TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
8 minggu kehamilan


__ADS_3

Dua minggu berlalu, aku masih sangat lemas dengan nafsu makan yang buruk, selama ini aku bahkan tidak sekalipun makan nasi, hanya satu atau dua lembar roti tawar dan susu khusus ibu hamil yang di terima oleh tubuhku.


Aku tidak pernah mengeluh, aku menikmati masa-masa ini dengan penuh rasa bahagia, aku rasa ini adalah perjuanganku untuk menjaganya.


Setiap siang aku selalu makan satu cup es krim untuk menghilangkan mual dan rasa pahit yang melekat di lidah. Entah, apapun yang aku makan, hambar, hanya rasa pahit yang terasa.


Pagi ini aku sudah bersiap untuk datang ke rumah sakit, dokter Daren berpesan dua minggu lalu setelah aku positif untuk melakukan pemeriksaan USG hari ini juga. Kemarin dia sudah menelpon berkali-kali untuk mengingatkan kalau aku tidak boleh sampai lupa.


"Kau sudah siap, Sayang?" tanya suamiku. Aku hanya mengangguk sambil memoleskan make up tipis di wajahku.


"Meskipun kau sedang seperti ini, tapi kau masih tetap terlihat cantik." pujinya.


"Benarkah?" tanyaku meliriknya.


"Tentu saja, istriku memang selalu cantik." Aku tersipu malu mendengar pujiannya.


Selama dua minggu ini, dia hanya pergi ke kantor beberapa kali, hanya untuk menghadiri rapat yang benar-benar penting dan tidak bisa di wakilkan oleh siapapun. Semua pekerjaannya ia bebankan pada tuan Joe, beruntung manusia multi talent itu mengerti keadaan kami.


Aku memakai dress selututut berwarna merah muda polos tanpa motif, dan mengikat rambutku kuncir kuda, terlihat simple.


Dengan hati-hati aku menuruni anak tangga, di gandeng suamiku.


"Selamat pagi, Nona," ujar Salimah menyambut kami di bawah anak tangga, para pelayan berbaris di belakangnya.


Kami memasuki mobil ferari berwarna hitam milik suamiku, kali ini bang Bimo yang mengemudikan mobilnya, sedangkan suamiku lebih memilih duduk menemaniku di kursi belakang.


Ini adalah pertama kalinya aku keluar rumah selama dua minggu ini, aku bahkan tidak pernah datang ke butik, semua pekerjaan butik aku serahkan sepenuhnya pada Riani. Jangankan untuk pulang pergi dari butik, terkadang untuk jalan kaki ke dalam kamar mandi saja aku sering merasa pusing.


Sesampainya di rumah sakit, kami di sambut dokter Budi dan dokter Daren di depan lorong. Mereka tersenyum hangat menyambut kedatangan kami.


"Selamat pagi, Nona. Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya dokter Daren.


"Ya seperti yang kau lihat, Dok." Aku tersenyum.


"Kenapa kau hanya menanyakan kabar istriku, seharusnya yang kau tanyakan itu kabarku, aku ini kan temanmu," ujar suamiku.


"Tapi istrimu juga pasienku, terserah aku mau menyapa yang mana," jawab dokter Daren tersenyum miring.


Aku dan dokter Budi hanya menahan senyum melihat tingkah mereka berdua.


"Ayo, silahkan masuk," ajak dokter Daren. Kami bertiga mengikutinya masuk ke dalam ruangannya.


Dokter menyuruhku berbaring terlentang di ranjang tinggi seperti biasanya, sedangkan seorang suster membantu menutup bagian bawah tubuhku dengan selimut saat dress yang ku pakai di tarik ke atas untuk membuka sebagian area perut.


"Menurut presiksi, usia kandunganmu sudah mencapai sembilan minggu, Nona."


"Detak jantungnya sudah terdeteksi di layar monitor," ujar dokter.


"Kau mau mendengar suara detak jantungnya?" tanyanya, aku mengangguk dan tersenyum.


Lalu dokter menyuruh suster mengambil sebuah alat mirip radio yang biasa di sebut doppler, setelah itu, dokter menggerak-gerakkan batang doppler itu ke bagian perutku, aku sempat khawatir karena detak jantung bayi yang seharusnya ku dengar belum juga di temukan. Namun dokter terus mencari, hingga akhirnya terdengar bunyi berisik seperti suara tv semut dengan di selingi suara 'Dug ... dug ... dug ..."


"Ketemu, rupanya si kecil sedang main petak umpet, susah sekali di temukan," ujar dokter.


Pertama kali mendengar suara detak jantung yang sudah semakin jelas itu, membuatku merinding, terharu, bahagia. Aku seperti jatuh cinta untuk pertama kalinya.


"Semuanya baik-baik saja, Ren?" tanya suamiku, ia mendekat ke arah layar monitor. Dokter Daren menjelaskan padanya tentang semua yang tergambar di layar.


"Ukurannya masih sangat kecil, kira-kira sebesar kacang merah dengan panjang 2,7 sentimeter."

__ADS_1


"Kalian bisa melakukan USG setiap bulan, atau paling tidak 3 bulan sekali. Karena ini sangat penting, selain untuk mengetahui perkembangan janin dari masa ke masa, pemeriksaan USG juga bisa di pakai untuk mendeteksi kelainan pada janin sejak dini," jelas dokter.


Setelah melakukan USG dan mendapatkan penjelasan yang sangat gamblang, aku di sarankan untuk tes lab dengan mengambil sampel darah milikku, kondisi tubuh yang lemas dan muntah berlebihan mengakibatkan berat badanku turun dan tentu saja jika hal ini berkelanjutan akan beresiko pada calon buah hati kami.


Beberapa menit menunggu, hasil lab keluar. Syukurlah, semuanya masih normal, hanya perlu memperbaiki kondisi tubuh saja.


"Usahakan tetap makan, Nak. Sedikit paksakan, dengan porsi yang sedikit namun sering, itu akan membantumu melewati trimester ini dengan baik," saran dokter Budi, ia terlihat seumuran dengan papa mertuaku.


"Kau juga butuh tenaga untuk melewati fase ini, bersabarlah. Semuanya akan segera membaik," lanjutnya.


"Terimakasih, Dok," kataku.


"Panggil aku paman, aku ini pamanmu."


"Eh, iya, Paman. Terimakasih banyak," jawabku sungkan.


Setelah serangkaian tes dan pemeriksaan, kami kembali pulang dengan perasaan bahagia. Ku lihat suamiku sangat antusias ketika mendengar berbagai penjelasan dari dokter Daren mengenai kondisiku dan apa-apa yang harus dia lakukan untuk membantuku.


Dia senantiasa setia menemaniku menjalani hari-hari yang terasa sangat melelahkan ini. Namun aku bahagia, dengan hadirnya janin di rahimku, aku berharap kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga kami semakin meningkat.


"Aku punya kejutan untukmu," ujar suamiku saat kami sudah sampai di depan gerbang rumah besar itu.


"Kejutan?" tanyaku penasaran.


"Ya, kita akan melihatnya."


Dengan rasa penasaran aku berjalan memasuki rumah, betapa terkejutnya, di ruang tamu sudah berkumpul kedua orangtuaku, dan papa mertua. Mereka tampaknya sudah menunggu kepulangan kami.


"Ayah, ibu," sapaku tersenyum bahagia sambil memeluk mereka secara bergantian.


"Papa kapan datang?" tanyaku pada papa, lalu mencium punggung tangannya.


"Sabrina sehat, Pa," jawabku.


"Kenapa tidak menyampaikan kabar bahagia ini dari awal, Nak. Kami sangat khawatir," timpal ibu.


"Sabrina sengaja melarang Arga menceritakan hal ini dulu, Bu. Karena kondisi Sabrina yang kurang baik," jawabku jujur. Aku memang menyuruh suamiku itu tutup mulut mengenai kehamilanku ini sampai kesehatanku mulai membaik, namun ternyata ia melanggar janjinya.


"Jika ibu tau dari awal, ibu pasti sudah datang merawatmu, kasihan suamimu," kata ibu.


"Tidak perlu kasihan, Bu. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai seorang suami," jawab suamiku sambil tersenyum.


Akhirnya kami saling berbincang, membicarakan hal-hal yang tidak terlalu penting terkadang memang sedikit menghibur, apalagi selama dua minggu terakhir aku hanya menghabiskan waktu di dalam kamar selama 24 jam.


"Sa, ibu bawakan buah kedondong," kata ibu, dia mengeluarkan lima buah berwarna hijau kekuningan itu dari dalam kantong plastik yang ia bawa.


"Ibu sengaja pilih yang tidak terlalu matang, rasanya memang asam, tapi ini bisa membantu mengurangi rasa mual mu."


Baru melihat wujud buah itu saja, air liurku terasa ingin menetes, membayangkan betapa segarnya saat ku makan.


"Dulu, ibu juga sangat suka buah ini saat masih hamil muda," lanjut ibu.


Dengan cepat, suamiku menuju dapur mengambil pisau dan mengupas buah itu untukku. Melihat betapa siaganya ia saat ini, aku begitu senang.


"Hemm, segar sekali, Bu," kataku saat merasakan gigitan pertama di mulut.


Suamiku itu hanya melihatku dan mengerutkan wajah dengan ekspresi jelek, seakan-akan ia juga ikut merasakan rasa asam dan kecut buah yang sedang ku makan.


"Apa itu enak?" Dia bertanya.

__ADS_1


"Enak, ini enak sekali, Honey. Cobalah," ujarku menyodorkan bekas gigitanku.


"Tidak, tidak. Kau saja yang makan, Sayang," tolaknya.


Meskipun rasa asam dan kecut yang luar biasa, namun sepertinya sukses membuat perutku yang terasa di aduk-aduk itu berangsur menghilang.


"Sekarang belum musim mangga, Nak. Kami sudah mencari ke beberapa kios buah di dekat sini, tapi mereka belum menjualnya," sela ayahku.


"Tidak apa-apa, Yah. Ini saja cukup untukku."


Mereka semua tersenyum menatapku menyantap beberapa buah kedondong dengan sangat lahap. Akhirnya, aku bisa merasakan makanan masuk ke dalam perutku.


...


Karena hari ini ayah, ibu dan papa mertuaku datang, aku memaksakan diri untuk ikut menemani mereka semua makan siang di meja makan.


Aku memesan ayam goreng bagian paha kepada Salimah untuk menu makan siangku kali ini.


"Ingat kata dokter Budi, makanlah sedikit-sedikit namun sering, Sayang," ujar suamiku mengingatkan.


"Iya."


"Kau hanya makan nasi dengan ayam goreng ini?"


"Iya," jawabku singkat.


"Hmm, baiklah. Mau ku tambah sambal?" Dia kembali bertanya.


"Ini saja cukup, Honey."


"Baiklah."


"Nak, jika kau ingin makan sesuatu, langsung hubungi ibu, ibu akan memasaknya untukmu dengan senang hati," ujar ibu. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.


Hampir semua orang menanyakan makanan apa yang ingin ku makan, tidak terkecuali papa. Dia bahkan menawarkan berbagai menu lezat dari negara-negara tetangga yang bisa ia pesankan demi membuatku kembali makan dengan lahap.


Jika keadaanku tidak seperti sekarang ini, tentu aku tidak akan menolak tawaran-tawaran menggiurkan itu.


Ku paksakan mulutku tetap mengunyah sesuap nasi dengan lauk ayam goreng ini. Aku harus tetap makan agar tubuhku semakin kuat menjalani hari-hari yang menyenangkan ini, aku juga tidak ingin terjadi sesuatu pada calon permata hatiku.


Belum sampai lima suapan, aku menyerah. Lalu melanjutkan makan siangku dengan potongan buah kedondong yang sudah di siapkan suami siagaku itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2