TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Masa Lalu


__ADS_3

Selesai makan malam, para pelayan datang mengambil kembali sisa makanan dan piring-piring kotor, tidak disini atau di rumah sana, aku bahkan sudah seperti tuan putri.


"Ikutlah denganku," ajak tuan Arga. Dia mengulurkan tangan kanannya.


"Kemana?" tanyaku penasaran.


"Tidak perlu banyak tanya, ikut saja, ayo!"


Aku pun menggandeng lengannya, berjalan beriringan keluar dari kamar, di depan pintu kami berbelok ke kiri, melewati kamar papa kemudian masuk ke sebuah kamar dengan pintu bercat putih.


"Kamar siapa?" tanyaku sebelum ia membuka pintu.


"Ini kamar lamaku, ayo masuk," ajaknya menarik tanganku.


Pertama kalinya membuka pintu, aku melihat kamar yang begitu tertata rapi dengan banyak lukisan yang di jejer di mana-mana, hampir seluruh ruangan ini terdapat lukisan yang artistik.


Mataku tertuju pada sebuah lukisan berukuran lumayan besar, di sana tergambar seorang wanita cantik sedang duduk memangku seorang anak laki-laki yang memakai setelan tuksedo hitam lucu dengan dasi kupu-kupu, anak kecil itu tersenyum ceria menampakkan dua gigi depannya.


Lukisan itu tidak di gantung, melainkan di letakkan di atas kasur sambil di sandarkan pada dinding. Sekilas aku melihat mata tuan Arga mengembun tatkala matanya menatap lukisan itu.


"Bagus sekali," ujarku pelan. Aku mendekati lukisan itu lalu duduk memangkunya.


"Dia mamaku," ujar tuan Arga. Artinya, anak laki-laki yang ada dalam pangkuan wanita itu adalah tuan Arga, mungkin.


"Mamamu cantik sekali, matanya sama persis denganmu, coklat indah."


"Anak kecil ini, dirimu, Honey?"


"Ya, aku saat berusia sebelas bulan, belum genap setahun," jawab tuan Arga datar. ia membersihkan sebuah lukisan yang sudah usang tertutup debu, namun masih terlihat indah setelah bersih.


"Untukmu," ucapnya menyerahkan lukisan itu, sebuah gambar hamparan kebun bunga yang luas dengan seorang gadis berambut keriting sedang menari di sana.


"Untukku? ini, gadis berambut keriting?"


"Ya, entah apa yang membuatku melukis gambar ini, tapi aku sangat suka, gadis keriting berpakaian kuning di tengah hamparan bunga-bunga. Seperti menjadi kenyataan, sekarang aku menikahimu."


"Aku melukisnya saat berumur sembilan tahun," lanjutnya.


Mataku terbelalak tak percaya, aku melongo mendengar penuturannya, ternyata tuan Arga punya bakat terpendam yang sangat keren. Ah, aku semakin tergila-gila padanya.


"Kenapa kamar ini tidak di tempati?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Tidak, banyak kenangan di tempat ini, dan aku tidak suka!"


"Baiklah, aku tidak ingin membantah," jawabku pelan, sudah cukup perdebatan tentang masa lalunya, aku tidak akan menanyakan jika dia tidak ingin bercerita.


Ku tatap kembali lukisan ibu dan anak yang sangat mengagumkan itu, wanita yang tergambar di sana begitu cantik, tubuhnya tinggi langsing dengan lesung pipit di kedua pipinya, pantas saja papa mertuaku sangat mencintai istrinya, karena wanita itu memang sangat pantas mendapatkan banyak cinta.


Tuan Arga memperlihatkan banyak sekali koleksi lukisannya, dari lukisan benda mati seperti mobil, motor, pemandangan alam, sampai lukisan hewan-hewan dan bunga. Aku suka semuanya.


"Bolehkan aku membawa pulang lukisan ini?" tanyaku sambil menunjuk lukisan hamparan bunga dengan gadis keriting yang tadi ia bersihkan.


"Jangan, jelek."


"Baiklah, aku bawa pulang yang ini saja," kataku merangkul lukisan dirinya dengan sang mama.


"Aku membencinya!" seru tuan Arga, kali ini laki-laki itu kembali menampakkan wajah sangarnya.


"Baiklah, aku tidak akan membawa apapun," ujarku meletakkan lukisan itu kembali di tempatnya semula, aku berdiri dan meninggalkannya.


Sebelum benar-benar melangkah dari kamar ini, aku menoleh, tuan Arga tidak mengejarku, ia masih duduk di kamar lamanya sambil merenung, aku membiarkannya, membiarkan dia mengontrol diri dan emosinya. Kebencian ini tidak boleh berlarut-larut, ku biarkan dia menatap wajah sang mama dari lukisan itu, biarkan dia merenungi dirinya.


Aku kembali ke kamar, merebahkan tubuhku di kasur empuk sambil memeluk guling, mencoba memejamkan mata agar pikiran semrawut dan rasa penasaran yang berputar-putar di kepalaku bisa hilang.


Ku putuskan untuk kembali melihatnya di kamar lama, ku intip dari belahan pintu yang tidak tertutup sempurna. Tuan Arga duduk di tepi kasur sambil memangku lukisan dirinya bersama sang mama. Samar, ku lihat bulir bening menetes di ujung kelopak matanya.


Aku tau di dalam kebencian yang teramat sangat itu, kau menyiman cinta dan kerinduan yang begitu besar, hanya saja kau terlalu naif mengakuinya.


Selama hampir tiga puluh menit aku berdiri di dekat pintu, duduk berselonjor di lantai menunggunya. Semakin lama ku dengar ia mulai menangis, dadaku ikut sesak, aku bertekad menghampirinya.


"Honey," ucapku memegang bahunya yang sedikit berguncang, dengan cepat ia menyeka air mata yang sudah terlanjur ku lihat.


Tuan Arga memandangku, matanya sembab, tangannya gemetar memegang lukisan itu, aku tau ada banyak cinta untuk sang mama di hatinya.


"Kemarilah, aku tau apa yang kau rasakan," kataku lalu merangkulnya, mencoba menenangkan jiwa yang sedang terguncang.


"Maafkan aku, Sabrina. Aku ...."


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku mengerti, jika kau menceritakan semua beban hatimu, maka rasa sakit itu akan berkurang, percayalah."


"Aku tidak tau harus memulai dari mana, aku begitu di kuasai kebencian yang begitu besar terhadap mamaku."


"Kau bisa menceritakan dari mana saja, aku akan mendengarkan," ujarku menatap kedua bola mata bening itu.

__ADS_1


Beberapa saat tuan Arga masih tidak ingin menjawab, dia hanya melamun memandang lukisan di tangannya, sesekali dia melirikku, memastikan bahwa aku masih memperhatikannya.


"Katakan, kenapa kau begitu membenci seorang wanita yang sudah merawat dan membesarkanmu, Honey," tanyaku pelan-pelan, mencoba selembut mungkin agar ia mau bicara.


"Dia tidak membesarkanku, bahkan merawatku. Hanya papa satu-satunya orang yang menyayangiku," ujarnya, aku diam mendengarkan ia melanjutkan ungkapan isi hatinya.


"Awalnya kehidupan kami begitu bahagia, saat umurku menginjak empat belas tahun, papa mengalami kerugian besar karena tertipu rekan kerjanya, kami bangkrut, kami jatuh miskin."


"Mama pergi meninggalkan kami, papa bilang kalau mama sedang bekerja di luar kota, aku percaya. Sebelum itu, hampir setiap malam aku mendengar papa dan mamaku bertengkar hebat."


"Papa menjual rumah ini untuk bertahan hidup menyewa sebuah rumah kecil di pinggir kota sambil memulai kembali bisnis dari nol, dan untuk membiayai sekolahku yang tidak murah."


"Sampai suatu hari, saat sepulang sekolah aku melihat seseorang mirip mama bersama laki-laki yang usianya mungkin lebih tua dari papa waktu itu. Mereka bergandengan mesra layaknya suami istri, memasuki sebuah mobil mewah, dan melesat pergi saat aku berteriak memanggilnya."


"Sesampainya di rumah, aku menceritakan apa yang aku lihat pada papa, tapi papa hanya bilang kalau itu bukan mama, mungkin karena aku rindu jadi terbayang-bayang wajahnya," lanjut tuan Arga, ia bercerita dengan tatapan kosong.


"Lalu apakah yang kau lihat itu benar, Honey?" tanyaku penasaran, aku benar-benar tidak sabar mengetahui fakta yang memilukan ini.


"Seminggu kemudian, saat aku mengamen di sebuah lampu merah, aku melihatnya lagi, bersama laki-laki yang sama waktu itu, dia membuka kaca mobilnya, memberikan uang receh di tanganku tanpa melihat wajahku. Aku yakin dia mamaku," lanjutnya.


Aku menghela nafas panjang, menggosok punggung laki-laki yang terlihat sangat kuat di luar, tapi nyatanya dia begitu rapuh, masa lalunya begitu menyakitkan. Aku tidak menyangka jika dia pernah mengalami kehidupan yang begitu keras.


"Aku kembali menanyakan semuanya pada papa, tapi papa marah padaku, dia mengunciku di dalam rumah berhari-hari, tidak mengizinkanku pergi kemanapun, kecuali sekolah. Terkadang, aku mendengarnya berbicara sendiri di kamar sambil memandangi foto mama," ujar tuan Arga.


Tidak terasa, air mataku ikut luruh. Aku tidak kuasa mendengar cerita yang menyakitkan itu, sesak rasanya sudah memenuhi dadaku, sakit.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2