TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Hana 2


__ADS_3

Sungguh, kali ini rasanya ingin aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Hana.


Wanita itu berpikir untuk merelakan dirinya sebagai istri kedua asalkan suamiku mau berbaik hati membantu perusahaan papanya yang sedang terpuruk, bahkan ia sudah di usir oleh keluarganya.


Ku lihat, Joe tampak begitu terhibur dengan kata-kata Hana, dia tertawa sambil memegang perutnya, sesekali ia membungkuk, memukul tembok, tanpa bisa menghentikan tawanya.


Ah, memang lucu.


Seharusnya kau lebih cocok jadi pelawak, Hana. Atau mungkin otakmu sudah geser, sampai kau berpikir segila itu.


Ingin sekali diriku ikut tertawa seperti yang di lakukan Joe, bahkan aku ingin berguling, salto, dan kayang, saking tak kuasanya mendengar lelucon gila itu.


"Apa aku salah menawarkan diriku sebagai istri kedua untukmu, Ga. Bukankah dulu Sabrina juga melakukan hal yang sama? menjual dirinya demi bantuanmu," lanjut Hana.


PLAK!!!


Satu tamparan keras di hadiahkan suamiku di pipi kiri Hana, aku sudah mencoba menarik lengannya untuk tidak mendekati wanita itu, namun tenagaku tidak cukup kuat untuk menahannya.


Entah setan apa yang sudah menggerogoti jiwanya sampai ia berani mengatakan hal itu di depan suamiku, memang yang dia katakan adalah benar, namun posisiku saat itu sangat berbeda dengannya.


"Jaga ucapanmu itu, Hana."


"Lain kali, sebelum mengatakan sesuatu, pakailah apa yang ada di antara kedua telingamu, jangan hanya mementingkan apa yang ada di antara sel*ngkangan mu!" maki suamiku, ia dengan geram menunjuk-nunjuk wajah Hana yang memerah, wanita itu makin terisak sambil memegang pipinya.


"Cukup, Honey. Biarkan dia pergi," ujarku mengelus dadanya.


Sungguh, sebenarnya aku menyesal membawa Hana masuk ke dalam ruangan ini, karena aku, dia mendapatkan hal ini.


Namun jika ini tidak ku lakukan, mungkin besok atau lusa, dia akan kembali datang dan berusaha dengan keras untuk merayu suamiku.


"Pergilah, Hana. Kau sudah bisa menyimpulkan sendiri bagaimana jawaban atas permohonanmu," ujarku melemah, ku lihat sudut bibir wanita itu mengeluarkan darah, pasti tamparan itu sangat keras dan menyakitinya.


"Wanita jal*ng!" teriaknya sambil mencoba berdiri.


Mendengar ucapan Hana, darah suamiku kembali mendidih dan hampir saja menerjang tubuh Hana, beruntung Joe sigap untuk menarik tubuh Hana dengan cepat untuk keluar dari ruangan ini.


Suamiku langsung terduduk di kursinya, ia mengacak rambutnya kesal sambil mengatur irama nafas yang naik turun bak genderang perang.


"Apa dia sering datang kemari, Honey?" tanyaku sambil menuangkan segelas air putih untuknya.


"Beberapa kali, namun Joe selalu mengusirnya. Aku bahkan muak melihat wajah wanita itu."


"Jika dia tidak di beri pelajaran, maka dia akan terus berusaha menemuimu, dia wanita pintar, dia tidak akan mudah menyerah," kataku.

__ADS_1


Setelah dia cukup tenang, aku mengajaknya duduk di sofa panjang pojok ruangan, makan siang yang tertunda akhirnya terlaksana, menu yang sudah ku siapkan dari rumah kini kami makan bersama.


"Sayang, kenapa kau datang tidak memberi kabar?" tanyanya.


"Aku ingin memberi kejutan."


"Tapi, seharusnya kau istirahat saja di rumah, aku takut kau terlalu lelah, lagipula siapa yang memperbolehkanmu memasak?"


"Aku hanya ingin memasak untukmu, Honey. Aku bosan setiap hari di rumah dan tidak melakukan apapun," kataku.


"Hmm, baiklah, Sayang. Tolong jaga kesehatanmu, ini demi buah hati kita." Laki-laki itu memelukku dan mencium keningku lembut.


Tidak ada wanita yang akan menolak jika mendapatkan laki-laki setampan suamiku, bahkan seorang Hana rela menawarkan dirinya sebagai istri kedua, lucu sekali.


Dia sudah lama mengenal suamiku, seharusnya dia paham bagaimana watak suamiku sebenarnya, namun sikapnya tadi menunjukkan betapa murah harga dirinya.


Dia punya kepintaran, punya modal ketrampilan dalam berbisnis, dia memiliki segala macam pengetahuan tentang dunia usaha, seharusnya dia menawarkan jasanya sebagai pegawai untuk membantu perusahaan ayahnya, namun dia malah menawarkan harga dirinya, sungguh licik.


"Honey, boleh ku tanyakan sesuatu?"


"Tanyakan saja, Sayang."


"Hmm, apa yang kau lakukan pada perusahaan milik keluarga Hana, mengapa mereka bisa bangkrut?" tanyaku penuh selidik.


"Aku tidak melakukan apa-apa, Sayang. Aku hanya memutus kontrak kerja dan menghentikan pendanaan untuk perusahaan mereka."


"Jika ku katakan, kau pasti semakin membenci Hana," katanya dengan tersenyum.


"Memangnya kenapa?"


"Hana sudah menggelapkan dana perusahaan sampai milyaran untuk membayar banyak mafia agar mereka mencarimu dan membunuhmu saat kau pergi dariku dulu, Sayang."


"Hah?" Begitu terkejutnya aku mendengar jawaban suamiku, senekat itukah wanita licik itu untuk mendapatkan suamiku.


Rasa iba yang baru saja menguasai diriku kini hilang entah kemana, lagi-lagi wanita itu memberikan aku kejutan hebat yang membuatku semakin membencinya, tidak puaskah dia sudah mengambil calon buah hatiku dulu?


"Dari mana kau tau semua ini, Honey?"


"Aku membayar para mafia itu tiga kali lipat dengan yang di janjikan Hana sebagai harga nyawamu, Sayang."


"Aku menyuruh mereka tetap mencarimu, namun tidak untuk mendekatimu, namun nyatanya kau bersembunyi dengan sangat baik. Aku penasaran, siapa orang yang sangat berani membantumu," ujarnya.


Seketika tubuhku merinding mendengar perkataanya, ingin sekali mengambil ponsel dalam tas dan menanyakan kabar Duhan sekarang juga.

__ADS_1


Teringat saat Duhan menemuiku di villa tengah hutannya, dia terlihat sangat panik dan ketakutan, dia bilang kalau dirinya sedang di incar banyak orang, dia merasa selalu di awasi, bahkan dia tidak pernah menghubungiku melalui telepon atau sejenisnya karena khawatir ponselnya telah di sadap, dan akhirnya aku memilih untuk menemui Claire agar dia tetap aman.


Entah kenapa, terbesit di benakku untuk mengetahui keberadaannya, orang yang sudah membantuku saat aku dalam masa-masa sulit kala itu. Semoga saja suamiku tidak tau tentangnya, jika dia sampai tau, entah apa yang akan ia lakukan pada Duhan.


"Setelah ini kau mau kemana, Sayang?" tanya suamiku, lamunanku buyar begitu saja.


"Aku ingin mampir ke butik, sebentar saja."


"Baiklah, aku akan ikut denganmu, Sayang."


"Tidak perlu, Honey. Aku akan di antar bang Bimo, lagipula pekerjaanmu pasti banyak, aku tidak ingin mengganggu."


"Kau yakin tidak membutuhkanku lagi?"


"Ah, bukan begitu maksudku, aku hanya tidak ingin merepotkanmu, Honey."


"Baiklah, baiklah. Berjanjilah kau hanya sebentar, jangan terlalu lelah," ujarnya.


"Siap, Honey. Aku pergi dulu, love you." Ku cium pipi laki-laki itu, seketika wajahnya bersemu merah.


Namun tubuh yang hendak berdiri ini kembali di tarik ke pangkuannya, dengan ganas laki-laki itu menyesap bibirku perlahan, ia memainkan tangannya meraba setiap inci tubuhku yang mulai kepanasan akibat ulah nakalnya.


Sekuat tenaga berusaha ku dorong dadanya agar sedikit menjauh. Bagaimana jika ada orang yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan ini dan melihat adegan mesum yang kami lakukan.


"Honey, hentikan!"


"Kenapa, kau yang sudah menggodaku, Sayang. Jadi, ayo tuntaskan," ujarnya kembali menarik tubuhku, bibirnya langsung menuju sasaran.


"Honey, bagaimana kalau ada yang masuk tiba-tiba?"


"Tenang saja, pintu itu sudah terkunci secara otomatis," terangnya. Jelas saja, laki-laki ini sudah mulai menyingkap dress selutut yang aku pakai.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2