TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
END


__ADS_3

Hari ini, tepat ulang tahun Chamomile, semua orang hadir untu merayakan pesta sederhana yang kami adakan di halaman belakang.


Ayah ibuku datang, bersama Safira. Papa mertuaku juga datang membawa hadiah untuk Chamomile, dan juga untukku. Chamomile datang bersama Duhan, beberapa karyawan butikku juga ikut berkumpul, dan Joe, dia selalu ada dimana pun dan kapanpun suamiku ada.


"Sayang, ayo kita potong kue," ajak suamiku, kami berkumpul di halaman yang cukup luas dengan dekorasi cantik bertema princess.


"Semuanya, mari berkumpul." Suamiku berkata dengan suara keras, menarik perhatian semua orang untuk mendekat di meja besar yang sudah tersedia berbagai cake mini dan kue ulangtahun besar untuk Chamomile.


Gadis kecilku itu duduk di meja dekat kuenya sambil memainkan sendok plastik, ia berceloteh gembira melihat banyak orang di sekelilingnya.


Semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil bertepuk tangan, Chamomile turut serta mengikuti gerakan tepuk tangan sambil tertawa lucu.


"Selamat ulang tahun, Sayang. Aunty bawakan hadiah untukmu," ujar Claire, ia menyerahkan sekotak besar bingkisan yang langsung menjadi bahan mainan Chamomile.


"Terimakasih sudah datang, Claire." Aku memeluknya, dia membalas pelukanku dengan erat.


"Eits, jangan terlalu erat, nanti adik Chamomile bisa sesak nafas disini," ujarku tersenyum sambil menunjuk perutku yang masih rata.


"Hah? Chamomile sudah mau punya adik? serius?" Claire mendelik, ia menutup kedua mulutnya yang menganga lebar.


"Sudah hampir 3 bulan, Claire."


"Wow, aku terkejut!" seru Claire girang, ia menarik lengan Duhan yang sedang asik mengobrol bersama kedua orang tuaku di belakangnya.


"Sayang, Chamomile mau punya adik," kata Claire, Duhan pun tidak kalah terkejut. Akibat ulah Claire yang berteriak histeris, membuat semua orang berkumpul dan menanyakan kebenaran ini.


"Benar, Chamomile akan segera punya adik," seru suamiku lantang, ia tampak bahagia mengumumkan kabar gembira ini.


Semua orang bersorak, bertepuk tangan, ayah dan ibuku terharu, mereka memelukku erat. Aku mulai menerima kenyataan pahit tentang diriku yang bukan anak dari mereka, aku berusaha kuat meskipun mereka belum mengatakannya.


"Selamat, Kak." Safira mendekat, mengucapkan selamat dan menggendong Chamomile.


"Keponakanku ini menggemaskan, sudah bisa jalan?" tanya Safira.

__ADS_1


"Sudah, selangkah dua langkah, meskipun sering terjatuh," jawabku.


Chamomile di gendong Safira menjauh, entah mengapa, aku merasa Safira terlihat berbeda, ia tidak begitu menunjukkan kebenciannya padaku. Ah, mungkin karena ada Chamomile.


"Nak, kami ingin bicara," ujar ayah, ia menggandeng tanganku bersama ibu. Suamiku ikut bergabung di meja paling ujung.


Mungkin inilah saatnya mereka mengatakannya, aku sudah menyiapkan diri dan hatiku tentang apa yang akan mereka jelaskan, aku tau semua ini menyakitkan, tapi biarkan kebenaran terungkap.


Ayah dan ibu bergantian menceritakan kisah masa kecilku, dan dimana tempat mereka mengadopsiku, aku mendengarkan dengan seksama, mencerna setiap penuturannya, suamiku menggenggam erat tanganku yang mulai gemetar di bawah meja.


"Maafkan kami jika semua ini terlambat, maaf." Ibu menangis, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Aku? sama sekali tidak meneteskan air mata, semuanya sudah terlanjur kering, sebelum mereka mengatakan kebenaran ini, aku sudah menangisinya berbulan-bulan.


"Tidak apa-apa, Ayah. Sabrina paham." Aku tersenyum dan mengangguk. Mereka terlihat bingung, seakan tidak percaya dengan reaksiku yang biasa saja.


"Mana dokumen yang harus Sabrina tandatangani?" tanyaku pelan, aku sudah menduga bahwa mereka mengatakan semua ini karena meminta tandatanganku.


"Kau, kau sudah tau?" tanya ayah sambil bibir bergetar.


"Jadi ...." Kalimat ayah menggantung.


"Ya, Sabrina sudah mengetahui semuanya beberapa bulan lalu, dan dia hampir sekarat karena sakit." Suamiku berucap pelan.


"Maafkan kami, Nak. Kami tidak bermaksud ...."


"Tidak apa, Bu. Aku paham, terimakasih sudah menjadi orang tua terbaik di dunia ini untukku, tanpa kalian, mungkin aku akan jadi yatim piatu selamanya." Aku berdiri mendekat, memeluk kedua malaikat yang telah membesarkanku dengan keringat dan kasih sayang.


...


Tepat di usia Chamomile yang ke 18 bulan, aku melahirkan adiknya, bayi laki-laki yang tampan, mirip sekali dengan ayahnya, aku memberinya nama Brailyn Charleston.


"Aku heran, kenapa semua anak-anakku tidak ada yang mirip denganku?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Mungkin karena kau selalu kalah bertempur denganku, Sayang," jawab suamiku sambil mengerlingkan sebelah mata, genit.


"Kalau kata orang tua jaman dulu, anak yang dominan mirip ayahnya, maka ayahnya lebih menguasai medan pertempuran saat proses pembuatan," timpal Joe sambil menahan tawa.


Aku berdecak kesal, tidak puas dengan jawaban dua laki-laki yang sama sekali tidak masuk akal.


"Mommy ...." teriak anak gadisku dari depan pintu, ia datang di gandeng papa mertua, lalu langsung berlari memeluk ayahnya. Di usianya yang ke 18 bulan, ia sudah bisa mengucapkan beberapa kata dengan bahasa khas anak-anak.


"Daddy rindu, apa Chamomile nakal di rumah eyang?" tanya suamiku menggendong anak gadisnya, Chamomile menggeleng dan tersenyum memperlihatkan empat buah gigi susunya.


"Kau sudah sehat, Nak." Papa mencium pucuk kepalaku, ia mengelus rambut Charles dalam gendonganku.


"Sehat, Pa. Terimakasih sudah menjaga Chamomile beberapa hari."


"Papa sangat senang, dia anak yang pintar, papa bawakan hadiah untukmu," ujar papa, menyerahkan kotak kecil berlapis kain bludru merah.


"Hadiah? terimakasih, Pa." Aku tersenyum senang lalu membuka kotak itu, sebuah cincin berlian bermata putih dengan ukiran namaku ada di sana, cantik sekali.


"Pa, ini sangat bagus. Terimakasih."


"Kau pantas mendapatkan hadiah ini, Nak. Bahkan papa rasa ini tidaklah cukup untuk mengungkapkan rasa terimakasih papa atas perjuanganmu melengkapi keluarga kita."


Ku peluk papa mertuaku itu. Sungguh suatu yang sangat membahagiakan memiliki mertua yang sangat sayang padaku, setiap kali aku melahirkan, ia selalu memberiku hadiah-hadiah kecil dengan harga fantastis.


Namun bukan soal harganya, tapi ketulusan dan kasih sayangnya yang membuatku semakin bahagia berada di tengah-tengah keluarga ini.


Kini aku sudah menghadiahkan dua malaikat kecil sebagai pelengkap, Chamomile dan Charles. Aku berharap mereka menjadi putra dan putri yang membanggakan.


-END-


Baca sekalian yukk kakak-kakak.


Novel di bawah ini di jamin nggak kalah seru dan bikin kalian baper ❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2