TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Aku baik-baik saja


__ADS_3

Sore ini, ayah dan ibuku kembali pulang, sedangkan papa memutuskan untuk menginap selama beberapa hari. Jarak rumah ini dan rumah papa yang cukup jauh membuatku memintanya untuk menginap lebih lama, usia yang tidak lagi muda pasti membuatnya sangat lelah di perjalanan.


"Dulu, mamanya Arga juga mengalami dehidrasi dan muntah berlebihan seperti yang kau alami saat ini, Nak. Dia juga kuat sepertimu, jarang mengeluh dan tetap bahagia menjalani hari-harinya yang berat," ujar papa.


Banyak hal yang papa ceritakan tentang masa-masa mama suamiku saat masih mengandung, kondisi lemah dan kehamilan yang merepotkan juga di alaminya.


Dengan senang aku mendengarkan setiap kisah yang papa ceritakan, sedangkan suamiku lebih memilih sibuk di ruang kerjanya, karena memang selama ini dia mengerjakan semua pekerjaan kantor dari rumah.


"Kata dokter, kondisi ini akan membaik kalau trimester pertama sudah terlewati, Pa," kataku.


"Semoga memang benar, Nak. Papa tidak tega melihatmu dalam kondisi seperti ini."


"Papa lihat, Arga sekarang banyak berubah, dia lebih lembut dan tidak terlalu kaku terhadap orang-orang di rumah ini, papa melihat banyak hal baru darinya," lanjut papa.


Ya, si tampan itu sekarang memang banyak berubah. Dia tidak lagi angkuh seperti sebelumnya, setiap ada pelayan yang datang mengantar makanan, dia tidak pernah lupa tersenyum dan berterimakasih. Sedangkan dulu, jangankan berterimakasih, dia selalu memasang tampang sangar dengan wajah datar tanpa ekspresi, seakan menunjukkan kekuasaannya yang tinggi.


...


"Sayang, sudah minum obat?" tanya suamiku saat kami sudah berbaring di atas kasur, bersiap untuk tidur.


"Sudah."


"Bagaimana keadaanmu? lebih baik?"


"Lumayan, Honey. Semoga ini semua segera terlewati," kataku.


"Terimakasih sudah kuat mengadapi masa-masa sulit ini, Sayang. Aku tidak bisa membayangkan jika kau terus seperti ini sampai 9 bulan kedepan."


"Ini semua demi calon buah hati kita, aku akan melakukan apapun demi membawanya melihat dunia ini."


Laki-laki itu tersenyum hangat, lalu memeluk tubuhku dengan erat, ia mendaratkan ciuman bertubi-tubi di seluruh area wajahku.


Hampir setiap malam ia gelisah saat tidur, karena aku memang jarang bisa tertidur lelap, jadi aku selalu tau saat ia sering terbangun di tengah malam.


Terkadang tiba-tiba dia memeluk tubuhku dengan erat, menciumi pipiku, menyesap perlahan bibirku saat aku berpura-pura memejamkan mata.


Bagaimana tidak, dia sudah berpuasa menahan gejolak hasratnya selama lebih dari dua minggu, dia benar-benar sedang melawan keinginan batinnya sendiri.


Dengan kondisi tubuh yang lemah seperti sebelumnya, tidak mungkin jika aku harus melayaninya, namun hari ini aku merasa sudah lebih baik.


"Honey, kau ingin sesuatu?" tanyaku, ku usap lembut wajahnya dengan jemariku.


"Ingin apa? aku tidak ingin apa-apa, Sayang," jawabnya.


"Katakan, apa yang kau inginkan. Aku tau kau sudah menahannya selama ini," rayuku lagi. Dia tersenyum lalu memposisikan tubuh kami saling berhadapan.


"Pengorbananmu sudah cukup besar, Sayang. Aku tidak ingin membuatmu terbebani dengan keinginanku. Tidak apa, aku akan menahannya semampuku," ucapnya pelan.


"Malam ini aku sudah membaik, kita bisa melakukannya," kataku lagi. Entah mengapa, rasanya aku tidak tega melihatnya.


"Sudahlah, ayo tidur. Kau harus banyak istirahat, semoga besok pagi bisa lebih baik."


"Tapi, Honey ...."

__ADS_1


"Sstttt, aku tidak apa-apa, Sayang. Kita bisa melakukannya nanti jika kau sudah benar-benar sehat," selanya.


"Kau yakin?" tanyaku. Dia hanya mengangguk, namun tubuh kami yang saling berhadapan tanpa jarak membuatku merasakan sesuatu yang menegang di bawah sana.


Meskipun bibirnya bersikeras menolak, namun naluri laki-lakinya tetap nyaris menerobos dinding pertahanan. Dia tetap kekeuh dengan pendiriannya, akhirnya kami hanya saling memeluk sampai mata terpejam hingga hanyut dalam mimpi masing-masing.


...


Memang sudah menjadi rutinitas, setiap pagi suamiku selalu bangun lebih awal, ia akan dengan telaten menyeduh susu hamil untukku dan selalu menyiapkan semua keperluan mandi ku, dari handuk, baju ganti, sampai air hangat.


Setiap hari setiap waktu, aku di perlakukan bagai ratu. Wanita mana yang tidak jatuh cinta setiap saat jika mendapatkan perhatian lebih dari laki-laki tampan sepertinya, aku bahkan di buat meleleh setiap hari dengan sikap manisnya.


"Kau mau sarapan disini atau di meja makan, Sayang?" Dia bertanya sambil membantuku mengenakan gaun selutut sedikit longgar.


"Di meja makan. Tidak enak jika papa sarapan sendirian," jawabku.


"Tidak apa-apa, papa pasti mengerti kondisimu, jika sarapan disini, aku akan menemanimu."


"Tidak, Honey. Kita akan makan bersama papa," tolakku.


Tentu saja aku merasa sungkan dan tidak enak jika membiarkan papa mertuaku itu menyantap sarapan seorang diri di meja makan, meskipun dia akan mengerti keadaanku, namun sebagai menantu aku harus menghormati keberadaannya di rumah ini.


"Baiklah jika kau memaksa," katanya sambil merapikan tempat tidur.


Jika selama ini aku yang selalu membereskan kamar dan merapikan tempat tidur, maka semenjak kehamilanku, dia mengambil alih semua tugas-tugas itu.


Khusus kamar ini, pekerjaan beres-beres kami lakukan sendiri, aku tidak suka jika ada pelayan yang memasuki ruang privasi kami, meskipun sebelum kami menikah, Salimah lah yang bertanggung jawab membersihkan tempat ini.


Setelah itu, aku dan suamiku menuju meja makan, menikmati sarapan bersama, namun kali ini aku lebih memilih memakan satu lembar roti tawar saja, karena pagi hari adalah waktu yang paling rawan bagiku untuk mengisi perut.


"Sudah lebih baik, Pa," jawabku sambil berusaha menelan roti di dalam mulut.


"Apa kita perlu menyuruh dokter dan satu orang perawat untuk mengurusmu di rumah?" tanya papa.


"Arga juga berpikir begitu, Pa," timpal suamiku.


"Tidak perlu, Pa. Lagipula Sabrina sudah lebih baik, Arga juga sangat telaten mengurus Sabrina," jawabku sambil tersenyum, mengerlingkan sebelah mata kepada laki-laki tampan di sampingku.


"Kau yakin, Nak? Jika ada dokter, kondisimu akan terpantau terus selama 24 jam, kalau hanya Arga yang menjagamu, dia tidak akan paham tentang kondisi-kondisi yang harus di waspadai," ujar papa.


"Sabrina baik-baik saja, Pa. kira-kira empat minggu lagi sudah memasuki trimester kedua, semoga di trimester berikutnya Sabrina lebih kuat," kataku.


"Baiklah jika itu maumu, Nak. Papa tidak akan memaksa."


Selama acara sarapan yang berlangsung begitu singkat, aku sudah berusaha sekuat mungkin menahan gejolak isi perut yang terdorong keluar. Aku berjalan dengan sedikit berlari menuju kamar mandi di ikuti suamiku.


"Lihat, keadaanmu tidak lebih baik," ujarnya pelan, ia memang senantiasa ada ketika aku seperti ini di waktu pagi. Bahkan aku sudah menghabiskan empat botol minyak kayu putih yang di pakai memijat tengkuk leher dan di usapkan ke area hidungku.


"Tidak apa-apa, Honey. Bersabarlah," jawabku lirih, ku bersihkan mulutku dengan air yang mengalir lalu mengelapnya dengan tisu.


"Aku akan menyuruh Daren kesini."


"Sudahlah, aku baik-baik saja," kataku sedikit menaikkan nada suara.

__ADS_1


"Kenapa kau keras kepala sekali sih, ini semua demi kebaikanmu dan anak kita," ujarnya.


"Baiklah, terserah apa katamu!" Aku berbalik, meninggalkannya mematung di dekat wastafel kamar mandi.


Aku merasa baik-baik saja dengan kondisiku seperti ini, bukankah semua ibu hamil juga akan mengalami gejala yang sama di awal kehamilan?


Hanya saja mereka tidak memiliki suami se-uwu suamiku, jadi mereka tidak terlalu di khawatirkan layaknya orang yang sedang sakit parah, aku hanya hamil, bukan sakit.


Setelah cukup lama aku tidak mengajaknya berbicara, aku kasihan. Dia tampak murung dan melamun di sofa sambil menatap kosong ke arah jendela. Aku mendekatinya, lalu ikut duduk di sampingnya.


Mudah marah dan kemudian menyesal adalah kebiasaanku akhir-akhir ini, sulit sekali mengendalikan emosi yang naik turun tak beraturan, sedikit saja aku mendengar kalimat yang tidak ku suka, maka tiba-tiba aku ingin menjatuhkan langit di atas kepalanya, sungguh labil.


"Honey, maafkan aku." Akhirnya aku buka suara, mengalah untuk meminta maaf lebih dulu. Padahal, biasanya dia yang selalu meminta maaf meskipun aku yang salah.


"Aku hanya khawatir, Sayang. Jika aku tau dari awal kalau kehamilan akan membuatmu menderita, sungguh, aku akan menundanya sampai kau benar-benar siap," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


"Dengar, aku tidak sedang menderita, Honey. Ini semua normal, hampir semua wanita hamil akan mengalami morning sickness seperti ini," ujarku hati-hati.


"Jika kau melihatku sangat menderita, kau juga harus paham, kau juga di lahirkan oleh seorang wanita yang pernah merasakan hal yang sama yang aku rasakan saat ini," lanjutku. Dia bergeming, tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Maafkan mamamu. Kau lihat, mungkin kau tersakiti, tapi kau tidak pernah tau bagaimana perjuangannya membawamu selama sembilan bulan dalam perutnya sampai kau terlahir dengan sehat dan selamat."


"Kau terlalu fokus pada rasa sakitmu sendiri, sampai kau melupakan rasa sakit yang orang lain derita karenamu, Honey."


Sejurus kemudian dia memelukku erat, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, namun aku merasa lega karena sudah mengeluarkan unek-unek yang selama ini tertahan di dada.


"Kau sudah minum obat?" tanyanya pelan, rupanya ia memang tidak ingin membahas tentang mamanya.


"Sudah," jawabku singkat.


"Berjanjilah, kita akan mengunjungi makam mamamu saat aku sudah membaik," ujarku lirih, lalu berjalan keluar kamar.


Selama beberapa minggu mengurung diri di dalam kamar, rasanya aku begitu bosan. Aku rindu teman-teman butik, aku rindu bekerja. Aku bahkan rindu semuanya.


Ku putuskan untuk duduk menyendiri di taman samping, menikmati puluhan bunga mawar yang sedang mekar secara bersamaan.


Semoga saja dokter Daren tidak datang, aku bukannya tidak peduli dengan kesehatanku sendiri dan calon anak kami, namun aku benar-benar sudah merasa lebih baik. Mual dan muntahku sudah mulai berkurang, tidak sesering kemarin-kemarin.


Tidak ada hal yang instan, semua pasti butuh proses. Semua yang aku alami saat ini, semata-mata karena si kecil sedang ingin mencoba menguji kesabaran dan kekuatan mamanya, begitu pikirku.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2