TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Ketakutan Berlebihan


__ADS_3

Rindu yang sudah menggunung hampir sebulan lebih kami tidak melakukannya, membuat semua ini terasa begitu lebih indah. Jemari tangannya memainkan bagian-bagian tubuhku dengan lembut, membelai setiap tempat favoritnya dengan penuh cinta.


Jangankan untuk melakukan hal-hal seperti ini, untuk bertatap muka ataupun melempar kabar aku pun tidak memberinya kesempatan, meskipun hari yang masih terik dengan cuaca yang panas, aku membiarkan laki-laki itu melepaskan segala kerinduannya.


Peluh kami bercampur menjadi satu, tak ada lagi sehelai benangpun yang menutupi tubuh kami, kami tenggelam dalam gelora cinta yang tak bertepi, menikmati madu pernikahan yang sesungguhnya kami impikan.


Usai desahan panjang menggema di telingaku, tuan Arga berbaring lemah di sampingku, kini dia meraih selimut untuk menutupi tubuh kami.


"Terimakasih, Sayang," bisiknya di telingaku.


"Untuk apa?"


"Untuk semua hal yang kau berikan, untuk semua cinta yang kau tumpahkan, untuk segala rasa yang kau hadiahkan, dan untuk kenikmatan yang selalu terpenuhi tanpa hambatan, terimakasih," ucapnya membelai rambutku, aku tersenyum mengangguk menatap netra coklat yang berbinar penuh kebahagiaan itu.


"Kau semakin cantik setelah pergi jauh, dan kau semakin membuatku memanas setiap kali aku melihatmu," lanjutnya.


"Hmm, mungkin karena kita lama tidak bertemu, dan lama tidak melakukannya," kataku tersenyum.


"Tidak, kau benar-benar semakin membuatku tergila-gila, Sa."


"Benarkah? artinya usahaku tidak sia-sia untuk merubah penampilanku."


"Kau berubah demi diriku?"


"Aku berubah karena keinginanku, dan tentu saja demi dirimu, Honey."


"Aku mencintaimu, Sa. Tidak peduli hari ini, besok atau lusa, aku tetap mencintaimu."


"Meskipun aku tak lagi cantik?" tanyaku.


"Tentu saja, kita akan menua bersama, asal kau jangan pernah pergi lagi."


"Aku berjanji, Honey." Ku kecup mesra bibir basah laki-laki itu.


Usai peluh yang mulai mengering, kami memutuskan mandi bersama, menikmati semuanya kembali.


Aku bahkan merasa bahwa kami menikah baru kemarin, karena keromantisan dan ungkapan cinta itu baru terucap beberapa jam yang lalu, tepat saat kepulanganku.


Aku memang menyesal telah pergi meninggalkannya, tapi semua itu memberikan pelajaran berharga untuk kami, aku menyadari bahwa aku tidak setega itu membiarkannya hidup dalam kehilangan, aku menyadari bahwa aku lebih sakit saat jauh darinya.


Pelajaran untuknya adalah, dia menyadari bahwa dia membutuhkanku, dia menyadari bahwa di hatinya melekat kuat namaku, karena sebuah kehilangan, dia mengerti akan pentingnya kehadiran.


"Mau menonton tv?" tanyaku.


"Aku lebih senang menghabiskan waktu bersamamu di dalam kamar, Sa."


"Tapi, aku ingin menonton tv." Aku merajuk.


"Baiklah, ayo." Tuan Arga terpaksa mengikuti keinginanku.


Di depan tv, Claire dan tuan Joe masih duduk disana menikmati cemilan yang sudah di sediakan pelayan, beberapa bungkus kripik berbagai rasa, aneka kue coklat, dan beberapa minuman kaleng.


"Kalian masih betah menonton tv?" tanyaku ikut bergabung.


"Acara tv sedang bagus, Sa. Aku lama tidak menonton tv," jawab Claire.


"Itu karena kau terlalu sibuk, Claire. Kau sibuk mengurus karirmu, lain kali, kau juga perlu mengurus hatimu yang gersang tidak berpenghuni itu," kataku menyindir. Dia mencubit pahaku.


"Ucapanku benar kan? iya kan, Honey?" Aku mengalihkan pandangan pada tuan Arga untuk mendapat persetujuan.


"Benar, Sayang." Tuan Arga tersenyum.

__ADS_1


"Apakah kalian sudah selesai menyicil masa depan?" tanya tuan Joe.


"Sudah, tenaga kami hampir habis, jadi kami memutuskan untuk melanjutkannya nanti malam," jawab tuan Arga penuh semangat.


Hah, nanti malam lagi?


Aku lelah, aku tidak tahan menghadapi keinginanmu yang tak pernah usai itu, Tuan. Perih di tempat itu saja belum sembuh, kau sudah merencanakan itu lagi.


"Bagus, semangat menyicil, ya." Tuan Joe tertawa terbahak-bahak setelah mengucapkan kalimat itu, sedangkan Claire menatap bingung.


"Oh ya, siapa laki-laki yang kemarin mengantar kita ke bandara, Claire?" tanyaku lagi.


"Dia seorang make up artist terkenal di Paris, Sa. Aku sering bekerja sama dengannya untuk menyempurnakan penampilan para model," jawab Claire.


"Eh, tapi dia terlihat suka padamu, Claire. Bahkan kalian santai cipika cipiki di depanku," ucapku agak keras, sengaja untuk menarik perhatian tuan Joe.


"Sabrina!" Claire sedikit berteriak, matanya berkedip beberapa kali memberi isyarat kalau aku harus diam.


"Aku kan cuma tanya." Aku tersenyum, mengalihkan pandangan pada tuan Joe yang menatap tidak suka. Kali ini laki-laki itu tidak bisa berbohong, dia terlihat terkejut dan cemburu mendengar ucapanku. Sedangkan Claire, dia jadi salah tingkah.


"Aku akan ke kamar sebentar," pamit Claire.


"Aku ikut," ucapku bersemangat, dia pasti merasa malu karena aku membahas temannya itu.


"Jangan pergi, Sa." Tuan Arga menahan tanganku.


"Aku hanya sebentar, Honey. Sebentar saja, lima menit."


"Baiklah, lima menit." Tuan Arga melepaskan genggamannya.


Setelah sampai di kamar tamu, aku melihat wajah Claire di tekuk, dia terlihat marah padaku.


"Jangan marah, Claire. Aku hanya sedang bereksperimen," kataku duduk di sampingnya.


"Aku ingin tau reaksinya, dan---."


"Dan apa?"


"Apa kau tidak melihat ekspresi wajahnya? dia cemburu, Claire."


"Benarkah?"


"Ya, aku melihat dengan jelas raut wajah ketidak sukaannya itu, dia menyisakan tempat di hatinya untukmu, kau harus mengambil kesempatan itu," ucapku mengguncang bahunya.


"Kau yakin dia cemburu?"


"Aku yakin, Claire. Aku pandai dalam menganalisa perilaku seseorang, hehehe."


"Baiklah, pikirkan baik-baik perkataanku, aku harus kembali sebelum bayi besarku itu meronta-ronta mencari keberadaanku," ucapku berlalu meninggalkannya.


Aku kembali menemui tuan Arga dan tuan Joe duduk di depan tv, kini tayangan tv telah berganti dengan siaran langsung pertandingan sepak bola. Mau tidak mau, aku ikut duduk bersama mereka, meskipun tidak menikmati acara tv, aku lebih menyibukkan diri mengunyah cemilan di hadapanku.


...


Hari semakin sore, kami menikmati senja dengan duduk di sofa favorit kami memandang ke arah luar jendela, matahari kian turun, langit biru kini berubah menampakkan sinar jingga yang indah.


Aku bersyukur karena Tuhan memberikan kesempatan padaku untuk kembali pulang, aku akan benar-benar menyesal jika aku terus menuruti keegoisanku meninggalkan tuan Arga sendirian.


Laki-laki yang pertama kali ku kenal dingin, cuek, dan maha benar, kini sedikit demi sedikit berubah menjadi penuh kelembutan. Aku bersyukur karena tidak menyerah sebelum perjuanganku benar-benar di mulai.


"Minggu depan, kita akan mengunjungi papa," ucap tuan Arga.

__ADS_1


"Wah, aku senang sekali, aku juga rindu papa."


"Kita akan menginap beberapa hari disana."


"Tidak apa-apa, aku akan semakin senang. Oh ya, besok aku harus ke butik, banyak hal yang harus aku benahi di sana."


"Jangan pergi," ucap tuan Arga memeluk pinggangku, tiba-tiba matanya mengembun, tangannya gemetar hebat.


"Aku tidak akan pergi jauh, Honey. Aku hanya datang ke butik, biasanya aku juga bekerja disana."


"Aku mohon, jangan tinggalkan aku lagi, Sa. Jangan pergi," ucapnya lagi, dia mengeratkan pelukannya.


"Tenangkan dirimu," ucapku mengusap rambutnya.


Entah mengapa, setiap kali aku berpamitan untuk pergi, meskipun hanya sekedar pergi ke kamar mandi ataupun ke dapur, tuan Arga selalu histeris, tangannya gemetar, seketika wajahnya memerah dengan peluh yang membanjiri tubuhnya.


Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Tuan. Kau membuatku semakin takut.


"Bawa aku pergi bersamamu," ujarnya saat ku rasakan tangannya mulai berhenti bergetar.


"Baiklah, kita akan ke butik besok, kau akan menemaniku seharian disana." Aku tersenyum membingkai wajahnya dengan kedua tanganku, seketika laki-laki itu tersenyum kembali.


Aku harus melakukan sesuatu, tuan Arga tidak boleh di biarkan terus seperti ini.


Diam-diam aku mengirimkan beberapa pesan kepada tuan Joe, lalu membuat sebuah rencana untuk bertemu dengan seseorang yang bisa membantu memulihkan keadaan tuan Arga.


Aku tidak tega jika harus melihatnya ketakutan setiap saat, dia bersikap normal dan biasa saja selain saat aku mengatakan akan pergi, dia benar-benar takut aku meninggalkannya, dan ketakutan itu tidaklah wajar, itu sangat berlebihan.


Saat malam datang, kami makan malam bertiga, aku, Claire dan tuan Arga, entah kemana perginya tuan Joe. Dia itu seperti jailangkung, datang tak di undang, pulang tak di antar. Tiba-tiba datang mengejutkan, lalu pergi tak berpamitan, dasar laki-laki aneh!


"Apakah Joe tidak ikut makan malam bersama kita?" tanya Claire tiba-tiba. Aku sedikit terbatuk-batuk mendengarnya.


"Mungkin dia sedang ada urusan, Claire. Dia jarang makan malam di rumah ini, apakah kau sudah merindukannya?" jawab tuan Arga menatap lucu sahabatnya yang sedang salah tingkah.


"Jangan mengejekku, Ga." Claire mencebik, memalingkan wajahnya yang sudah bersemu merah.


"Sebelum semuanya terlambat, katakan saja perasaanmu," lanjut tuan Arga.


"Perasaan apa, Boss?" Suara tuan Joe tiba-tiba dari arah belakang. Kami bertiga di buat kaget dengan kehadirannya yang tiba-tiba, sudah ku bilang, dia itu laki-laki aneh!


"Tidak apa-apa, Joe. Claire bilang perasaannya sedang tidak enak," jawab tuan Arga santai.


Akhirnya tuan Joe ikut bergabung bersama kami, menikmati hidangan malam yang menyenangkan. Suasana hening tercipta, hanya suara sendok dan piring beradu yang menjadi pemecah kesunyian.


Usai makan malam usai, aku mengajak tuan Arga kembali ke kamar, meninggalkan tuan Joe dan Claire berduaan, aku pikir mereka butuh waktu untuk saling memahami, semoga kehadiran Claire di rumah ini membuat tuan Joe segera membuka hatinya pada wanita itu.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2