TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Ah, Suamiku


__ADS_3

Dalam hitungan detik, laki-laki yang langkahnya terdengar dari kejauhan itu sudah berdiri di depan kami dengan wajah pucat dan berkeringat.


"Papa," ucap tuan Arga menyapa papanya dengan suara bergetar.


"Arga, dari mana saja kau?" tanya papa mertuaku sambil berdiri dan melotot ke arah anaknya, tuan Arga.


"Anu, Arga tadi ada urusah di luar sebentar, papa kapan sampai?"


"Papa sudah di sini dari satu jam yang lalu, menunggumu pulang, lama sekali."


"Maafkan Arga, Pa, lagi pula papa tidak memberi kabar kalau akan berkunjung ke rumah Arga."


"Memangnya untuk menengok anak sendiri harus ngasih kabar dulu?"


"Bukannya begitu, tapi .... "


"Sudahlah, untung saja ada istrimu yang menemani papa, jadi papa tidak bosan menunggumu pulang."


"Eh, iya."


"Kau ini sudah jadi anak durhaka, bagaimana mungkin menikah tanpa memberi kabar pada papamu, kau pikir papamu ini sudah mati, Hah?"


"Anu, Pa, bukannya begitu." Tuan Arga kelimpungan menjawab pertanyaan papanya, wajahnya terlihat pucat pasi, perasaan gugup pasti menyelimuti dirinya.


"Maafkan Arga, Pa," ucap tuan Arga memelas.


"Iya, Pa, maafkan suami saya, kami baru akan mengunjungi papa dan memberi kejutan kabar bahagian ini, benarkan suamiku?" Aku tersenyum palsu pada tuan Arga dan mengedipkan mata padanya, memberikan kode agar dia meng-iyakan ucapanku.


"Iya, maksud Arga begitu, Pa."


"Ya sudah, lagi pula papa sudah tau, ada orang terdekat Arga yang datang ke pesta pernikahan kalian dan mengatakannya pada papa, untung papamu ini tidak punya simpanan penyakit jantung, Arga." ujar papa mertuaku mulai santai.


Keadaan sudah berubah lebih menghangat, tuan Arga dan papanya sudah baikan, meskipun diantara mereka terlihat sedikit canggung, mungkin karena mereka jarang memiliki waktu bersama, tetapi aku melihat dengan jelas ketakutan yang tergambar di wajah tuan Arga saat melihat papanya sudah duduk manis bersamaku di ruang tamu ini.


"Suamiku, kau ingin coklat hangat seperti milik papa?" Aku menawarkan pada tuan Arga dengan aksen manja.


"Hah, apa?" Dia melongo kebingungan mendengar kata-kata manisku.


"Mau minum coklat hangat?" Aku mengulang.


"Ya, boleh."


Aku beranjak meninggalkan mereka agar lebih leluasa mengobrol, lalu ke dapur untuk meminta coklat hangat pada pelayan.


Dia pasti berpikir aku sedang kerasuka jin atau kesurupan, sampai-sampai berkata begitu manis padanya, apa lagi memanggilnya dengan kata "Suamiku", itu membuat lidahku terasa sedikit kesleo.

__ADS_1


Aku duduk di ruangan tengah sambil menyandarkan punggungku di sofa, sembari menunggu pelayan menyiapkan permintaanku.


"Sabrina!" ucap tuan Arga berdiri dengan sorot mata tajam di depanku.


"Ada apa, Tuan?"


"Kau ini sudah gila ya, kenapa memanggilku seperti itu di depan papa?"


"Bukankah aku sudah menyelamatkan tuan dari kemarahan papa, seharusnya tuan berterimakasih padaku." Dengan santainya aku menjawab.


"Tidak sudi aku berterimakasih padamu, Huh."


"Baiklah, aku akan mengadukan perbuatan tuan yang beberapa hari lalu berniat membunuhku." Aku mencebik.


"Kau mengancamku?"


"Tidak, aku hanya ingin curhat saja pada papa mertuaku yang begitu baik itu."


"Dasar, gadis tidak waras!" makinya sambil berjalan menjauhiku.


Hahaha, sepertinya dalam pertandingan kali ini aku yang menang, tuan Arga. Nyalimu ciut sekali saat sudah berhubungan dengan papa, setidaknya akan ada orang yang lebih memihak padaku dari pada kepadamu.


"Nona, ini coklat hangat yang nona minta." Seorang pelayan mengagetkanku dari pikiran jahatku.


"Eh, iya, terimakasih banyak."


"Silahkan di minum, Suamiku," ucapku seraya meletakkan yang ku bawa di meja depan tuan Arga.


"Terimakasih, Sabrina," ucap tuan Arga sambil melirik sinis.


"Wah, menantuku memang baik sekali, pertama kali bertemu, papa mertuamu ini langsung terkagum-kagum padamu, Nak," ujar papa mertuaku memuji.


"Ah, terimakasih banyak atas pujiannya, Pa." Aku tersenyum hangat ke arahnya.


"Arga, baru kali ini papa bangga padamu, bisa memberikan menantu yang begitu baik seperti Sabrina, semoga pernikahan kalian terus langgeng sampai maut memisahkan."


"Do'a orang tua yang tulus pasti akan terkabul, Pa." Aku mengangguk.


Sedangkan tuan Arga hanya diam manggut-manggut, bibirnya mencebik, beberapa kali aku meliriknya, dia bolak-balik menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, pasti perasaan jengkel sudah menggerogoti dirinya.


Kau kesal padaku, Tuan? Hahaha. Aku tertawa puas dalam hati.


"Kapan-kapan ajaklah Sabrina berkunjung ke rumah lama kita, Arga," ujar papa mertua.


"Baiklah, Pa, menunggu ada waktu senggang dulu, Arga masih banyak pekerjaan di kantor," jawab tuan Arga lesu, dia seperti enggan menjawab.

__ADS_1


"Serahkan saja pada Joe, dia selalu bisa di andalkan."


"Tidak, Pa, ini sudah tanggung jawab Arga."


"Lagi pula kalian harus berbulan madu, pergilah, papa yang akan membantu mengurus perusahaan selagi kalian pergi."


"Tidak perlu, Pa."


"Memangnya kau tidak ingin segera memberikan papamu ini cucu. Hah?" Papa mertua melotot ke arah tuan Arga.


Tuan Arga hanya diam, menyandarkan punggungnya di sofa, mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


"Papa tidak mau tau, kalian harus berbulan madu, titik!"


"Baiklah, bagaimana maunya papa saja." Tuan Arga beranjak pergi meninggalkan kami, sedangkan aku hanya diam tanpa berkutik sedikitpun mendengar perdebatan antara bapak dan anak di hadapanku.


"Kau harus banyak bersabar memiliki suami seperti Arga, Nak, tetapi dalam hatinya, dia laki-laki yang baik, percayalah pada papa," ucap papa mertua padaku yang sedari tadi hanya bengong.


"Saya selalu sabar, Pa." Aku tersenyum.


"Baiklah, papa mau pulang dulu, ini sudah sore."


"Papa tidak ingin menunggu makan malam dulu?"


"Lain kali saja, Nak."


"Baiklah, hati-hati di jalan, Pa." Aku mencium punggung tangan papa mertua.


Usai aku mngantarkan papa mertuaku di depan pintu utama, aku kembali ke kamar, bersiap untuk mandi.


Dari depan pintu kamar yang terbuka lebar, aku melihat tuan Arga tiduran di sofa favoritnya, dia bahkan tidak mengganti pakaiannya.


Apa dia benar-benar kesal padaku karena sikapku yang seperti tadi di depan papa ya, aku jadi merasa bersalah.


Aku mendekatinya, ku lihat wajahnya begitu lelah, dia menutup kedua matanya rapat, kedua tangannya di letakkan di bawah kepala sebagai bantal, sedangkan kakinya masih memakai sepatu pantofel hitam mengkilat, lengkap dengan kaos kaki, berselonjor di atas sofa.


Dengan hati-hati aku melepaskan sepatu dan kaos kakinya, melihatnya selalu bersalah di depan papanya seperti tadi, membuatku iba padanya.


Aku memutuskan untuk segera mandi sebelum dia terbangun dan membuat masalah baru denganku, karena saat dia tertidur dengan nyenyak, membuat dunia terasa begitu damai bagiku, tentu saja karena dia tidak akan berbuat macam-macam padaku.


...


Hari sudah semakin sore, tapi tuan Arga tidak juga terbangun dari tidurnya.


Apa kau selelah itu sampai-sampai tidur berjam-jam di waktu sore seperti ini, kau ini tidur atau pingsan sih?

__ADS_1


Aku kembali mendekatinya, duduk di pinggiran sofa tepat diatas bagian kepalanya.


__ADS_2