapa kali sambil mengatur nafas.


Hah, aku tau, kau tidak akan bisa bertahan dalam kondisi seperti ini, menyerahlah padaku, Tuan!


Dia mencoba memalingkan muka menatap arah luar jendela kaca, kali ini kedua tangannya menempel dikaca sebagai penopang tubuhnya.


Aku mengeluarkan rintihan-rintihan menggoda untuk menarik kembali perhatiannya, aku merebahkan seluruh tubuhku yang sudah terpampang nyata ini diatas kasur sambil terlentang penuh gairah.


"Apa yang kau lakukan, gadis gila!" Dia berkata tanpa menoleh padaku.


Aku tau kau masih berusaha menahannya, kemarilah, Tuan. menyerahlah dengan egomu.


"Aku? melakukan apa?" ucapku dengan nada lemah lembut.


"Pakai bajumu!"


"Tidak akan, aku sedang menggodamu, Tuan." Aku lalu bangkit dan berjalan ke arahnya tanpa malu. Benar, aku sungguh-sungguh tidak punya malu.


"Baiklah, kau berhasil," ucapnya lalu meraih tengkuk leherku dan menempelkan bibir seksinya dengan bibirku.


Dengan lemah lembut dia memulai aksi nakalnya, menyusuri seluruh lekuk tubuhku dengan bibirnya, memijat bagian-bagian sensitifku dengan kedua tangannya.


Kami hanyut dalam gelora asmara yang membara, aku menikmati semua adegan malam ini tanpa paksaan, dia melakukannya dengan penuh kelembutan, setiap gerakannya seolah membawaku terbang melayang melintasi awan. Sungguh, inilah kenikmatan yang belum pernah aku rasakan seumur hidupku, aku sangat bodoh jika melewatkan momen terbaik seperti ini.


Malam ini terlewati begitu melelahkan, kami bergelut di dalam selimut berjam-jam, tanpa ampun tanpa jeda dia terus memakanku, melakukannya tanpa beristirahat sama sekali, bahkan aku sampai beberapa kali hampir kehilangan nafas dibuatnya.


Semua aktifitas ini terhenti saat pucuk fajar sudah mengintai dari kejauhan, tak kenal waktu tak kenal lelah, ternyata kami hampir melakukannya sampai menjelang pagi, lalu kami tertidur saling memeluk, mengistirahatkan semua otot yang menegang semalaman penuh.


...


Terdengar dering suara ponsel milik tuan Arga nyaring, namun pemiliknya masih terpejam begitu rapat sambil melingkarkan lengan kekarnya diperutku.


"Tuan, ada yang menelpon," ucapku pelan.


"Hmm." Dia hanya berdehem dan menggeliat mempererat pelukannya.


Selang beberapa menit kemudian, ponselnya kembali berdering, aku berinisiatif bangun dan mengambilnya.


"Sebentar, Tuan. Saya ambilkan ponselnya," ucapku mencoba mengangkat lengan kekarnya.


"Biarkan, mengganggu saja." Dia masih memejamkan matanya, menenggelamkan kepalanya di sebelah pundakku.

__ADS_1


Akhirnya aku mengalah, membiarkan ponsel itu berdering terus menurus tanpa henti, entah sudah berapa panggilan tak terjawab yang sudah tertera dilayarnya, tapi laki-laki ini begitu enggan meninggalkan kasur empuk miliknya.


Matahari sudah merangkak naik, aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, samar-samar terdengar beberapa orang sedang berenang di kolam renang dekat kamar kami, ingin rasanya aku menghirup udara segar di negara ini saat pagi seperti ini, namun nyatanya laki-laki di sampingku lebih senang menghabiskan waktunya berbaring memelukku diatas kasur.


Aku mendengus kesal, semakin lama berbaring diatas kasur ini membuatku semakin bosan, apa lagi hanya mendengarkan nafas laki-laki ini. Sinar matahari sudah menerobos masuk melalui sela-sela lubang udara diatas jendela kaca, bahkan kehangatannya sudah mampu menembus kulit, namun sepertinya itu sama sekali tidak membuat tuan Arga membuka matanya.


"Tuan," ucapku berbisik.


"Hmm." Ternyata dia tidak benar-benar tidur.


"Aku ingin buang air kecil," lanjutku.


"Nanti saja." Dia menjawab tanpa bergerak sama sekali.


"Sudah tidak tahan, kalau saya ngompol bagaimana?"


"Alasan saja, ya sudah!" Dia melepaskan pelukannya dan berganti meraih guling di bawah kakinya.


Hah, akhirnya aku bisa lepas dari cengkraman harimau gila itu.


Aku bergegas mengambil baju ganti milikku yang ada di lemari, sekalian mandi dan ganti pakaian, pikirku.


Namun saat aku membuka pintu kamar mandi, ternyata tuan Arga sudah sampai disana lebih dulu. Aku segera berbalik mengintip ke arah tempat tidur.


Bukankah tadi dia tidur disana?


Kenapa cepat sekali dia sampai di dalam kamar mandi, ajaib.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2