
Mobil ini memasuki kawasan perumahan elite, aku bahkan tidak pernah sama sekali tau tempat ini, rumah-rumah besar berjejer rapi di kanan kirinya, setiap rumah memiliki halaman yang luas dengan taman dan pepohonan disetiap sudut tamannya, meskipun aku melintas di malam hari, tapi kesan mewah sangat terlihat dari lampu" besar yang dipasang di beberapa titik halaman rumah.
Tiba-tiba mobil berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar besi berwarna putih yang menjulang tinggi, tuan Joe membunyikan klakson mobil sekali, dua satpam langsung membuka gerbang berwarna senada dengan pagarnya.
Saat memasuki halaman, aku dibuat terkagum-kagum melihat rumah ini, rumah yang jauh lebih besar dari tetangga kanan kirinya, dengan konsep modern, tiang-tiang penyangga yang berukuran sangat besar, bahkan tanganku tidak akan cukup jika merangkul tiang itu.
Taman depan ini sangat luas, bahkan menurutku lebih luas dari keseluruhan luas rumahku, pohon palem berjejer rapi di sebelah kanan taman, ada dua bangku panjang yang diterangi lampu terang yang sebelahnya dihiasi bunga-bunga cantik, sungguh, ini bukan rumah, melainkan istana.
"Jangan melamun nona, nanti kalau kamu kesambet, bisa merepotkan diriku." Laki-laki ini selalu saja mengagetkanku.
"Apakah ini rumah tuan Arga?" aku bertanya.
"Tentu saja, memangnya ke rumah siapa?"
"Hmm"
"Mana mungkin aku membawamu ke kebun binatang, sedangkan boss yang mengundangmu."
"Baiklah, baiklah, terserah kau saja tuan."
...
Saat memasuki rumah ini, kami di sambut dua pelayan yang memakai seragam seperti bekerja di sebuah restoran.
"Silahkan masuk tuan dan nona, tuan Arga sudah menunggu di meja makan," ucap salah satu pelayan wanita yang menyanggul rambutnya sambil tersenyum ramah.
"Terimakasih." Aku membalas senyumnya sambil mengangguk pelan.
"Ayo!" seru tuan Joe.
Aku mengikuti langkahnya dengan cepat, memasuki rumah bak istana sungguh luar biasa, aku tidak bisa berhenti mengagumi kemewahan rumah ini, bahkan konsep tangga yang di pakai seperti di film-film hollywod. lampu-lampu besar bersinar terang di ruang tamu semakin membuatku terkesan, tatanan bunga-bunga artifisial disetiap sudut ruangan, bau parfum lembut yang menyusup ke dalam hidung terasa menenangkan.
"Sudah lama menunggu boss?" tuan Joe menyapa boss-nya yang duduk di sofa panjang tidak jauh dari ruang makan, dia sedang asik menonton televisi.
"Tidak juga, bagaimana?" laki-laki ini bertanya sambil matanya masih fokus melihat ke arah layar besar bergambar itu.
"Beres boss, aku sudah sangat lapar, bisakah kita makan dulu?"
"Baiklah, Ayo!" tuan Arga berdiri sambil mematikan televisi menggunakan remot di sebelahnya.
Aku hanya berdiri mematung di belakang tuan Joe sambil sesekali melirik ke arah tuan Arga, dia hanya memakai baju santai saat dirumah, meskipun hanya memakai atasan kaos berwarna putih polos dan celana kain selutut, tidak membuat ketampanan laki-laki ini luntur.
"Kau mau jadi pajangan disana? Ayo makan!" seru tuan Joe menepuk pundakku yang sedang melamun.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk mengikuti langkah kakinya ke meja makan. bahkan meja makan ini ukurannya bisa dua kali lipat atau lebih dari meja makan dirumahku, ruang makan ini sangat nyaman, semuanya bersih dan tertata sangat rapi, ada bunga segar berwarna putih yang di letakkan di tengah-tengah meja, menambah kesan mewah didalamnya.
"Kau suka makan apa, Nona?" tanya tuan Joe sambil melirikku.
"Apapun aku suka tuan, aku bukan tipikal orang pemilih makanan."
"Bagus!" suara tuan Arga pelan namun bisa membuat mataku refleks menoleh kearahnya.
"Tentu saja boss, kokimu tidak akan kerepotan memasakkan makanan untuknya, untung dia tidak cerewet," timpal tuan Joe sambil menahan tawa.
Tuan Arga hanya mengangguk sambil melihatku sekilas. tatapannya begitu tajam, mata coklat itu seakan sedang menelitiku, memperhatikanku dengan sekilas lalu menunduk, selang beberapa menit aku merasa dia melihatku lagi, saat aku kembali melihatnya, dia melanjutkan makan, itu terjadi beberapa kali, seolah dia tidak ingin aku kepede-an sedang ada yang memperhatikan.
"Jangan melihat saya seperti itu tuan, saya merasa tidak nyaman." Aku memberanikan diri, karena memang aku tidak nyaman dalam situasi ini.
"Memangnya kenapa?" dia bertanya angkuh.
"Hanya tidak nyaman saja."
"Aku ini calon suamimu, jadi wajar jika aku memperhatikanmu dengan detile, apa kau mau jika di pelaminan nanti aku salah menggandeng mempelai wanita?"
"Eh tidak tuan."
"Lanjutkan makanmu!" perintahnya.
Tuan Joe yang melihat kami hanya menggelengkan kepalanya menahan tawa.
...
Usai acara makan malam yang menegangkan, kami kembali ke ruang tamu, duduk dikursi mewah besar berwarna dasar putih dengan motif bunga berwarna keemasan. Ada 6 kursi berjejer melingkar dengan meja kaca dibagian tengahnya, ada beberapa vas kecil berisi bunga segar berwarna merah muda.
"Bagaimana?" suara tuan Arga menggelegar memenuhi ruangan besar ini. Aku terkejut sampai terlonjak hampir berdiri.
"Apa kau yakin menyetujui semua syarat dan peraturanku?" ia melanjutkan.
"Iya tuan, saya setuju, apapun akan saya lakukan demi keluarga saya." Aku menjawab penuh keyakinan.
"Kau sangat menyayangi keluargamu?"
"Sangat!"
"Meskipun ayahmu menumbalkanmu demi menyelamatkan bisnisnya?" dia mengernyitkan dahi menatapku.
"Itu semua ayah lakukan demi keluarga saya tuan, demi kelangsungan hidup kami."
__ADS_1
"Kau harus tau, tidak ada di dunia ini yang lebih penting dari keutuhan suatu keluarga, bahkan uang sekalipun, jika aku yang ada di posisi ayahmu, aku lebih memilih bangkrut dan memulai usaha baru, dari pada mengorbankan keluargaku sebagai tumbal penukaran uang."
"Tapi saya bersikeras untuk membantu bisnis ayah saya, saya ingin menjadi anak yang berguna, saya ingin membalas jasa orangtua yang telah merawat dan mendidik saya."
"Membalas jasa? itu bukan jasa, itu adalah kewajiban orangtuamu."
Aku hanya diam, susah sekali rasanya menjelaskan kepada laki-laki ini, percuma saja, dia tidak akan pernah paham perasaanku saat ini.
"Baiklah jika itu keputusanmu, semoga kau tidak akan pernah menyesalinya."
"Saya tidak akan menyesal, Tuan." Aku berucap lantang.
"Beberapa hari lagi aku akan memberi kabar kapan acara pernikahan akan diadakan, kau tidak perlu repot, hanya datang bersama keluargamu saja, aku yang akan menyiapkan semua keperluanmu, dari gaun, perias, sampai tempat dimana acara akan dilangsungkan."
"Baiklah tuan, terimakasih." Aku mengucapkannya sambil menunduk.
"Joe, antarkan dia pulang, aku ingin istirahat."
"Baik boss!"
Aku kembali pulang dengan perasaan nano-nano, selama perjalanan aku hanya diam memandang keluar kaca mobil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih banyak sudah membaca, jangan lupa tinggalkan Like dan berikan komentar yang membangun yaa ❤️
__ADS_1