TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Masa Lalu (2)


__ADS_3

Siapa sangka, seorang Argadiansyah Wijaya yang berwajah rupawan dengan kekayaan yang bahkan tidak akan pernah habis meski di makan tujuh turunan ini pernah menjadi seorang pengamen jalanan hanya demi mendapatkan uang jajan untuk bekal sekolahnya.


Tidak akan ada yang percaya jika cerita ini di dengar dari mulut orang lain, berbeda lagi jika tuan Arga yang mengungkapkan rahasia besar ini dalam hidupnya secara langsung.


Saat pertama kali mengenalnya, aku berpikir bahwa laki-laki yang menikahiku ini mungkin sultan sejak bayi, atau milyader dari dia masih jadi orok, terlihat dari sifat angkuh yang luar biasa yang ia perlihatkan di depan umum.


"Setelah hampir satu minggu aku di kurung, aku mulai rutin mengamen di jam yang sama dan tempat yang sama setiap hari, hanya untuk memastikan bahwa yang aku lihat adalah mamaku."


"Benar, dia mamaku. Aku menemuinya di depan sebuah minimarket tempatku beristirahat dari terik matahari, aku memanggilnya, menangis memeluk kakinya. Dia dengan kasar mendorong tubuhku, lalu berlalu pergi bersama laki-laki yang biasa bersamanya."


"Sejak saat itu aku sadar, mama sengaja meninggalkan aku dan papa karena kami jatuh miskin. Papa tidak lagi mampu memenuhi gaya hidup sosialitanya."


Tuan Arga kembali meletakkan lukisan itu di tempat semula, namun kali ini dengan posisi terbalik, sehingga tak terlihat gambarnya, hanya kain putih dengan bercak cat air yang tak beraturan.


"Maafkan aku, jika sebelumnya aku tidak bisa memahami rasa sakit yang kau rasakan," ujarku pelan. Ku peluk dengan erat tubuh gagah itu, memberikan semangat dan harapan untuk terus kuat.


"Lalu, bagaiman rumah ini bisa kembali menjadi rumah papa?" tanyaku lagi.


"Tujuh tahun berselang, bisnis papa mulai merangkak naik, aku bisa kuliah dan membantu papa menjalankan semuanya. Setelah itu kami membeli kembali rumah ini dengan harga dua kali lipat."


"Sebenarnya aku enggan kembali ke rumah ini, terlalu banyak kenangan manis yang membuatku lebih merasakan sakit. Namun papa menginginkannya," lanjut tuan Arga.


*Jika memang mama tuan Arga sudah berkhianat dan begitu kejam meninggalkan anak dan suaminya di saat susah, kenapa papa masih begitu mencintainya sampai saat ini?


Sungguh, cinta macam apa yang membuat orang begitu kuat mempertahankan perasaannya saat orang yang menjadi belahan jiwanya telah pergi berbahagia bersama orang lain, aku tidak mengerti*.


Aku bahkan tidak bisa membayangkan rasa sakit yang papa rasakan, ibarat sudah terluka, tersiram air cuka pula. Disini, tuan Arga lah yang menjadi korban dalam hancurnya rumah tangga itu, sehingga menimbulkan trauma psikis seumur hidup baginya.


"Setelah bisnis kami berkembang pesat dan kembali menjadi perusahaan besar, aku mulai belajar keahlian bisnis dari papa dan beberapa partner kerjanya. Kemudian aku mencari tau siapa laki-laki yang sudah merebut hati mamaku sampai ia tega meninggalkan suami dan anaknya."


"Lalu, setelah itu?" tanyaku penasaran.


"Tentu saja, aku menghancurkan kehidupan mereka, lebih pedih dari yang pernah aku dan papa rasakan. Membuat mereka bangkrut dan menjadi gelandangan."


"Apakah papa tau hal itu?"


"Tidak, aku merahasiakan ini dari siapapun. Papa sangat mencintai mama, papa bahkan rela mati demi bisa melihat mama bahagia, jadi aku tidak memberitahukan hal ini."


"Setelah itu?"


"Setelah satu tahun berselang, laki-laki yang sudah menjadi suami baru mama itu meninggalkan mama, memilih bersama wanita lain yang kaya raya. Selama berumah tangga dengannya, mama sering mendapatkan kekerasan fisik dan psikis, sampai mama mengalami sakit jantung. Namun sepertinya mama bertahan demi bisa hidup bergelimang harta."

__ADS_1


"Hah, lalu apa yang kau lakukan pada laki-laki itu setelah kau tau semua ini, Honey?"


"Aku membunuhnya."


Deg, jantungku terasa copot mendengar jawabanya.


"Mem-membunuhnya?


"Ya, entah mengapa, aku seperti merasa sakit hati karena dia memperlakukan mamaku sekeji itu, padahal sebelumnya, papa menjadikan mama ratu di rumah ini."


"Mama kembali ke kehidupan kami seperti manusia yang tidak punya dosa, dengan mudahnya dia merayu papa untuk kembali bersamanya. Aku jijik padanya."


"Jangan berkata seperti itu, Honey. Bagaimanapun, dia adalah wanita yang sudah bertaruh nyawa melahirkanmu."


"Kau tau, papa bahkan memaafkan segala kesalahan mama dan melupakannya begitu saja. Sedangkan aku, aku tidak lagi ingin menganggap dia sebagai seorang ibu meskipun berkali-kali dia menangis memohon maaf padaku."


"Setiap manusia punya salah, maafkanlah, biarkan mamamu tenang di alam sana. Dia pasti menangis karena kau tidak pernah memaafkannya."


"Aku belum siap, luka itu masih menganga lebar sampai saat ini."


"Baiklah, aku tidak akan memaksa."


"Jika suatu saat aku miskin dan tidak lagi memiliki apapun, apakah kau juga akan meninggalkan aku, Sabrina?" tanya tuan Arga, kedua tangannya menggenggam tanganku dengan erat, ia menatap mataku lekat, seolah mencari kebenaran di sana.


"Kita akan terus bersama melewati semua suka dukanya pernikahan ini, aku berjanji," lanjutku sambil tersenyum, tuan Arga ikut tersenyum senang mendengar jawabanku.


"Ayo kembali ke kamar, ini sudah malam," ajak tuan Arga. Dengan cepat ia meraih tubuhku dan menggendongku di depan dadanya.


"Turunkan aku, Honey. Turun!"


"Ssssstt, jangan berteriak. Nanti orang-orang panik, mereka pikir aku berbuat yang iya-iya padamu" canda tuan Arga, wajahnya kembali bisa tersenyum setelah mengeluarkan beban yang benar-benar menggantung di hatinya.


"Turunkan aku, malu. Nanti ada yang lihat," ujarku sedikit memelankan suara.


"Tidak mau!"


Aku lelah memberontak, lalu menyerahkan diri padanya agar ia bisa berbuat sesuka hatinya. Mengembalikan suasana hatinya menjadi lebih baik adalah hal yang penting bagiku.


Setelah sampai di kamar, tuan Arga merebahkan tubuhku di atas kasur dengan lembut. Kemudian ia melepas kaos putih yang melekat di tubuhnya dan membuangnya ke sembarang arah.


"Kau, mau apa, Honey?"

__ADS_1


"Tentu saja aku mau jatahku."


"Jatah? jatah apa?"


"Jatah olahraga setiap malam," ujarnya sambil mendekati tubuhku. Kini dia mulai menindih dan melancarkan aksi nakalnya.


Aku tidak bisa menolaknya, memang inilah yang menjadi rutinitas kami setiap malam, hampir tidak pernah libur kecuali ada hal-hal tertentu. Aku tidak pernah ingin membuatnya kecewa, ku layani dia dengan sepenuh hatiku, menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku hanya padanya.


Terkadang, inilah yang menjadi obat kerinduan saat kami tidak bertemu selama seharian, atau menjadi penawar kegelisahan hati atas berbagai masalah yang kami hadapi.


Menyatukan raga untuk menjemput kenikmatan dunia sesaat, namun bisa merubah banyak hal dalam sebuah hubungan.


Usai hasrat telah tertunaikan, kami kembali saling bercengkrama sampai kantuk menyerang dan membimbing kami menuju alam bawah sadar.


...


Suara ayam jago berkokok terdengar nyaring di telingaku, pantas saja, ketika ku lihat di dekat jendela, ternyata seekor ayam jago sedang bertengger di atas kandangnya.


Matahari mulai merangkak naik, aku memutuskan mandi lebih dulu sebelum tuan Arga terbangun, mungkin dia masih lelah, lelah bertempur bersamaku semalam.


Hari ini aku dan tuan Arga masih di rumah ini, rencananya besok pagi baru kami akan kembali ke ibu kota, berbagai tanggung jawab pekerjaan sudah menanti kami. Apalagi Riani yang sudah menerorku dengan berbagai pesanan gaun terbaru yang harus aku penuhi.


Usai mandi, aku mencium bibir laki-laki yang kini masih asik terbuai dalam mimpi indahnya, dia menggeliat merasakan tanganku yang dingin menyentuhnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2