
Semakin hari putri kecilku yang telah di lahirkan Sabrina semakin menggemaskan, dia sudah bisa merangkak kesana dan kemari membuat mamanya kuwalahan dan harus waspada jika bayi kecil kami mulai bertingkah, kini usianya sudah 8 bulan lebih, semakin aktif dan energik.
Jika sebelumnya aku memiliki rahasia besar tentang perbuatan tidak senonoh adiknya kepadaku, sekarang rahasia yang lebih besar dan lebih mengejutkan sudah ku ketahui tentang asal usul keluarga dan dirinya.
Bagaimana mungkin aku tega mengatakan hal yang sesungguhnya pada dia, sedangkan dirinya adalah seorang anak yang begitu berbakti kepada kedua orang tuanya.
"Kau sudah mengatakannya, Boss?" tanya Joe, rapat para pimpinan perusahaan sudah usai, namun pikiranku sudah melayang kemana-mana.
"Tentang kebenaran keluarga Sabrina?"
"Ya, sebelum semuanya terlambat," Joe mengendikkan sebelah bahu.
Aku tau semuanya memang tidak akan mudah, jika aku mengatakan rahasia keluarga ini pada Sabrina, tidak dapat di pungkiri bahwa wanitaku itu akan terpukul dan terpuruk atas semua ini.
"Bagaiman jika membiarkan kedua orang tuanya saja yang mengungkap kebenaran ini, Joe?" tanyaku mencari pendapat lain.
"Menurutku, tidak. Semakin lama rahasia ini di tutupi, maka kau sendiri yang akan ikut masuk ke dalam masalah ini, Boss."
"Tapi bagaiman aku mengatakannya, Joe?"
"Entahlah, katakan selembut mungkin, buat dia paham."
Aku mengetuk pelan meja dengan ujung jari, mencari ide dan kata-kata yang pas untuk mengungkapkan hal ini pada Sabrina.
Menahan sebuah rahasia besar bukanlah hal yang mudah, apalagi jika rahasia itu tentang kehidupan orang yang sangat ku cintai, wanita yang telah melahirkan putri kecilku, Chamomile.
Berbulan-bulan sudah ku rencanakan untuk mencari waktu terbaik agar mudah bagiku mengatakan hal ini, namun nyatanya aku masih belum sanggup, apalagi melihat Sabrina begitu bahagia karena ini adalah saat-saat menggemaskan Chamomile, dia bahkan enggan meninggalkan putrinya itu lebih dari 30 menit.
"Berdasarkan penyelidikan, ayah Sabrina akan mengubah sertifikat kepemilikan perusahaan itu menjadi atas nama dirinya, karena selama ini sertifikat itu hak mutlak Sabrina, sayangnya istrimu itu terlalu polos sampai tidak tau apa-apa," ujar Joe sambil menyilangkan kakinya di sofa panjang.
"Dalam surat wasiat keluarga besarnya, keputusan pemegang sertifikat bisa di rubah jika Sabrina sudah berusia 25 tahun. Dan ...." lanjut Joe menggantung.
"Dan tiga bulan lagi adalah hari ulangtahun Sabrina yang ke 25. Aku tidak sejahat itu merusak hari bahagianya dengan kabar menyedihkan ini, Joe."
"Masih ada waktu, Boss. Pikirkan baik-baik." Joe berlalu pergi menjinjing tas hitam miliknya.
Aku mengacak rambutku kasar, entah bagaimana perasaan Sabrina nanti, aku harus segera menyusun rencana terbaik dan mengantisipasi apapun yang terjadi.
...
__ADS_1
Sore yang indah di hari minggu. Aku, Sabrina dan gadis kecil kami menikmati waktu santai di dalam kamar.
"Sayang ...."
"Ya, ada apa, Honey? kau terlihat tegang sekali," jawab istriku santai. Dia belum tau saja jika keringat di dalam tubuhku ini hampir banjir.
"Aku mau bicara serius, Sayang." Ku usap keringat yang menetes di dahi, menghela nafas panjang demi meredakan kegugupan.
"Ada apa?"
"Titipkan Chamomile pada Miriana, kita harus bicara serius." Meriana adalah pengasuh Chamomile yang hanya bertugas membantu Sabrina jika sudah sangat kerepotan. Membiarkan Chamomile bersama orang lain dulu untuk mengantisipasi reaksi Sabrina setelah mengetahui kebenaran ini adalah hal penting.
"Jangan membuatku takut, apa kau akan mengatakan punya simpanan lain sampai kau menyuruhku untuk menjauhkan Chamomile, kau takut aku mengamuk, Honey?"
Deg, jantungku hampir saja lepas karena tebakan Sabrina, wanita itu selalu saja suka menebak-nebak hal yang menyakiti hatinya, heran.
"Tidak, Sayang. Bukan seperti itu."
"Ya sudah, katakan saja, Honey. Aku akan mendengarkan sambil menyusuai Chamomile, dia sangat mengantuk karena lelah bermain seharian."
Baiklah, ini sudah saatnya, kebenaran harus terungkap. Ku hirup nafas perlahan, mencari oksigen lebih untuk mengisi paru-paruku yang sedang sesak.
"Kau dan adikmu, Safira. Kalian sangat berbeda, apakah itu bukan hal yang aneh?" tanyaku lagi.
"Saudara tidak harus mirip, Honey. Kenapa kau jadi membahas Safira? kau ada hubungan dengan Safira?" tanyanya ketus, matanya melotot menatapku tajam, kemudian beralih kembali pada Chamomile.
Sungguh, membicarakan wanita lain di depan istriku selalu memacu adrenalin, aku bisa lekas mati kalau dia terus menerus membuat jantungku melompat tak karuan.
"Bukan, bukan seperti itu. Kalian seperti bukan ... saudara kandung."
Sabrina mengalihkan tangannya dari pipi Chamomile, ia kembali menatapku.
"Apa maksudmu, Honey? kau tau sesuatu yang tidak aku ketahui?"
"Sebenarnya ... kalian memang bukan saudara. Kalian bukan anak kandung dari dua orang yang kalian sebut sebagai ayah dan ibu."
"Jangan bergurau, Honey. Itu tidak lucu!" pekik istriku, ia tampak gusar, dadanya mulai naik turun menahan sesak.
"Aku dan Joe sudah menyelidiki semuanya, semua asal usul kau dan Safira. Maafkan aku, Sayang. Kau memang harus tau meskipun ini semua menyakitkan," kataku pelan, ku lihat ia tidak menangis, hanya meraba dadanya yang mungkin terasa nyeri.
__ADS_1
"Aku tidak akan mudah percaya jika tidak mendengar semuanya dari mulut ayah dan ibuku, mereka sangat menyayangiku, tidak mungkin jika aku bukan anaknya," ujar Sabrina dengan bibir bergetar.
Aku berjalan menuju meja riasnya, mengambil tumpukan kertas berisi salinan yang Joe dapatkan dari panti asuhan tempat Sabrina semula.
Aku menyerahkan beberapa lembar bukti pengalihan hak asuh dari panti asuhan itu kepada kedua orang tua angkat Sabrina. Wanitaku itu meraih kertas dengan ragu, namun sebelum membaca isinya, ia meletakkan Chamomile yang sudah terlelap ke dalam box bayi.
"Tolong tampar aku, Honey. Ini semua hanya mimpi, ini semua tidak nyata." Sabrina bergeming dengan kertas di tangannya, buliran bening menetes deras tanpa aba-aba.
Sebelum tubuhnya ambruk ke lantai, aku segera menopangnya. Dia shock, dia tidak sadarkan diri.
...
Berhari-hari setelah kejadian itu, Sabrina tampak murung. Dirinya hanya menghabiskan waktu di kamar mengurus Chamomile sendiri, bahkan dia sama sekali tidak bernafsu makan, lebih banyak diam dan tiba-tiba menangis tanpa sebab.
Aku begitu merasa bersalah, takut. Banyak hal sudah ku pertimbangkan tentang keputusan ini, namun semua harus di ungkapkan. Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akan tercium pula pada akhirnya, suka ataupun tidak, memang itulah kebenarannya.
Sudah ku ceritakan padanya semua tentang Safira, dia juga bukan anak kandung dari keluarganya, gadis itu di ambil dari sebuah panti asuhan yang berbeda dengan Sabrina, jauh dari kota ini, sedangkan Sabrina di ambil dari panti asuhan yang dekat dengan perusahaan milikku.
Ibu Sabrina sudah di vonis mandul sejak 5 tahun pernikahannya, maka mereka memutuskan untuk mencari anak angkat demi bisa mendapatkan perusahaan besar milik keluarga sang ayah, namun ayahnya memberi syarat mengalihkan sertifikat perusahaan atas nama Sabrina, karena mereka takut jika Sabrina tiba-tiba kembali di buang begitu saja.
Kemudian ibu Sabrina tidak puas hanya memiliki seorang anak, maka mencarilah anak angkat baru, yaitu Safira.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terkedjoet nggak kalian ??
__ADS_1
Novel ini akan tamat dalam beberapa bab kedepan, terus ikuti kelanjutannya yaaa ...