
Menyadari hari mulai gelap, aku memutuskan meninggalkan tuan Arga yang masih pulang di atas tempat tidur untuk segera mandi.
Usai mandi, aku membangunkan tuan Arga dengan menciumi pipinya berkali-kali, aku suka melakukan hal ini, bahkan rasa canggung yang biasa aku rasakan berangsur hilang, aku melakukan semua ini dengan hati.
"Bangunlah, Honey. Sudah waktunya makan malam," ucapku di dekat telinganya.
Tanpa aba-aba dia langsung menarik paksa tubuhku dan di jatuhkan lagi ke dalam pelukannya.
"Ayo kita makan, aku sudah lapar," kataku.
"Baiklah, aku akan mandi." Tuan Arga membuka mata dan menciumi seluruh area wajahku, menggelikan.
Sambil menunggunya mandi, aku menyiapkan baju ganti untuknya. Sebuah kaos polo berwarna hitam dengan celana pendek selutut berwarna putih, tidak ada lagi warna lain di dalam lemarinya selain hitam dan putih. Jika ada, itupun bisa di hitung dengan jari.
Usai tuan Arga mandi dan berganti pakaian, kami segera turun menuju ruang makan, rasanya aku mudah sekali lapar, tapi saat perut mulai kenyang, rasanya selalu ingin muntah, seperti ada yang mendorong di dalam perutku.
"Makanlah yang banyak," ucap tuan Arga yang melihatku menaruh dua buah sandwich di atas piring.
"Aku, makan ini saja."
"Kenapa? bukankah tadi kau bilang lapar?" Dia menatapku heran.
"Ini sudah cukup, Honey." Tadinya aku memang sangat lapar, tapi selera makan ku mendadak lenyap setelah duduk di kursi ini.
"Itu hanya sedikit, biasanya kau kan selalu makan banyak."
"Hari ini aku sedang kurang selera."
"Apa kau ingin makan sesuatu?"
"Tidak, ini saja cukup."
Akhirnya aku hanya memakan dua sandwich saja, itupun tidak habis, masih tersisa separuh bekas gigitan ku.
...
Usai makan malam, aku mengajak tuan Arga duduk berdua di depan tv, kami menonton serial drama Korea yang sedang tayang di salah satu stasiun televisi malam ini.
"Apa kau suka laki-laki dengan wajah seperti itu?" tanya tuan Arga menunjuk pemeran laki-laki yang ada di layar tv.
"Suka, dia kan tampan."
"Hah, laki-laki kalau tidak punya bulu itu seperti perempuan, mulus." Tuan Arga melirikku sinis.
"Setiap orang kan punya selera tersendiri, jadi jangan samakan selera mu dengan seleraku, Honey."
"Apa laki-laki mulus seperti itu idaman mu?" Kali ini pertanyaan tuan Arga membuatku menatapnya dengan tatapan heran.
"Kenapa sekarang kau menanyakan hal seperti itu?" tanyaku balik.
"Tidak apa-apa, aku kan hanya ingin tau seperti apa laki-laki yang kau sukai."
"Itu tidak penting. Sekarang aku cukup berproses dengan laki-laki yang merasa sudah klik denganku." Aku menyunggingkan senyum manis padanya.
__ADS_1
Dia manggut-manggut, lalu mengganti saluran tv menjadi acara berita metropolitan.
"Besok hari minggu, apakah kau tidak libur?" tanyaku.
"Tidak, aku lupa memberitahumu sesuatu."
"Apa?"
"Hari ini aku bisa pulang lebih awal karena besok aku harus pergi ke Prancis, untuk mengurus perusahaan parfum terbaruku di sana."
"Kenapa mendadak sekali?" Aku mulai gelisah.
"Ya, karena lusa aku akan mempromosikan produk terbaru itu bersama seorang model yang menjadi brand ambassador perusaan ini."
"Hmm, baiklah." Wajahku berubah kecut.
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak, pergilah," jawabku datar.
"Ini tidak akan lama, mungkin hanya tiga atau empat hari, aku akan berusaha lebih cepat."
"Kalau begitu, besok aku ingin pergi berbelanja ke mall." Aku mencari hiburan sendiri daripada merenungi nasib di tinggal dia pergi.
"Pergilah dengan Salimah, aku akan menyuruh pengawal untuk mengikuti kalian."
"Tidak perlu berlebihan, aku kan hanya mau berbelanja, bukan mau tawuran, kenapa harus ada pengawal." Aku mencebik.
"Agar kau tetap aman, banyak orang jahat di luar sana."
Dia menatapku dengan wajah heran, mulutnya menganga seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak jadi.
Sesampainya di kamar, aku langsung menuju ruang ganti untuk mengganti piyama ini dengan lingerie, itu seperti hal wajib yang harus aku patuhi saat akan tidur.
Setelah beres, aku merebahkan tubuhku di atas kasur empuk sambil memeluk guling. Tangan kananku sibuk membalas pesan dari aplikasi hijau yang sudah menumpuk, beberapa dari Riani dan ibuku, dan yang lebih banyak dari Claire.
Ya, sejak kepulangan ku dari Singapura saat berbulan madu, aku sering bertukar pesan dengan Claire, hampir tiap hari dia menanyakan kabarku, dan menceritakan hari-harinya yang sibuk menghadiri acara pagelaran fashion di berbagai belahan dunia.
["Besok pagi aku akan ke Korea, ikut pagelaran fashion dengan beberapa penyanyi dan artis di sana"] Itu adalah salah satu pesan dari Claire, dia selalu memberitahuku kegiatannya setiap hari, aku begitu senang setiap dia memberi kabar, setidaknya aku punya sahabat untuk saling berbagi selain Riani.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya tuan Arga, saking asiknya bermain ponsel, aku tidak menyadari jika laki-laki itu sudah ikut berbaring di sampingku.
"Tidak apa-apa," jawabku acuh.
"Sekarang tidurlah, ini sudah malam." Tuan Arga lalu berbaring membelakangi ku sambil menutup tubuhnya dengan selimut lembut.
"Baiklah." Aku lalu meletakkan ponselku di bawah bantal. Selama menikah denganku, tuan Arga hampir tidak pernah memeriksa ponsel milikku, entah karena dia yang terlalu percaya padaku, atau dia tidak peduli, aku tidak tau.
Tapi, aku memang tidak pernah meletakkan ponselku sembarangan, kalau tidur selalu ku selipkan di bawah bantal, agar terasa getarannya saat alarm pagi berbunyi.
Aku melihat tuan Arga sudah terlelap dengan nyenyak, dia bahkan tidak bergerak sama sekali, tetap membelakangiku sambil memeluk guling besar.
Namun, aku belum bisa tidur, rasa kantuk belum juga datang meskipun aku sudah memejamkan mata sedari tadi.
__ADS_1
"Honey," ucapku sambil menggoyangkan pundaknya. Tuan Arga tidak menanggapi, dia tetap nyenyak.
Aku kembali meraih ponselku, sudah tidak ada balasan pesan dari siapapun, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi aku belum juga mengantuk.
"Honey." Aku kembali mengganggunya, kali ini dia menggeliat berbalik badan menghadap ke arahku.
"Kau sangat ngantuk, Ya?" tanyaku.
Aneh ya, sudah pasti dia sangat ngantuk, ini kan tengah malam.
"Hmm." Matanya tertutup rapat, tapi merespon pertanyaanku, artinya dia mendengarku.
"Honey," ucapku lagi.
"Ada apa, Sa? ini sudah malam, ayo tidur," ucapnya sambil merapikan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Besok kan kau akan pergi selama beberapa hari, apa kau tidak ingin sesuatu?" tanyaku memancingnya.
"Malam-malam begini mau apa, aku hanya mau tidur," ucapnya dengan mata terpejam, kali ini lengan kekarnya melingkar di perutku.
"Kau yakin tidak mau sesuatu? kita tidak akan tidur berdua selama beberapa hari."
"Lalu kenapa? ini kan sudah malam, aku tidak mau apa-apa, Sabrina. Ayo tidur!" Kali ini dia sedikit membuka matanya.
"Kau ini tidak peka, menyebalkan!" Aku gusar, lalu bergeser sedikit menjauhinya.
"Kau ini kenapa?" Dia bertanya sambil membuka lebar kedua matanya.
"Tidak apa-apa, sudahlah, nikmati tidur nyenyakmu!" Aku menghela nafas panjang, lalu berganti membelakanginya.
"Tadi kau menggangguku, sekarang kau marah dan menyuruhku kembali tidur, sebenarnya apa yang kau mau?"
"Tidur saja, aku ngantuk!"
Dengan perasaan jengkel luar biasa, akhirnya aku bisa tidur dan meninggalkannya yang terlanjur terbangun sendirian. Rasain!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...