
Aku merasakan tangan dingin menepuk pipiku berkali-kali. Kemudian sebuah sinar matahari membuatku memaksakan diri untuk membuka mata karena silau.
"Kau bermimpi?" tanya Claire, dia duduk di pinggir kasur dekat denganku.
"Apa?" tanyaku bingung, sukmaku bahkan belum terkumpul sempurna.
"Kau mengigau, Sa. Lihat, bantalmu sampai basah karena kau mengigau sampai menangis," ujar Claire menunjuk bantal yang aku pakai.
"Maafkan aku, Claire. Aku---."
"Kau memimpikan Arga?" sela Claire, lagi-lagi dia bisa menebak pikiranku dengan benar.
"Aku akan mengantarkanmu kembali pulang," lanjutnya.
"Hari ini?" tanyaku.
"Tentu saja, aku sudah tidak tahan melihatmu terus murung, apalagi semalam aku mendapatkan kabar bahwa keadaan Arga semakin memburuk," ujar Claire sambil merapikan beberapa pakaian untuk di masukkan ke dalam koper.
"Dia sakit?" Aku mulai panik.
"Yang jelas dia sedang dalam keadaan tidak baik, Sa. Bersiap-siaplah, pesawat akan berangkat siang ini."
"Baiklah."
Aku langsung memutuskan untuk mandi dan bersiap.
...
Usai kami bersiap, Claire langsung mengajakku sarapan terlebih dahulu di sebuah restoran dekat apartemen miliknya, dengan tergesa-gesa kami melahap habis masing-masing isi piring kami.
Entahlah, rasanya aku begitu bersemangat untuk kembali pulang, aku tidak tau apa yang mendorong hatiku untuk yakin bahwa pulang adalah keputusan terbaikku saat ini, namun mendengar penjelasan Claire, membuat hatiku terasa perih. Tuan Arga sedang tidak baik-baik saja saat ini, dan semua ini karena salahku.
Kami menaiki salah satu taksi yang sudah berjejer rapi di halaman dekat apartemen, sepanjang jalan aku terus diam, memikirkan keadaan tuan Arga saat ini. Perasaan bersalah begitu berkecamuk di dalam hatiku.
"Ada apa, Sir?" tanya Claire pada sopir taksi itu, karena mobil berhenti cukup lama di sebuah lampu merah.
"Ada kecelakaan, tidak di perbolehkan lewat sebelum proses evakuasi korban selesai, Miss," jawab sopir itu.
"Kami sedang buru-buru, bisakah kita mencari jalan alternatif agar cepat sampai ke bandara?" tanya Claire.
Setelah itu sopir taksi memperhatikan keadaan sekitar, kemacetan yang cukup padat tidak memungkinkan mobil berbelok atau bahkan berputar arah.
"Kita bisa ketinggalan pesawat, Claire," kataku resah. Ada-ada saja kejadian menjengkelkan seperti ini.
"Tenanglah, aku sedang berpikir," jawab Claire, kepalanya di keluarkan dari kaca jendela mobil.
Usai beberapa menit Claire bolak-balik memperhatikan sekitar, dia melirik sebuah jam kecil berwarna hitam di pergelangan tangannya.
"Tidak ada jalan lain, kita harus jalan kaki sampai di ujung kemacetan ini, Sa. Nanti kita akan cari taksi lagi," ujar Claire. Dia lalu meminta sopir taksi mengeluarkan koper miliknya dari dalam bagasi mobil dan membayar tagihan.
__ADS_1
Akhirnya kami memutuskan berjalan kaki sampai melewati proses evakuasi korban kecelakaan itu, sampai hampir satu kilometer jauhnya. Betisku sudah terasa linu, mungkin ini karena efek aku malas berolahraga, sedangkan Claire yang memakai sepatu biru berhak tinggi sekitar lima belas centimeter itu masih bisa berjalan begitu cepat sambil menyeret koper besar miliknya. Aku bahkan was-was melihat kaki jenjangnya, takut dia kesleo.
Setelah cukup jauh, jalanan di depan kami mulai lancar. Claire segera mencari taksi untuk melanjutkan perjalanan.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang, tapi tidak ada satupun taksi yang lewat di depan kami. Aku mulai resah, mondar mandir sambil terus melihat jam di pergelangan tanganku.
Sedangkan Claire, dia terus mengawasi jalanan yang sepi.
Kami mulai putus asa, tidak ada satupun taksi yang terlihat, padahal jam keberangkatan pesawat kurang dari satu jam lagi, dan perjalanan kami masih membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di bandara.
Claire mengajakku duduk di kursi hitam yang terletak tepat di pinggir jalan.
"Tenang, Sa. Kau akan pulang, kita tidak akan terlambat," ujar Claire yakin. Tangannya sibuk mengotak-atik ponselnya.
Aku hanya mengangguk menatapnya khawatir, di kota sebesar ini untuk mendapatkan taksi saja sangat sulit, padahal kalau di tempatku, naik ojek juga bisa menjadi alternatif yang cukup baik dalam keadaan genting seperti saat ini.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depan kami, dari dalam mobil keluar seorang laki-laki bertubuh gagah bak binaragawan dengan kumis dan jambang yang menghiasi wajah machonya.
"Hallo, Claire sayang. Aku akan mengantarkan kemanapun kau pergi, Sayang," ujar laki-laki itu dengan gaya sedikit centil, lalu berhambur memeluk tubuh ramping Claire.
Claire menyambut pelukan laki-laki itu dengan senyum yang mengembang, mereka bahkan cipika cipiki di hadapanku.
Apa aku tidak salah lihat?
Laki-laki itu, aneh.
Dengan cepat aku dan Claire masuk ke dalam mobil dan melesat menembus jalanan yang masih lenggang.
Setelah sampai di bandara, Claire kembali cipika cipiki dengan laki-laki itu sebagai tanda perpisahan, sedikit aneh rasanya melihat adegan tersebut.
Kami sampai tepat lima belas menit sebelum pesawat lepas landas, meskipun kita sedikit terlambat, atas bantuan orang-orang yang Claire kenal di bandara tersebut membuat perjalanan kami lancar tanpa hambatan.
...
Senja sudah menyambut kepulangan ku dengan banyak rindu yang sudah tumpah ruah.
Aku memesan sebuah taksi online untuk mengantarkan kami menuju rumah tuan Arga. Selama perjalanan, aku terus melamun, membayangkan reaksi laki-laki itu saat pertama kali melihat kehadiranku.
Apakah dia akan marah karena aku pergi meninggalkannya?
Apa yang akan dia lakukan setelah melihatku, bagaiman keadaannya saat ini?
Pertanyaan-pertanyaan yang belum memiliki jawaban tersebut terus berputar-putar di kepalaku.
"Kau tidak ingin makan dulu, Sa?" tanya Claire, kami baru sampai setengah perjalanan.
"Aku belum lapar, Claire," tolakku halus. Sejujurnya aku memang lapar, aku dan Claire hanya makan sekali hari ini, perjalanan pulang yang tidak mulus membuat kami melewatkan makan siang.
"Baiklah, sepertinya kau sudah tidak sabar bertemu dengannya," ucap Claire tersenyum.
__ADS_1
Aku tidak menjawab, membiarkan wanita di sampingku bermain dengan pikirannya sendiri, tanpa jawabanku, dia pasti sudah mengerti apa yang ada dalam hatiku saat ini.
...
Mobil taksi telah sampai di depan pagar besar rumah tuan Arga. Setelah aku membayar tagihan kami, sopir taksi membantu mengeluarkan koper besar milik Claire dari dalam bagasi mobil.
Dua satpam yang berjaga di gerbang utama begitu terkejut melihat kepulanganku, mereka tersenyum cerah sambil menundukkan kepala sopan.
"Selamat datang kembali, Nona," ucap mereka berbarengan.
Aku tau, pasti banyak hal yang sudah aku lewatkan selama ini. Aku meneruskan langkah kakiku memasuki halaman rumah dengan gugup.
Tanganku gemetar, aku mengetuk pintu besar bercat putih itu, terdengar seseorang berlari kecil mendekat untuk membukanya.
"Nona, ya Tuhan," ujar Salimah lalu memeluk tubuhku erat, mata wanita itu langsung berkaca-kaca menatapku.
"Maafkan atas kelancangan saya memelukmu, Nona. Kami begitu kehilanganmu," ujar Salimah setelah beberapa detik melepas pelukannya.
"Aku ingin menemui tuan," kataku sambil tersenyum.
"Tuan, ada di dalam kamarnya, silahkan masuk, Nona."
"Terimakasih, Salimah. Tolong antarkan Claire ke kamar tamu, ya," pintaku.
Setelah itu, aku langsung menaiki anak tangga menuju kamar tempat aku dan tuan Arga biasa memadu kasih setiap malam.
Pintu kamar itu tidak tertutup rapat, membuatku bisa mendapatkan celah untuk mengintip keadaan di dalamnya.
Aku membuka pintu dengan sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun, melangkahkan kaki ini masuk ke dalam kamar membuat jantungku berdegup tak karuan, aku gugup.
Ku lihat tuan Arga sedang duduk di sofa favorit kami dengan menatap langit yang mulai gelap, aku tertegun sesaat.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1