TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Tamu tak diundang


__ADS_3

Semua bunga mawar pilihanku di letakkan di bagian belakang mobil, tuan Joe sendiri yang mengangkatnya di bantu pegawai toko, sedangkan aku hanya melihat dan memantau layaknya mandor yang sedang mengawasi para pekerjanya.


"Terimakasih banyak, Tuan," ucapku saat kami sudah berada dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan.


"Tidak masalah," jawabnya datar dengan mata yang masih fokus ke arah jalanan.


Setelah sampai di depan butik, aku di sambut Riani yang sudah terlihat bersemangat menggandeng tanganku.


"Ah, Sabrina, akhirnya kau bisa kerja lagi," ucapnya sambil menggoyang-goyangkan lenganku.


"Iya dong," ucapku tersenyum sumringah.


"Siapa dia, Sa?" Riani berbisik di telingaku.


"Bukan siapa-siapa," jawabku.


Namun dia sepertinya tidak terima dengan jawabanku, terus saja menyenggol-nyenggol tubuhku dengan lengannya.


"Eh tolong bantu pindahin bunga-bunga ini dong," ucapku sambil menunjuk tuan Joe yang sibuk menurunkan bunga dari mobil.


Setelah semua bunga beserta pot dan pupuknya sudah turun dari mobil, tuan Joe pamit.


"Nona, saya pergi dulu, berhati-hatilah." Dia tetsenyum.


"Ya," jawabku cuek.


"Kau mau aku menjemputmu jam berapa?"


"Tidak perlu, aku bisa naik taxi saja, Tuan."


"Baiklah, aku jemput jam tiga sore." Dia berlalu masuk ke dalam mobil tanpa menunggu jawabanku.


"Halah, dasar tembok!" gerutuku kesal.


Setelah kepergian tuan Joe, aku dan Riani di bantu beberapa karyawan butik lalu memindahkan semua barang yang sudah bertumpuk di depan butik ini ke lantai atas, hari ini sepertinya aku akan lebih sibuk berkebun.


"Sa, laki-laki tadi siapa?" tanya Riani dengan raut wajah menyelidik.


"Bukan siapa-siapa, Ni. belum waktunya aku menceritakan semuanya.'


"Baiklah, Sa. Lalu kamu sebenarnya sedang sibuk apa sampai-sampai tidak datang ke sini lebih dari seminggu?" tanyanya lagi.


"Aku sedang ada urusan keluarga, memangnya kenapa?"


"Sebenarnya, sudah dua hari terakhir ada wanita cantik yang datang kesini mencarimu, dia pernah datang memesan sebuah gaun, tapi aku lupa namanya." ujar Riani sambil mencoba mengingat-ingat.


"Siapa?"


"Aku lupa namanya, tapi dia sudah pernah kesini, aku pikir dia ingin membeli gaun design terbarumu lagi, ternyata dia hanya ingin bertemu denganmu," lanjutnya.


"Ya sudah, kembalilah bekerja, aku akan mengurus semua bunga ini sendiri."


"Baiklah, Sa."

__ADS_1


...


Aku menyibukkan diri menata semua bunga-bunga mawar baruku, mengganti beberapa pot bunga lama dengan pot baru yang berukuran lebih besar, lalu memberikan semua tanaman dengan pupuk yang baru aku bawa.


Usai makan siang, Riani tiba-tiba menemuiku.


"Sa, ada seseorang yang aku ceritakan tadi pagi," ucap Riani mengintip di balik pintu.


"Ajak masuk saja, Ni."


"Siap!"


Beberapa menit kemudian.


"Selamat siang, Nona Sabrina," ucap seseorang memasuki ruanganku tanpa mengetuk pintu.


"Selamat siang." Ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah nona Hana.


"Oh, aku lupa, kau ini sudah menjadi nyonya besar ya," ucapnya sambil tersenyum sinis.


"Maaf, ada perlu apa mencari saya, Nona?"


"Aku hanya ingin mengobrol dengan istri sahabatku saja, karena sepertinya, semua karyawanmu disini tidak ada yang tau kalau kau sudah menikah."


"Bukan urusanmu, Nona." Aku sedikit kesal.


"Apa kau bahagia dengan pernikahan itu, Nona Sabrina?"


Aku hanya duduk diam di sofa, melihat wanita itu berdiri mondar mandir dengan gaun seksinya sambil memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna.


"Ah, kau beruntung sekali dinikahi pria tampan, mapan dan sempurna seperti Arga. Kalian itu tidak selevel, karena Arga seharusnya menikah dengan wanita yang lebih cantik, sepertiku."


"Kau iri, Nona?" Aku tersenyum miring.


"Kau bilang apa?" Dia menatapku tajam, sorot matanya seakan ingin mencekik.


"Kalian menikah bukan atas dasar cinta, Arga mencintaiku, begitu juga diriku, tapi dia menikahimu hanya karena ingin menjadikanmu pelayannya."


"Maksud nona, tuan Arga menjadikanku sebagai pelayan diatas ranjang?" Aku tersenyum semanis mungkin, nona Hana terlihat terkejut mendengar kata-kataku.


"Jangan terlalu percaya diri, kau hanya sebagai pemuas nafsunya saja, tapi kau tidak akan pernah bisa merebut hatinya dariku." Dia berkata dengan penuh penekanan.


Hah, benarkah, lagipula aku juga tidak begitu berniat sampai merebut hatinya, kecuali dia menyerahkannya dengan sukarela.


"Jika nona datang kesini hanya untuk berbasa-basi, silahkan pergi, saya sedang banyak pekerjaan dan tidak menerima tamu tak diundang seperti nona" Aku berdiri lalu membukakan pintu untuknya.


"Kenapa kau masih bekerja mencari recehan di tempat sempit seperti ini, bukankah kau bisa mendapatkan banyak uang dengan hanya memuaskan nafsu kekasihku?"


"Kekasihmu?" Aku mencebik.


"Ya, Arga itu kekasihku."


"Bukankah dia mengenalkan dirimu padaku hanya sebagai teman, Nona. Sebaiknya berhentilah bermimpi, hari sudah siang, bangunlah." Aku tersenyum miring.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti, bagaimana Arga akan membuangmu begitu saja seperti barang bekas" ucapnya sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajahku.


"Baiklah, semoga nona sabar menunggunya."


Aku menutup pintu dengan keras, emosiku sudah tidak menentu, darah di dalam tubuhku rasanya sudah mendidih sampai ke ubun-ubun.


Aku tidak mengelak kalau aku dinikahi hanya untuk di jadikan pelayan, memang itu kenyataannya. Tapi aku tidak terima jika harga diriku di injak-injak begitu saja.


Bagaimana mungkin nona Hana mengaku kalau dia adalah kekasih tuan Arga, sedangkan setauku saat itu tuan Arga hanya memperkenalkan dia di pesta pernikahan kami sebagai anak dari sahabat papa mertuaku.


Entahlah, siapa yang sedang bersandiwara di antara mereka, itu tidak penting bagiku. Lagipula biarkan saja tuan Arga bercumbu mesra dengan wanita lain, bahkan aku rela kalau memang benar dia kekasih nona Hana, biarkan mereka menikah sekalian, lalu aku bisa kembali hidup bebas dan bernafas sesukaku.


Apakah semenyedihkan ini nasibku, harga diriku bukan hanya tergadai di tangan tuan Arga, suamiku sendiri, namun juga terinjak-injak oleh wanita simpanannya.


...


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, namun belum terlihat sama sekali batang hidung tuan Joe yang seharusnya menjemputku.


Aku dengan sabar menunggunya sendirian di depan butik, karena semua karyawan mulai hari ini aku persilahkan pulang jam tiga sore, namun masuk satu jam lebih pagi.


Setelah hampir satu jam aku menunggu, namun belum juga tercium kedatangannya, akhirnya aku memutuskan untuk melipir ke caffe depan butik untuk menyegarkan tenggorokan yang sudah mulai mengering.


Langit menggelap bahkan sebelum hari benar-benar senja, namun sopir itu masih belum menampakkan batang hidungnya.


Apakah dia lupa untuk menjemputku?


Hmm, sebaiknya aku memesan taxi online saja, sebelum hari semakin gelap, sepertinya akan turun hujan.


Akhirnya aku memutuskan untuk membuka gawaiku dan memesan taxi online, namun aku menemukan sebuah pesan masuk yang belum terbaca, dari tuan Joe.


[Kau kemana saja, Nona. aku sudah datang menjemputmu tapi kau tidak ada disana]


Hah, aku dari tadi duduk disini tidak melihat ada mobil yang berhenti di depan butik, lalu kapan tuan Joe datang.


Ternyata pesan itu sudah masuk ke dalam gawaiku sejak setengah jam yang lalu, sepertinya aku tidak menyadari saat ponsel berdering, karena aku meletakkannya di dalam tas kecil yang aku sematkan di pundakku.


Padahal, aku sengaja memesan minuman dan duduk di teras caffe agar bisa memantau kalau saja tuan Joe datang, tapi sepertinya aku kecolongan.


Akhirnya aku menaiki taxi online yang sudah ku pesan untuk mengantarku pulang ke kandang buatan tuan Arga. Ya, sepertinya rumah itu tidak terasa seperti rumah bagiku, namun lebih seperti sebuah kandang yang di dalamnya sudah berdiri seekor harimau yang siap menerkamku kapan saja.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2