
Sepertinya mentari bangun lebih awal dariku, aku membuka mata saat matahari sudah merangkak naik, terlihat dari sinar-sinar hangatnya yang menembus jendela kaca.
Aku meraba kasur di sampingku, namun aku tidak merasakan ada manusia lagi di sana. Aku membuka lebar mataku, mencari sosok yang semalam sudah membuatku tertidur dalam perasaan kesal, bahkan dia tidak bertanggung jawab menyenangkan kembali hatiku.
Mataku tertuju pada jam dinding yang jarumnya hampir menunjukkan pukul delapan.
Hah, bagaimana bisa aku kesiangan, ini sudah pukul delapan, di mana tuan Arga.
Dengan langkah gontai, aku menyusuri kamar mandi dan ruang ganti, namun laki-laki itu tidak ada di manapun.
Aku meraih kimono di samping pintu kamar mandi, membalutkannya di tubuhku, lalu bergegas membuka pintu berniat mencarinya di ruangan lain.
Tiba-tiba tuan Arga sudah berdiri dengan pakaian rapi di depan pintu kamar sambil tangannya membawa nampan berisi makanan untukku.
"Honey, kau dari mana?" tanyaku sambil menggaruk kulit kepalaku yang tidak gatal.
Baru jam segini kenapa dia sudah rapi sekali.
"Aku sudah sarapan, ini sarapan untukmu," jawab tuan Arga seraya meletakkan nampan itu di atas meja.
"Kenapa tidak membangunkan ku?"
"Kau tidur sangat nyenyak, bahkan alarm dari ponselmu berbunyi berulang kali, kau tidak mendengarnya," ucap tuan Arga.
Hah, tidurku memang seperti kebo ya.
"Jadi, aku tidak tega membangunkan mu," lanjut tuan Arga, dia lalu berjalan menuju ruang ganti, aku yang masih kebingungan hanya mengikutinya.
"Kau, mau apa?" tanyaku saat melihat tuan Arga memasukkan beberapa setel kemeja dan pakaian pribadi miliknya ke dalam koper.
"Apa kau lupa? pagi ini aku berangkat ke Prancis, kita sudah membahasnya semalam." Tuan Arga menatapku.
Bagaimana aku bisa jadi pelupa seperti ini, padahal baru tadi malam dia mangatakannya.
"Maafkan aku, aku lupa," ucapku seraya membantunya memilih beberapa kemeja. Dia hanya tersenyum manis membalasku.
"Aku punya sesuatu," kataku sambil membuka lemari milikku, aku menyerahkan paper bag berwana hitam padanya.
"Ini apa?" tanya tuan Arga sambil langsung mencari tau isinya.
"Aku sengaja mendesign sendiri kemeja itu untukmu, kau suka?"
"Terimakasih, aku sangat suka." Dia langsung memelukku dengan wajah berseri.
"Maafkan jika warnanya seperti itu, aku hanya ingin membuatmu tampil beda." Ya, karena kemeja yang aku berikan berwarna navy dengan aksen putih di bagian leher dan ujung lengannya. Aku tau kalau tuan Arga tidak memiliki kemeja dengan warna ini sama sekali.
"Aku menyukainya, aku akan membawanya." Tuan Arga langsung memasukkan kemeja yang kembali di lipat ke dalam koper besar berwarna hitam.
Usai melakukan salam perpisahan dengan berbagai adegan yang mengharu biru di pagi hari, aku mengantarkan tuan Arga menuju teras depan untuk melihatnya berangkat bersama tuan Joe.
__ADS_1
Sebelum masuk ke dalam mobil, dia memeluk tubuhku sambil mencium keningku beberapa kali.
Ah, padahal kau hanya pergi untuk beberapa hari, tapi kenapa hatiku rasanya begitu berat melepasmu.
"Jaga diri baik-baik," ucapku ke arah tuan Arga dan tuan Joe. Kata-kataku ini bukan hanya ku tujukan pada suamiku, melainkan pada tuan Joe pula.
Mereka mengangguk bersamaan sambil melempar senyum padaku, kemudian berlalu pergi.
"Salimah, temani aku jalan-jalan, Ya," ucapku pada Salimah yang sedari tadi juga ikut mengantarkan keberangkatan majikannya.
"Saya sudah siap, Nona. Tuan Arga sudah mengatakannya."
"Oh, baiklah. Tunggu aku sebentar, aku akan bersiap dan sarapan terlebih dahulu" ucapku lalu bergegas menuju kamar.
...
Mobil melaju dengan pelan membelah jalanan, kami sampai di sebuah mall besar yang berada di tengah kota, tidak jauh dari perumahan elite yang aku tempati.
Aku hanya berniat mengajak Salimah berkeliling, rasanya sudah cukup bagiku meskipun hanya sekedar melihat-lihat. Bukankah wanita memang seperti itu, meskipun tidak bisa membelinya, berkeliling mall dan mencuci mata saja sudah cukup membuat hati riang.
Aku meminta dua pengawal yang di tugaskan tuan Arga untuk menjaga kami, berjalan di belakang kami dengan jarak sedikit jauh, aku merasa malu dan risih jika di lihat orang lain.
"Kita ke sana, Non," ucap Salimah menunjuk sebuah toko busana wanita dengan brand terkenal yang terpampang nyata di depan tokonnya.
"Jangan, Salimah. Pakaian di sana mahal, aku hanya ingin melihat-lihat saja."
"Tuan Arga berpesan untuk membeli beberapa pakaian baru untuk nona, jadi ini adalah perintah," ujar Salimah.
"Kita cari toko lain yang lebih murah." Aku menarik tangan Salimah.
"Kita ke sana saja, Nona."
Aku menurut, mengikuti langkah Salimah memasuki toko itu, dari pintu depan kami di sambut kurang ramah, para pramuniaga menatap sinis ke arah kami, mungkin itu karena penampilan kami yang biasa-biasa saja.
Aku hanya mengenakan dress bunga-bunga selutut dengan sandal tipis coklat yang sudah usang, sedangkan Salimah tetap memakai pakaian yang biasa dia pakai saat di rumah sebagai kepala pelayan, sambil mengenakan sandal jepit berwarna putih.
Aku melihat beberapa koleksi gaun malam, lingerie dan aksesoris yang harganya sangat fantastis. Untuk satu lingerie ada yang di bandrol dengan harga jutaan. Mungkin saja kainnya berlapis emas, pikirku.
"Ayo kita pergi dari sini, Salimah. Semua barang-barang ini terlalu mahal," ucapku sedikit berbisik. Namun seorang pramuniaga dengan wajah tirus dan tubuh tinggi semampai itu mendengar ucapanku.
"Kalau miskin, jangan berbelanja disini, paling juga cuma lihat-lihat terus ujung-ujungnya kabur," ujar pramuniaga itu sambil tersenyum sinis.
Salimah yang mendengar ucapan wanita itu langsung menyeretku menuju kursi di depan ruang ganti.
"Nona tunggu saja disini, saya yang akan memilih pakaian untuk nona."
"Tapi, Salimah---," ucapku menggantung, Salimah buru-buru pergi berkeliling meninggalkanku.
Aku yang gelisah duduk dengan tubuh berkeringat, meraih ponselku, melakukan pengecekan saldo melalui M-banking.
__ADS_1
Bisa-bisa habis semua uang tabunganku jika Salimah benar-benar membeli banyak barang. Ya Tuhan, bagaimana nasib dompetku.
Tidak dapat di percaya, Salimah membawa setumpuk baju di hadapanku, aku melihatnya dengan mulut menganga tidak percaya. Dia kemudian pergi sebentar dan kembali lagi membawa beberapa kotak berisi sepatu.
"Salimah, banyak sekali," ucapku dengan wajah pias. Dari mana aku mendapatkan uang untuk membayar semua belanjaan ini.
"Nona coba satu per satu, nanti Saya akan memilih yang cocok."
"Tapi---."
"Ini perintah tuan, Nona."
Akhirnya aku mengalah, dan mencoba semua jenis pakaian yang sudah Salimah kumpulkan.
"Ah, semuanya cocok, Nona," ujar Salimah tersenyum lega. Sedangkan aku hanya tersenyum kecut mendengarnya, aku sudah membayangkan berapa harga yang harus aku bayar untuk semua ini.
Tiba-tiba dua wanita pramuniaga menghampiri kami, mereka menatap kami dengan wajah ketus dan kesal.
"Kenapa mencoba banyak baju seperti ini, kalian hanya merepotkan saja!" ucap salah satu wanita yang rambutnya di sanggul itu.
"Kami tidak memintamu untuk kembali merapikannya, kami membeli semuanya," ujar Salimah dengan enteng.
"Hah?" Aku, dan kedua pramuniaga itu berucap berbarengan. Tidak hanya kedua wanita itu yang di buat terkejut, bahkan jantungku hampir copot mendengar penuturan Salimah.
"Ini terlalu banyak, Salimah. Beli dua saja," ujarku bisik-bisik.
"Ini semua perintah tuan Arga, Nona. Apakah nona mau membantah?" Jleb, ucapan Salimah menohok, aku tidak bisa lagi berkutik jika menyangkut soal perintah laki-laki itu.
Lagi-lagi Salimah mengucapkan mantra saktinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...