
Sinar matahari yang menembus kaca jendela berukuran besar di depan sofa, membuat mataku terasa silau. Aku mengerjapkan mata beberapa kali, meraba sisi kanan dan kiriku, namun aku tidak menemukan laki-laki itu berada.
Kemana dia?
Aku duduk di tepi kasur sambil melapisi tubuhku yang masih telanj*ang ini dengan selimut, pertempuran semalam membuat beberapa bagian tubuhku masih terasa nyeri. Aku mencoba berdiri, namun pangkal pahaku terasa sangat ngilu, sakit.
Ah, kenapa perutku juga terasa tidak enak seperti ini?
Biasanya meskipun melakukan beberapa ronde dalam semalam, rasa lelah tidak separah ini.
Aku menghela nafas panjang, memegang selimut di depan dadaku sambil menahan nyeri di sekujur tubuhku.
"Kau sudah bangun, Sayang?" tanya suamiku saat keluar dari kamar mandi, sepertinya ia baru saja membasuh muka, terlihat buliran air masih menetes dari wajahnya.
"Ya, tapi aku merasa sangat lelah, Honey. Sekujur badanku terasa sakit." Aku mengeluh, sambil memijat sendiri pundakku dengan tangan kiri.
"Kau sakit?" Suamiku itu terlihat begitu khawatir, ia menempelkan punggung tangannya di dahiku.
"Aku mandi saja dulu, Honey. Berendam air hangat pasti bisa membuatku lebih baik," ujarku beranjak berdiri, sambil menyeret selimut menuju kamar mandi.
"Sayang, tunggu! Kau sakit." Laki-laki itu tergopoh-gopoh membopong tubuhku dan merebahkannya kembali ke atas kasur.
"Honey, ada apa? Aku baik-baik saja." Aku bingung, kenapa tiba-tiba ia begitu khawatir.
"Tunggu disini, akan ku hubungi dokter."
"Memangnya ada apa? aku kenapa?" Aku masih bingung, mencoba bangun namun laki-laki itu menahan tubuhku, sedangkan tangan kirinya berusaha menelpon seseorang.
"Cepat datang ke rumahku, sekarang!" ujar suamiku kepada seseorang di sebrang telepon sana dengan wajah berpeluh penuh ketakutan,
"Ada apa, Honey?" Aku sangat tidak mengerti.
"Kau diam saja, Sayang. Aku sudah menghubungi Daren, dia akan datang kesini."
"Bagian mana yang sakit?" lanjutnya.
"Aku tidak sakit. Hanya merasa lelah saja, kenapa kau berlebihan sekali," ucapku.
"Lihat ini," ujarnya memperlihatkan selimut yang tadi ku pakai membalut tubuhku, selimut tebal berwarna abu itu berlumuran darah merah segar.
Darah? Aku haid.
"Kau mengalami pendarahan, Sayang. Pantas saja badanmu lemas dan terasa nyeri."
"Pendarahan? Bukan, Honey. Ini ...."
"Cukup, jangan banyak bergerak. Sebentar lagi dokter akan sampai, aku akan memanggil Salimah sebentar," ujar suamiku berlari kecil keluar dari kamar.
Gawat!
Memalukan sekali, gara-gara haid suamiku yang polos itu sampai memanggil dokter.
Beberapa menit kemudian dia kembali, dengan diikuti Salimah di belakangnya. Salimah membawa teh di atas nampan dengan tangan gemetar.
"Minumlah." Ia menyodorkan secangkir teh ke hadapanku. Aku meminum teh hangat itu sampai habis tak tersisa, meskipun rasa teh ini aneh, sangat pahit.
"Apakah aku melakukannya terlalu brutal? kenapa sampai berdarah sebanyak itu," ujar suamiku dengan mata berkaca-kaca.
"Ini bukan pendarahan, Honey. Aku sedang ...."
"Arga," ujar seseorang dari arah pintu.
"Kemarilah, Daren. Cepat periksa istriku," sahut suamiku.
"Memangnya dia kenapa? istrimu terlihat baik-baik saja," jawab dokter Daren santai sambil melangkah mendekat.
"Kau tidak lihat? Dia berdarah-darah sebanyak ini kau bilang baik-baik saja?" Suamiku membentang selimut dengan beberapa bercak darah di hadapan dokter Daren.
Ya Tuhan, ingin rasanya menutup wajah ini dengan panci dapur. Sungguh memalukan. Sebenarnya suamiku ini polos atau bodoh?
__ADS_1
Gelak tawa terdengar nyaring dari dokter berkemeja putih itu, ia tertawa renyah sambil memukul-mukul pelan bahu suamiku, ia sepertinya tidak bisa menghentikan tawanya yang menggelegar.
Ku lirik Salimah, wanita yang awalnya datang dengan wajah pucat dan tangan gemetar itu juga menahan tawa, ia membungkam mulut dengan sebelah tangannya.
"Kenapa kau tertawa? Cepat tangani istriku, nanti dia kehabisan darah." Suamiku menyeret lengan dokter dengan kasar. Sepertinya dia masih tidak menyadari kebodohannya.
Dokter Daren mendekat ke arahku, ia menghentikan tawanya dan menggantinya dengan senyum mengejek. Ia membuka tas hitam yang ia tenteng, dan mengeluarkan stetoskop dari dalam tasnya.
"Aku baik-baik saja, Dok. Aku sudah mencoba menjelaskannya pada suamiku, tapi dia tidak memberiku kesempatan bicara." Aku berbicara dengan menahan malu yang teramat sangat.
"Jangan banyak bicara, Sayang. Biarkan dokter memeriksamu," sela suamiku.
"Istrimu sehat, Arga. Bahkan sangat sehat," ujar dokter Daren menatap suamiku.
"Dia pendarahan, apa kau tidak melihat darah itu?" Suamiku berbicara lantang setengah emosi seolah dialah yang paling benar.
"Dia tidak pendarahan, Ga. Dia hanya sedang datang bulan. Itu normal, dan hal yang sangat wajar," jelas dokter.
"Tapi, darah itu ...."
"Haid atau menstruasi adalah proses keluarnya darah dari ****** yang terjadi diakibatkan siklus bulanan alami pada tubuh wanita. Siklus ini merupakan proses organ reproduksi wanita untuk bersiap jika terjadi kehamilan. Persiapan ini ditandai dengan penebalan dinding rahim (endometrium) yang berisi pembuluh darah. Jika tidak terjadi kehamilan, endometrium akan mengalami peluruhan dan keluar bersama darah melalui ******."
"Kemarin sudah ku jelaskan, istrimu mengalami penebalan dinding rahim, kemungkinannya ada dua, hamil atau haid. Dan sekarang istrimu haid, jadi itu wajar," lanjut dokter Daren menjelaskan dengan gamblang.
"Jadi, dia tidak akan kehabisan darah?" tanya suamiku dengan wajah polosnya.
"Jelas tidak. Selagi darah yang keluar dalam jumlah normal."
"Aku memang terbiasa mens dalam jumlah banyak di hari pertama sampai hari ke empat, Dok. Selebihnya hanya flek," selaku.
"Apakah selama kalian menikah, kau tidak pernah datang bulan, Nona?" tanya dokter.
"Tidak pernah, Dok. Hah." Aku membungkam mulutku, keceplosan.
"Tidak pernah? Apa jangan-jangan ...." Kalimat dokter terhenti saat aku mencoba memberikan kode padanya dengan mengerlingkan sebelah mata.
"Jangan-jangan apa?" tukas suamiku.
Dokter Daren adalah spesialis kandungan, dia pasti mengerti kenapa aku tidak mendapatkan haid selama ini, ini adalah haid pertama sejak pernikahanku yang hampir berumur satu tahun. Di hari pertama menikah, aku sudah rutin mengkonsumsi pil kontrasepsi, jadi obat itu membuatku tidak lagi mendapatkan tamu rutin setiap bulan.
"Baiklah, aku resepkan obat pereda nyeri agar membuatmu lebih nyaman beraktifitas, Nona." Dokter menulis resep di sebuah kertas kecil lalu menyerahkannya padaku.
"Terimakasih, Dok. Maaf sudah merepotkan," ujarku tersenyum kaku.
"Tidak apa-apa, Nona. Aku senang bisa membantu."
"Jaga istrimu baik-baik, Ga. Di fase seperti ini, banyak wanita mengalami perubahan mood yang naik turun. Di hari ke empat atau ke lima, kalian datang ke rumah sakit, aku akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk program hamil kalian," lanjut dokter.
"Tapi, dia akan baik-baik saja kan, Ren?"
"Percayalah, Ga. Istrimu itu sehat, bahkan sangat sehat."
"Aku balik ke rumah sakit dulu, jangan lupa obatnya, Nona."
Suamiku mengantar dokter sampai ke pintu utama, sedangkan Salimah masih berdiri di sisi ranjang menemaniku.
"Aku malu, Salimah. Malu," ujarku kesal sambil memukul kasur.
"Hehehe, saya kira tadi nona sakit parah, tuan teriak-teriak di dapur bilang kalau nona mengalami pendarahan hebat, semua pelayan dan koki yang mendengar jadi panik dan ketakutan."
"Itu tehnya, sampai lupa tidak di beri gula," ujar Salimah menahan senyum.
"Tidak apa-apa, Salimah. Terlanjur, lagipula aku sudah menghabiskannya" ujarku menghela nafas. Akhirnya, drama memalukan ini berakhir.
"Maafkan saya, Nona. Panik dan takut, saya jadi lupa ngasih gula," kata Salimah lagi, aku tersenyum getir melihatnya.
Setelah suamiku kembali, Salimah pamit keluar dari kamar. Aku mengangguk sambil memesan secangkir coklat hangat seperti biasa.
"Kau sungguh tidak apa-apa, Sayang?" tanya suamiku sambil duduk di tepi kasur.
__ADS_1
"Aku sehat, Honey. Kau sudah dengar sendiri penjelasan dari dokter, bahwa ini semua normal, dan aku tidak apa-apa."
"Apa itu sakit?" tanyanya sambil sedikit meringis, seakan ia yang sedang menahan nyeri di dalam perutnya.
"Tidak, hanya terasa tidak nyaman saja."
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Sayang?"
"Tidak ada, sebaiknya aku harus segera mandi dan membersihkan diri," ujarku menggeser tubuh ke tepian kasur.
Namun lagi-lagi gerakan tiba-tiba membuatku terkejut, suamiku itu langsung membopong tubuhku menuju kamar mandi.
"Aku bisa jalan sendiri, Honey. Turunkan aku!" seruku sambil berontak.
"Tidak, kalau kau banyak bergerak nanti darah yang keluar akan semakin banyak," timpalnya.
Entah bagaimana lagi aku menjelaskan kondisiku pada laki-laki ini, aku ini hanya datang bulan, bukan sakit.
Daripada harus berdebat dan membuatnya semakin bingung, aku menurutinya saja sampai ia menurunkan tubuhku di dekat bath up.
Usai mandi dan membersihkan diri, aku merendam selimut yang terkena darah di dalam bak menggunakan air dan sabun.
Ku lilitkan handuk putih menutupi area dada dan bagian bawah, ukurannya yang tidak terlalu besar membuatku sedikit kesulitan memakainya.
Aku mencari pembalut yang mungkin masih ku simpan saat pertama kali datang ke rumah ini, ku buka setiap kotak lemari dan beberapa laci di meja riasku, namun aku hanya menemukan satu pembalut berukuran sedang.
Suamiku hanya duduk di sofa sambil menatapku khawatir, sepertinya ia sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
"Kau tau, Honey. Wanita itu memang di juluki makhluk yang lemah, namun apakah laki-laki itu tau, bagaimana rasanya berdarah-darah seperti ini?"
"Wanita tetap kuat, sehat, bisa melakukan aktifitas apapun meskipun tubuhnya mengeluarkan darah secara terus menerus, tapi jika laki-laki yang berdarah, sudah bisa di pastikan dia akan masuk ke rumah sakit dan tidak berdaya." Aku tersenyum sambil meliriknya.
"Aku pasti sudah sekarat jika dari tubuhku keluar darah sebanyak itu, Sayang." Dia mendekatiku.
"Maka dari itu, anggapan bahwa wanita itu lemah adalah salah, kami lebih kuat dari yang terlihat. Hanya saja, kami di ciptakan dengan penuh kelembutan, itulah kelemahan kami."
"Apa mungkin, ini terjadi karena semalam aku terlalu bersemangat dalam pertempuran kita?" tanyanya merangkul pinggangku.
"Tidak, Honey. Ini memang sudah jadwalnya aku datang bulan," ujarku melepaskan diri.
"Mandilah, aku akan pakai baju dan setelah ini kita sarapan, aku tidak mau kita terlambat bekerja." lanjutku.
"Bekerja? Tidak, kita akan libur, keadaanmu sedang tidak baik, sebaiknya kau istirahat, Sayang."
"Aku ...."
"Cukup! jangan membantah."
Begitulah suamiku, laki-laki ini selalu saja menang dengan pendapatnya, aku bahkan tidak pernah bisa membantah apapun keputusannya.
Meskipun aku merasa sangat sehat dan baik-baik saja, tidak ada salahnya hari ini kami libur, setidaknya kami bisa menghabiskan waktu berdua seharian, tanpa adegan yang iya-iya tentunya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...