
Wajah yang seperempat detik lalu sangat bersemangat duduk di depan meja makan sambil meraih garpu kini tampak kembali cemberut.
"Ada apa, Sayang?" tanyaku memberanikan diri sebelum ia memasang wajah kecewa yang menyeramkan.
"Hmm, apa ini bukan masakan bi Ijah?" Dia bertanya sambil menyandarkan punggungnya di kursi, ku lihat gurat kekecewaan sudah menghiasai wajah cantiknya.
"Apa tidak enak?" tanyaku lagi
"Bukan begitu, hanya saja ini bukan masakan bi Ijah."
"Tapi, bi Ijah sedang tidak ada di rumah orang tuamu, Sayang. Sudah seminggu yang lalu dia mudik, dan baru lusa akan kembali," jelasku secara jujur, sesuai dengan apa yang di katakan oleh ibu mertuaku siang tadi.
"Memang apa bedanya masakan bi Ijah dengan masakan orang lain, kan yang penting sama-sama enak, Sayang," kataku, resep rahasia apa yang sudah di pakai ART itu sampai-sampai masakan koki terbaikku pun tak mampu menandinginya.
"Entahlah, kalau bukan masakan bi Ijah, aku tidak mau," ujarnya dengan wajah cemberut, kini bibir imut nan seksi itu mengerucut.
Dengan hati yang gundah gulana melihat istri tercintaku merajuk karena belum kesampaian keinginannya, aku pun berpikir keras bagaimana caranya agar bi Ijah itu bisa cepat kembali ke kota ini.
Sesaat setelah acara makan malam yang gagal, aku langsung menghubungi Joe, memintanya datang ke rumah mertuaku untuk menanyakan alamat lengkap bi Ijah, aku bertekad akan menyusulnya ke kampung halaman.
"Malam-malam seperti ini kau menyuruhku datang ke rumahnya, Boss? kenapa tidak kau telpon saja," keluh Joe di sebrang telpon sana.
"Aku sudah menghubunginya memalui telepon rumah, tapi tidak bisa tersambung, Joe. Maaf jika aku merepotkanmu," ujarku.
"Memangnya kapan kau akan pergi menyusul orang itu, Boss?"
"Besok, pagi-pagi sekali, agar Sabrina bisa lekas mendapatkan keinginannya. Aku tidak tega melihatnya, Joe." Aku memelas pada Joe.
"Ah, kau ini bucin sekali, Boss. Ya sudah, aku akan pergi ke sana sekarang," gerutunya. Meski dia terlihat agak keberatan karena aku menganggu acara malam minggunya, namun dia tetaplah Joe, tidak pernah menolak apa yang ku pinta.
Biar saja orang berkata aku ini bucin, budak cinta. Toh, cintaku memang benar-benar nyata untuk Sabrina, akan ku lakukan apapun demi membuatnya bahagia.
"Sayang," ujarku lembut, sambil mengelus pundaknya yang kini berbaring membelakangiku.
"Apa?" jawabnya ketus tanpa membalik badan.
Gawat, dia kesal.
Ah, lagi-lagi aku tidak mendapatkan jatah olahraga malamku, huh.
"Mau ku pijat?" tawarku, mencoba merayunya.
"Tidak perlu, aku tidak lelah."
"Emm, mau ku buatkan minuman hangat?" Aku masih berusaha.
"Tidak usah!" Kali ini kata-katanya semakin di tekankan, akan lebih runyam jika hal ini terus berlanjut.
Tanpa berkata-kata lagi, aku segera turun dari tempat tidur, lalu membuat segelas susu hamil untuknya, aku tau dia belum minum susu. Sebelum memberikan itu padanya, ku sempatkan menuju dapur dan mengambil dua buah apel dan tiga buah manggis dari dalam kulkas.
Setelah apel selesai ku kupas dan ku potong menjadi beberapa bagian, aku kembali menuju kamar, ku letakkan potongan buah dalam piring itu di meja sebelah tempatnya berbaring, tidak lupa juga satu gelas susu tersedia di sana.
"Jangan lupa di minum, Sayang. Aku ke ruang kerjaku sebentar, ada sesuatu yang belum ku kerjakan," ujarku pelan lalu mencium keningnya sebelum beranjak pergi.
__ADS_1
Dia bergeming, memejamkan matanya erat seolah-olah sudah tidur, padahal aku sangat tau jika dia hanya pura-pura. Tadi, saat aku mau masuk kamar, aku mengintipnya dari luar, dia memainkan ponselnya ketika aku ke dapur.
Ku biarkan dia menenangkan dirinya sendiri, dan segera memikirkan cara untuk menjemput bi Ijah untuk segera kembali ke kota ini.
Aku harus menjemputnya besok. Tekatku bulat saat alamatnya sudah Joe kirimkan padaku.
Karena letaknya yang di luar pulau dan harus naik pesawat, ku putuskan untuk membawa helikopter sendiri agar lebih cepat dan mudah.
"Besok pagi-pagi sekali aku akan menyiapkan semuanya, jangan khawatir," kata Joe.
Aku tersenyum lega, semoga semua rencana berjalan dengan lancar. Aku sudah tidak sabar jika harus menunggu bi Ijah itu kembali kesini lusa, apalagi perjalanan memakan waktu dua hari karena ia menggunakan jalur laut, pasti akan membuat Sabrina semakin tidak tahan.
...
Pagi-pagi sekali, aku bangun lebih cepat tanpa mandi dan hanya gosok gigi lalu cuci muka, aku langsung mengganti pakaianku dan bersiap pergi.
Ku lihat Sabrina masih tertidur pulas, karena waktu juga masih menunjukkan pukul empat subuh. Aku tidak tega jika membangunkannya, jadi ku pilih untuk pergi diam-diam dan hanya mencium keningnya sesaat.
Mobil ku kendarai sendiri melaju kencang menuju landasan udara, di sana Joe sudah menanti, di dampingi seorang pilot.
"Setelah turun di bandara, sudah ada seseorang yang menjemputmu, Boss. Dia akan mengantarmu menuju rumah orang yang kau maksud," ujar Joe.
"Baik, Joe. Terimakasih."
Tanpa basa-basi aku langsung menaiki helikopter bersama pilot tersebut, sedangkan Joe harus kembali ke apartemen miliknya, dia tetap akan datang ke kantor jam 8 nanti.
Tidak membutuhkan waktu lama, hanya 30 menit perjalanan mengudara, aku sudah sampai di bandar udara yang paling dekat dengan rumah bi Ijah.
"Sudah siap, Tuan?" tanya sopir itu saat aku sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Sudah, berapa waktu yang harus di tempuh untuk sampai di rumahnya?" tanyaku.
"Kira-kira hampir satu jam menggunakan mobil, lalu naik ojek sekitar 20 menit, karena akses yang di tuju belum bisa memakai kendaraan roda empat," jawabnya.
"Apakah tempatnya sangat terpencil?"
"Bisa di bilang begitu, Tuan."
"Baiklah, segera berangkat," perintahku.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang masih sepi, ku pikir sopir yang kini duduk memegang setir bundar itu adalah mantan pembalap, terlihat dari kelihaiannya dalam berkendara.
Aku bahkan tidak menyempatkan mampir untuk sekedar sarapan, yang terpenting aku harus bertemu dan mengajak bi Ijah ke rumahku, dia harus bersedia memasak untuk Sabrina hari ini juga.
45 menit perjalanan, kami sudah sampai di ujung kota, di sebuah perkampungan yang padat penduduk, ku lihat sopir itu berdialog menggunakan bahasa jawa kepada para tukang ojek yang sedang mangkal di wilayah perkampungan.
"Bagaimana?" tanyaku pada sopir itu.
"Bapak itu yang akan mengantarkan tuan menuju rumah mak Ijah, apa perlu saya temani, Tuan?"
"Ah, tidak perlu, kau tunggu saja di sini."
Aku pun dengan penuh semangat menaiki sepeda motor kotor yang penuh dengan tanah merah yang sudah mengering.
__ADS_1
"Wonten nopo madosi griyane mak Ijah, Mas?" tanya tukang ojek laki-laki yang mungkin seusia dengan papaku.
"Maaf, Pak. Saya kurang bisa bahasa jawa, bisa pakai bahasa indonesia saja?"
"Oh, inggih, Mas. Ada perlu apa mas-nya mencari rumah mak Ijah?"
"Saya mau mengajaknya kembali ke kota, Pak. Istri saya sedang hamil, dan hanya mau makan masakan bi Ijah saja, jadi saya harus segera menjemputnya," jawabku.
"Wah, bojo idaman tenan kowe iki mas," ujarnya sambil menahan senyum. Aku yang tidak begitu paham bahasanya hanya mengangguk-ngangguk saja pura-pura mengerti.
"Niki griyane mak Ijah, Mas," ujar bapak itu. Aku pun turun dari sepeda motornya.
"Bapak tunggu disini, ya. Saya tidak lama," kataku sebelum masuk ke dalam rumah berdinding kayu yang tidak terlalu besar, di area sekitarnya masih terlihat bekas-bekas sisa piring dan peralatan yang usai di pakai untuk acara resepsi pernikahan.
Ku ketuk pintu dengan sopan, lalu muncul seorang wanita seusia Sabrina berdiri mematung menatapku tanpa berkedip, bahkan ia tidak menyambutku dengan kata apapun.
Sepertinya wanita desa ini sedang terpesona dengan ketampananku yang paripurna, apalagi pakaian yang ku kenakan semi formal, dia pasti berpikir ada pangeran masuk desa dengan berbagai imajinasi yang melayang di kepalanya.
"Maaf, bisa saya bertemu bi Ijah?" tanyaku membuyarkan lamunannya, seketika dia tersadar dan kembali masuk ke dalam rumah.
"Ono sopo toh, yu?"
"Kuwi loh mak, wong ganteng."
Ku dengar obrolan dua dua orang yang berjalan mendekat.
"Loh, tuan Arga. Ada perlu apa tuan sampai menyusul saya datang ke kampung ini?" tanya bi Ijah khawatir, ia menyuruhku masuk dan memberikan secangkir teh hangat.
"Bisakah bibi ikut pulang ke kota bersama saya? Saya sangat butuh bantuan," kataku pelan-pelan lalu menyeruput secangkir teh buatannya, kebetulan sekali aku sangat haus.
"Ada apa? apakah non Sabrina sedang sakit? atau tuan dan nyonya saya?" tanyanya penuh ketakutan.
"Tidak, saya hanya butuh bibi untuk memasak di rumah saya, Sabrina sedang hamil, dan ingin sekali makan masakan bi Ijah."
"Saya mohon, bibi harus ikut saya ke kota, saya akan membayar berapapun yang bibi minta," rayuku.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1