
Aku memperhatikan dengan seksama wajahnya.
Ah, wajahmu tampan sekali, menggemaskan, ingin sekali aku mencubit-cubit pipimu itu, ih.
Setelah beberapa menit aku duduk memandanginya, dia mulai tidak nyaman, menggerak-gerakkan kepalanya, menggosok kaki kanannya dengan kaki sebelah kiri.
"Hmm." Dia berdehem dan tiba-tiba kepalanya di pindahkan diatas pahaku, aku begitu terkejut di buatnya.
Tapi mata itu masih terpejam, posisinya seperti ini terlihat lebih nyaman, tangannya di letakkan diatas dadanya, dengan nyaman kepala itu tertidur diatas pangkuanku.
Kali ini aku begitu sabar membiarkannya dengan posisi ternyaman saat ini, karena dia terlihat begitu lelah, entah beban apa yang sedang di pikulnya hingga wajah tampannya begitu terlihat lesu tak bertenaga. Aku berpikir dia adalah laki-laki tampan, kaya raya, dia punya segalanya, dia bahkan bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan hanya dengan sekali ucap, tapi hidupnya terasa begitu datar, dia terlihat begitu kesepian, seperti tidak punya teman berbagi, seperti hidup di dalam sebuah kandang yang dia ciptakan sendiri, entah bagaimana aku bisa berpikir seperti itu, tapi selama aku bersamanya, sedikit banyak aku bisa menebak-nebak lika liku hidupnya.
Aku mengelus rambut hitam lebatnya dengan lembut, ku cium tangan kananku yang aku gunakan mengelusnya.
Hem, harum sekali rambutnya, tentu saja dia rajin mencuci rambut ini setiap hari, kenapa sih, dia begitu menarik perhatianku.
"Kau suka?" Dia bertanya pelan, seperti berbisik.
"Apa?" Aku terkejut mendengarnya, matanya masih terpejam, tapi dia sepertinya menyadari apa yang telah aku lakukan pada rambutnya.
"Rambutku."
"Rambut tuan, harum sekali, aku suka," kataku jujur.
"Ciumlah."
"Ti, tidak perlu." Aku mulai gugup, sepertinya penyakit aneh laki-laki ini kambuh.
"Cepat, cium rambutku!"
"Tidak mau!" Aku sedikit meninggikan suara.
"Kau sekarang berani sekali membantahku, apa nyawamu ada lebih dari satu?" ucapnya masih terdengar begitu tenang.
"Maafkan saya, tapi saya tidak perlu mencium rambut tuan, harumnya sudah sampai di hidung saya tanpa perlu menciumnya."
"Bohong, cium!" Dia selalu saja seperti itu, tidak pernah bisa terbantahkan.
Dengan ragu-ragu aku membungkuk, mendekatkan hidungku ke rambutnya.
Ah, memang harum sekali, baunya menyegarkan.
"Lihat, kau begitu menyukainya," ucapnya sambil tersenyum begitu manis.
Ya Tuhan, kenapa kau menciptakan laki-laki dengan senyum semanis ini sih.
"Baiklah, saya menyukainya, Tuan."
"Begitu lebih baik, aku selalu suka orang yang jujur, Sabrina."
"Hmm." Aku tidak menanggapinya.
"Terimakasih sudah membuat papaku tidak marah padaku tadi siang," ujarnya lalu membuka mata, menatap kedua bola mataku dengan pandangan yang terlihat begitu tulus.
__ADS_1
"Sama-sama, sudah tugas saya sebagai seorang istri untuk membantu suaminya."
Tiba-tiba kami tenggelam dalam keheningan, aku menatap ke arah jendela kamar yang gordennya masih terbuka lebar, menatap temaran lampu-lampu kecil di area taman, sedangkan dia menatap kosong ke sembarang arah, dia masih terlihat nyaman menyandarkan kepalanya di pangkuanku.
"Tuan tidak ingin mandi?" Tanyaku pelan, karena hari sudah semakin gelap, dan sebentar lagi waktunya makan malam, sedangkan dia masih asik dengan lamunannya.
"Aku ingin kau yang menemaniku mandi."
Sudah ku duga, penyakit anehnya pasti kambuh, memintaku melakukan hal-hal yang tidak wajar, menyebalkan.
"Tapi hari sudah gelap, saya akan masuk angin kalau mandi di jam-jam seperti ini." Aku beralasan.
"Bohong."
"Benar, Tuan."
"Baiklah, aku tidak mau mandi, jadi kau bisa mencium bau tubuhku yang mempesona ini semalaman penuh."
"Mandilah, saya akan menyiapkan air hangat."
"Malas, nanti aku juga bisa masuk angin sama sepertimu."
"Ya sudah, terserah!" Aku mencebik.
"Hmm." Dia menjawab sambil kembali memejamkan matanya.
Hei, apa kau tidak melihat jam tangan di pergelangan tanganmu itu jarumnya sudah menunjukkan pukul berapa, kenapa malah merem lagi sih, pahaku sudah kesemutan menahan berat kepalamu, Huh!
"Mau apa?"
"Membantu Salimah menyiapkan makan malam." Aku bingung mencari-cari alasan.
"Tidak perlu, aku membayar semua pelayan di rumah ini dengan gaji yang fantastis, jadi kamu hanya perlu duduk manis melayaniku saja."
Menyebalkan!
Aku diam, menggerutu dalam hati, memakinya bertubi-tubi.
"Sabrina." ucapnya lembut
Ah, kenapa hanya dengan memanggilku seperti itu saja sudah membuat jantungku deg-degan sih.
"Apa kau yang memohon pada papa untuk merencanakan bulan madu kita?"
Pertanyaan macam apa ini, aku ini masih normal dan waras, tidak mungkin aku memohon-mohon untuk berbulan madu denganmu, aku tidak semenyedihkan itu.
"Untuk apa saya melakukan itu?"
"Agar kau bisa bersamaku." ucapnya sangat percaya diri.
"Tidak, kita tidak perlu berbulan madu." Aku berkata dengan menunjukkan raut wajah kesal. Bisa-bisanya dia berpikir aku yang menginginkan rencana bulan madu itu.
"Kamu marah? Baiklah, kita akan berbulan madu minggu depan," ucapnya langsung berdiri sembari melepas bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Sedangkan aku hanya duduk melongo, bingung dengan apa yang baru saja dia katakan. Bagaimana dia bisa berpikir kalau aku kesal gara-gara dia menolak untuk merencanakan bulan madu, padahal aku bersungguh-sungguh mengatakan kalau aku tidak ingin ada rencana bulan madu, tapi dia pikir aku bermaksud lain, sungguh jalan pikiran yang sesat.
...
Usai makan malam yang tenang, aku kembali ke kamar bersamanya, sejak percakapan di sofa tadi, dia terlihat tenang, tidak memintaku melakukan hal yang aneh-aneh, atau menyuruhku ini dan itu, dia berperilaku selayaknya manusia normal pada umumnya.
Aku mengganti gaun malam yang baru saja ku pakai makan malam dengan lingerie berwarna hitam, lalu menjatuhkan diriku di tempat tidur. Sedangkan tuan Arga sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya disana dengan hanya memakai celana pendek berwarna putih. Laki-laki ini lebih suka memakai pakaian apapun dengan warna netral, hitam atau putih, hanya warna-warna itu yang ada di dalam sederet lemarinya.
"Kau menggoda sekali dengan lingerie itu, Sabrina." ucapnya berbisik mendekati telingaku.
Aku hanya diam, menggeser tubuhku sedikit demi sedikit menjauhinya, perasaan was-was sudah menjalar ke seluruh bagian tubuhku.
"Aku akan mehannya, kita akan melakukannya non stop selama 24 jam saat bulan madu kita nanti," lanjutnya.
Apa? Kau ini gila ya?
Aku menghela nafas panjang, mendengar kata-katanya membuatku sudah bergidik ngeri, aku tidak sanggup membayangkan itu jika memang benar-benar terjadi.
"Boleh aku meminta tolong padamu?" ucapnya sambil bergeser lalu tidur terlentang menatap nanar langit-langit kamar.
"Katakan."
"Bersikap baiklah pada papaku, jangan mengecewakannya, dia yang paling penting dalam hidupku." Kata-katanya pelan, tapi sungguh seperti mengiris perih hatiku.
"Tentu saja, tanpa kau memintanya, saya pasti akan melakukannya, Tuan. Dia adalah mertua saya, saya sudah menganggapnya seperti orang tua saya sendiri."
"Kau tau, sepertinya aku ketagihan kalau kau berkata manja dan memanggilku dengan kata suamiku," ucapnya tersenyum lalu mengarahkan pandangannya padaku.
"Apa?" Aku terkejut, bisa-bisanya aku jatuh ke lubang yang sudah ku gali sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Tinggalkan like dan komentar, Please!!
Author maksa nih, kalau lagi punya koin juga Author menerima sedekat vote kok, Hihihi 🤭🤭
__ADS_1