TUAN TAMPAN (Late In Love)

TUAN TAMPAN (Late In Love)
Menyiapkan kejutan


__ADS_3

Sebenarnya hari ini aku sangat kesal, kesal sekali pada laki-laki yang sudah pergi tiba-tiba di pagi buta, entah kemana dan ada keperluan apa sampai dia lupa berpamitan bahkan hanya sekedar memberi kabar.


Namun setelah tau tujuannya pergi dan kejutan makan malam yang istimewa, aku begitu menyesal sudah berpikir macam-macam tentangnya.


Akhirnya, makanan yang beberapa hari ini terus terbayang-bayang olehku sudah ku nikmati malam ini, aku bahkan tidak membayangkan bagaimana perjuangan suamiku untuk datang ke kampung bi Ijah hanya demi membawanya kembali ke kota ini.


"Terimakasih untuk malam ini, Sayang," ujar laki-laki tak berbusana yang kini berbaring sambil memelukku.


Jika bukan karena kejutan yang sudah ia siapkan dengan susah payah, aku tidak akan mau berolahraga malam ini, karena perasaan dongkol seharian karenanya masih membekas. Seharusnya dia kan ngomong?


Ah, sudahlah.


Setelah pergulatan panjang yang cukup menguras tenaga, aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Entah kenapa, semenjak hamil aku tidak suka tidur memakai selimut, panas dan gerah meskipun AC selalu menyala.


Setelah usai melakukan ritual di kamar mandi sebelum tidur, aku kembali ke kasur, menatap laki-laki yang sudah terpejam dan terbang ke alam bawah sadarnya.


"Terimakasih, Honey. Terimakasih sudah menjadi suami terbaik, love you," lirihku di dekat telinganya, lalu ku cium pipi laki-laki itu dengan lembut.


...


Pagi ini aku bangun lebih awal dari suamiku. Suasana pagi yang sangat cerah membuat sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden dan mengenai tubuhnya. Dengan sigap aku menaikkan selimut yang hanya menutupi kaki dan sebagian perutnya ke atas dadanya.


Dia pasti lelah, perjalanan menuju kampung bi Ijah tidaklah dekat, biasanya dia selalu menyuruh orang lain untuk membereskan pekerjaannya, namun demi diriku, dia rela turun tangan menjemput sendiri bi Ijah ke sebrang pulau sana.


"Selamat pagi, Sayang," ujar laki-laki itu sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Selamat pagi, Honey." Ku dekatkan wajah kami, lalu ku cium sekilas pipinya yang bersemu merah. Dia tampak begitu bahagia pagi ini.


Tentu saja, dia kan sudah mendapat jatahnya semalam.


"Hmm, sedang apa bayi kecil daddy? hah?" Dia mendekatkan wajahnya ke perutku.


Setiap pagi, setiap hari, bahkan setiap saat ia selalu senang mengobrol dengan si kecil di dalam sana. Terkadang, setiap kali ia mengelus perutku, seakan bayi kecilku tau jika itu ayahnya, dia refleks menendang dengan kencang.


"Jangan rewel, ya, Baby. Jangan buat mommy kesusahan, jadilah anak baik."


Aku mengusap pelan rambut suamiku, ia tampak begitu bersemangat menyambut kehadiran bayi kecil di tengah-tengah keluarga ini. Begitupun papa mertuaku, hampir setiap hari ia menelfon untuk memberi nasehat dan menanyakan kabar kesehatanku.


Aku beruntung, orang-orang baik mengelilingi hidupku.


"Mandilah, akan ku siapkan air hangat," perintahku.


Keadaanku sudah membaik, aku bisa beraktifitas seperti biasa meski dengan perut dan tubuh yang semakin melar, namun aku tetap berusaha melakukan semuanya sesuai nasehat dokter.


"Tidak perlu, Sayang. Aku bisa melakukannya sendiri," tolaknya halus.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Honey. Kau tunggu sebentar, ya." Aku beranjak dari kasur, lalu menyalakan keran air di kamar mandi untuk mengisi bath up.


"Mandilah bersamaku." Tiba-tiba lengan kekar itu sudah memelukku dari belakang, kini ia menyandarkan kepalanya di pundakku, hembusan nafasnya jelas membuat merinding tubuhku.


Mendengar permintaan mandi bersama, sudah pasti akan ada sesuatu yang akan terjadi, sesuatu yang .... Ah, sudahlah.


"Tidak, Honey. Kau mandi saja dulu, aku akan menyiapkan pakaian untukmu."


"Jangan menolak ku," ujarnya sedikit berbisik, kini kedua tangannya sudah mencari sesuatu yang akan menjadi awal pertempuran sengit pagi ini.


"Kau belum puas? kita sudah melakukannya semalam," kataku.


"Sedikit saja, Sayang. Ku mohon ...."


Melihat wajahnya yang begitu tampan nan menggoda, aku tak bisa menolak, akhirnya ku pasrahkan diriku untuk yang kesekian kalinya padanya, tanpa penolakan, tanpa pemberontakan, aku menikmatinya.


...


Sarapan kedua kami sudah terhidang lengkap di atas meja, kali ini sepertinya bi Ijah yang menentukan semua jenis makanan ini, terlihat dari banyaknya olahan daging dan sayur yang bermacam-macam.


Usai sarapan, aku langsung mengantarnya sampai ke depan pintu utama, kebiasaan yang ku jalankan setiap hari jika tubuh ini terasa sehat.


"Kabari aku jika sudah sampai, Honey," kataku.


"Tentu saja, Sayang. Jaga diri baik-baik di rumah, jangan lupa minum vitamin dan obatnya."


Ku lambaikan sebelah tangan saat mobilnya sudah melaju meninggalkan pekarangan luas rumah ini. Sungguh, sebenarnya aku tidak suka berjauhan dengannya, namun apa di kata, pekerjaannya harus terurus.


"Bi, bibi berapa lama tinggal disini?" tanyaku pada bi Ijah yang sedang berdiri di dekatku.


"Seminggu, Non. Tuan Arga yang minta," jawabnya.


"Apa sudah izin ayah dan ibuku?"


"Sudah, semalam saya kirim pesan ke nyonya."


"Oh, ya sudah, Bi. Terimakasih sudah mau balik kesini secara mendadak, ya. Aku jadi tidak enak sama bibi."


"Ah, jangan seperti itu, Non. Bibi juga malah seneng, jadi punya pengalaman naik helikopter," ujar bi Ijah sambil senyum-senyum.


"Hah? naik helikopter?" Aku melongo.


"Non Sabrina tidak tau, ya. Kemarin tuan Arga itu jemput bibi bawa helikopter. Rasanya bibi udah jadi permaisuri aja yang di jemput pangeran naik helikopter gitu. Duh, bibi deg-degan, Non," jawab bi Ijah mesem-mesem.


"Oh, ya sudah, Bi. Aku balik kamar dulu, ya," pamitku.

__ADS_1


Bi Ijah mengangguk, lalu kembali ke kamarnya. Selama di rumah ini, bi Ijah di tempatkan di kamar tamu nomor 2, kalau kamar tamu nomor satu hanya boleh di tempati papa mertua saat berkunjung ke rumah ini.


Setiap hari aku hanya bermalas-malasan di dalam kamar, namun karena aku sedang sangat senang, jadi ku putuskan untuk mengunjungi suamiku di kantornya, lagipula seumur-umur aku belum pernah menginjakkan kaki di sana.


"Salimah, aku mau masak untuk makan siang tuan, ya," ujarku pada Salimah yang tengah sibuk di mejanya.


"Jangan, Nona. Tuan melarang nona untuk melakukan aktifitas berat, silahkan katakan apa yang ingin nona masak, koki akan mengerjakannya."


"Tidak mau. Aku mau masak istimewa untuknya, sebentar lagi aku akan ke kantornya membawa makan siang."


"Tapi ...."


"Sudahlah, Salimah. Apa kau mau aku darah tinggi karena marah-marah padamu?"


"Eh, tidak-tidak."


"Ya sudah, aku mau masak sendiri. Jangan ada yang menggangu!" ancamku. Dengan berjalan lenggak-lenggok aku menuju dapur, memasak capcay kuah kesukaannya.


Hanya membutuhkan waktu 30 menit, masakan sudah siap di sajikan, sambil menunggunya dingin, aku menyiapkan kotak makan berukuran sedikit besar untuk porsi makan kami berdua.


"Jangan katakan pada tuan kalau aku akan datang ke kantornya, Salimah," ujarku sedikit mengancam.


"Tapi, nanti tuan marah, Non." Salimah terlihat bingung, sekaligus takut.


"Itu akan jadi urusanku, yang terpenting jangan katakan apapun padanya, aku akan memberi kejutan."


"Baik, Non. Saya akan suruh si Bimo untuk mengantar nona."


"Oke, aku akan bersiap sebentar, ya. Tolong bawa kotak makan ini sekalian ke mobil," pintaku.


Aku berdandan cantik dengan memakai dress selutut tanpa lengan berwarna putih, perut buncitku nampak terlihat ketara karena ukuran dress yang ketat membentuk lekuk tubuhku, namun karena kain yang melar dan dingin, maka tubuhku akan tetap merasa nyaman.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2