
Entah apa yang sedang di mimpikan laki-laki yang melingkarkan tangan dan kakinya di tubuhku ini, sehingga tidurnya begitu nyenyak dan sama sekali tidak menyadari kalau dia sedang menindihku, untung saja tubuhku tidak kurus, setidaknya aku memliki sedikit lemak untuk menahan berat badan laki-laki ini. Semakin lama tubuhku terasa kaku, kaki dan tangan kesemutan karena tidak bisa di gerakkan, namun aku tidak tega jika membangunkannya.
Aku berusaha tetap diam dengan tenang, menggerakkan jari-jari kakiku yang rasanya sedang di gigit ratusan semut, mendongakkan kepalaku mengambil nafas panjang untuk melonggarkan dadaku.
"Hey, hey, apa yang kau lakukan?" Tuan Arga terkejut dan refleks mendorongku menjauhi tubuhnya, peluh membasahi dahinya dan sorot mata tajam setajam elang seakan menuduhku telah berbuat jahat.
"Apa? apa yang aku lakukan?" aku kembali bertanya dengan nada sedikit kesal.
"Apa yang kau lakukan padaku? kenapa kau seenaknya memelukku?"
Aku? memelukmu? kurang kerjaan sekali aku melakukan hal manis itu padamu, tuan Arga, kalau bisa aku ini inginnya menendangmu, bukan memelukmu!
"Saya tidak memeluk tuan, tapi tuan yang memeluk saya," ucapku dengan mengernyitkan dahi menatapnya yang sedang bingung.
"Aku memelukmu? bagaimana bisa?"
Lah terus aku mana tau kenapa kau memelukku, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang, dasar aneh!
"Saya tidak tau, saat saya terbangun, tuan sudah memeluk saya dengan kencang, saya sudah berusaha menjauh, tapi pelukan tuan begitu erat."
"Mana mungkin aku melakukan itu?"
"Lah mana saya tau," ucapku cuek.
"Jangan-jangan kau mau memperkosaku?" tuduhnya padaku.
"Hah, mana mungkin, saya ini seratus persen masih perawan, dan saya seribu persen masih waras, jadi selagi kewarasan saya masih terjaga, saya tidak akan melakukan hal gila seperti itu, Tuan," ucapku kesal, sudah tidak tahan dia menuduhku yang bukan-bukan, biarkan saja dia marah, aku sudah lelah.
Tanpa menjawab apapun, dia bangkit dari tempat tidur, lalu bergegas keluar kamar meninggalkanku. Biarkan saja dia marah, aku sudah lelah setiap hari di injak-injak seperti babu, harga diriku sudah luntur di rumah ini, kalau saja bukan karena keluargaku, mungkin aku benar-benar akan meracuninya dengan racun harimau, karena dosis racun tikus tidak akan mempan mematikannya.
Setelah tidur sore yang cukup, membuat kondisi tubuhku sedikit membaik, pusing di kepalaku berangsur hilang, nafasku juga kembali normal, lalu aku memutuskan untuk segera mandi, ingin rasanya menikmati berendam air hangat, pasti sangat menyenangkan.
...
Tepat pukul lima sore, aku kembali leyeh-leyeh diatas tempat tidur, bermain ponselku, bertukar pesan dengan sahabat sekaligus rekan kerjaku, Riani.
[Aku libur seminggu lagi, Riani."]
[Tidak apa-apa, Saa, hasil penjualan sudah aku transfer ke rekeningmu, dan semua detile barang yang keluar masuk sudah aku kirim melalui e-mail.]
[Terimakasih banyak, Riani, aku akan memberikan gaji bonus padamu akhir bulan.]
[Ah, kau baik hati sekali, terimakasih boss-ku.] balasan terakhirnya dengan di bumbui begitu banyak emoticon berwarna kuning dengan ekspresi tersenyum.
Untung saja ada Riani yang mengurus semua keperluan di butik, kalau tidak ada dia, mungkin aku akan kualahan mengurus butik dan menghadapi masalahku dengan tuan Arga yang maha mengatur ini.
__ADS_1
"Kau sudah mandi?" tiba-tiba nyaring terdengar suara laki-laki yang bayangan dirinya sedang melayang-layang di pikiran jahatku.
"Sudah, Tuan."
"Ya sudah, aku mau mandi, tidak perlu menyiapkan air hangat, aku bisa sendiri," ucapnya sambil mengambil handuk yang terlipat di depan meja riasku.
Syurkurlah kalau tanganmu itu sudah berfungsi dengan baik, setidaknya kau bisa memutar kran air sendiri tanpa menyuruhku.
Saat dirinya keluar dari kamar mandi, aku masih santai menyandarkan punggungku diatas tempat tidur, laki-laki itu keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah, handuk putih dililitkan begitu saja di pinggangnya, aku bisa melihat bulir-bulir air yang menetes dari wajah turun ke leher hingga menjulur melalui dada dan perutnya yang berbentuk kotak-kotak bak perut olahragawan internasional.
"Air liurmu menetes," ucapnya mengejekku.
"Haa?" aku segera tersadar dari lamunanku pada peristiwa menggosok punggung hari itu, melihatnya seperti ini, membuat bayangan dirinya bertelanjang di depanku menari-nari dengan indah di kepalaku.
"Kau suka?"
"Suka apa?" tanyaku pura-pura tidak tau.
"Suka melihat tubuhku."
"Hah, tidak, saya tadi hanya melamun, Tuan."
"Akui saja, kau melihatku sampai air liurmu menetes," ucapnya sambil tertawa memasuki ruang ganti.
Sedikit demi sedikit kejiwaanku mulai tergoncang, bagaimana bisa aku memandangi tubuh tuan Arga seperti itu, bahkan dia menyadarinya, sungguh memalukan.
...
Kondisi tubuhku sudah benar-benar membaik, aku memutuskan untuk keluar kamar dan menuju ruang makan.
"Nona, kenapa keluar kamar, nona masih sakit," ucap Salimah terkejut melihatku mendekati meja makan yang masih kosong.
"Aku sehat, Salimah, kenapa tidak ada makan malam?" tanyaku padanya, karena aku tidak melihat satupun makanan yang terhidang di meja.
"Tuan sudah berpesan kalau malam ini ingin makan malam di kamar."
"Apa? kenapa begitu?"
"Karena nona masih sakit, jadi agar nona tidak keluar masuk kamar, maka makan malam akan pelayan antarkan ke kamar."
"Baiklah, aku akan kembali ke kamar," ucapku dengan raut wajah penuh kekecewaan, karena percuma saja aku membantah, perintah yang mulia raja tidak akan pernah terbantahkan.
"Makan malam akan siap dalam sepuluh menit, silahkan di tunggu ya, Nona," ucap Salimah tersenyum hangat.
...
__ADS_1
Di dalam kamar, aku melihat tuan Arga yang menyebalkan itu duduk di sofa dekat jendela, itu seperti tempat favoritnya, aku berlalu duduk diatas tempat tidur tanpa ingin menyapanya.
Sesekali aku meliriknya, dia sedang asik dengan ponselnya, sedangkan aku sudah tidak tahan dengan perutku yang mulai memberontak kelaparan.
Tok ... Tok ... Tok ....
Aku bergegas membuka pintu, kemudian beberapa pelayan mendorong meja besi yang memiliki roda memasuki kamar, bukan hanya satu meja, tapi ada tiga meja yang di bawa masuk ke dalam kamar.
Banyak sekali makanan yang di bawa, siapa yang mau menghabiskan makanan sebanyak ini. Aku menebak-nebak dalam hati.
Meja sudah di tata rapi oleh pelayan, dua kursi telah di siapkan saling berhadapan di depan meja, kemudian tuan Arga bangkit dan mengibaskan tangannya, mengisyaratkan para pelayan untuk meninggalkan kamar ini.
"Duduklah," ucapnya dengan kepala sedikit di goyangkan mengarah ke kursi yang harus aku duduki.
Tanpa menjawab, aku langsung duduk begitu saja, melihat semua makanan ini membuatku semakin kelaparan.
"Aku tidak tau apa yang kau inginkan, jadi aku menyuruh pelayan memasak beberapa jenis makanan, kamu bisa memilihnya sendiri," ujarnya lembut.
Tumben sekali dia berkata lembut padaku, apa dia sedang ada maunya?
"Terimakasih banyak, Tuan, saya suka semuanya."
"Bagus, habiskan semua," ucapnya dengan tersenyum aneh, senyum itu seakan-akan mengisyaratkan ada suatu hal buruk yang sedang ia rencanakan.
Sudahlah, aku tidak peduli, yang paling penting, aku ingin sekali menghabiskan semua makanan ini, sungguh, aku benar-benar lapar malam ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung dulu teman-teman, tinggalkan like dan komentar kalian yaa, biar author semangat up ya 🤗🤗
__ADS_1