
Ku lanjutkan semua pekerjaanku yang belum tuntas, beberapa menit setelah suamiku pergi ternyata ada seorang client yang datang meminta beberapa design gaun pengantin terbaru.
Wanita cantik dengan rambut hitam legam itu datang bersama asisten pribadinya, seorang gadis yang menurutku masih muda, kira-kira usianya masih di bawahku.
"Mau design yang seperti apa?" tanyaku pada wanita yang mengaku bernama Gladis itu.
"Yang ini, tapi aku mau di rombak bagian pinggang dan ekor gaunnya," ujarnya sambil menunjuk salah satu gambar yang aku tata di hadapannya.
"Bisa, itu mudah." Aku mengangguk setuju.
"Butuh berapa lama menyelesaikan ini?"
"Paling lambat dua minggu."
"Bagaimana kalau minggu depan? aku akan membayar berapapun asalkan gaun ini bisa siap di hari pernikahanku."
"Minggu depan? sepertinya mendadak sekali, Nona. Waktu yang mendesak biasanya membuat pengerjaan kurang maksimal."
"Sebenarnya, aku sudah memesan gaun di butik lain, ternyata hasilnya jauh dari yang aku harapkan. Jadi aku memutuskan datang kesini, aku benar-benar percaya padamu, Nona Sabrina. Tolong," ujarnya dengan mimik wajah memelas.
"Baiklah, tunggu disini sebentar, saya akan membicarakan hal ini pada tim produksi saya."
Aku meninggalkan dua wanita di ruanganku untuk menemui Riani di ruang bawah, berdiskusi singkat dengan beberapa teman sebelum memberi keputusan pada client tersebut.
Semua tim dari seluruh bagian produksi setuju, gaun bisa terselesaikan dalam waktu satu minggu tapi dengan menambah jam kerja lebih lama. Mereka tidak keberatan, lalu aku kembali ke ruangan untuk meng-iyakan tawaran calon pengantin itu.
Setelah semua beres dengan kesepakatan yang sudah di setujui, kedua wanita itu pergi meninggalkan butik. Dan aku segera merombak design gaun pilihannya secepat mungkin agar segera bisa di jahit dan selesai tepat waktu.
Kondisi hatiku yang sedang bahagia dan moodku yang sangat baik, membuat pikiran dan tangan ini sangat lihai bekerjasama menuangkan ide-ide cemerlang yang belum sempat tertorehkan di atas kertas.
Ku lirik jam dinding yang terpampang di atas sofa, waktu hampir menunjukkan pukul tiga. Artinya suamiku akan segera datang menjemput.
Usai menyelesaikan hasil gambar yang sesuai harapan, aku menyerahkannya pada Riani. Semua tim setuju bekerja lembur mulai malam ini, karena gaun yang di garap kali ini lebih detile dan sangat rumit, untung saja stok kain yang sesuai masih menumpuk di gudang, jadi kami tidak perlu lagi membelinya.
Usai menjelaskan semua pola gambar dan detile yang bisa di selesaikan malam ini kepada teman-teman, aku mendengar suara mobil berhenti tepat di depan butik.
Ku lihat laki-laki tampan keluar dari mobil ferari hitam keluaran terbaru, bang Bimo mengangguk hormat sambil membuka pintu untuknya.
"Sayang," sapanya langsung merangkul pinggangku, ia mendaratkan kecupan di pipi kiriku.
Tidak sadarkah ia bahwa banyak pasang mata sedang berada dalam satu ruangan dengan kami. Laki-laki ini sudah kehilangan urat malunya.
Hening, semua orang di ruangan ini tidak ada yang bergerak bahkan berbisik. Mereka hanya diam di tempat, sesekali hanya melirik karena penasaran dengan tingkah suamiku yang tidak tau malu ini.
"Kita pulang sekarang?" tanyaku sambil meraih tangan yang melingkar di pinggang, kini aku menggenggamnya agar tak bergerilya semaunya.
"Tentu saja, aku sudah tidak sabar," ujarnya sedikit berbisik, ia mengerlingkan sebelah mata.
Dasar, genit!
"Aku ambil tas dulu, Honey. Tunggu sebentar." Sedikit berlari aku manaiki tangga lalu mengambil tas dan beberapa barang yang penting, kemudian kembali mengunci ruanganku dengan hanya mengaktifkan tombol lock yang tertera di layar monitor kecil.
__ADS_1
Canggih, aku benar-benar suka tempat ini.
"Sudah siap?" Dia mengulurkan tangannya menyambutku di bawah anak tangga.
"Ayo," ujarku tersenyum meraihnya.
...
Malam ini kami memutuskan untuk makan malam di kamar, tidak ada acara apapun atau merayakan apapun. Kami hanya ingin menikmati suasana yang berbeda.
Suasana romantis yang di hidangkan membuatku seolah-olah sedang dinner di resto istimewa, lampu kamar di matikan, hanya lilin-lilin kecil yang di hias melingkar mengelilingi kami sebagai penerangan.
Sayup-sayup suara musik mengiringi dentingan sendok dan piring yang saling beradu, sesekali aku melirik laki-laki tampan di hadapanku.
Cahaya yang remang-remang bahkan tidak menyurutkan kadar ketampananmu, Honey. Kau bahkan terlihat lebih aduhai jika di perhatikan.
Kami makan dengan berbincang hangat, membicarakan kesibukanku di butik hari ini, pertemuan dengan client dan meminta persetujuan untuk mengundang teman-temanku makan bersama di rumah ini.
"Tentu saja boleh, Sayang. Kau bisa bersenang-senang dengan temanmu, aku tidak melarang," jawabnya santai.
"Jadi, mereka boleh datang?"
"Ya, pelayan akan memasak untuk kalian. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat? apa?"
"Teman laki-laki harus berjarak minimal 2 meter darimu. Kau tau, semua ruangan ini di lengkapi dengan CCTV, aku bisa mengetahui semua kegiatan kalian," ujarnya penuh ancaman.
"Hmm, baiklah." Tidak apa-apa dengan syarat yang konyol seperti itu, yang penting mendapatkan izin darinya saja sudah cukup membuatku senang.
Suara musik romantis mengiringi kemesraan kami, ia duduk berjongkok di hadapanku sambil mengulurkan tangan kanannya.
Ku sambut ia dengan senyum, lalu berdiri sejajar dengannya. Kedua tangannya kini di letakkan di pinggangku, sedangkan aku mengalungkan tanganku di lehernya. Kami bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti irama lagu yang syahdu.
"Kau sangat cantik malam ini," ujarnya tersenyum simpul.
"Benarkah?"
"Kau cantik setiap saat, hanya saja, malam ini kau terlihat berbeda ,Sayang."
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu
__ADS_1
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Bila di depan nanti
Banyak cobaan untuk kisah cinta.
(Teman hidup by Tulus)
Irama lagu seolah membuat kami terlena hingga saling mendekap dan berdansa, beberapa kali bibir saling menempel dengan mata terpejam, merasakan madu pernikahan yang kami mimpikan.
"Aku mencintaimu," bisiknya di telingaku, sudah ratusan kali ia mengatakannya, namun masih mampu membuat jantungku melompat-lompat.
Seumur hidup, ini adalah pertama kalinya aku mendapatkan hal seromantis ini, makan malam dengan sasana remang, berdansa berdua menikmati alunan lagu yang indah.
Mata itu seolah tidak pernah lepas menatap wajahku, kami saling memandang, memberi isyarat bahwa cinta yang kami berikan adalah nyata.
Teruslah mencintaiku seperti ini, jadikan aku pengisi jiwamu yang kosong. Jadikan hidupku lebih indah dengan kehadiranmu. Aku tau, Tuhan tidak pernah salah memilihkan dirimu sebagai pendamping hidupku.
Masih dengan lagu yang sama, kini laki-laki itu menggiring tubuhku mendekati sofa. Ia merebahkanku secara hati-hati di sana.
Kecupan bibir itu semakin memanas, aku bisa merasakan keinginannya yang menggelora, bahkan debar jantungnya terdengar nyaring di telinga.
Kami menautkan jemari satu sama lain, menggenggam dengan erat lalu merapatkan tubuh sampai meniadakan jarak.
Suhu tubuhku semakin memanas, menandakan aku semakin siap ke tahap selanjutnya. Dengan lembut, ia membuka gaun selutut berkain sifon tipis menerawang milikku, lalu melepaskan semua kain yang menempel hingga semuanya terlihat sempurna.
Dengan nafas memburu, kami seperti sedang beradu kekuatan, tidak ada pemenang di antara kami, semua mendapat keuntungan dan kenikmatan yang sama.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...