TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Cerita Salimah


__ADS_3

"Katakan padaku jika kau ada masalah, Nona," ucap tuan Joe padaku.


Aku hanya diam, tidak ingin menjawab ataupun mengutarakan apa yang sedang berkecamuk di dadaku, rasa sesak kian menjalar memenuhi kerongkongan, semenjak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, aku sudah tau kalau bernafaspun aku akan diatur disini.


...


"Nona." Terdengar seseorang berbisik mendekati telingaku, ada tangan hangat yang menempel dipundak.


"Salimah, ada apa?" tanyaku pada kepala pelayan yang duduk berjongkok di sebelah sofa tempatku tertidur, aku mengucek kedua mataku.


"Silahkan tidur di kamar, Nona, akan lebih nyaman kalau tidur diatas kasur," ujar Salimah.


"Apa aku ketiduran?" tanyaku bingung, karena aku merasa seperti baru saja duduk disini mengganti hansaplas.


"Hampir satu jam nona tertidur, sepertinya dengan posisi yang tidak nyaman, itu akan membuat badan nona sakit."


"Aku sudah tidak mengantuk, Salimah, bisakah aku meminta segelas coklat hangat?"


"Tentu saja, Nona."


"Aku akan menunggu di taman samping, tolong antarkan kesana, Salimah."


"Baiklah," ucap Salimah lalu bergegas menuju dapur.


Aku berjalan sempoyongan menuju taman samping, kepalaku sedikit terasa berat, mungkin ini karena posisi tidurku di sofa yang tidak tepat, menyebabkan leherku terasa nyeri saat menggelengkan kepala.


Aku duduk di kursi kayu taman samping, menikmati udara segar dan sinar matahari yang mulai terik, ada sebuah kolam ikan berukuran sedang di depanku, puluhan ekor ikan kecil menari-nari dengan riang di bawah guyuran air terjun buatan di sisi kanannya. Bunga-bunga kecil dan bebatuan menghiasi setiap sisi kolam, ada teratai di tengah kolam yang sedang mekar menampakkan bunga berwarna merah muda yang memanjakan setiap mata yang melihatnya.


"Ini, Nona, silahkan di minum," ucap Salimah menaruh secangkir coklat hangat diatas meja.


"Duduklah disini, Salimah, temani aku."


"Baiklah." Salimah duduk di kursi sampingku dan tersenyum ramah.


Kami duduk berdua dalam keheningan, aku mengamati ikan-ikan kecil yang sedang asik di permukaan kolam, sedangkan Salimah seperti memperhatikanku dengan penuh rasa penasaran, sesekali aku meliriknya, dia hanya tersenyum membalasku.


"Salimah." Akhirnya aku berucap setelah sekian lama membisu.


"Ya, Nona," ucap Salimah.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Silahkan, Nona, saya pasti akan menjawabnya selagi saya tau," ujar Salimah mengangguk.

__ADS_1


"Apakah tuan Arga itu orang yang baik?" tanyaku sambil memandangnya dengan tatapan serius.


"Tentu saja, Nona."


"Katakan alasannya."


"Orang baik tidak perlu alasan untuk berbuat baik, Nona."


"Kau tidak mengerti maksudku, Salimah, apa kau tau kalau dia itu arogan, tidak berperasaan, angkuh, seenaknya sendiri," ucapanku tanpa rem dan sensor.


"Itu memang sifatnya, Nona, tapi di dasar hatinya, dia adalah orang yang sangat baik."


"Apa yang membuatmu berpikir bahwa dia orang yang baik?"


"Dulu, saya adalah seorang pemilik restoran mewah bintang lima di tengah kota, saya hidup bahagia dengan rumah tangga saya, karena saya memiliki suami yang baik dan seorang putri yang pintar," ucap Salimah sambil menatap kosong ke arah kolam, sepertinya dia sedang mengenang kenangan silam.


"Lalu?" Aku meraih coklat hangat yang di bawa Salimah tadi, lalu menyesapnya perlahan.


"Diam-diam suami saya telah berkhianat, semua harta, rumah, aset-aset berharga telah di rubah atas nama kekasih haramnya, saya dan putri saya terpukul, kami di buang di jalanan, kami seperti orang gila, bahkan kami mengemis agar bisa makan." Mata Salimah berkaca-kaca.


"Suatu hari di depan sebuah resto, putri saya menangis karena lapar, saat itu tiba-tiba seorang laki-laki datang mengulurkan dua bungkus nasi dan air mineral, dia adalah tuan Joe, selama hampir satu bulan, tuan Joe selalu datang membawa makanan kepada kami setiap pagi dan sore, saya menceritakan kisah hidup saya padanya, lalu dia berniat memperkenalkan saya pada boss-nya, yaitu tuan Arga, kebetulan saat itu tuan Arga baru saja ingin menempati rumah ini, jadi dia butuh seorang pelayan. Dengan senang hati tuan Arga menerima saya bekerja disini, bahkan membiayai seluruh pendidikan putri saya, sampai sekarang dia bisa kuliah di universitas bergengsi di inggris." Air mata Salimah menetes, dia seperti membayangkan kenangan pahit yang pernah di laluinya.


"Tentu saja yang berbaik hati adalah tuan Joe, kan dia yang membuatmu bisa menjadi seperti sekarang ini," selaku pada Salimah.


"Hmm." Aku bingung harus berkata apa.


"Baiklah, Nona, lain kali saya akan bercerita lebih banyak, sekarang saya harus kembali bekerja untuk menyiapkan makan siang," ucap Salimah pamit.


Aku hanya mengangguk, menatap punggung wanita itu menjauh dariku. Setelah secangkir coklat hangat habis tak menyisakan setetespun, aku bangkit dan berjalan menuju kamar.


Pintu kamar tidak tertutup dengan rapat, aku membukanya sedikit, mengintip situasi dan kondisi di dalam kamar, aku masih merasa takut jika berada dekat dengan tuan Arga. Sepertinya dia tidak terlihat sedang duduk di atas tempat tidur ataupun di sofa favoritnya. Aku melangkah perlahan, membuka kamar mandi, kosong. Aku kembali mencarinya di ruang ganti, kosong. Tidak terlihat sama sekali batang hidungnya.


Syukurlah, laki-laki itu rupanya tidak ada di kamar ini, aku bisa istirahat dengan nyamah, merebahkan tubuhku yang kaku, meregangkan otot-otot yang tegang dan yang paling penting, mengistirahatkan mataku dari pemandangan yang menyesatkan.


Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur, terlentang menatap langit-langit kamar, sebisanya aku menenangkan hati dan pikiranku yang sedang berkabut, rasanya aku sangat merindukan ayah dan ibuku.


...


Tok ... Tok ... Tok ....


Aku bergegas membuka pintu kamar, Salimah sudah berdiri disana dengan memasang wajah penuh senyumnya.


"Ada apa, Salimah?"

__ADS_1


"Nona sudah di tunggu tuan Arga di meja makan, Nona," ucapnya.


"Baiklah, aku akan segera kesana."


Aku menutup pintu saat Salimah sudah berjalan menjauh, merapikan rambutku agar tidak terlihat seperti rambut singa liar yang baru saja terbangun dari tidurnya, karena rambutku yang keriting seperti ini membuatku harus ekstra merawatnya agar tidak saling mengikat satu sama lain.


Aku menuruni anak tangga dengan hati-hati, rupanya tuan Arga sudah duduk manis di kursi kebangsaannya, dia terlihat menungguku.


"Lama sekali, dasar keong!" hardiknya menyambutku.


"Maafkan saya, Tuan, saya tadi sedang beristirahat," ucapku lalu meraih kursi biasa tempatku duduk.


"Aku tidak tanya."


Ya Tuhan, aku kan hanya memberi tahumu, agar kau tidak salah paham dan mengomeliku, susah sekali hidup denganmu!


"Minum," ucapnya datar. Dengan sigap aku menuangkan air putih pada gelas kosong di hadapannya.


"Aku mau minum es jeruk itu, bukan air putih."


Kau kan tidak bilang kalau mau es jeruk, kau hanya bilang minum, kau kira aku bisa tau apa yang ada di kepalamu kalau kau tidak mengatakannya, lain kali katakanlah dengan jelas apa maumu, jangan menyulitkanku!


Aku hanya menghela nafas panjang dengan dada yang sudah penuh menahan emosi, sudah berulang kali dia memperlakukanku seperti ini, dia pikir aku punya mata batin yang bisa menerawang keinginannya tanpa dia menjelaskan apa maunya. Sungguh, ingin sekali aku menyiram mukanya dengan teko yang penuh dengan es jeruk ini, agar pikirannya segar dan bisa berpikir jernih layaknya manusia normal pada umumnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2