TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Aku nenek lampir


__ADS_3

Usai berbelanja begitu banyak oleh-oleh, kami melanjutkan acara jalan-jalan malam ini hanya dengan duduk di bangku-bangku kosong yang tersedia di sepanjang jalan Orchard Road ini.


Banyak sekali pengunjung berlalu-lalang di jalan, menenteng beberapa tas dari merk-merk terkenal dan mahal, tentu saja mereka baru saja menghabiskan uang mereka di tempat ini.


Di Orchard Road ini, keperluan belanja, makanan, tempat-tempat hiburan, spa, bahkan fitnes semuanya tersedia di sepanjang jalan ini. Bagi para wisatawan asing yang datang berkunjung ke negara ini, mereka pasti tidak akan melewatkan berbelanja dan mengunjungi tempat ini. Orchard Road ini adalah pusatnya belanja mewah di negara ini.


"Tuan," ucapku melihat tuan Arga yang sibuk dengan ponselnya.


"Ada apa? kenapa kau senang sekali memanggilku,"


"Tidak ada apa-apa, saya kan cuma manggil, memastikan kalau pendengaran tuan masih normal," ujarku sambil tersenyum penuh penghinaan. Karena sedari tadi aku sudah berbicara banyak hal menanyakan tentang tempat ini, orang di sampingku diam saja sambil menatap fokus layar ponselnya, aku kira pendengarannya sedang terganggu.


"Apa kau bilang? kau pikir aku tuli?"


"Saya kan ngajakin ngobrol tuan, tapi tuan diam saja, saya pikir-pikir ya begitu."


"Begitu apanya?"


"Ya, seperti yang tuan bilang, kalau saya berpikir tuan sedang tuli mendadak." Aku menyeringai meliriknya.


"Berani-beraninya kau!" Dia berucap lalu melancarkan serangan di keningku.


"Kenapa tuan sentil kening saya? sakit!"


"Biar kau tau rasa!"


"Jahat! ayo kita kembali," ucapku langsung beranjak berdiri sambil mengusap keningku dengan telapak tangan kananku.


"Kembali kemana?" tanyanya berlagak tidak tau.


"Ke hotel, mana mungkin ke pemakaman," jawabku kesal.


"Aku sudah katakan, kau boleh meminta apapun asalkan kau bersikap manis padaku, belum satu jam aku mengatakannya, kau sudah seperti nenek lampir kesurupan. Aku tidak jadi mengizinkanmu pulang ke rumah orang tuamu."


Gawat! bisa-bisanya mulutku ini hilang kendali, padahal aku sudah berjanji bersikap manis pada harimau sinting ini.


"Eh, maafkan saya, Tuan," ucapku tersenyum lalu kembali duduk di sampingnya.


"Hah, bisa-bisanya kau meminta maaf padaku setelah berkata macam-macam." Dia melirikku sinis.


"Maafkan mulut saya yang tidak punya rem ini, Tuan."

__ADS_1


"Kau mau aku memaafkanmu?"


"Tentu saja." Aku tersenyum semanis mungkin, kalau senyuman termanisku ini selalu aku nampakkan padanya, bisa-bisa dia akan terkena penyakit diabetes.


"Mulai sekarang, jangan membantahku!"


"Hmm, baiklah." Aku pasrah, demi bisa mengunjungi ayah dan ibuku.


Setelah perdebatan yang sengit, kami memutuskan untuk segera kembali ke hotel, hari sudah semakin larut, kerumunan orang di pinggir jalan sudah mulai membubarkan diri, beberapa toko sudah mulai sepi pengunjung dan bersiap untuk tutup.


...


Setelah sampai di kamar, aku segera ke kamar mandi untuk mencuci muka, aku bukan type orang yang suka terlalu lama memakai make up di mukaku, rasanya sangat mengganggu, meskipun itu semua bisa menunjang penampilanku.


Aku melepas gaun yang aku kenakan lalu menggantinya dengan lingerie berwarna putih, renda dan mutiara kecil di beberapa bagian membuat lingerie ini terlihat bagus sekali, sayangnya pakaian ini hanya untuk dipakai tidur, walaupun designnya kadang sangat mewah.


"Buatkan aku susu, Sabrina." Suara tuan Arga terdengar dari balik pintu ruang ganti.


Tanpa menjawab apapun, aku bergegas menuju dapur sesegera mungkin, sebelum laki-laki itu mengulang perintahnya.


Usai susu yang kubuat ini siap, aku meletakkannya di meja dekat ranjang, supaya tuan Arga bisa meminumnya sewaktu akan tidur. Namun sepertinya, dia masih sibuk di dalam kamar mandi, dia memang selalu mandi setiap pulang dari manapun, tidak peduli jam berapapun.


Aku segera merebahkan tubuhku diatas ranjang, tubuhku memang terasa sangat lelah, namun hatiku sangat senang bisa menghabiskan waktu berjalan-jalan menikmati negara ini, meskipun bersama orang yang paling menyebalkan di muka bumi ini. Aku segera meraih ponselku, memberi kabar pada ayah dan ibuku kalau aku sedang berada di singapura dan akan segera pulang menemui mereka.


"Ada apa, Tuan?" tanyaku terkejut melihatnya muntah di wastafel kamar mandi.


"Kau mau meracuniku?"


"Sa, saya kenapa?"


"Apa kau sudah bosan hidup sampai-sampai membuatkanku susu basi seperti itu, Hah?" ucapnya sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Susu yang saya buat masih segar, masih hangat, Tuan." Badanku gemetar melihatnya.


"Benarkah? minum ini!" ucapnya sambil menyodorkan gelas berisi susu yang hanya tinggal separuh.


Aku meraih gelas itu dan melihat isinya dengan seksama. Benar saja, susu ini sudah berbusa dan baunya masam sekali. Ingatanku segera tertuju pada segelas susu kemarin malam yang lupa tidak ku minum.


"Apa tuan mengambil susu ini di meja itu?" ucapku sambil menunjuk meja di dekat sofa panjang.


"Tentu saja, dimana lagi," jawabnya kesal.

__ADS_1


"Ini, susu kemarin. Susu yang baru saja saya buat, saya letakkan di meja dekat tempat tidur. Hehehe," ucapku dengan dibumbui tawa tanpa rasa bersalah.


"Maafkan saya, Tuan." Aku segera mengambil segelas susu yang baru lalu meletakkannya di depan tuan Arga.


Kau ini pintar tapi bodoh, Tuan. Padahal sudah jelas-jelas susu basi ini dingin, dan permukaannya berbusa, kenapa kau meminumnya tanpa bertanya dulu padaku, dari kejauhan saja sudah tercium baunya yang menyengat.


Tuan Arga lalu meneguk segelas susu di hadapannya tanpa sisa, aku berharap laki-laki ini baik-baik saja, apa jadinya nanti kalau dia sampai mati keracunan, bisa-bisa aku akan menjadi tersangka utama atas kasus percobaan pembunuhan. Membayangkannya saja sudah memprihatinkan sekali.


Aku kembali berjalan menuju tempat tidur, meninggalkannya duduk sendirian. Aku harus beristirahat, karena besok harus kembali pulang, aku harus dalam keadaan sehat dan bahagian saat bertemu dengan kedua orang tuaku, mereka tidak boleh mengetahui hal-hal buruk yang menimpaku selama ini, yang harus mereka ketahui adalah, aku bahagia dengan pernikahan ini.


...


Udara sejuk sudah memasuki lubang-lubang ventilasi udara kamar ini, sorot cahaya matahari menusuk memasuki celah kaca yang tersingkap gordennya, meresapkan kehangatannya melalui pori-pori kulit yang tersentuh lembut, hingga membangunkanku dari mimpi yang ku rengkuh semalaman penuh.


Aku memalingkan wajahku pada sosok tampan di sampingku, pori-pori kulit wajah laki-laki ini sangat kecil, bahkan tak terlihat, sehingga menampilkan wajah yang halus dan terlihat segar walaupun saat tidur. Kumis tipisnya bagai menambah hiasan wajah tampan itu, paling tidak menambah kadar ketampanannya sekitar 20%. Lalu jangan lupa jambangnya, rambut tipis nan halus itu begitu terawat, menghiasi bagian bawah dagu dan menjalar sampai area pipinya.


Ah menawan sekali. Dalam hati aku berdecak kagum.


Ingin sekali aku menyentuhnya, rasanya rambut-rambut itu seperti melambai-lambai ingin ku sentuh. Namun apalah daya, ketika daya tarik magnet dari jambangnya seakan menarikku mendekat, tiba-tiba mata indah sang pemilik mengerjap-ngerjap akan segera terbuka.


Aku mengurungkan niat nakalku dan berbalik membelakanginya. Tentu saja, aku tidak suka jika kepergok memandangnya secara berlebihan. Memalukan sekali!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2