
Makanan sudah siap sedia memenuhi meja pagi ini, aku duduk berhadapan dengan tuan Arga, sedangkan papa duduk di kursi utama yang biasa di tempati oleh tuan Arga.
"Kapan-kapan, ajak Sabrina berkunjung ke rumah papa, Ga," ucap papa.
"Iya, Pa. Lain kali kalau Arga sedang tidak sibuk," jawab tuan Arga.
"Oh ya, nanti malam papa mengundang keluarga Alan untuk datang makan malam bersama kita," lanjut papa.
"Apa?" Tuan Arga terkejut, menatap papanya dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa? bukankah mereka juga keluarga kita?"
"Tapi, kenapa papa tidak berunding dulu denganku, tidak langsung memutuskan untuk mengundang mereka?"
"Lalu masalahnya apa, Arga. Bukankah hubungan pertemananmu dengan Hana juga baik-baik saja?"
Hana? nona Hana kah yang di maksud oleh papa? apakah keluarga Alan yang di maksud papa adalah keluarga nona Hana?
Aku tidak ingin menanyakan hal ini pada papa ataupun tuan Arga, biarlah nanti aku juga akan tau pada akhirnya. Aku hanya sedikit penasaran, kenapa raut wajah tuan Arga terlihat tidak begitu senang saat papa mengatakan hal itu.
"Aku dan Sabrina akan pergi ke rumah orang tua Sabrina, sepertinya kami tidak bisa ikut makan malam disini," ucap tuan Arga.
"Ada apa? kenapa mendadak sekali?"
"Sabrina rindu keluarganya, Pa."
"Bagaimana jika kita undang saja sekalian untuk makan malam disini, papa juga ingin sekali bertemu dengan besan papa," ujar papa berharap.
"Tidak perlu, kami akan datang mengunjungi mereka saja." Tuan Arga masih berusaha menolak.
Air muka papa seketika berubah, wajahnya terlihat begitu kecewa, dia menghela nafas panjang lalu menatapku, tatapan mata kami bertabrakan. Aku melihat mata itu penuh rasa kekecewaan, sungguh aku tidak tega.
Beberapa menit kemudian papa bangkit, sepertinya nafsu makannya sudah hilang. Entah apa yang saat ini dia rasakan, namun aku juga bingung, kenapa tuan Arga menolak acara makan malam yang diadakan papa.
Sedangkan tuan Arga hanya diam, menatap punggung papanya yang berjalan menjauh, wajahnya ikut lesu, namun tidak berkeinginan menghentikan papanya untuk pergi.
"Pa," ucapku saat kaki kanan papa sudah menapaki anak tangga paling bawah.
"Sabrina tidak jadi pergi ke rumah ayah dan ibu, nanti biarkan mereka yang datang berkunjung kemari," lanjutku.
"Benarkah?" Papa menghentikan langkahnya lalu menoleh menatapku.
"Ya, Sabrina akan menghubungi ayah agar mereka datang malam ini, papa jangan khawatir."
__ADS_1
"Sabrina," ucap tuan Arga pelan.
"Tidak apa-apa," ujarku sambil menatap tuan Arga, aku tau pasti apa yang akan dia katakan.
Akhirnya papa kembali menghampiri kami dan memelukku.
"Terimakasih, Nak." Papa mengelus pucuk kepalaku.
Akhirnya kami melanjutkan sarapan yang sempat tertunda ini. Hanya saja, tumben sekali aku tidak melihat batang hidung tuan Joe sama sekali, biasanya setiap pagi dia selalu datang sarapan bersama kami, entahlah.
Usai sarapan, aku kembali masuk ke dalam kamar, tuan Arga memintaku mengikutinya.
"Benarkah kau tidak apa-apa jika kita tidak berkunjung ke rumah orang tuamu?" tanya tuan Arga duduk di sofa favoritnya sambil menatap ke arah luar jendela.
"Tidak apa-apa. Jika memang papa ingin bertemu orang tuaku, aku akan menghubungi mereka."
"Baiklah, Joe yang akan menjemput mereka, kau hanya perlu mengatakan kalau mereka harus bersiap-siap sebelum Joe tiba."
"Baiklah," jawabku lalu meraih ponsel pintar milikku yang ku letakkan di depan meja rias, aku segera menghubungi ayah dan ibu untuk menyampaikan maksudku.
...
Hari sudah semakin siang, aku bosan jika hanya duduk di kamar, bermain ponsel, guling sana guling sini. Sedangkan tuan Arga juga sedang sibuk berada di ruang kerjanya, meskipun dia tidak datang ke kantor, dia selalu memantau semua pekerjaan karyawannya di rumah.
Akhirnya aku memutuskan untuk ke dapur, ingin membuat minuman favoritku, coklat hangat.
"Aku mau membuat coklat hangat, bisakah kau tunjukkan padaku dimana letak bungkusan coklat itu, aku sudah mencarinya," lanjutku, karena aku bingung harus mencari di bagian mana, terlalu banyak kotak-kotak berisi serbuk minuman dengan berbagai rasa.
"Nona tunggu saja, biarkan pelayan yang akan membuatnya," ujar Salimah tersenyum.
"Baiklah, aku akan menunggu di taman samping biasanya, Ya." Aku beranjak meninggalkan Salimah menuju taman samping.
Aku begitu terkejut, saat taman samping ini di penuhi dengan koleksi bunga-bunga mawar yang cantik, semua tanaman mawar ini bermekaran dengan bunga yang berukuran cukup besar. Aku menghitung semuanya, hampir ada dua puluh pot bunga mawar yang di tata sedemikian rupa, sebagian besar mawar ini berbunga putih, indah.
Aku memetik satu tangkai mawar putih yang ukuran bunganya paling besar, memang bunga mawar putih tidak memiliki bau seharum mawar merah atau merah muda, namun aku sangat suka warna ini.
Siapa yang menanam bunga mawar sebanyak ini? Ah, aku sungguh harus berterimakasih padanya, aku akan semakin betah jika berlama-lama disini.
Apakah tuan Joe yang melakukan semua ini? untuk apa dia repot-repot menanam bunga mawar sebanyak ini? kalau bukan dia, siapa lagi?
Aku terus menebak-nebak, perasaan senang sekaligus penasaran menyelimuti hatiku secara bersamaan, tentu saja aku merasa kalau tuan Joe selalu memberikan perhatian yang berlebihan padaku.
Entah apa tujuannya, namun pikirku, dia berbaik hati padaku karena aku adalah istri dari tuan Arga, yang tidak lain adalah boss-nya. Mungkin begitu.
__ADS_1
"Ah, ternyata nona suka sekali dengan bunga mawar, Ya," ucap Salimah saat melihatku mencium setangkai mawar putih sambil duduk di kursi kayu.
"Ini memang bunga favoritku, Salimah." Aku tersenyum menyambut secangkir coklat hangat yang dia berikan.
"Kenapa kebetulan sekali, tuan Joe membeli satu mobil bak penuh bunga mawar, dan ternyata nona juga menyukai bunga mawar." Salimah ikut duduk di sampingku.
"Apakah tuan Joe yang menanam semua bunga ini?" tanyaku penasaran.
"Ya, saat nona dan tuan Arga pergi berlibur, tuan Joe membelinya, lalu meminta beberapa pelayan membantunya menanam semuanya disini," ujar Salimah.
Dugaanku benar, tuan Joe yang membeli mawar sebanyak ini. Memang hanya dia yang tau bunga favoritku. Lalu untuk apa dia melakukan semua ini?
"Nona," ucap Salimah mengejutkanku.
"Eh, maaf, aku melamun, hehehe."
"Tadi tuan besar berpesan, katanya mau mengajak nona berenang sama tuan Arga juga, setelah ini nona di tunggu di kolam renang belakang."
"Baiklah."
"Saya permisi dulu, Nona." Salimah berdiri lalu pergi membawa nampan kosong meninggalkanku.
Hatiku di penuhi dengan rasa penasaran dengan sikap tuan Joe, apakah tuan Arga juga mengetahui tentang tanaman bunga mawar yang ada di sini?
Entahlah, mungkin hanya tuan Joe dan Tuhan lah yang mengetahui apa tujuan kebaikannya padaku. Aku hanya bersyukur, masih ada orang-orang baik yang memperhatikanku meskipun aku bukanlah orang istimewa di tempat ini.
Setidaknya, ada sedikit beban yang mulai terasa ringan di pundakku.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...