TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
kekanak-kanakan


__ADS_3

"Jangan dengarkan kata-kata papa barusan," ucap tuan Arga saat aku sampai di dalam kamar.


"Baiklah." Aku berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian ketatku dengan yang lebih longgar. Memakai pakaian yang menghimpit seperti ini rasanya seperti tercekik, kalau bukan tuan Arga yang berperan sebagai suamiku, tentu aku akan lebih memilih berdaster, pakaian kebangsaan para wanita rumah tangga.


...


Malam ini kami tidak hanya makan malam berdua, namun ada papa yang duduk berhadapan denganku, raut wajahnya selalu terlihat bahagia, keriput-keriput halus di wajahnya seakan sirna oleh pancaran senyum yang dia berikan setiap saat.


"Bagaimana bulan madu kalian?" tanya papa membuka obrolan, karena sejak awal acara makan ini kami semua hanya diam mengunci suara, hanya fokus melahap apa yang ada di hadapan kami.


"Menyenangkan, Pa." Tuan Arga menjawab dengan santai.


"Wah, semoga segera berhasil," lanjut papa.


"Berhasil? apanya?" Tuan Arga menaikkan sebelah alisnya sambil menatap papa.


"Jangan pura-pura tidak tau, Arga. Papa ini sudah tua, sudah saatnya papa menimang cucu," ujar papa.


"Tapi, kami belum siap, Pa." Tuan Arga sedikit kesal.


"Papa, kami sedang mengusahakannya, jadi bersabarlah." Aku mencoba meredamkan percakapan yang mulai serius ini.


"Sebaiknya kalian segera mengunjungi dokter untuk mempersiapkan kehamilan ini, papa sudah tidak sabar rasanya." Senyum laki-laki paruh baya ini mengembang.


"Pa," ucap tuan Arga.


"Kenapa? apa kau tidak ingin membahagiakan papamu ini, Ga!"


"Sepertinya semua ini terlalu cepat, Pa."


"Lebih cepat lebih baik, umur papa sudah setengah abad lebih, apa kamu mau kalau papa mati sebelum bisa merasakan kehadiran cucu di keluarga ini?"


"Jangan bicara seperti itu, Pa." Wajah tuan Arga mulai resah, sepertinya dia sangat bingung antara keinginan sang papa dengan kata hatinya.


"Kami akan membicarakan semuanya, Pa. Papa tidak perlu khawatir," ujarku mengelus punggung tangan papa mertuaku.


Maafkan menantumu ini, Pa. Sepertinya keinginan itu hanyalah akan menjadi sebuah mimpi belaka, kami tidak akan bisa memberikan cucu di keluarga ini. Tidak, bukan kami yang tidak bisa, tapi aku. Aku tidak sanggup jika harus melahirkan seorang anak tanpa hadirnya cinta diantara ibu dan ayahnya.


Putramu tidak mencintaiku, akupun begitu. Cepat atau lambat, sandiwara pernikahan ini akan segera berakhir. Maafkan aku, semua kata-kataku hanya untuk menenangkanmu, Pa.


Usai makan malam yang sedikit canggung karena obrolan yang kurang menyenangkan, papa kembali ke kamarnya, sedangkan aku mengikuti langkah kaki tuan Arga menuju kamar kami sendiri.


"Sabrina," ucap tuan Arga menyapaku saat aku duduk meraih ponsel di tepi kasur.


"Ya, Tuan."


"Apakah di dalam pikiranmu ada keinginan memiliki seorang anak bersamaku?" tanya tuan Arga dengan tampang serius.


"Saya tidak tau," jawabku menunduk.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena saya tidak mau mengandung seorang anak dari buah nafsu sesaat, saya ingin mengandung seorang anak dari buah cinta yang sesungguhnya," ucapku melihat ke arah jendela kamar dengan tatapan kosong.


Entah apa yang sebenarnya dia inginkan, tapi aku sudah bertekad untuk menghindari lahirnya seorang anak dari keluarga ini, jika memang belum ada cinta di antara kami, itu akan semakin menyiksa batinku.


Sudah pasti, mungkin aku akan bertahan dengan pernikahan hambar ini, dengan alasan anakku nanti butuh sosok seorang ayah. Aku tidak mau terus-menerus hidup dalam kandang harimau, suatu saat aku ingin bebas.


"Baiklah, jika itu maumu, aku tidak akan memaksanya." Tuan Arga melewatiku lalu duduk di sofa panjang favoritnya.


Gurat wajah laki-laki itu sulit di tebak, baru saja aku melihatnya begitu kecewa atas jawaban yang aku berikan, namun sekilas netra coklat itu menampakkan perasaan yang biasa saja. Entahlah, biarkan takdir yang menentukan jalan hidup ini.


...


Tit ... Tit ... Tit ....


Suara Alarm membangunkanku, masih pukul 5 pagi. Di luar masih gelap, terlihat dari celah gorden yang sedikit membuka. Angin pagi yang masih begitu sejuk masuk melalui lubang udara di atas jendela, membuat tubuh ini semakin enggan turun dari kasur empuk yang menghangatkan.


Aku sudah mulai terbiasa ketika membuka mata, ada lengan kekar yang melingkar di tubuhku, bahkan aku sudah membiasakan diri untuk tidur dengan alunan nafas tuan Arga di dekat punggungku. Dia selalu betah tidur dengan menempelkan wajahnya di tengkuk leherku.


"Jangan pergi bekerja hari ini, istirahatlah seharian penuh," ucap tuan Arga saat aku mulai menggeliat merenggangkan otot-otot tubuhku yang kaku.


"Tapi saya ingin pulang menemui ayah dan ibu saya, Tuan."


"Aku akan mengantarkanmu nanti sore, jadi turuti saja perintahku," lanjutnya, dia masih bertahan dengan posisi wajah yang dibenamkan di balik punggungku.


"Baiklah, saya mau bersih-bersih badan, mau mandi. Tolong lepaskan saya," ucapku mengangkat lengan yang bersembunyi di bawah selimutku.


"Tidak mau!"


"Tidak mau!"


Kau ini seperti anak kecil saja! Gerutuku dalam hati.


"Badan saya bau kecut, Tuan. Saya mohon, biarkan saya mandi dulu," ucapku memohon.


"Tidak mau! Kalau kau mau mandi sekarang, kau harus mengajakku!"


"Hah?" Aku melongo mendengarnya.


"Hah heh hah heh, ajak aku mandi."


"Tidak mau, lebih baik saya tidur seharian dari pada mandi bersamamu," ucapku enteng.


"Bagus, aku juga lebih suka memelukmu tidur seharian dari pada pergi mandi."


Kau ini mimpi apa sih semalam, kenapa tingkahmu aneh begini.


"Bolehkan saya ke dapur sebentar, saya mau mengambil minum," ucapku mencari alasan untuk menjauh darinya.


"Tidak boleh!"


"Loh, saya kan haus, lalu kenapa?"

__ADS_1


"Aku akan menyuruh pelayan datang membawa minum untukmu, kau disini saja." Dia langsung meraih ponselnya di meja dekat tempat tidur.


Aku menghela nafas panjang, kesal rasanya. Padahal aku hanya ingin bangun dan meninggalkan kasur ini, eh bukan kasurnya, maksudku meninggalkan laki-laki aneh ini. Pagi-pagi seperti ini dia sudah terlihat manja padaku, sikap dan kata-katanya seperti anak-anak, menjengkelkan.


Beberapa menit kemudian terdengar seseorang sedang mengetuk pintu kamarku, aku mencoba bangun dan melepaskan diri dari tuan Arga.


"Disini saja, kau mau memperlihatkan tubuh montokmu itu pada pelayan. Hah?" ucapnya menarik tanganku kembali ke tempat tidur. Aku bahkan lupa kalau aku sedang memakai baju kurang kain seperti ini, untung tuan Arga mengingatkan.


"Baiklah, bukakan pintu," jawabku.


Dengan langkah malas, tuan Arga berjalan menuju pintu kamar lalu membukanya.


"Loh, papa," ucap tuan Arga sambil mengucek kedua matanya.


"Kalian sudah bangun, hehehe." Papa sedikit tertawa melihat tuan Arga membuka pintu dengan hanya memakai celana pendek putih dan bertelanjang dada.


"Kenapa papa yang mengantarkan minum?" tanya tuan Arga saat melihat nampan berisi segelas air putih di tangan papanya.


"Sengaja, tadi papa melihat pelayan kesini, lalu papa mengambil alih nampan ini."


"Papa tidak perlu repot-repot, papa seharusnya istirahat saja."


"Papa mau olahraga, lari pagi keliling komplek bersama kalian, ayo!" ajak papa.


Aku yang mendengarnya dari balik pintu langsung loncat kegirangan, akhirnya aku bisa menghirup udara segar dan lepas dari cengkraman harimau gila ini.


"Tapi, Sabrina masih tidur, Pa." Tuan Arga ngeles.


Bilang saja kalau kau malas, Tuan.


"Papa mendengarnya tertawa barusan, jangan bohong. Ayo, papa tunggu di bawah," ucap papa sambil berlalu menuruni anak tangga.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2