TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Kehilangan


__ADS_3

Lampu di ruangan ini menyala begitu terang, membuatku sulit membuka mata. Sementara sinar matahari menambah penerangan dengan cahayanya yang memancar lembut menghangatkan tubuh yang mendingin, sedangkan jarum infus menancap di tangan kiriku.


Ruangan ini begitu besar, meskipun ini adalah ruangan tempat rawat inap di rumah sakit, tapi lebih terlihat seperti sebuah kamar hotel, tempat tidurnya sangat lebar dan empuk, berbeda dengan tempat tidur di rumah sakit lain yang pernah aku kunjungi saat menjenguk Riani yang sedang sakit.


Samar-samar aku mendengar suara tuan Arga dan tuan Joe sedang berbincang di balik tirai yang menghalangi antara tempat tidur yang kini menjadi tempatku berbaring dengan ruangan lain.


Kepalaku terasa sakit, tubuhku terasa sangat lemah, aku merasakan sedikit nyeri di area kewanitaanku dan perut ini, hampa, aku tidak merasakan apapun dengan perutku.


Sekelebat bayangan memenuhi pikiranku, aku mengingat peristiwa menyakitkan itu, aku mengingat apa yang membuatku berbaring di atas ranjang rumah sakit ini, aku mengingat apa yang membuat hatiku teriris perih sesaat sebelum kejadian naas ini.


Bulir bening menetes deras membasahi bantal bersarung putih ini, dadaku terasa sangat sesak, isak tangis tak tertahankan lagi, bahuku berguncang hebat menahan nafas yang kian menyesakkan.


"Kau sudah sadar?" tanya tuan Arga mendekat, dia duduk di kursi dekat ranjang, tepat di samping kananku.


Aku diam, semakin aku menatap wajah itu semakin perih rasanya hatiku. Aku mencoba menahan diri agar lebih tenang.


"Maafkan aku telah pergi terlalu lama, maafkan aku tidak bisa menjagamu."


"Dan, anak kita, Tuhan lebih menyayanginya, dia sudah kembali pada sang pemilik semesta," lanjutnya, dia meraih tanganku, menggenggamnya, namun aku tidak memberikan reaksi.


Seketika air mata kembali luruh, jatuh berderai-derai, udara di sekitarku terasa mencekik, aku kehilangan oksigen untuk memenuhi paru-paruku, semua di ganti dengan sayatan-sayatan tajam yang terus menghujaniku.


Aku membalikkan badan membelakanginya, tubuhku bergetar, tanganku berkeringat dingin, sakit, sakit sekali.


Ya Tuhan, kenapa kau berikan aku cobaan yang bertubi-tubi, sakit, ini begitu sakit.


Kebahagiaan yang baru saja aku nikmati hanya berselang beberapa jam, lalu hancur begitu saja. Bahkan kejutan yang ingin sekali aku katakan padanya, kini berganti kabar duka yang menyakitkan, entah hanya aku yang merasa sakit, aku dia juga ikut merasakannya.


"Sabrina, maafkan aku." Dia mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang sambil membelai rambutku.


Aku bergeming, enggan melihat wajahnya, aku tidak kuasa dengan kesakitan yang aku terima.


"Boss, Hana ingin menemuimu." Terdengar suara tuan Joe mendekat.


"Sa, aku akan menemui Hana sebentar," ucap tuan Arga seraya berdiri.


Belum juga dia melangkahkan kaki dari samping tempat tidurku, wanita ular itu dengan cepatnya memeluk tuan Arga, aku melihatnya dari bayangan cermin yang berada di hadapanku.


"Arga, maafkan aku, aku sudah berusaha menolongnya, tapi---," ucap nona Hana sesenggukan.


"Sstt, tidak apa-apa, Hana. Terimakasih sudah berusaha menolong Sabrina."


"Tapi, anakmu."


"Tidak apa-apa, ini semua takdir," jawab tuan Arga.


"Lihat, kakiku juga sempat terkilir saat meraih Sabrina."


"Benarkah, apa sudah di obati?"


"Sudah, aku mengobatinya sendiri di rumah."


Akhirnya mereka berpelukan di belakangku, bahkan sedikitpun tak menghiraukan keberadaanku.

__ADS_1


Ingin rasanya ku tampar dengan sandal jepit mulut wanita berbisa itu, bagaimana bisa dia berkata seakan-akan dia wanita baik, licik!


Mengapa kau memberiku harapan yang seakan-akan nyata untuk meraih bintang bersama, nyatanya kau membawaku terbang tinggi agar semakin sakit saat kau jatuhkan aku begitu saja, kau benar-benar jahat, Arga!


"Arga, aku ingin bicara dengan Sabrina sebentar, bisakah kau meninggalkan aku bersamanya?" tanya nona Hana.


"Baiklah, aku ingin menghirup udara segar di luar." Tuan Arga pergi, meninggalkanku bersama dengan wanita berbisa seperti nona Hana.


"Ah, Sabrina," ucapnya sambil berpindah tempat di hadapanku.


"Kau kehilangan bayimu? aku tidak sengaja melakukan itu."


"Relakan saja anakmu, Tuhan lebih menyayanginya. Tuhan tau kalau sampai anak itu terlahir, dia tidak akan sempat melihat kebersamaan ayah dan ibunya, karena sebelum itu, aku sudah lebih dulu mengambil ayahnya," lanjut nona Hana dengan suara lembut menusuk.


"Kau, senang?" tanyaku datar.


"Bisa jadi, tapi aku sedikit bersedih, karena keadaanmu yang seperti ini, membuat Arga lebih perhatian padamu."


"Menjauhlah dariku, Hana!"


"Kau mengusirku lagi?"


"Jika kau seorang wanita, tentunya kau mengerti perasaanku, tapi sepertinya kau hanya wanita jadi-jadian, terbuat dari apa hatimu? hah?"


"Hatiku, terbuat dari cinta untuk Arga, hanya Arga seorang."


"Kau sudah gila, pergilah!"


"Baiklah, aku akan pergi. Selamat menikmati kehidupan barumu, semoga kau bahagian, Sabrina."


...


"Makanlah," ucap tuan Arga sambil menyendokkan bubur yang sudah di sediakan pihak rumah sakit untuk para pasiennya.


Aku menggeleng pelan.


"Makanlah sedikit saja, agar kau lekas sehat."


"Aku tidak lapar," jawabku lirih, rasanya untuk berbicara saja membuatku mengeluarkan banyak tenaga.


"Apa kau mau sesuatu?"


Aku menggeleng.


"Makanlah sedikit, apa kau tidak mau bertemu orang tuamu?"


"Kau memberitahu ayah dan ibuku?" tanyaku sedikit terkejut.


"Ya, mungkin sebentar lagi mereka akan sampai, jadi sekarang makanlah, jangan membuat mereka khawatir."


Aku mengangguk, dengan cekatan tuan Arga membantuku duduk bersandar dengan bantal yang di tumpuk di bagian belakang tubuhku.


Belum sampai bubur di mangkok itu habis, ayah dan ibuku datang.

__ADS_1


"Kau sudah membaik, Nak?" tanya ibuku dengan mata yang sudah sembab, aku yakin ibu sudah menangis dari tadi.


"Sabrina sudah membaik, Bu." Aku tersenyum kecil.


Sedangkan tuan Arga pamit keluar sebentar untuk memberikan aku dan ibuku waktu bersama.


"Relakan calon bayimu, Nak. Ini semua sudah takdir, Tuhan lebih menyayanginya," ucap ibu langsung memelukku.


Aku langsung menumpahkan segala rasa sakit dengan menangis sepuasnya dalam pelukan ibu, aku tidak kuasa lagi membendung air mata ini, hanya ibu lah sosok yang mampu mengerti perasaanku saat ini.


"Bersabarlah, ini semua ujian," kata ayahku mencoba menenangkan.


"Suatu saat, Tuhan akan memberikan gantinya, percayalah," lanjutnya.


Aku berganti memeluk ayah tanpa mengucapkan sepatah katapun, bahkan kemeja ayah yang berwarna coklat iku sampai basah karena air mata dan ingusku yang menempel di sana.


"Ini semua proses, Tuhan ingin tau seberapa kuat dirimu," kata ayah.


"Kuatkan suamimu, ayah tau, dia juga sangat terpukul dengan hal ini."


"Laki-laki memang tidak pernah menampakkan kesedihannya, tapi jauh di dasar hatinya, kau tidak akan pernah tau sekuat apa dia menahan tangis di sana," lanjut ayah.


Entah apa yang harus aku katakan pada mereka, aku tidak mungkin menceritakan tentang kejadian itu pada ayah dan ibuku, aku tidak mau membuat mereka semakin bersedih.


"Apa kalian akan menginap menemaniku disini?" tanyaku.


"Kami akan meminta izin pada suamimu terlebih dahulu, Nak. Karena saat ini, dia lebih berhak atas kamu," jawab ibu.


Ibu terus memelukku, membelai rambutku dengan lembut, seakan menyalurkan kekuatan yang tersisa agar aku semakin tegar menjalani semua ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...


Hai semua, jangan emosi please 😁

__ADS_1


Nanti akan ada saat dimana tuan Arga murka karena tau kebenaran soal ini ya, Sabar ❤️


__ADS_2