
Tuan Arga tersenyum sinis melihat wajahku yang sudah merah padam, rasa malu, takut, sekaligus penasaran datang beramai-ramai tak tau aturan. Dia kemudian berlalu meninggalkanku yang masih mematung di sebelah kursi meja makannya dan berjalan menaiki tangga.
"Tu, tuan," ucapku gemetar saat dia sudah menaiki dua anak tangga.
"Apa lagi," jawabnya sambil memutar badan memandangku kesal.
"Bolehkah hari ini saya pergi bekerja?" aku bertanya ragu-ragu.
"Kau itu baru saja menikah, kau harus libur selama satu minggu penuh atau aku akan menjual butik kecilmu itu."
"Lalu bukannya tuan juga harus libur sepertiku?" tanyaku memberanikan diri.
Enak saja menyuruhku libur, libur, libur, memangnya kau saja yang sibuk, aku juga banyak pekerjaan, kalau aku libur dengan alasan baru saja menikah, seharusnya kau juga sama, biar adil!
"Gadis kriting, kau berani sekali mengatur-ngaturku?" ujarnya sembari kembali mendekatiku.
"Maaf, maafkan saya, Tuan," ucapku melangkah mundur menjauhinya.
"Kalau kau ingin aku libur dan menemanimu seharian penuh, memohonlah."
Apa? kenapa aku harus memohon, aku juga sebenarnya tidak sudi melihat wajahmu selama seharian penuh, bisa sakit mataku.
"Kau tidak dengar, memohonlah, cepat!"
"Eh, kalau tuan mau bekerja tidak apa-apa, saya akan di rumah sendirian, saya senang," ucapku dengan raut wajah agak ketakutan.
"Boss," ucap tuan Joe memanggil tuan Arga seakan menyelamatkan nyawaku pagi ini.
"Kau pergilah ke kantor sendiri, Joe, aku tidak jadi pergi hari ini," ujar tuan Arga.
"Ada apa?" raut wajah tuan Joe penasaran.
"Gadis keritingku ini masih belum puas semalaman bersamaku, jadi dia memintaku untuk libur sehari menemaninya," kata tuan Arga sembari melirik ke arahku.
Hah, kau sudah tidak waras ya, siapa juga yang memintamu menemaniku? aku kan tadi hanya bertanya, kenapa bisa jadi seperti ini.
"Tapi hari ini ada pertemuan penting dengan clien, Boss?"
"Kau urus saja itu, semuanya aku serahkan padamu."
"Baiklah, aku berangkat dulu," pamit tuan Joe meninggalkan kami berdua di ruang makan.
...
Dia kemudian memegang tanganku lalu menggandengku menaiki anak tangga, aku hanya diam menurutinya tanpa berbicara, aku bahkan sangat menyesali ucapanku tadi yang membuat laki-laki gila ini jadi mengambil libur kerja seharian penuh.
__ADS_1
"Kau senang aku libur?" tanyanya sambil membuka kembali jas dan kemeja yang sudah terlanjur dia kenakan.
"Tidak!"
"Apa? jadi kau tidak senang aku menemanimu seharian?" ucapnya sambil membuang jas dan kemeja itu ke sembarang arah sambil melotot kearahku.
"Eh, saya senang tuan, saya senang kalau tuan bersedia menemani saya seharian," ujarku sambil memaksakan bibirku agar tersenyum secerah mungkin.
Bagaimana bisa aku keceplosan tadi, hampir saja aku akan di makannya hidup-hidup, mulut ini susah sekali di kontrol.
"Aku sudah berbaik hati libur demi menemanimu, kau malah tidak senang. Dasar, gadis tidak tau terimakasih!" dia melengos membuang muka, berdiri menatap jendela sambil menyandarkan satu tangannya di kaca.
"Maafkan saya, saya sangat senang dan sangat berterimakasih tuan sudah bersedia menemani saya," ucapku memelas agar dia memaafkanku.
Lama-lama aku jijik jika harus memohon dan memelas setiap waktu padanya, salah sedikit saja dia sudah begitu marah, ya Tuhan, merepotkan sekali hidupku.
"Baiklah, aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat."
"Baiklah, apapun syaratnya, Tuan," jawabku pasrah begitu saja agar masalah receh ini cepat selesai.
"Temani aku berenang."
"Ta, tapi,"
"Kau bilang tadi akan melakukan apapun syaratnya, sekarang mau membantah, belum di maafkan sudah pintar membuat kesalahan lagi," tukasnya kesal.
"Ganti pakaianmu, aku menunggu di depan kolam renang, ku beri waktu 5 menit, jika terlambat, aku akan menghukummu!"
"Baik."
Beberapa detik setelah dia melangkah keluar dari pintu kamar, tanpa berpikir panjang aku bergegas masuk ke ruang ganti dan mencari pakaian apa yang bisa aku pakai untuk berenang.
Aku membuka lemari bajuku dan mulai mencari.
Hah, ini semua berisi gaun malam, gaun pesta, lingerie, lalu aku harus pakai apa untuk berenang, masak aku pakai gaun, tidak lucu juga kan?
Sekelebat mata aku melihat sebuah bungkusan plastik bening dengan gambar wanita berenang di sampulnya. Dengan cepat tangan ini meraih bungkusan itu dan segera membukanya.
What? bikini?
Seketika aku melongo, mataku terbelalak melihat penampakan bikini berwarna merah mencolok tanpa motif itu. namun demi menyelamatkan hidupku sebelum dia benar-benar murka karena menungguku terlalu lama, aku menanggalkan semua pakaianku dan menggantinya dengan bikini ini.
Karena aku malu jika berjalan menyusuri rumah menuju kolam renang dengan hanya memakai pakaian menjijikkan seperti ini, aku mengambil handuk berukuran besar dan melilitkannya ditubuhku.
Dari kejauhan aku sudah melihat raut wajahnya yang sudah bosan menungguku, dia duduk di kursi panjang seperti yang berada di pantai-pantai sambil memakai celana pendek selutut berwarna putih.
__ADS_1
"Kau telat beberapa detik!" cetusnya saat aku tiba di depan kolam.
"Maafkan saya, tadi saya bingung mencari pakaian ini," ucapku jujur.
"Lepas handukmu,"
"Kau tidak dengar, lepaskan!" ucapnya mengulang, karena aku hanya diam mematung bingung.
"Sa, saya malu, saya tidak terbiasa memakai pakaian seperti ini," ujarku sambil menunduk lesu.
"Hah, kampungan!" ejeknya.
Seketika dia menarik handuk yang masih membalut tubuhku lalu dengan cepat mendorongku ke kolam, karena gerakannya yang sangat tiba-tiba jadi aku tidak bisa menghindar dan terjun bebas menuju kolam yang penuh dengan air.
Bruuurrrr!!
Aku gelagapan, tanganku bergerak tidak karuan karena memang aku tidak bisa berenang, semakin aku banyak bergerak, tubuhku semakin tenggelam. Aku berusaha tetap bernafas dan mengangkat tubuhku agar tidak jatuh ke dasar kolam.
"Tuan, tolong!" teriakku padanya yang masih santai duduk sambil melihat ponselnya.
"Tolong!"
Mungkin tuan Arga berpikir aku hanya pura-pura.
Tidak menunggu waktu lama, tenagaku seperti hampir habis, beberapa kali aku tidak sengaja meneguk air kolam ini, dan hidungku juga terus kemasukan air. pandanganku kabur, gerakan tanganku yang mencoba meraih pinggiran kolam sudah melemah, aku menyerah dan akhirnya tenggelam ke dasar kolam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...