
Perasaanku campur aduk selagi dokter melakukan pemeriksaan padaku, tensiku memang masih rendah, di tambah keluhan pusing, mual, muntah dan lemas yang tidak berkesudahan. Awalnya aku berpikir sakit yang bukan-bukan.
Badan terasa sangat ringan, saat berjalan, kakiku serasa tidak menyentuh tanah. Namun kepala terasa terus berputar-putar hingga aku sering hampir terjatuh saat berjalan sendirian.
"Ku bawakan alat tes kehamilan untukmu, Nona," ujar dokter Daren sambil menyerahkan satu bungkus benda pipih ke arahku.
"Silahkan di tes sekarang," perintahnya. Aku mengangguk.
Dengan langkah perlahan sambil di tuntun oleh suamiku, aku masuk ke dalam kamar mandi dan menampung sedikit air seni ku di dalam wadah kecil yang sudah di sediakan satu paket dengan alat ini.
Aku mencelupkan ujung alat tersebut, ritme jantungku semakin tak beraturan, harap-harap cemas. Menunggu satu menit saja terasa sangat lama, ku pandangi alat itu yang baru menampakkan satu garis merah, aku semakin gugup.
Di depan pintu kamar mandi, suamiku sudah berteriak-teriak menyuruhku keluar dan menanyakan hasilnya, padahal aku sendiri masih menunggu.
Kegugupan semakin berlanjut saat garis kedua mulai muncul samar-samar, aku deg-degan. Jika badan tak selemas ini, mungkin aku sudah lompat-lompat kegirangan.
Aku mengambil alat itu dan kembali mencuci wadah yang ku pakai menampung air seni. Tanganku bergetar memegang alat tes kehamilan dengan dua garis merah, meskipun yang satu masih terlihat samar.
"Aku, hamil," ujarku lirih, ku lihat laki-laki yang sedari tadi menunggu di depan pintu kamar mandi itu tampak begitu histeris beradegan lompat-lompat sambil mengepalkan kedua tangannya naik turun
"Goal .... Yes .... Yes .... Goal ...." Teriaknya berulang kali.
"Honey, malu di lihat dokter Daren," ujarku sedikit berbisik. Tidak ku sangka, reaksinya akan lebih heboh dari yang aku bayangkan, dia seperti sedang merayakan club bola favoritnya menang telak.
Dengan nafas ngos-ngosan dan keringat bercucuran, ia menggenggam kedua tanganku tanpa berkata-kata, ia memelukku erat sambil mengontrol nafasnya yang naik turun.
"Sayang ...."
"Terimakasih, terimakasih," ujarnya lirih, ia menatap kedua mataku dalam, aku melihat kebahagiaan luar biasa terpancar dari kedua netra coklatnya. Ciuman bertubi-tubi ia daratkan di seluruh permukaan wajahku, tidak ada sejengkal pun yang terlewatkan.
Aku tersenyum menatapnya, lalu berjalan pelan menghampiri dokter Daren yang masih duduk di tepi kasur sambil geleng-geleng kepala, ia pasti terkejut melihat reaksi suamiku yang begitu heboh. Aku sendiri baru pertama kalinya melihat suamiku yang terkenal cuek bebek dan dingin itu bersikap layaknya anak kecil.
"Jika kau menuruti semua nasehatku, maka tidak ada hasil yang menghianati usaha," ujar dokter Daren, ia meminta alat tes itu kembali.
"Kau positif, Nona. Selamat."
"Dan kau, Arga Selamat, kesabaranmu akan segera di uji, aku akan dengan senang hati menunggumu menceritakan kisahmu sembilan bulan kedepan," ujar dokter tersenyum miring.
Suamiku yang baru saja tertimpa durian runtuh itu, tidak peduli lagi dengan apa yang di katakan dokter Daren, ia hanya fokus melihatku dan sesekali mengelus perutku yang masih benar-benar rata.
"Ku bawakan vitamin untukmu, Nona. Mulai hari ini sebaiknya kau konsumsi susu khusus ibu hamil, untuk mual dan muntah memang sudah bawaan bayi, aku berikan obat pereda untuk mual muntahnya, tapi jangan di minum jika sudah membaik."
"Tapi, sampai kapan mual muntah ini berlangsung, Dok?"
"Biasanya hanya di trimester pertama, semoga di trimester kedua keadaanmu semakin membaik."
"Dua minggu lagi, datanglah ke rumah sakit. Kita akan melakukan pemeriksaan melalui USG, agar lebih jelas hasilnya."
"Makan saja apapun yang bisa di terima oleh perutmu, asal jangan berlebihan. Perbanyak istirahat dan rutin minum vitamin," lanjutnya.
"Terimakasih sudah datang, Ren," ujar suamiku.
"Sama-sama, Ga. Jika beberapa hari kedepan keadaan istrimu semakin lemas dan tidak bisa menerima makanan sama sekali, terpaksa harus di rawat inap, guna mempertahankan kondisi kesehatannya, karena itu juga akan berakibat pada janin dalam kandungannya."
"Di masa-masa awal kehamilan seperti ini resiko keguguran juga semakin tinggi, makanya kau harus siaga dengan apapun kondisi istrimu, jangan lengah."
__ADS_1
"Baiklah, Ren. Sekali lagi, terimakasih banyak."
"Oke, aku akan kembali ke rumah sakit. Hubungi aku kapanpun jika terjadi sesuatu," ujar dokter.
"Aku tidak akan mengantarmu, kau pasti sudah tau pintu keluarnya kan?" ucap suamiku meringis.
"Ah, tidak apa-apa, aku tau kau sedang berbunga-bunga. Nikmati kebahagiaan kalian, aku pamit."
Selepas dokter Daren pergi, dengan begitu antusias suamiku membereskan semua obat-obatan yang di berikan oleh dokter.
"Kau ingin makan siang apa, Sayang?" tanya suamiku.
"Aku masih merasa mual, Honey. Aku tidak ingin makan apa-apa," jawabku.
"Tapi kau harus makan sesuatu, jika tidak, tubuhmu akan terus lemas seperti ini," ujarnya tampak khawatir.
"Tapi ...."
"Katakan, coba makan apa saja yang kamu mau, setidaknya pasti ada satu jenis makanan yang bisa di terima perutmu, Sayang."
Aku menghela nafas panjang, sejauh ini, aku sangat terganggu dengan aroma makanan yang menyengat dan rasa yang kuat, sepertinya aku butuh sesuatu yang tidak beraroma dan tidak memiliki rasa yang berlebihan.
"Maukah kau membelikan aku roti tawar, Honey?"
"Roti tawar? di rumah ini selalu punya persediaan barang itu. Sebentar, akan ku tanyakan Salimah." Suamiku beranjak dari sisi kasur dan keluar kamar.
Beberapa menit kemudian dia kembali dengan satu bungkus roti tawar yang belum terbuka, dan juga membawa segelas teh hangat.
"Green tea, minumlah. Semoga bisa menghangatkan perutmu." Dia memintaku meminum langsung dari gelas yang masih ia pegang. Ku cicipi perlahan, sangat terasa minuman itu mengalir menuju kerongkonganku.
Dia mengambil satu lembar roti tawar dan menyerahkannya padaku, aku mencoba menggigit ujungnya dan mengunyah secara perlahan.
"Mau di tambahkan selai? kalau mau akan aku ambilkan," tawarnya, aku menggeleng.
Bisa menelan satu lembar roti tawar saja sudah cukup untuk menambah energi di tubuhku. Aku sedang tidak ingin makan yang enak-enak apalagi yang macam-macam. Apapun akan aku makan jika perutku menerimanya.
"Jangan merepotkan mamamu, Sayang. Atau kau akan berurusan denganku nanti," bisik suamiku sambil mengusap lembut perutku.
Ku tepis tangannya kasar sambil meliriknya tajam. "Jangan bicara seperti itu, Honey. Belum lahir saja kau sudah berani mengancamnya," gerutuku kesal.
"Baik, tapi berjanjilah, kau akan kuat menghadapi semua ini, Sayang."
Ku elus tangannya sambil mengangguk, jangankan hanya soal menahan lapar dan tubuh yang sempoyongan, aku akan melakukan apapun demi membawa malaikat kecil ini lahir ke dunia bahkan dengan mempertaruhkan nyawa sekalipun.
Usai menghabiskan selembar roti tawar dan seperempat gelas green tea, aku langsung minum vitamin dan obat-obatan yang di berikan oleh dokter Daren, lalu memejamkan mata sebentar menikmati tidur siang bersamanya.
...
Malam harinya, tubuhku terasa membaik, meski belum benar-benar pulih, namun kepala terasa sedikit ringan.
Aku sengaja tidak ikut makan malam bersama, lebih memilih menunggu suamiku di dalam kamar, sepertinya tuan Joe malam ini datang menemaninya makan dan menyelesaikan beberapa urusan.
"Sayang, aku ada urusan sebentar dengan Joe di ruang kerja. Sebaiknya jangan menungguku, kau bisa istirahat lebih dulu," ujarnya setelah usai makan dan kembali ke kamar.
"Aku akan menunggumu."
__ADS_1
"Jangan, sepertinya aku akan lama."
"Tapi ...."
"Baiklah, aku akan menyelesaikannya dengan cepat dan kembali kesini sesegera mungkin," ujarnya tersenyum, lalu mencium keningku sekilas.
Aku memang tidak bisa jauh darinya, meskipun terkadang dia begitu menyebalkan dan membuatku kesal, namun satu menit saja tidak melihat wajahnya atau mendengar suaranya, aku seperti kehilangan oksigen untuk bernafas.
Satu jam, dua jam, laki-laki itu masih belum kembali ke kamar, aku yang sudah lama membaringkan tubuh dibatas kasur rasanya belum ingin terlelap, ku putuskan untuk menyusulnya ke ruang kerja, atau menunggunya di ruang tengah.
Ku langkahkan kakiku perlahan keluar kamar, ku dapati dua sosok laki-laki tampan itu berjalan ke arahku.
"Mau kemana?" tanya suamiku.
"Menyusulmu, kau lama sekali." Aku cemberut.
"Ini baru saja selesai, Sayang. Baru juga dua jam."
"Dua jam, dua jam. Dua jam itu lama!"
"Maafkan aku mengganggu malam kalian, Nona. Tapi ada suatu hal penting yang harus di selesaikan boss malam ini," ujar tuan Joe menimpali.
"Tapi sudah selesai kok. Oh ya, selamat atas kehamilanmu, aku turut bahagia," lanjutnya tersenyum ramah.
"Kau sudah memberi kabar bahagia ini pada Claire?" Dia bertanya.
"Belum," jawabku singkat.
Jangankan memberitahu Claire, aku sendiri baru tau hal ini beberapa jam yang lalu, belum seorangpun yang tau mengenai kabar kehamilanku ini, bahkan papa mertua dan kedua orang tuaku.
"Ya sudah, aku pamit dulu. Selamat beristirahat," ucapnya sambil berlalu pergi, ia menenteng tas hitam kesayangannya yang pasti berisi dokumen dan laptop miliknya.
"Ayo masuk, aku temani kau tidur," ujar suamiku, dengan gerakan tiba-tiba ia menggendong tubuhku di depan dadanya.
Aku tidak memberontak sama sekali, hanya mengalungkan kedua tanganku di lehernya, menatap wajah suamiku terkasih yang sedang bahagia.
Terimakasih atas semua kebahagiaan ini, Tuhan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1