
Setelah panjang lebar ia menceritakan kisah persahabatan yang pernah ia lalui bersama dokter Daren, kami segera menuju meja makan untuk makan malam.
Malam ini tuan Joe datang ikut makan malam bersama, karena dia juga membawa beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh suamiku karena belum sempat terselesaikan siang tadi.
"Boss, kau mendapat undangan ke pernikahan teman lamamu," ujar tuan Joe menyerahkan kertas undangan bergambar sepasang calon pengantin.
"Siapa?"
"Daren," jawab tuan Joe singkat.
"Daren? bajing*n tengik yang juga tadi siang aku temui di rumah sakit." Suamiku tersenyum miring.
"Kalian bertemu?"
"Dia adalah dokter kandungan yang akan menjadi dokter pribadi Sabrina, dia dokter pilihan paman," jawab suamiku sambil melahap sepotong daging panggang.
"Acara pernikahannya masih minggu depan, kau mau aku mengatur jadwalnya?" tanya tuan Joe lagi.
"Bagaimana, Sayang? kau mau datang?" tanya suamiku melempar pandangan padaku.
"Tentu saja, jika kau tidak sedang sibuk, tidak ada salahnya datang ke pernikahan teman lama," jawabku.
"Baiklah, atur semua jadwal pertemuan dengan direksi perusahaan agar tidak berbenturan dengan undangan, aku mau free selama sehari penuh tanpa pekerjaan." Suamiku berkata dengan penuh penekanan.
"Siap, Boss."
"Siapkan hadiah untuk mereka, Joe."
"Kau mau memberinya apa, Boss? Mobil, rumah, aset atau perhiasan untuk si mempelai wanita?"
"Hmm, segera urus pembelian satu unit sepeda motor harley davidson terbaru tahun ini," ujar suamiku.
"Usahakan semuanya siap sebelum hari pernikahannya," lanjutnya.
"Harley davidson terbaru? CVO Street Glide? Harganya 1,4 milyar, Boss."
"Harga bukan masalah, Joe. Kau urus saja semuanya."
Mendengar harga yang menurutku tidak murah, makanan di tenggorokanku terasa menyangkut, aku tersedak sampai terbatuk-batuk.
"Minumlah, Sayang. Kau tidak apa-apa?" ia menyodorkan gelas berisi air putih di depanku.
Aku mengangguk lalu meneguknya sampai habis.
Royal sekali suamiku ini terhadap teman-temannya, untuk hadiah pernikahan teman lama yang lama tak berjumpa saja dia tidak sayang dengan uang milyaran, apalagi jika dengan orang-orang yang selama ini setia mendukung di sampingnya seperti tuan Joe. Aku jadi membayangkan berapa gajinya perbulan.
Ah, apalagi jika aku yang meminta di belikan ini dan itu, pasti dia dengan cepat langsung membelinya tanpa pikir panjang. Sayangnya aku bukanlah wanita seperti itu, pada dasarnya aku lebih suka dengan hasil kerja kerasku sendiri.
Usai makan malam dan bahasan tentang rentetan hadiah yang akan kami bawa saat datang ke pesta pernikahan dokter Daren minggu depan, aku kembali menuju kamar lebih dulu untuk mengganti pakaian, sedangkan suamiku bersama Joe menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor di ruang kerja.
Aku mengambil satu kapsul vitamin yang sudah di resepkan oleh dokter, lalu meneguknya bersama dengan segelas air putih.
Malam ini adalah jadwalnya olahraga malam bersama suamiku tercinta, setelah kemarin libur selama semalam, aku tau dia sangat menantikannya.
Ku ganti pakaianku dengan lingerie hitam favoritnya, menyemprotkan parfum mint segar agar lebih menggoda, setelah itu aku duduk di depan meja rias untuk menyisir rambut.
Ku pandangi sosok wanita yang tergambar di cermin tepat di hadapanku, wanita bertubuh gemuk dengan rambut keriting kini nampak lebih langsing dengan rambut lurus sepinggang. Jika dulu rambut keritingku hanya sebahu lebih panjang sedikit, karena sekarang di luruskan maka menjadi lebih panjang.
Aku meraih ponsel di atas meja, lalu merebahkan diri di atas kasur sambil membuka beberapa sosial media yang sudah lama ku anggurkan.
__ADS_1
Hampir dua jam berlalu, suamiku belum juga kembali dari kesibukannya. Aku memutuskan untuk turun dari tempat tidur lalu mengambil handuk kimono, menutupi tubuhku yang di balut lingerie seksi kurang bahan ini.
Aku menghampiri Salimah di ruang tengah, memesan secangkir coklat hangat untuk di bawa ke dalam kamarku, dan dua cangkir minuman yang sama untuk di antarkan ke ruang kerja suamiku.
Setelah itu aku kembali ke kamar dan menunggu, hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit seorang pelayan datang membawa apa yang aku inginkan.
"Kau sudah mengantar pesananku ke ruang kerja suamiku?" tanyaku pada pelayan wanita yang usianya mungkin beda dua tahun diatasku.
"Pelayan lain sudah mengantarnya, Nona."
"Baiklah, terimakasih banyak." Dia mengangguk lalu berjalan meninggalkan kamarku.
Hingga tetes terakhir minuman dalam cangkir ini ku sesap, suamiku yang paling tampan sejagat raya itu belum juga kembali. Ku raih ponselku dan menghubungi nomornya.
Belum sampai telepon tersambung, si pencemburu itu sudah membuka pintu kamar tanpa mengetuknya lebih dulu.
"Malam-malam begini mau menelfon siapa?" Dia bertanya penuh curiga.
"Tentu saja menelfonmu, kau lama sekali," jawabku sedikit manyun. Aku paling benci menunggu.
"Kau merindukanku?"
"Tidak!"
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke ruang kerjaku," ujar suamiku sambil berbalik badan menuju pintu.
"Eh, tunggu. Baiklah, aku merindukanmu," jawabku jujur.
"Begitu lebih baik, kalau kau jujur kan aku tidak perlu mengancam mu."
"Kau sudah minum vitamin?" lanjutnya.
"Sudah."
"Kemarin malam kita sudah berlibur, apakah hari ini kau masih ingin menundanya?" tanyanya sambil meraba punggungku dengan jemari nakalnya.
"Libur satu malam lagi, Honey," kataku.
"Hah, libur lagi? kau mau menyiksaku? Ini namanya penyiksaan jiwa dan raga." Raut mukanya langsung cemberut.
"Baru juga dua malam, Honey."
"Dua malam? apa kau tau rasanya tegang nganggur?" ujarnya dengan nada kesal, aku yang hanya menggodanya lalu mengangkat bahu, cuek.
"Kau benar-benar ingin libur lagi?" Dia kembali bertanya untuk memastikan.
"Ya, satu malam lagi, Honey."
"Bagaimana jika aku memaksa?"
"Aku tetap menolak."
"Lalu, bagaiaman jika aku mengajakmu menerapkan gaya baru?" tanyanya lagi.
"Gaya baru, maksudnya?"
"Gaya bercinta terbaru, dengan posisi yang lebih menarik."
"Hah, tidak, tidak. Pokoknya aku tidak mau, Honey."
__ADS_1
"Baiklah, tidak apa jika aku harus memperkaosmu saat ini juga," ujarnya penuh keinginan sambil mendekap tubuhku, bibirnya kini tak berjarak dari leherku.
"Honey, lepaskan." Aku meronta.
"Tidak, jika memang kau menolak, biarkan aku memperkaosmu saja, silahkan jika ingin melaporkanku pada polisi. Toh, aku memperkaos istriku sendiri," ujarnya sambil tersenyum miring.
Bibirnya terus menjelajahi tubuhku penuh nafsu, aku yang dari awal hanya pura-pura menolak kini membiarkannya bergerilya menikmati setiap jengkal yang ia inginkan.
Hampir dua jam menikmati adegan olahraga malam demi menyicil masa depan dengan gaya-gaya baru yang belum pernah kami lakukan. Kini kami terkulai lemas setelah semua tenaga hampir terkuras.
"Ah, kau menyukainya, tapi kau menolakku," ujarnya membenamkan wajah di punggungku, karena aku sengaja membelakanginya.
"Aku hanya menggodamu, Honey. Kau tau, aku tidak pernah bisa menolakmu." Ku balik tubuhku, kini kami saling berhadapan.
"Tentu saja, wanita mana yang menolak untuk di puaskan oleh laki-laki tampan dan perkasa sepertiku."
"Dasar kau, sombong!"
"Aku tidak sombong, kenyataannya memang begitu kan?"
"Terserah kau saja, Honey. Yang penting kau bahagia."
"Aku sudah sangat bahagia memilikimu, Sayang."
"Terimakasih atas setiap cinta yang kau berikan, Sayang. Sungguh, sejak pertama kali aku merasakan jatuh cinta padamu, di saat itulah aku merasa hidup," lanjutnya.
Ah, kenapa tiba-tiba jadi mellow seperti ini sih!
"Hmm, sejak kapan kau jatuh cinta padaku?" tanyaku sambil mengusap bibir basahnya dengan jari telunjuk.
"Aku tidak tau, tapi setiap saat, dimanapun aku berada, bayang-bayang wajahmu seakan menghantuiku, aku merasa kesulitan bernafas jika kau tidak ada di sampingku."
"Awalnya aku begitu takut cintaku bertepuk sebelah tangan, aku berusaha menolak kenyataan bahwa hatiku terpatri olehmu, tapi semakin kuat aku berusaha melupakan, semakin sesak dadaku memikirkanmu."
"Dari situlah, aku mulai memperbaiki sifatku. Demi bisa mendapatkan hatimu," ujarnya dengan penuh senyuman. Aku hanya mengangguk.
"Kalau kau, sejak kapan kau mencintaiku?" tanyanya lagi.
"Aku sendiri tidak tau, perasaan takut kehilangan itu tiba-tiba muncul begitu saja, tanpa aku sadari, aku menyimpan sebuah rasa untukmu," jawabku apa adanya.
"Kau adalah wanita pertama yang membuatku merasa takut mati, kau adalah wanita pertama yang membuatku sadar bahwa aku juga memiliki hati."
"Hanya kau, wanita yang bisa membuat jantungku memompa lebih cepat, aku seperti tergila-jika meski hanya mendengar suaramu. Kau mematahkan keyakinanku bahwa semua wanita itu sama, mengejarku demi harta dan tahta."
Entah gombal apa yang sedang ia agungkan saat ini, namun semua kata-kata itu seolah menghipnotisku untuk semakin mencintainya. Ini gila, aku terlalu mudah di takhlukkan dengan rayuan mautnya.
Bukankah cinta selalu datang tanpa mengenal waktu dan tempat, layaknya bunga yang tetap bisa bermekaran di medan perang, atau seperti sebuah biji yang bisa tumbuh di tanah gersang. Tidak akan ada yang tau pasti tentang hal itu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...