TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Terserah


__ADS_3

Kecupan selamat pagi rutin ku dapatkan saat mata laki-laki yang aku cintai itu membuka mata dari mimpi indahnya.


"Selamat pagi, Sayang."


"Selamat pagi, Honey."


"Kita mandi bersama?" tanyanya."


"Hmm, Tidak. Semalam itu sudah cukup!" tolakku mentah-mentah.


"Pelit sekali." Dia mendengkus.


Rutinitas kami setiap pagi selalu sama, namun untuk urusan mandi, kami jarang mandi bersama, tentu saja karen aku tidak ingin ada ronde ke dua ke tiga dan kesekian kalinya, itu sungguh sangat melelahkan. Terlebih jika malam kami sudah melakukannya, aku akan mudah lelah dan mengantuk saat bekerja nantinya.


Mulai hari ini, kami akan berangkat bersama untuk bekerja, dia akan mengantarkanku terlebih dahulu ke butik, meskipun ada bang Bimo yang statusnya adalah sopir, pengawal dan satpam, tapi suamiku tidak mengizinkan kami berada dalam satu mobil kecuali dalam keadaan darurat.


Alasannya sama, dia tidak ingin aku berbagi udara dengan laki-laki lain dalam satu ruangan. Lucu sekali.


Jarak butik baru dan kantor miliknya memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima sampai sepuluh menit berkendara jika tidak macet. Dia memilih membeli tempat ini untukku memang agar kami bisa lebih banyak memiliki waktu bersama, setidaknya ada beberapa menit menikmati perjalanan pulang dan pergi saat bekerja.


"Aku akan menjemputmu nanti jam dua belas siang, Sayang," ujarnya sebelum aku keluar dari mobil, ia mengecup keningku sesaat.


"Ada apa?"


"Kita akan makan siang bersama." Aku tersenyum seraya mengangguk. Berdesir hatiku ketika mendapatkan perhatian darinya, meskipun sudah sejak lama ia begitu memperhatikanku, tapi setiap harinya aku selalu di buat terkejut dengan sikap-sikap manisnya. Seolah ia membuatku jatuh cinta setiap harinya.


Usai menatap mobil suamiku yang telah berjalan menjauh, aku segera menghampiri bang Bimo yang berdiri di luar pintu butik.


"Masuk saja, Bang," pintaku.


"Saya disini saja, Non. Tugas saya sekarang jadi satpam disini," jawab bang Bimo.


"Baiklah, Bang. Jika tidak ada suamiku, bang Bimo tidak perlu takut atau sungkan jika ada perlu denganku."


"Iya, Non. Maaf, saya jadi serba salah sejak tuan Arga melarang saya terlalu akrab dengan non Sabrina," ungkapnya dengan wajah bingung.


"Seharusnya aku yang minta maaf, Bang. Sikap suamiku saja yang terlalu berlebihan."


"Ah, itu semua karena tuan sangat mencintai nona," jawab bang Bimo tersenyum simpul.


Benar memang, ini semua ia lakukan karena ia sangat mencintaiku. Tapi terkadang aku merasa ini semua terlalu berlebihan.


"Ya sudah, aku masuk dulu, ya, Bang. Jika ada perlu, bang Bimo bisa panggil Riani," kataku sambil mendorong pintu kaca di depanku.


Sesaat setelah masuk ke dalam butik, aku sudah melihat semua orang merapikan barang-barang sesuai pada tempatnya, aku bernafas lega, karena impianku kini terwujud.


Kami tidak harus bekerja di ruangan sempit dengan saling berdesakan antara barang dan orangnya, di bagian administrasi juga memiliki tempat tersendiri, semua laporan fisik berupa kertas-kertas yang di tumpuk di dalam map besar juga kini sudah memiliki lemari khusus.


Jika tempat kerja nyaman, maka penghuninya juga akan merasa senang dalam melakukan pekerjaannya. Pot-pot besar dengan bunga artificial juga berada di setiap pojok ruangan, menambah kesan indah jika di pandang.


Ku hampiri Riani yang sudah sibuk mencetak beberapa lembar laporan penjualan dari laptop silver yang sedang ku curigai si pemberinya. Kami juga sudah memiliki printer sendiri, jadi tidak perlu repot-repot datang ke percetakan.


"Ni, ke ruanganku sebentar, yuk," ajakku padanya.

__ADS_1


"Sebentar, Sa. Sedikit lagi, ya."


"Aku tunggu di atas, ya."


"Siap, Boss."


Aku melangkah menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu jati yang sudah di poles dengan sangat cantik, namun masih menampakkan garis kayunya yang alami.


Aku memasuki ruanganku dengan melakukan scan kartu yang sudah ku pegang. Ya, ruanganku bak hotel bintang lima yang memiliki kunci otomatis dan hanya bisa di buka dengan melakukan scan pada layar kecil di samping pintu. Hanya aku yang memiliki kartu keemasan dengan deretan angka dan barcode yang tertera di sana.


Setelah meletakkan tas kecilku di atas meja, aku membuka pintu menuju balkon. Membiarkan udara masuk secara leluasa ke dalam tempat ini. Meskipun ruangan ini di lengkapi dengan AC, aku lebih suka dengan udara alami.


Ku hampiri bunga-bungaku yang tumbuh subur dan bermekaran, lalu menyiramnya secara bergantian.


Tok ... Tok ... Tok ....


"Masuk!" teriakku dari arah balkon.


"Sa, kau dimana?" ujar seseorang di dekat pintu, aku tau jelas ini suara Riani.


"Aku di balkon, Ni. Kemarilah," kataku dengan sedikit keras, agar dia mendengarnya.


"Ada apa, Sa? Sepertinya kau ingin bicara penting padaku," ujar Riani dengan wajah khawatir.


"Tidak ada apa-apa, Ni. Aku hanya penasaran dengan laptop barumu." Ku letakkan selang air, dan mematikan kran.


"Laptop baru? Eh, anu." Riani tampak bingung menjelaskan.


"Iya, sebenarnya aku yang meminta. Hehehe," ujar Riani.


"Kau kan bisa minta padaku, Ni. Kenapa harus merepotkan orang lain?"


"Tapi, si tampan itu bolak-balik menawarkan bantuan untuk memenuhi alat dan keperluan butik ini, Sa. Jadi aku mengatakan semua yang memang di perlukan."


"Aku pikir, kamu juga tidak akan keberatan jika kita memakai laptop baru. Toh, laptop lama sudah sangat lemot, sudah bolak balik masuk bengkel."


"Aku memang tidak keberatan, tapi ...."


"Tapi apa hayo? Ini semua pemberian suamimu tercinta itu, Sa. Kapan lagi kau punya kesempatan mendapatkan semua impianmu," ujar Riani menyenggol bahuku.


"Baiklah. Lusa, mau kah kalian semua datang ke rumah untuk acara makan-makan?"


"Makan-makan? Tentu saja, siapa yang akan menolak makanan enak. Semua teman-teman pasti bersedia datang. Hehehe."


Aku mengundang mereka datang ke rumah untuk sekedar makan bersama, sebagai rasa syukur karena kini kita semua bisa bekerja dengan nyaman di tempat baru yang lebih luas dan tenang.


...


Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, pesan dari yang terkasih sudah ku terima.


"Aku akan ke butik, Sayang. Tunggu, ya." Begitulah isinya.


Aku tersenyum, membacanya berulang-ulang memang terasa sangat aneh, meski hanya satu kalimat, namun cukup ampuh membuatku berdebar.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, seseorang sudah masuk membawa seikat bunga lily segar di tangannya. Tidak lupa, ia membingkai senyum termanis di wajahnya saat pandangan kami saling bertemu.


Muach!


Satu kecupan mendarat cukup lama di bibirku, meskipun baru beberapa jam tidak bertemu, rasanya melihatnya adalah sebuah obat lelah bagiku.


Tubuhku ia dorong perlahan mendekat ke arah kursi, ia mendudukkan bokongnya disana, lalu menggiringku untuk duduk di pangkuannya dengan bibir yang masih saling menempel.


Ku tepuk pundaknya demi menjauhkan bibir kami, "Sudah, nanti ada yang lihat." Aku berdiri dari pangkuannya.


"Tidak akan ada yang tau, Sayang. Ku desain ruangan ini kedap suara, meskipun kau meronta dan mendesah, tidak akan ada yang mendengar," ujarnya tersenyum nakal.


"Dasar mesum!"


"Mesum pada istri sendiri itu sah-sah saja."


"Tapi, kau juga harus melihat tempat, Honey."


"Sudah, ayo pergi makan. Kau mau makan apa?" tanya suamiku sambil merangkul pinggangku yang kini terlihat begitu ramping.


"Terserah." Aku berucap pasrah, dari awal aku memang bukan orang yang pemilih dalam hal makanan.


"Terserah itu apa? Bakso, mie, seafood, ramen, sushi, atau apa?"


"Terserah saja."


"Tidak ada resto yang bernama terserah, Sayang. Cepat katakan apa yang ingin kau makan, aku sudah lapar," paksanya.


"Baiklah, kita makan mie saja, ya," ujarnya menggandeng tanganku.


"Makan sushi saja deh, sepertinya lebih enak," kataku.


"Hah, dasar wanita. Di tanya jawabnya terserah, giliran di kasih yang ini minta yang itu," gumam suamiku komat-kamit.


Aku tersenyum meliriknya, memang seperti itulah wanita, jika di tanya maka jawabannya adalah terserah, namun dalam kata terserah itu menyimpan ribuan kata yang rahasia.


Jika ada seorang penulis yang mampu menafsirkan arti dari kata terserah yang diucapkan oleh seorang wanita, maka tidak bisa di prediksi akan setebal apa buku yang akan ia tulis. Wanita adalah makhluk yang rumit, sulit di mengerti dan di pahami. Perlu kesaktian khusus bagi seorang laki-laki untuk memahami perasaannya.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2