
Ini adalah malam pertama aku menemani istriku, Sabrina, menginap di rumah kedua orangtuanya. Karena sang ibu berpesan untuk menjaga adiknya, Safira.
Sebenarnya, aku keberatan untuk tinggal satu atap dengan adik perempuan Sabrina yang kurang ajar itu, dari awal aku bertemu dengannya sebelum aku dan kakaknya menikah, aku sudah melihat sikapnya yang tidak sopan.
Dulu, dia sempat mengajukan diri untuk menggantikan Sabrina menikah denganku, namun aku menolaknya secara terang-terangan. Aku menyadari diriku bukan laki-laki baik, maka aku berusaha mencari pendamping yang baik untuk mengubah hidupku, bukan malah terjun menikahi gadis yang sudah jelas-jelas hanya melihat kekayaan dan kemapananku.
Malam ini, setelah makan malam bertiga, aku merasa sangat jengkel luar biasa melihat penampakan adik Sabrina yang begitu 'berani'. Aku heran, bagaiamana bisa dua bersaudara memiliki sikap dan sifat yang bertolak belakang, sedangkan mereka tumbuh bersama dari kecil dan di asuh oleh orang tua yang sama.
Safira, gadis itu dengan sengaja tampil begitu menggoda di hadapanku, mungkin bagi sebagian laki-laki itu adalah hal yang sangat wow. Namun bagiku, itu adalah hal yang paling menjijikkan yang di lakukan oleh seorang adik untuk menggoda suami dari kakak kandungnya sendiri.
Aku sudah terlalu bosan dan muak melihat penampilan wanita di luaran sana yang dengan sengaja mengumbar tubuh mereka, seakan mereka sedang menawari kucing liar dengan ikan segar.
Ku lihat istriku masuk ke dalam kamar dengan mata sembab, wajahnya kusut, ia tampak muram dengan rambut yang berantakan. Aku tau, pasti terjadi sesuatu saat aku meninggalkannya di meja makan tadi, ulah siapa lagi kalau bukan adiknya, Safira.
"Kemarilah, Sayang." Ku peluk tubuh dingin istriku, sesekali ia masih menyeka air mata yang menetes dari pelupuk matanya.
Aku tidak memaksa dia menceritakan apa yang terjadi, sepertinya dia memang belum ingin menceritakannya. Ku biarkan dia tenang di pelukanku.
"Honey, apakah aku kurang cantik di matamu?" Dia bertanya, matanya masih berkaca-kaca, menahan genangan air mata sebelum ia jatuh membasahi pipi.
"Kau wanita tercantikku, Sayang," jawabku tulus, ku seka tetesan bening yang mulai membanjiri bajunya.
"Sungguh?"
"Dengar, kecantikan bukan satu hal mutlak dalam hal mencintai, aku mencintaimu dengan hati, bukan sekedar nafsu sesaat yang hilang saat mata tak lagi merasa puas memandang."
"Tapi, aku tidak cantik," ujarnya, kini istriku menunduk.
"Kau cantik, Sayang, bahkan sangat cantik. Setiap orang punya standar sendiri dalam hal 'cantik', bagiku cantik adalah dirimu, bagaimanapun itu."
Ku angkat dagu istriku yang menunduk itu dengan lembut, kini mata kami saling bertatapan. Jika tak bisa ku yakinkan dia dengan ucapan, maka cara terbaik menyampaikan perasaan adalah melalui tatapan mata. Bibir boleh berdusta, tapi mata selalu bisa membaca yang tidak terucap oleh lidah.
"Aku mencintaimu, Sabrina. Dengarkan baik-baik, aku mencintaimu, pikiran dan hatiku lurus padamu, jangan hiraukan kata-kata orang lain yang tidak penting. Bisakah kau hanya mempercayaiku?" ujarku. Dia mengangguk, lalu mengusap kedua pipinya dengan punggung tangan.
Aku tersenyum lalu kembali memeluknya, menenangkan wanitaku yang kini sedang berkecamuk hatinya.
Kami berbaring di atas kasur yang berukuran lebih kecil dari kasur yang biasa kami tempati, namun tidak apa, ini akan membuat aku dan Sabrina semakin dekat saat tidur, hal ini lebih menguntungkan untukku.
"Kau belum ngantuk?" tanyaku, wanitaku itu masih terlihat gelisah meski waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam.
"Belum, aku haus," ucapnya pelan, namun ia masih meletakkan tangannya di atas dadaku.
"Aku akan ke dapur mengambil minum."
Belum sempat aku turun dari tempat tidur, terdengar pintu di ketuk secara berulang-ulang.
"Ada apa?" tanyaku datar, saat mengetahui si pengetuk pintu adalah Safira, dia berdiri dengan membawa nampan berisi dua gelas susu. Namun kali ini tubuhnya di tutup handuk kimono berwarna biru.
"Aku, hanya mau minta maaf pada kakakku," ujarnya sok polos.
"Besok saja, dia sedang istirahat," kataku ketus.
"Benarkah? Ya sudah, aku membawakan susu hangat untuk kalian, yang coklat untuk kak Sabrina." Dia menyerahkan nampan itu padaku, dua gelas dengan isi yang berbeda, susu coklat dan vanilla.
__ADS_1
Entah apa yang merasukinya, tidak mungkin gadis ini bersikap baik jika tidak ada maunya. Aku tetap menerima nampan itu dengan penuh rasa curiga.
Ku tutup pintu perlahan tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya. Sungguh, aku tidak mudah percaya dengan orang lain yang mudah berubah-ubah sikapnya.
"Siapa? Safira?" tanya Sabrina.
"Iya, dia berniat meminta maaf padamu, tapi aku tidak mengizinkannya, besok saja."
"Lalu, apa yang dia bawa?"
"Ini, susu untukmu," uajarku mengambil segelas susu.
"Ah, susu coklat, ini rasa kesukaan kami," katanya sambil menerima gelas itu, ia tampak begitu haus sampai menghabiskan segelas penuh dalam sekali teguk.
Aku merasakan ada sesuatu yang aneh pada Safira, mengapa dia harus membuat dua rasa susu yang berbeda, sedangkan dia tidak tau apa rasa kesukaanku, bukankah lebih mudah membuat satu rasa yang di bagi menjadi dua gelas, kecuali ....
Ah, sudahlah.
Ku tepis pikiran buruk yang memenuhi kepalaku, baru beberapa menit Sabrina menghabiskan susu miliknya, kini dia tertidur dengan pulas, bahkan tanpa berkata apapun padaku.
Aneh, biasanya dia tidak begitu. Mungkin Sabrina benar-benar sedang lelah, sepertinya dia juga lelah menangis.
Ku lihat gelas yang telah kosong, karena isinya sudah habis di teguk Sabrina. Ku perhatikan dengan seksama, ada aroma berbeda dari susu ini, seperti sudah di campur obat tertentu.
Segera ku urungkan niat untuk meneguk segelas susu rasa vanilla yang di buat Safira, kecurigaanku harus segera di buktikan.
Jika Sabrina tertidur dengan cepat sesaat setelah dia menghabiskan minuman itu, artinya memang Safira dengan sengaja mencampurnya dengan obat tidur. Lalu, untuk apa dia melakukannya?
Aku segera menyusun siasat untuk mencari tau tujuan gadis kurang ajar itu. Sepertinya ia sedang ingin bermain-main denganku.
Aku keluar dari kamar, berpura-pura duduk di ruang tengah sambil menonton tv, gelas yang berisi seperempat susu itu ku letakkan di meja dekat tv.
"Kenapa belum tidur?" tanya Safira mendekat, kini ia kembali memakai setelan mini seperti saat makan malam tadi.
"Tidak apa-apa, belum bisa tidur," jawabku.
"Kak Sabrina sudah tidur?"
"Sudah," jawabku singkat, mataku masih tertuju ke layar tv.
"Kenapa tidak di habiskan? habiskan," ujarnya, lalu menyerahkan gelas dengan susu vanilla yang tersisa.
Aku terpaksa menerimanya, dan meneguknya sampai habis. Ku lirik dia sedang tersenyum, entah apa yang ada di pikirannya saat itu.
Menit demi menit berlalu, ku rasakan reaksi yang aneh pada tubuhku, kepalaku sedikit pusing.
"Ada apa?" tanya Safira saat aku memijat pelipis keningku, ia masih duduk menemaniku menonton tv, meskipun aku tidak memperdulikannya.
"Sedikit pusing."
"Ayo, ku antar ke kamar," ujarnya menarik lenganku, dia dengan berani merangkul pinggangku seperti tau reaksi yang sedang terjadi pada tubuhku.
Aku menurut, mengikuti rencana yang sudah ia susun dengan rapi. Dengan begini, aku akan tau tujuannya melakukan semua ini.
__ADS_1
Sedikit terkejut, dia yang mengatakan akan mengantarku ke kamar ternyata yang di maksud kamar adalah kamar miliknya, bukan kamar tempat aku dan Sabrina yang seharusnya.
Dia mendudukkan tubuhku di sisi kasur miliknya, lalu dengan cepat ia mengunci pintu. Perlahan, dia mendekat.
"Apakah kau pusing sekali, Kakak ipar?" ucapnya dengan manja. Aku mengangguk, berpura-pura memegangi kepala.
"Berhasil, obat perangsang itu telah bekerja." Dia bergumam, aku yang dalam kesadaran penuh mendengarnya dengan sangat jelas.
Obat perangsang?
Dia mencampur minuman itu dengan obat perangsang, jadi ini rencanamu, gadis nakal.
Perlahan, adik iparku itu duduk di sampingku, dia bergelayut manja di leherku, sungguh aku begitu jijik.
"Hentikan!" ucapku tegas saat jemari lentik gadis itu mengusap bibirku.
Dia terperanjat kaget, begitu terkejut dengan reaksiku yang tiba-tiba. Sudah cukup pura-puranya kali ini.
"Kau, jahat sekali, Nona. Tidak ku sangka, saudara yang begitu di sayangi kakaknya, begitu kejam menusuknya dari belakang. Terbuat dari apa hatimu, hah?" Aku geram, emosiku sudah naik di ubun-ubun.
Jika saja yang berbuat jahat ini bukan saudari dari orang yang sangat aku cintai, aku tidak akan segan-segan menebas lehernya sekarang juga. Sudah terlalu jauh dia melangkah sampai berbuat senekad ini.
"Kau, bagaimana bisa," ujar Safira terbata-bata, dia kebingungan.
"Hah, kau pikir aku percaya dengan sikapmu yang berubah baik pada Sabrina. Jangan harap!"
"Aku tidak sebodoh itu, gadis licik. Kau salah memilih sasaran. Jika kau berpikir aku menghabiskan minuman yang kau berikan, maka itu sungguh pemikiran yang bodoh."
"Aku membuangnya," ujarku dengan sedikit tertawa.
"Apa yang sedang kau rencanakan? mengajakku tidur bersama? lalu mengatakan pada semua orang bahwa aku yang menghianati Sabrina?"
"Sungguh, bodoh sekali," makiku di depan wajahnya. Dia hanya berdiri mematung.
"Dengar baik-baik, jika kau masih ingin menikmati hidup mewah dengan semua harta benda milik keluargamu, maka bersikap baiklah pada istriku, atau ...."
"Kau akan menyesal pernah berbuat sejauh ini, carilah sasaran yang lebih mudah, aku bukan termasuk laki-laki yang haus akan kenikmatan sesaat."
Aku bergegas keluar dari kamarnya dan membanting pintu dengan kasar. Ku biarkan dia memikirkan baik-baik perkataanku, jika tidak, ku pastikan dia akan mengemis permohonan maaf di depan istriku.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...