
Pintu lift terbuka di lantai sepuluh, aku hanya perlu mencari nomor kamar yang tertulis di kartu ini, tapi aneh, disini hanya ada dua kamar berdampingan, terdapat ruang tamu dan sejenis ruang rapat di depannya, aku melihat kearah pintu kamar menyesuaikannya dengan kartu berwarna keemasan yang aku pegang saat ini.
Saat aku menempelkan kartu kearah mesin scan, pintu langsung terbuka dengan sendirinya, semua lampu menyala bersamaan membuatku terkejut. Aku meletakkan tas kecil yang ku pegang diatas sofa dekat pintu, duduk sebentar mengamati kamar yang luasnya bahkan tidak bisa aku prediksi.
Di depan sofa panjang di hadapanku terdapat bunga segar yang kira-kira baru beberapa menit lalu diganti, tempat tidurnya begitu besar, bisa cukup menampung lima sampai enam orang tidur berjejer disana, sprei putih dengan bantal guling berwarna senada membuat siapa saja bisa tidur nyenyak diatasnya.
Setelah penat yang mulai melonggar, aku segera menanggalkan semua gaun pengantinku, meninggalkan kaos singlet berwarna putih dan celana pendek yang melekat ditubuhku. Aku membersihkan make up yang masih menempel menggunakan tisu dimeja dekat pintu kamar mandi.
Aku segera menekan tombol Lock di pintu kamar untuk memastikan tidak ada orang yang akan masuk mengintipku mandi atau berganti baju.
Segeralah aku masuk kamar mandi yang luasnya melebihi kamar tidurku dirumah, sudah berjejer rapi di depan cermin berbagai jenis sabun, shampoo, lulur mandi bahkan parfum, ada beberapa aroma therapy yang bisa aku gunakan untuk berendam sesaat.
Aku menyalakan kran air mengisi bath up untuk berendam, meneteskan aroma therapy yang menenangkan ke dalam air, menanggalkan sisa pakaianku kemudian memasuki bath up sambil memejamkan mataku perlahan, melepaskan semua beban pikiran sesaat membuat nafasku mulai teratur.
...
Entah berapa lama aku di dalam kamar mandi ini, sepertinya aku tertidur sebentar, sayup-sayup aku mendengar suara laki-laki di luar kamar mandi sedang menelpon seseorang.
Apakah aku bermimpi, bukannya tadi aku sudah mengunci pintu kamar? bagaimana bisa ada orang masuk, gawat! aku lupa membawa handuk yang ada diatas kasur, bagaimana ini.
Pelan-pelan aku membuka pintu kamar mandi dengan badan dan rambut yang masih basah, mengintip sedikit dengan sebelah mataku, mencari tau sosok laki-laki yang bisa masuk kamar ini tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Siapa disana?" aku berteriak mengintip punggung laki-laki yang berdiri menghadap luar jendela.
"Kau ini lama sekali dikamar mandi, aku pikir kau pingsan di dalam sana!" Tuan Arga menjawab sambil menatapku yang hanya terlihat sebelah mata dan ujung rambutku saja.
"Maaf tuan, ternyata tadi saya ketiduran sebentar."
"Sudah lebih dari satu jam kau bilang sebentar, untung kau tidak tenggelam di bath up."
"Maafkan saya, Tuan."
"Lagi pula kenapa kau tidur di kamar mandi? apa kasur ini kurang besar untukmu?" ucapnya sambil melirikku tajam.
"Saya ketiduran, bukan sengaja tidur, Tuan."
"Cepat keluar, aku mau mandi."
__ADS_1
"Tapi tuan, saya tidak membawa handuk." Aku malu-malu.
"Bagaimana bisa? merepotkan sekali kau ini!" jawabnya ketus sambil meraih handuk diatas sprei dan melemparkannya kepadaku. Dengan sebelah tangan yang keluar dari pintu aku menangkap handuk itu dan melilitkannya ditubuhku.
Aku keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk berwarna putih, rambutku masih basah hingga setiap helainya meneteskan bulir-bulir air.
"Tuan hadap jendela dulu, saya akan masuk ke ruang ganti, jangan melihat saya!" ucapku ketakutan.
"Memangnya kenapa?"
"Saya malu, Tuan."
"Hah, dasar gadis aneh!" guamnya yang masih terdengar olehku.
"Cepat, Dasar keong!"
Aku segera berlalu memasuki ruang ganti, dengan hanya berbalut handuk, aku duduk bersantai di ruang ganti sambil mengeringkan rambutku menggunakan hairdryer. Di dalam ruang ganti ini terdapat beberapa lemari berukuran sangat besar, aku membuka lemari kaca transparan yang dari luar sudah terlihat bahwa disini berisi pakaian wanita.
Banyak sekali baju-baju ini, beberapa modelnya sama tapi warnanya berbeda, apakah tuan Arga yang menyiapkan semua ini untukku?
Banyak model gaun malam dan baju tidur tergantung disana, warnanya juga macam-macam, semuanya masih terlihat sangat baru, beberapa memang bukan seleraku, tapi aku tetap menghargai apa yang sudah disiapkan untukku.
"Kau suka? itu cocok untukmu." Suara tuan Arga mengagetkanku. Dia memasuki kamar ganti dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya, seolah ingin memamerkan dada bidangnya.
"Terimakasih sudah menyiapkan pakaian untuk saya, Tuan." Aku bergegas ingin pergi karena malu melihatnya bertelanjang dada.
"Mau kemana kamu?" langkahku terhenti.
"Eh, mau keluar tuan, saya sudah selesai."
"Bantu aku mengeringkan rambutku, Cepat!" dengan malu-malu aku meraih hairdryer diatas meja dan mengeringkan rambut basahnya lalu menyisirnya dengan jariku. Meskipun hanya disisir dengan jari, tapi rambutnya begitu terlihat rapi dan membuat wajah tampan itu semakin menawan.
"Sudah selesai, apa saya boleh keluar?"
"Pergilah!" dia mengusirku tanpa menoleh sedikitpun.
Dasar laki-laki aneh, aku sudah susah payah membantunya mengeringkan rambut, tapi dia bahkan tidak mengucapkan terimakasih. menyebalkan sekali!
__ADS_1
Aku keluar dari ruang ganti dan membaringkan tubuku diatas kasur empuk, tubuhku terasa sangat lelah, bahkan tulang-tulang punggung dan kakiku rasanya sudah ingin patah, jam belum menunjukkan pukul delapan malam, tapi mata ini begitu berat, ingin rasanya tidur lebih awal, tapi cacing-cacing peliharaan di perut rasanya sudah demo meminta jatah makan malam.
"Tuan, saya lapar." Aku memberanikan diri berbicara pada tuan Arga yang duduk di sofa panjang sambil memainkan ponsel pintarnya.
"Kau mau makan apa, pelayan akan mengantarkannya kesini."
"Terserah tuan saja." Aku pasrah, yang penting perutku segera terisi.
"Tunggu saja!" dia menjawab datar tanpa menoleh.
Aku kembali merebahkan tubuhku ke kasur, tanpa sadar aku tertidur begitu pulas, mungkin aku terlalu lelah karena hampir seharian tidak sempat beristirahat.
"Bangun, kau tadi bilang lapar." Aku terkejut seseorang menjentikkan jari dikeningku, sakit!
"Eh, Iya tuan." Aku segera duduk dengan kepala yang terasa agak pusing karena terkejut dan bangun secara mendadak.
"Kau makan saja sendiri, aku sedang banyak urusan." Tuan Arga berlalu pergi meninggalkanku di kamar sendirian
Aku hanya diam tidak menyahutinya, fokus menyantap makanan yang sudah terhidang di depanku. Akhirnya bisa makan dengan tenang tanpa merasa diawasi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih banyak sudah membaca, jangan lupa tinggalkan Like dan berikan komentar yang mendukung yaa ❤️❤️