TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Mengunjungi mama mertua


__ADS_3

Alarm bergetar di bawah bantal membuatku terbangun lebih dulu daripada tuan Arga, dia masih tertidur pulang dengan memelukku, lengan kekarnya yang melingkar di perutku terkadang membuat aku kesulitan bernafas, namun aku selalu membiarkannya, terkadang hanya menggesernya sedikit atau mengangkatnya untuk beberapa detik lalu meletakkannya kembali di atas perutku, aku tidak ingin mengganggu tidurnya yang nyenyak.


Selama hampir satu minggu ini, tuan Arga sudah bersikap jauh lebih baik, dia tidak lagi mudah cemas dan panik, dia tidak keberatan jika aku meninggalkannya mandi dengan waktu cukup lama, sekarang sikapnya mulai membaik, semoga ini adalah suatu keajaiban.


Setiap kali dia mulai panik karena aku pergi terlalu lama, perasaan bersalah langsung menyelimuti hatiku, sungguh tindakan yang sangat bodoh untuk meninggalkannya saat itu.


Ku lirik jam dinding yang berdenting, menunjukkan pukul lima tepat, ku geser tubuhku sedikit menjauh dari tuan Arga, berharap aku bisa melepaskan diri tanpa membangunkannya.


"Ini terlalu pagi untuk kau bangun, Sayang. Kembalilah tidur," ujarnya dengan mata terpejam.


"Ini sudah pukul lima pagi, Honey. Aku tidak enak jika bangun siang di rumah mertuaku."


"Memangnya kau mau melakukan apa? masak? nyuci? ngepel?"


"Hmm, setidaknya aku sudah rapi dari pagi. Lagipula aku akan menemani papa berkunjung ke makam, aku harus bersiap-siap."


"Kau mau ke makam pagi-pagi buta begini?"


"Nanti lah, kata papa berangkat sekitar jam depan."


"Oke, kau masih punya waktu dua jam lagi menemaniku, lalu satu jam sebelum berangkat untuk bersiap-siap," lanjutnya.


"Tidak, kita harus turun jam tujuh untuk sarapan."


"Hari ini kita akan sarapan di kamar, tidak akan ada orang lain yang berkeliaran di rumah ini, termasuk kamu."


"Memangnya kenapa?"


"Jangan banyak bertanya, sekarang kembalilah tidur."


"Aku tidak mau!"


"Jika kau tidak mau tidur, aku akan menjadikanmu sarapanku terlebih dahulu, cepat tidur. Atau kau lebih memilih ku santap pagi ini?" ancamnya.


"Baiklah, aku tidur. Dasar, sedikit-sedikit mengancam."


...


Aku kembali terbangun saat mendengar ketukan pintu dari arah luar, aku yang hanya memakai lingerie kini mencari selimut untuk menutupi tubuhku agar orang yang berada di luar tidak melihatku dengan pakaian tidak sopan seperti ini.


"Ya, ada apa?" tanyaku sambil mengeluarkan kepalaku saja untuk mengintip siapa yang datang.


"Ini sarapan paginya, Nona muda. Silahkan di nikmati, tuan Besar akan menunggu nona pukul delapan tepat, di harapkan jangan terlambat, ya," ujar laki-laki yang aku ketahui sebagai pelayan itu.


"Baik, terimakasih, Pak."

__ADS_1


Laki-laki itu pergi, meninggalkan meja dorong yang sudah terisi penuh dengan berbagai menu sarapan untukku dan tuan Arga, juga tersedia dua cangkir coklat yang masih terlihat panas.


Dengan sebelah tangan memegang selimut agar tidak jatuh, satu tangan yang lain aku gunakan untuk mendorong meja memasukuki kamar. Kini tuan Arga sudah membuka matanya dan menggeliat.


"Sarapan, Honey," sapaku padanya. Ku dorong meja sampai dekat dengan tempat tidur, lalu bergegas menghampiri bayi besar ku yang baru saja terbangun. Ku cium keningnya lembut lalu membelai rambutnya.


"Aku akan mandi sebentar, setelah itu kita sarapan," ujarku.


"Aku ikut mandi bersamamu," pintanya.


"Tidak, aku hanya sebentar, jika kita mandi bersama, aku tidak akan sempat sarapan dan akan terlambat pergi," ujarku tegas. Aku sangat mengenal tuan Arga, jika sudah mandi berdua, akan ada banyak hal yang terjadi di luar perkiraan.


"Kau jahat sekali, Sayang." Wajahnya memelas, kini laki-laki itu tampak kesal lalu kembali menutup wajahnya dengan selimut.


Aku tidak memperdulikannya lagi, melanjutkan langkah kakiku meraih handuk yang tergantung di dekat kamar mandi lalu masuk ke dalamnya


Udara disini sangat dingin, jika tidak menyalakan shower air hangat, maka air yang tersedia di bak mandi juga rasanya seperti air es, sehingga membuat siapapun yang menyentuh air itu akan enggan berlama-lama di sana. Aku adalah yang paling anti dengan cuaca yang terlalu dingin, karena aku pernah memiliki riwayat alergi dingin, itu membuatku mudah flu dan kadang gatal-gatal di beberapa titik are tubuhku.


Meskipun sudah mandi dengan air hangat dari guyuran shower, tapi sesaat setelah showe di matikan tubuhku semakin merasa dingin.


Usai mandi dengan kecepatan kilat, aku segera keluar dengan hanya memakai handuk, karena aku lupa tidak sekalian membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi.


Tubuhku menggigil karena terkena udara yang masuk dari sela-sela jendela kayu di dekat tempat tidur, bibirku seperti bergetar, tanganku juga ikut gemetar.


"Kau sepertinya sangat kedinginan, Honey." Tuan Arga mendekatiku, kini selimut yang awalnya ia pakai saat tidur beralih membalut tubuhku. Dia menuntunku menuju tempat tidur.


"Sebentar, akan ku ambilkan baju ganti untukmu."


Tuan Arga bergegas membuka lemari, dia memilih dan memilah pakaian yang akan aku pakai setelah ini.


"Pakai ini saja," ujarnya menyodorkan gaun hitam yang panjangnya di bawah lutut, dia juga membawa sebuah jaket putih miliknya.


"Pakai jaket ini sekalian, udara di sini memang sangat dingin. Makanya aku enggan mandi terlalu pagi, kau nekat sekali."


Setelah itu aku memakai gaun yang sudah di siapkan tuan Arga, lalu melapisinya dengan jaket yang ukurannya jauh lebih besar dari yang seharusnya, ini adalah jaket milik tuan Arga, jika ku pakai, rasanya seperti memakai mantel salju.


Usai sarapan, aku berdandan sedikit agar terlihat lebih cantik.


"Kau berdandan seperti itu mau ke pesta?" tanya tuan Arga.


"Aku mau menemani papa, memangnya apa yang salah?"


"Jika kau terlihat cantik seperti itu, nanti orang lain pikir papaku sedang kasmaran dengan gadis perawan. Kau mau mereka berpikir kalau dirimu itu simpanan kakek-kakek?" ujarnya meledek.


"Ah, aku mana peduli dengan omongan orang," ujarku tidak peduli.

__ADS_1


"Aku cemburu."


"Kau cemburu? cemburu dengan papamu sendiri, Honey?" Aku tidak bisa menahan tawa mendengar kejujurannya.


"Aku cemburu melihatmu dengan siapapun, termasuk papa. Apalagi dengan supir sok ketampanan itu," lanjutnya dengan wajah di tekuk.


"Sudah-sudah, ini sudah hampir jam delapan. Aku tidak mau terlambat, aku akan menunggu papa di ruang tamu."


"Hati-hati di jalan, jangan terlalu lama. Jika sudah selesai, segeralah pulang, aku tidak akan bertahan jika jauh darimu," ujar tuan Arga memelukku, dia mendaratkan ciuman di bibirku dengan lembut.


"Maka ikutlah denganku, kita tidak akan terpisah."


"Tidak untuk kali ini, tolong jangan memaksa. Pergilah."


"Hmm, baiklah, Honey."


Aku meninggalkannya di dalam kamar sendirian, kini aku menuju ruang tamu sebelum papa datang lebih dulu, aku merasa tidak enak jika membuatnya menunggu.


Setelah sampai di tempat yang aku tuju, ku lihat beberapa pelayan sedang merangkai bunga lily putih dengan bentuk hati yang berukuran besar, bingkainya menggunakan mawar merah yang merekah sempurna.


Tidak lama kemudian papa turun dari anak tangga, laki-laki paruh baya itu memakai jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya, ia sangat terlihat rapi dan modis, meski usianya tidak lagi muda, tapi ia tetap terlihat menawan, sama seperti putranya.


"Kau sudah siap, Nak?" tanya papa menyapaku.


"Sudah, Pa. Maafkan Sabrina, tuan Arga ...."


"Tidak apa-apa, papa sudah tau. Terimakasih sudah berusaha, Nak. Ayo berangkat," ajak papa, ia menepuk bahuku pelan. Wajahnya terlihat sangat segar dan bersemangat, aku menyadari bahwa yang akan kami kunjungi ini adalah penyemangat hidup papa. Meski raganya tak lagi bernyawa, tapi cinta kasih untuknya masih mengalir deras dari papa mertuaku ini, betapa beruntungnya.


Saat kakiku melangkah menuju pintu utama, aku menangkap sosok tuan Arga berdiri di ujung tangga, nampaknya dia sedang memperhatikan kami.


Entah apa yang sebenarnya terjadi padamu tuan, aku tau jauh di dasar hatimu ingin ikut bersamaku mengunjungi mamamu, tapi kau tetap kalah melawan egomu.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


Tinggalkan like dan komentar jika ingin Author terus update, semakin pelit like dan komentar, Author semakin nggak semangat nulis, hiks.


__ADS_2