
"Kau sudah membaik?" tanya tuan Arga saat memasuki kamar sambil membawa nampan berisi semangkok mie di tangannya.
"Ya, saya sudah sehat, Tuan."
"Ayo makan." Dia lalu duduk di sampingku.
"Saya bisa makan sendiri, saya sehat," ucapku meraih mangkok di tangannya.
"Tidak, aku akan menyuapimu."
"Tidak perlu, Tuan, saya bisa sendiri." Aku berusaha menolak, karena aku memang sudah merasa sangat sehat. Rasa sakit kepala, pusing, dan badan yang bergemetar hebat tadi sudah sirna tak bersisa.
"Baiklah, hati-hati, ini panas," ucap tuan Arga sambil menyodorkan mangkok mie itu padaku.
Aku lalu melahapnya dengan sangat rakus, perutku sudah meronta-ronta menahan lapar dari satu jam yang lalu, aku tidak tau mengapa harus repot-repot membuat mie secara homemade, sedangkan diluar sana berjuta-juta jenis mie instan di pasarkan.
"Kau ini, lapar apa doyan?" tanya tuan Arga menatapku.
"Keduanya."
"Enak?"
"Apa tuan mau mencobanya, ini enak sekali, Tuan."
"Tidak, aku sudah bosan makan mie."
"Tuan tidak suka makan mie instan?" tanyaku sambil menyendok mie.
"Itu bukan makanan sehat, itu sumber penyakit. Aku melarang semua koki di rumah ini memasak sesuatu yang berbau instan."
"Aku tau, tapi mie buatan sendiri ini juga sangat enak, lebih enak dari mie instan."
"Tentu saja, masakan koki di rumah ini tidak pernah mengecewakan."
"Hmm." Aku menghabiskan mie di hadapanku hanya dalam hitungan menit.
"Joe akan menjemput ayah dan ibumu tepat pukul lima sore, perjalanan bolak balik dari sini ke sana memakan waktu hampir dua jam, jadi suruh orang tuamu bersiap-siap pukul enam tepat, karena keluarga Hana akan datang pukul tujuh."
"Baiklah, apakah tuan sudah makan siang?" tanyaku sok perhatian.
"Sudah, aku makan siang sama papa. Aku ada urusan sebentar, kau jangan kemana-mana."
Aku mengangguk, menatap punggung laki-laki itu sampai tak terlihat. Aku segera mencari benda pipih yang tadi ku letakkan di bawah bantal, untuk memberi kabar pada ayah dan ibuku.
__ADS_1
Tentu saja kedua orang tuaku sangat senang mendengar kabar bahwa mereka di undang oleh papa dari tuan Arga, papa mertuaku itu sudah di kenal oleh semua pebisnis di penjuru Negri, sangat terhormat jika bisa berjumpa langsung dengan pensiunan orang yang pernah menjadi pengusaha terkaya nomor satu di Negara ini.
...
Hari sudah menjelang malam, aku berdandan sangat cantik malam ini, aku tidak mau kalah dari nona Hana, aku tidak mau menjadi wanita yang harga dirinya di injak-injak oleh sesama wanita.
Aku memutuskan memakai gaun berwarna hitam panjang tanpa lengan, serasi dengan tuksedo hitam yang di kenakan tuan Arga malam ini, sengaja aku memilih warna yang sama, karena aku ingin menunjukkan kalau kami memang serasi, meskipun dalam hati kecilku aku tidak terlalu yakin.
Tuan Arga terlihat sangat tampan dengan tuksedo yang ia kenakan, dasi kupu-kupu itu menambah kesan modis. Dari sisi manapun, laki-laki itu memang sangat memukau, menyilaukan, tidak ada celah untuk melihat kekurangannya. Mungkin hanya aku saja, wanita yang sama sekali tidak merasakan getaran cinta padanya, hanya rasa kagun berlebih yang aku rasakan.
"Nona, ayah dan ibu nona sudah tiba di ruang tamu," ucap Salimah di depan pintu.
"Baiklah, aku akan segera turun."
Usai berlama-lama menatap diriku sendiri di depan cermin, aku beranjak bangkit dari kursi untuk segera menemui ayah dan ibuku, namun tuan Arga meraih lenganku dan memelukku dengan mesra. Aku tau, dia sudah memperhatikanku sejak tadi dari sofa favoritnya.
"Kau cantik," ucapnya lembut, lalu mencium bibirku kilas.
"Terimakasih, kau sangat tampan, Tuan." Aku tersenyum manis, mengungkapkan kekagumanku dengan jujur.
"Aku memang sudah tampan dari sananya, kau baru sadar?"
"Sudahlah, saya ingin segera bertemu dengan ayah dan ibu saya, Tuan." Aku mencoba menghindari perdebatan seperti ini, sudah tidak terelakkan lagi kalau dia memang tampan, aku tidak perlu mengakuinya berkali-kali.
Ah, lucu sekali. Bahkan kami seperti pasangan-pasangan yang menghadiri pesta dansa seperti pada drama-drama korea yang sering ku tonton saat masih SMA.
Kami menuruni anak tangga dengan bergandengan mesra, semua mata tertuju pada kami, tak terkecuali nona Hana yang sudah berdiri disana.
Aku berjalan di gandeng oleh tuan Arga di hadapan semua orang. Ayah dan ibuku terlihat begitu bahagia menatap kami, papa juga begitu. Papa dan mama nona Hana juga terlihat mengagumi kemesraan kami.
Tuan joe bersebelahan dengan ayah dan papa mertuaku, Dia hanya berdiri tak bergeming, menatapku dengan pandangan yang sungguh aku sendiri tak bisa menjelaskan.
Hanya nona Hana yang memasang muka masam dan pandangan tidak suka padaku, nona Hana malam ini tampil begitu cantik, dia mengenakan gaun merah berbahan licin, gaun ketat itu membalut tubuh rampingnya dengan sangat sempurna, belahan dada yang rendah seperti sengaja memamerkan gundukan dua gunung kembarnya yang putih dan mulus.
Ah, aku bahkan sangat iri dengan penampilannya yang spektakuler malam ini, andai saja aku bisa memiliki tubuh seramping nona Hana, aku pasti akan lebih menarik bagi tuan Arga.
Apa-apaan ini, kenapa bisa-bisanya aku berpikir untuk menarik perhatian tuan Arga. Tidak sudi!
Aku mencoba mengusir ide jahatku, lalu menyapa semua orang di ruang tamu yang sudah menungguku dan tuan Arga.
Dengan senyuman termanisnya, tuan Arga menyapa semua orang sambil mengangguk hormat, aku mengikutinya.
"Pasangan yang sangat serasi, papa bangga pada kalian," ucap papa tersenyum cerah menatapku.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum menanggapinya, lalu berhambur memeluk ibu.
"Ayah, ibu, Saa rindu kalian." Aku tidak tahan rasanya membendung air mata ini, rindu yang sudah menggunung, kini tumpah begitu saja.
"Jangan menangis anak cantik ibu," ucap ibu sambil menciumi kedua pipiku. Sedangkan tangan lembut ayah mengusap rambutku.
"Mari kita makan malam dulu, silahkan," ujar papa mempersilahkan kami semua memasuki ruang makan.
"Nanti Sabrina dan kedua orang tuanya bisa mengobrol lebih banyak kalau perut sudah kenyang," lanjut papa sambil tertawa kecil.
Aku melepaskan pelukan ibu dan menggandengnya menuju meja makan, bahkan aku tidak rela melepaskan tangan lembut yang puluhan tahun sudah memelukku dengan hangat setiap hari.
Kami semua duduk mengelilingi meja makan, malam ini meja makan menjadi penuh. Berbagai hidangan makanan di siapkan oleh para koki andalan rumah ini, keluarga tuan Arga memang sangat pandai dalam menjamu tamu.
Di sela-sela acara makan malam, terjadi obrolan hangat antara ayahku dan papa mertuaku, sesekali tuan Joe dan tuan Arga menimpalinya, begitu pula dengan paman Alan, papa dari nona Hana.
Paman Alan terlihat sangat ramah, sopan dan baik, begitu pula dengan istrinya, dia begitu murah senyum. Sangat berbanding terbalik dengan nona Hana. Malam ini penampilan cantiknya tidak di dukung dengan sikap yang manis, dia terus menampakkan wajah tidak suka dan marah padaku.
"Sabrina, tolong ambilkan apel," pinta tuan Arga lembut padaku. Aku segera meraih potongan buah apel yang letaknya agak jauh, sehingga aku butuh sedikit berdiri untuk meraihnya.
"Ini, suamiku," ucapku mesra dengan suara yang sedikit di buat-buat. Aku sengaja melakukannya, agar mak lampir di sebelah sana semakin terbakar hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1