
Usai sarapan pagi, aku langsung berangkat bekerja diantar bang Bimo seperti biasa. Hari ini aku kurang bersemangat, karena tuan Arga akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk di kantor dari pada berada di rumah.
Saat sampai di butik, semua teman karyawanku sudah bekerja seperti biasanya.
"Ni, ikut aku ke atas yuk," ajakku pada Riani.
"Sebentar Sa, kamu naik aja dulu nanti aku nyusul kok," jawab Riani, dia masih sibuk merapikan beberapa gulungan kain yang baru datang.
Aku meletakkan tasku di atas meja, lalu memilih keluar menuju balkon untuk menyiram tanaman-tanaman favoritku.
"Ada apa, Sa?" tanya Riani menepuk pundakku.
"Tidak ada apa-apa, aku cuma ingin ngobrol saja, Ni." Aku menyudahi kegiatan siram-menyiramku.
"Kenapa wajahmu kusut begitu, ada masalah apa?" tanya Riani sambil menatapku penasaran.
"Ah, tidak ada apa-apa, Ni. Cuma, aku lagi sedih aja."
"Cerita dong, Sa. Kita ini sudah sahabatan dari lama, kamu bisa berbagi cerita denganku," ujar Riani antusias.
"Aku, bingung." Aku mendudukkan pantat bahenolku dengan kasar diatas sofa.
"Kenapa?"
"Kau tau tuan Arga, suamiku. Awalnya aku sungguh sangat membencinya, tapi kenapa sekarang aku jadi sedih dia akan menghabiskan banyak waktunya untuk bekerja dari pada di rumah," ujarku mengeluh.
Seketika Riani tertawa sangat keras bahkan mulutnya menganga begitu lebar, menampakkan semua gigi dan bagian dalam mulutnya dengan jelas.
"Kenapa kau jadi tertawa? Apa kau tidak kasihan padaku?" Aku mengerucutkan bibir.
"Ya, ya, ya. Aku sangat kasihan padamu, Sa. Bagaimana mungkin kau tidak menyadari kalau dirimu itu sedang falling in love." Riani masih melanjutkan tertawanya, kali ini dia sedikit menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Aku tidak jatuh cinta, Ni. Mana mungkin aku jatuh cinta dengan laki-laki egois, sombong dan tidak berperasaan seperti tuan Arga. Kau pasti tau sendiri, bagaimana sikapnya saat pertama kali datang ke sini."
"Awalnya aku juga terkejut, bagaimana bisa kau menikah dengan laki-laki setampan itu. Hahaha," ucap Riani masih di bumbui tawa meledek.
"Ini bukan soal ketampanan, ini soal sifat dan perasaan." Aku menyandarkan punggungku di sofa.
"Kau ini wanita, Sa. Kamu cantik, kalau kau bisa merebut hatinya, dia akan seperti kucing yang lucu dan menggemaskan, kau bisa merubahnya menjadi lebih baik." Riani ikut duduk di sampingku.
"Bagaimana caraku membuatnya berubah?" Aku memasang wajah penasaran.
"Rebut hatinya, kau harus mendapatkan perhatiannya," ujar Riani enteng.
"Contohnya?"
"Berdandan cantik di depannya, memakai pakaian menggoda untuk membuatnya tertarik, bersikap lemah lembut dan manja, dan jangan lupa, beri dia kepuasan di atas ranjang, itu kunci utama." Riani berbicara seolah-olah menjadi guru pembimbing rumah tangga.
__ADS_1
"Kira-kira aku harus memulainya dari mana, Ni?"
"Apakah nanti malam suamimu pulang ke rumah?" tanya Riani.
"Ya, tapi mungkin sampai tengah malam," jawabku.
"Jadi---." Riani menarik bahuku, mendekatkan telingaku di bibirnya lalu membisikkan hal gila yang harus aku lakukan nanti malam.
"Kau gila? aku tidak mau, memalukan sekali, mau di taruh di mana mukaku kalau sampai melakukan hal seperti itu!" Aku mendengus kesal.
"Terserah, aku kan hanya memberi saran, kalau kau tidak mau, ya sudah. Aku masih banyak pekerjaan, Sa."
"Ya sudah, pergilah!" Aku kesal.
"Aku jamin, saranku tadi akan membuat suamimu klepek-klepek, Sa. Hahaha," ucap Riani sambil berjalan meninggalkanku keluar ruangan.
Aku sudah tidak berniat bekerja pagi ini, mood ku sedang tidak baik. Aku hanya mondar mandir di ruanganku sambil bermain game cacing-cacingan tanpa menyentuh kertas dan pensil sama sekali untuk menggambar.
Percuma saja, aku bahkan sudah buntu ide, pikiranku hanya di penuhi dengan tuan Arga. Laki-laki itu seperti sudah merasuki pikiranku sampai ke intinya. Sampai-sampai untuk nyemil pun aku tidak berselera.
...
Aku memutuskan untuk pulang jam tiga sore, langsung menuju rumah tanpa mampir ke mana-mana.
Sesampainya di rumah, aku langsung mambersihkan diri dan mengganti pakaianku. Lalu berbaring sebentar untuk melepaskan penat seharian penuh.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Nona, ini sudah waktunya makan malam," ucap Salimah di depan pintu.
"Loh, memangnya ini jam berapa, Salimah," tanyaku terkejut, karena aku merasa baru tertidur beberapa jam.
"Ini sudah jam 7 malam, Nona."
"Baiklah, apakah tuan Arga sudah pulang?" tanyaku penuh harap.
"Belum, sepertinya nanti tengah malam," jawaban Salimah membuat hatiku tergores.
"Ya sudah, sebentar lagi aku akan turun."
Salimah pergi seiring aku menutup pintu. Aku kembali merebahkan diriku sejenak, mengumpulkan kesadaran yang belum genap.
Usai merasa lebih baik, aku segera turun untuk makan malam, sendirian. Ah, menyebalkan sekali.
...
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, ini sudah tengah malam, namun belum ada tanda-tanda kepulangan tuan Arga.
__ADS_1
Bahkan aku rela tidak tidur sampai saat ini hanya untuk menunggunya, sungguh aku benci menunggu sesuatu yang tidak pasti.
Sekilas aku teringat saran yang Riani berikan tadi siang di butik.
Apa aku harus mencobanya, Ya. Siapa tau tuan Arga bisa berubah lebih lembut dan aku bisa membuatnya memiliki perasaan padaku.
Sampai saat ini, aku masih mengenakan piyama panjang, usai berpikir matang-matang, aku menuju ruang ganti dan memilih untuk berganti pakaian dengan lingerie hitam favorit tuan Arga.
Saat aku masih mengganti pakaianku, terdengan suara seseorang masuk ke dalam kamar.
"Sabrina, kau dimana?" teriak laki-laki yang sudah ku tunggu kedatangannya di balik pintu ruang ganti.
Dengan jantung deg deg ser, aku membuka pintu ruang ganti dan menghampirinya. Aku sudah mengenakan lingerie dan menyemprotkan sedikit parfum di bagian leher dan beberapa bagian tubuhku lainnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya tuan Arga dengan wajah polos, dia masih mengenakan kemeja lengkap dengan setelan jasnya.
Aku tidak menjawab pertanyaannya, ku dekatkan tubuhku padanya dengan gaya sedikit genit, pelan-pelan ku buka kancing jas itu dengan lembut.
Laki-laki itu menatapku heran, tapi aku tidak peduli, aku sedang mencoba melakukan saran yang di berikan oleh Riani, aku harus tau jika ini akan berhasil atau tidak.
Aku melepaskan jas hitamnya lalu membiarkannya teronggok begitu saja di lantai, kemudian melucuti kancing kemeja putihnya dengan jantung yang semakin tak karuan, jika saja jantung ini tidak tertanam permanen di dadaku, mungkin dia akan melompat dan berjoget kegirangan.
Aku merasakan degup jantung tuan Arga juga tak kalah heboh denganku, sepertinya jantung itu sedang berdisco di dalam sana.
Usai bagian atas terlepas dengan sempurna, aku membelai dada bidangnya dengan lembut, meraba setiap inci kulitnya, menghamburkan beberapa kecupan dan meninggalkan bekas lipstikku di beberapa area.
Aku bisa merasakan nafas tuan Arga yang ngos-ngosan, terlihat dari dada dan bahunya yang sedikit naik turun penuh semangat.
Ciuman panas ku luncurkan dengan cepat menuju bibirnya yang basah, dia tidak tinggal diam dengan perlakuanku, dia membalas ciumanku tidak kalah ganas, dia mengabsen seluruh isi mulutku dengan lidahnya.
Sedangkan tanganku mulai sibuk melepas ikat pinggang yang masih menempel di tubuhnya, lalu membuka resleting celana kain berwarna hitam itu untuk mempermudah jalan kami menuju surga dunia.
Ah, aku pasti sudah gila sekarang, aku sudah benar-benar gila. Bagaimana bisa aku melakukan saran bodoh yang di berikan Riani.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung 😂😂