
Setelah suami tercintaku itu sudah pergi meninggalkan butik baru yang masih belum ku percayai sebagai milikku ini, aku segera menyeret Riani untuk ku introgasi. Rasanya seperti mimpi di siang bolong memiliki butik sebesar dan semewah ini.
Ku gandeng lengan Riani menuju lantai atas, saat pertama kali aku membuka pintu, mataku di buat takjub dengan interior ruangan yang sangat wah, ada meja bundar berukuran lumayan besar dengan lima kursi empuk mengelilinginya, ada sofa panjang berwarna merah di dekat pintu arah balkon, meja kerja dan kursi milikku juga terlihat sangat bagus dengan tampilan elegan.
"Aku merasa ini semua hanya mimpi," lirihku pelan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Aww." Aku berteriak saat Riani mencubit lenganku.
"Ini bukti bahwa kau tidak sedang bermimpi, Sa," ujar Riani sedikit tertawa.
"Apakah kau sudah tau tentang hal ini, Ni?" Aku berjalan menuju sofa berwarna merah yang masih terlihat sangat baru itu.
"Aku sendiri terkejut, saat dua hari lalu ada seorang laki-laki yang dulu pernah mengantarkanmu datang ke butik," ujar Riani ikut duduk di sebelahku.
"Siapa? Joe?"
"Ya, benar. Namanya tuan Joe, Sa."
"Dia menyuruh kami semua untuk membantunya memindah semua barang-barang yang perlu di angkut, kecuali meja dan kursi-kursi plastik kita," lanjut Riani.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"
"Dia bilang semua ini rahasia, dan ini adalah kejutan untukmu, jadi kami semua setuju untuk merahasiakannya darimu, Sa."
"Dia bahkan tau kalau bulan ini adalah bulan bonus yang sangat kami nantikan, dia dengan senang hati memberi kami bonus gaji dua kali lipat dari yang biasa kamu berikan," ujar Riani dengan wajah bahagia.
"Benarkah? bagaimana dia bisa tau semuanya?" Aku menyipitkan mata melihat tingkah Riani yang cengengesan.
"Mana aku tau." Riani mencebik.
"Kami hanya mematuhi perintahnya, membereskan semua barang di butik lamamu, merahasiakan semua ini darimu, dan membantu suamimu menyiapkan kejutan untukmu," lanjut Riani.
"Hmm." Aku menghela nafas panjang, menyandarkan punggungku di sandaran sofa.
"Kau sangat beruntung memiliki suami sebaik dan setampan tuan Arga, Sa. Kau bagai seorang ratu dalam hidupnya," kata Riani sambil melempar senyum padaku.
"Ya, ku rasa aku memang sangat beruntung, Ni."
"Baiklah, aku masih banyak pekerjaan, jadi nikmatilah hari pertamamu di tempat impianmu ini, Sa." Riani bangkit dari duduknya, aku hanya mengangguk.
"Oh ya, aku sengaja menunda pertemuan dengan clien kita, mungkin besok siang dia akan datang, karena aku tau kalau siang ini kau tidak bisa menemuinya," ujar Riani sebelum dia menutup pintu."
Aku berjalan-jalan di ruanganku, melihat-lihat berbagai interior mewah yang menghiasinya, beberapa lukisan bunga mawar tergantung di sudut ruangan, vas bunga besar dengan bunga artificial juga berdiri tepat di samping pintu.
Kursi dan meja yang ku pakai sebagai tempat kerjaku sangat mewah, seperti kursi-kursi yang berada di kantor milik presiden direktur di tayangan tv.
Pintu yang mengarah menuju balkon ini terbuat dari kaca transparan, aku membukanya, memeriksa apa yang sudah suamiku tercinta siapkan disana.
__ADS_1
Bunga-bunga kesayanganku yang ada di butik lama semuanya di pindahkan ke sini, bunga-bunga gantung, mawar, kaktus mini, dan satu anggrek berwarna merah fanta.
Ah, aku benar-benar sangat bahagia hari ini, akhirnya aku bisa punya butik sendiri. Meskipun ini bukanlah hasil dari jerih payahku, tapi semua ini murni pemberian suamiku, dan ini adalah milikku.
Usai berlama-lama duduk di sebuah ayunan besi yang sengaja di letakkan di balkon ini, aku kembali menuju meja kerjaku, mengambil ponsel dari dalam tasku.
Ku buka dan menggeser semua kontak, tidak ada nomor suamiku di sana, aku beralih ke kotak masuk. Sebuah pesan cinta yang ku terima saat aku pergi meninggalkan rumah pasca keguguran membuatku penasaran, ku tekan tombol save untuk menyimpan nomornya, ku tulis dengan sebuah nama "Pesan cinta"
Aplikasi hijau dengan gambar gagang telepon langsung ku intip dan menampilkan kontak yang baru saja aku simpan. Ku klik kontak itu, muncullah sebuah foto yang tidak asing bagiku, foto yang menampakkan sepasang manusia sedang berdiri membelakangi patung besar icon negara Singapura.
Itu adalah fotoku dan suamiku saat berlibur bulan madu beberapa bulan yang lalu, aku bahkan tidak memiliki foto itu di ponselku.
"I love you, Honey." Klik, ku kirim pesan pada nomor tersebut. Aku menunggunya dengan cemas, berharap bahwa nomor itu memang benar-benar milik orang yang aku tuju.
Klunting! ponselku berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Aku membukanya dengan cepat.
"I love you to, Sayang. Bersiaplah, sebentar lagi aku akan menjemputmu." Sebuah balasan aku terima dari nomor tersebut, hatiku seakan berbunga-bunga membaca balasan itu, padahal setiap hari aku sudah mendengar kata-kata itu secara langsung dari bibir pemiliknya.
Aku bersiap, merapikan diri dan menyisir rambutku yang kini sudah lurus. Aku terlanjur nyaman dengan rambut lurus ini, dan belum berniat untuk menghentikan perawatan pelurus rambut yang sedang aku lakoni. Ini semua karena aku terhasut rayuan Claire waktu itu.
Beberapa saat kemudian seseorang datang mengetuk pintu.
Tok ... Tok ... Tok ....
Aku berjalan santai membukanya, saat mata menangkap sosok tampan yang berdiri di hadapanku dengan sebuah buket bunga mawar di tangannya, aku segera menghamburkan pelukanku tanpa berbasa-basi.
"Ah, kau terlihat sangat bersemangat dan bahagia, Sayang," ujar suamiku dengan tersenyum manis semanis madu original yang di panen langsung dari sarang lebahnya.
"Ku lakukan semua yang terbaik untukmu." Kecupan hangat mendarat di keningku.
"Kau suka semua ini?" Dia bertanya.
"Suka, aku suka sekali."
"Bagus, artinya tidak sia-sia usahaku selama ini untuk mencari tau kesukaanmu." Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, sepersekian detik wajah kami sudah sangat dekat, bibir kami hanya berjarak dua centimeter dengan nafas yang saling beradu.
Klunting!
Ponselnya berbunyi, dia mendengus kesal sambil meraih benda pipih berwarna hitam dari saku celananya. Aku tau dia kesal karena hal itu mengganggu aktifitas kami yang baru saja akan di mulai.
"Siapa?" tanyaku sambil melirik ke arah layar ponselnya.
"Dokter Budi, dia bilang dokter kandungan sudah siap menemui kita," jawabnya.
"Sebaiknya kita segera pergi, Honey."
"Baiklah, ayo."
__ADS_1
Kami menuruni tangga bersamaan bak seorang pangeran dan sang putri yang sedang bergandengan mesra. Aku pamit pada Riani yang sedang sibuk mengoperasikan laptop berwarna silver di mejanya.
Tunggu, laptop silver?
Laptop milik siapa?
Riani hanya mengangguk saat aku dan suamiku melewatinya, dia melempar senyum tipis padaku sambil mengacungkan kedua jari jempolnya.
Kau berhutang penjelasan padaku, Riani.
Setelah keluar dari pintu Butik, aku baru menyadari ada bang Bimo yang duduk di dekat pintu. Belum sempat aku menyapanya, suamiku yang pencemburu itu sudah lebih dulu menarik tubuhku memasuki mobil miliknya.
"Jangan bertanya, dia bertugas sebagai sopir, pengawal, dan satpam di butikmu," cerocos suamiku itu sebelum aku mengungkapkan rasa penasaranku.
"Hah, banyak sekali tugasnya." Aku heran.
"Percuma aku membayarnya dengan gaji besar kalau melakukan tugas seperti itu saja tidak mampu," jawabnya. Dia lalu melajukan mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan butik.
Baiklah, yang mulia raja. Terserah apa katamu saja, aku tidak ada kuasa untuk membantah.
...
Setelah sampai di rumah sakit yang kami tuju, aku dan suamiku itu langsung datang menemui dokter Budi di ruangannya, orang yang sudah di anggap paman dan keluarga oleh suamiku dan sebagai kepala rumah sakit ini.
"Selamat siang, Paman. Di mana aku harus menemui dokter kandungan itu?" tanya suamiku tidak sabaran.
"Tunggu sebentar, aku akan mengantarkanmu, Ga," ujar dokter Budi sambil merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja kerjanya.
"Sepertinya kalian saling mengenal, melihat riwayat sekolah yang sama-sama pernah kalian tempati," lanjut dokter Budi.
"Siapa?" Suamiku menatap heran pada dokter laki-laki yang rambutnya sudah hampir memutih keseluruhannya itu.
"Ayo, kita akan menemuinya, semoga dugaanku memang benar," jawab dokter Budi tersenyum, lalu menatapku.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...