TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Masuk angin


__ADS_3

"Aku akan menghubungi dokter Budi," ucap tuan Arga seraya meraih ponselnya di atas nakas.


"Tidak perlu," jawabku pelan.


Sebenarnya aku sudah mencari tau tanda-tanda yang aku alami ini di internet beberapa waktu lalu, semua gejala mengarah pada kehamilan. Tapi aku masih ragu, karena sampai hari ini aku masih rutin mengkonsumsi pil kontrasepsi itu.


"Kenapa? apa kau takut dengan dokter?" tanya tuan Arga mengerutkan kening.


"Sedikit." Aku meringis. Ya, sebenarnya aku memang takut bertemu dengan dokter, karena aku takut jarum suntik.


"Tidak apa-apa, dokter Budi adalah dokter keluargaku, dia sangat baik."


"Tapi, aku takut di suntik, Honey."


"Hah, kau takut di suntik?" Tuan Arga sedikit menahan tawa.


"Di suntik dokter itu sakitnya cuma sebentar, Sa. Bagaiman kalau aku saja yang menjadi dokter mu?" lanjutnya sambil duduk di sebelahku.


"Hah, kau bisa jadi dokter?" Aku terkejut.


"Ya, tentu saja. Aku bisa menyuntikmu dengan ini," ujarnya tersenyum licik sambil jari telunjuk mengarah ke bagian bawah perutnya.


Aku melotot menatapnya, bagaimana bisa dalam situasi seperti ini dia malah membahas hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan apa yang terjadi padaku.


"Jadi, kau mau aku memanggil dokter sungguhan atau cukup aku yang menjadi dokter pribadimu?"


"Hmm, aku tidak memilih keduanya."


"Baikalah, terserah kau saja," ucapnya sambil mengetik sebuah pesan di layar ponselnya.


"Kau menghubungi siapa, Honey?"


"Salimah," jawabnya datar.


Kenapa harus mengirim pesan, padahal dia ada di ruangan yang masih ada di dalam rumah ini, kau ini pemalas sekali.


"Untuk apa?"


"Memanggil koki yang memasak mie untukmu."


"Hah, memangnya ada apa?" Aku bingung dengan laki-laki di sebelahku.


"Sudah, diam saja!"


Beberapa saat kemudian Salimah datang bersama seorang koki laki-laki yang umurnya mungkin lebih tua dariku, dia berdiri dengan wajah yang berkeringat sambil tangannya meremas ujung baju putihnya.


"Apa yang kau campurkan dalam mie yang tadi ku pesan?" Pertanyaan tuan Arga seperti anak panah yang langsung meluncur mengenai sasaran, tepat di jantung si koki. Suaranya begitu menggelegar memecah keheningan kamar, aku yang bersandar di atas kasur memilih mendekati tuan Arga yang berdiri di depan Salimah dan koki itu.


"Memangnya ada apa, Tuan?" tanya Salimah berniat membantu kokinya yang berdiri dengan kaki bergetar.


"Sabrina muntah-muntah setelah memakan mie buatan koki ini," ucap tuan Arga sambil mengarahkan jari telunjuknya di depan wajah koki itu.

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan. Tapi saya memasak sesuai dengan resep yang biasa kami gunakan," jawab koki itu dengan terbata-bata, aku melihat tangannya bergetar hebat.


"Aku tidak apa-apa, Honey," ucapku sambil memeluk lengan kanannya. Aku berusaha menenangkan laki-laki ini.


"Tidak apa-apa bagaimana, kau muntah begitu banyak. Pasti koki ini sengaja mencampurkan sesuatu yang buruk."


"Sa, saya bersumpah, Tuan. Saya tidak berbuat hal-hal yang buruk di rumah ini, demi Tuhan saya tidak melakukan itu," ujar koki itu.


"Tenanglah, aku muntah bukan karena makan mie itu." Aku masih berusaha mengguncangkan lengannya agar mata tuan Arga tidak menatap koki yang ketakutan itu dengan tatapan membunuh.


"Lalu, kau kenapa? katakan!"


"Aku, masuk angin."


"Hah, mana mungkin masuk angin membuatmu muntah seperti itu, pasti ini semua ulah koki ini," ucap tuan Arga tidak terima dengan penjelasan ku, dia masih menghujani koki itu dengan tatapan elang yang siap mencabik-cabik mangsanya.


"Maafkan saya, Tuan. Saya akan segera memecat koki ini jika tuan berkehendak," ucap Salimah menengahi.


"Pecat dia, aku tidak mau melihat wajahnya lagi di rumah ini."


"Tuan, saya mohon, saya butuh pekerjaan ini," ucap koki itu memelas, dia langsung duduk bersimpuh dengan wajah pias.


"Pergi!" bentak tuan Arga.


"Tapi, Honey. Dengarkan penjelasanku." Aku meraih tangannya.


"Penjelasan apa lagi? kau mau membela koki ini?"


"Hah, sekarang kau benar-benar membelanya, jangan-jangan kau menyukai koki ini," ujar tuan Arga sinis.


Ya Tuhan, harus bagaimana lagi aku menjelaskan pada laki-laki bodoh ini, dia begitu sulit di tenangkan.


"Jangan menuduhku yang bukan-bukan, aku memang masuk angin, jangan keras kepala." Kali ini aku sudah tidak tahan.


Tuan Arga hanya diam tidak menjawab apapun, namun matanya masih fokus menatap laki-laki kurus berbaju putih yang duduk bersimpuh di lantai.


Padahal beberapa menit yang lalu dia masih bersikap manis padaku dan menggodaku dengan bermain dokter dokter-an, sekarang dia sudah berubah menjadi harimau gila yang tak terkendali dalam sekejap, jangan-jangan tuan Arga punya penyakit kejiwaan.


"Salimah, keluarlah dulu," ucapku menatap Salimah dan koki di sampingnya.


Tanpa menunggu waktu lama, Salimah segera berbalik badan dan keluar dengan cepat diikuti koki itu. Aku menggandeng lengan tuan Arga dan mengajaknya duduk di sofa favorit kami.


Tuan Arga masih memasang wajah sangar dengan mata merah menahan amarah, aku mengelus punggungnya pelan, lalu mengambilkan segelas air putih di atas meja.


"Minumlah," ucapku.


"Aku tidak haus."


"Setidaknya kau akan lebih tenang, Honey." Aku berusaha tersenyum meski dia sama sekali tidak menatapku, sebenarnya aku benar-benar takut melihat kemarahan tuan Arga tadi, hanya karena masalah sepele dia sudah seperti kebakaran jenggot.


Setelah beberapa saat dia diam, dia lalu mengambil segelas air mineral yang ku pegang.

__ADS_1


"Kenapa kau membelanya?" Tuan Arga bertanya lagi tapi dengan nada yang sedikit tenang.


"Aku tidak membelanya, memang aku sedang masuk angin, beberapa hari terakhir aku sering muntah, kau saja yang tidak tau," jelasku.


"Lalu kenapa kau tidak mengatakannya padaku sejak awal?" Tuan Arga mengarahkan pandangannya padaku.


"Aku tidak ingin membuatmu khawatir, Honey. Aku tau kau sedang banyak pekerjaan."


"Kalau sampai terjadi apa-apa padamu bagaimana?"


"Aku tidak apa-apa, buktinya sampai hari ini aku sehat," ucapku tersenyum.


"Kali ini aku memaafkan mu." Dia langsung memeluk tubuhku.


"Kau juga memaafkan koki itu?" tanyaku.


"Terserah kau saja, aku tidak peduli."


"Baiklah, sekarang ayo kita istirahat sebentar. Kau terlihat sangat lelah usai marah-marah."


Akhirnya aku mengajaknya kembali ke tempat tidur, mengistirahatkan tubuh sejenak.


...


Cahaya jingga sudah terlihat dari kaca jendela, matahari sudah semakin turun menuju tempat peraduannya. Sedangkan kami masih bergelut dengan selimut sambil saling memeluk.


Aku begitu bahagia, akhir-akhir ini tuan Arga menunjukkan perhatian yang lebih padaku, meskipun dia tidak pernah sekalipun mengatakan perasaannya, tapi hatiku berkata kalau dia sudah berusaha pelan-pelan menerima kehadiranku.


Aku pun sebaliknya, aku perlahan membuka hatiku yang awalnya tertutup rapat untuknya, sekarang aku menjalani semua ini dengan hati, mamantapkan diri untuk memperjuangkan perasaanku yang lama tidak aku sadari.


Mungkin inilah saatnya aku berproses, berproses untuk menjatuhkan cintaku padanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2