
Bang Bimo mengantarku sampai ke depan pintu utama gedung, seorang satpam dengan ramah menyambutku.
"Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam itu.
"Ya, selamat pagi. Saya mau bertemu dengan tuan Arga," ujarku.
"Silahkan bertanya ke resepsionis terlebih dahulu," jawab satpam itu sambil membuka pintu, sedangkan bang Bimo pergi memarkirkan mobilnya.
Hah, kenapa aku harus bertanya dulu ke resepsionis?
Aku pun bingung, melihat gedung perkantoran sebesar dan semegah ini membuat nyaliku ciut untuk mengakui diri sebagai istri dari sang pemilik tempat ini, mana mungkin ada orang yang percaya jika diriku yang bulat ini adalah istri seorang Argadiansyah.
"Maaf, Mbak. Bisa saya bertemu dengan tuan Arga, saya istrinya," ujarku percaya diri menyapa resepsionis yang duduk di belakang mejanya.
"Tuan Arga siapa yang nona maksud?" tanya wanita dengan rambut hitam sebahu itu, ia nampak memperhatikan tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki, seolah tidak percaya.
"Argadiansyah Wijaya."
"Maksudnya, tuan Arga pemilik perusahaan ini?" tanyanya sambil mengerutkan dahi.
"Ya, bisa saya bertemu? saya mau memberikan kejutan," kataku.
Sesaat kemudian, wanita bermake up tebal itu menoleh ke belakang, dan ternyata di dinding itu terpampang foto pernikahanku dengan suamiku, tepat di samping tulisan berwarna emas sebagai simbol Wijaya Group.
Wanita itu sepertinya sedang memindai diriku, menyamakan dengan wajah wanita yang sedang di gandeng suaminya di dalam foto tersebut.
"Apakah anda, nona ...." Belum sempat resepsionis itu melanjutkan kata-katanya, pandangan kami teralih pada suara ribut-ribut beberapa orang yang berjalan mendekat.
"Lepaskan! lepaskan!" teriak wanita itu, rambutnya tampak berantakan dengan baju yang sedikit kusut. Dua laki-laki berbadan tegap memegang kedua lengan wanita yang sedang memberontak dan berteriak.
"Hana," lirihku.
"Nona, kenapa kau ada di sini?" sapa Joe, dia ternyata berdiri di belakang Hana dan kedua pengawal itu.
"Eh, aku mau memberi kejutan pada suamiku, apakah dia sedang sibuk?" tanyaku, sekilas ku lirik wajah Hana yang tampak begitu marah, dia sedang memfokuskan pandangannya pada perut buncitku.
"Tidak, dia tidak akan pernah sibuk jika berurusan denganmu, pengawal akan mengantarmu, aku sedang sibuk membereskan wanita ini," ujar Joe sambil melirik ke arah Hana.
"Kau masih punya nyali untuk bertemu suamiku?" tanyaku melempar tatapan sinis ke arah wajah cantik Hana, si wanita ular yang pernah merenggut calon buah hatiku.
"Dasar kau, wanita jal*ng!" makinya, dia memberontak dengan kaki yang hampir ia ayunkan untuk menendang tubuhku. Beruntung, kali ini aku lebih waspada hingga mampu menghindar dengan cepat.
PLAK!!!
Satu tamparan keras dari Joe mendarat di pipi Hana, wanita itu meringis kesakitan dengan tatapan mata bengis ke arahku.
"Jaga mulutmu, kau harus sadar sedang berbicara pada siapa kali ini," ancam Joe. Laki-laki itu terlihat sangat marah dengan sorot mata membunuh.
"Bawa dia!" perintah Joe kepada dua pengawalnya yang dengan kuat menahan tubuh Hana.
"Tunggu!" Aku mencegah, aku sangat ingin tau apa mau wanita licik ini, tidak sadarkah ia kalau sudah benar-benar kalah.
"Kenapa, Nona?" tanya Joe penasaran.
__ADS_1
"Dia ingin menemui suamiku? bawa saja dia ke ruangannya, aku akan ikut," kataku.
"Hah, untuk apa? Boss tidak akan suka jika nona membawa wanita ini bertemu dengannya."
"Aku ingin tau apa tujuannya datang ke sini."
Dengan berat hati, Joe meng-iyakan permintaanku, kami berlima masuk ke dalam lift menuju ruangan paling atas gedung ini.
Padahal siang ini aku berniat memberikan kejutan pada suamiku, namun rasanya malah aku yang terkejut. Entah sebuah kebetulan macam apa sampai aku kembali melihat wajah wanita ular itu disini.
Setelah sampai di depan sebuah ruangan, aku masuk lebih dulu, dan meminta yang lain untuk tetap di luar sampai aku memberikan kode.
Tampak tatapan kebencian Hana seolah menghujam jantungku, aku tidak peduli, kau harus ikuti permainanku saat ini.
Ku buka pintu pelan tanpa mengetuk terlebih dahulu, laki-laki tampanku berdiri di depan kaca besar menghadap luar, ia tidak menyadari kedatanganku, sat tangannya menyandar di kaca sambil satu tangan lainnya sibuk dengan ponsel miliknya.
Sesaat kemudian, ponsel di dalam tasku bergetar.
Dengan cepat ku peluk laki-laki itu dari belakang, ia terkejut dan langsung membalikkan badan.
"Sayang ... Kau, membuatku kaget," ujarnya sambil mengelus dada.
"Kenapa melihatku seperti itu? kau tidak suka aku datang?"
"Bukan begitu, aku terkejut, Sayang. Ku kira ...."
"Kau mengira aku ini siapa? Hana?" tanyaku.
"Bukan, kenapa kau tiba-tiba membicarakannya, aku baru saja akan menelfonmu, Sayang" Dia langsung mencium keningku hangat.
"Wah, perhatiannya istriku, aku jadi makin cinta," ucapnya manja sambil memelukku erat.
"Honey, ada yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa?"
"Sepertinya, fans beratmu, Honey," kataku lalu berjalan membuka pintu, ku persilahkan orang-orang itu masuk membawa Hana.
Dengan tidak tau malunya, Hana memberontak hebat di dalam ruangan, kedua kakinya menendang laki-laki di samping kanan kirinya sampai keduanya terjungkal.
"Arga, Arga, tolong aku, mereka menyakitiku," ujar Hana sambil memegang lengan suamiku, ia tampak begitu percaya diri sekali.
Arga, suamiku itu sekarang wajahnya sudah merah padam di penuhi amarah, ia tampak geram melihat tingkah wanita ular yang sedang bergelayut manja memohon perlindungan di sampingnya.
"Hana! singkirkan tanganmu!" teriak suamiku. Dengan gugup, Hana mundur beberapa langkah, ia tampak ketakutan.
"Siapa yang mengizinkannya datang kesini, bukankah sudah ku suruh kalian mengusirnya?" tanya suamiku, kedua pengawal di persilahkan menunggu di luar oleh Joe dengan isyarat tangannya.
"Aku yang mengizinkannya, Honey. Aku ingin tau, apa tujuannya datang kemari, merayumu lagi?" Aku tersenyum sinis, sedangkan Joe hanya berdiri sebagai penonton.
"Sayang, bagaimana jika dia menyakitimu lagi," ujar suamiku dengan lembut, ia langsung menarik tubuhku di dekatnya, aku hanya tersenyum.
Ku lihat wajah Hana tampak merah menahan amarah, aku sama sekali tidak ingin membuatnya cemburu dengan menampilkan adegan romantis kami, namun sia-sia juga kehadirannya jika tidak mengetahui kenyataan ini, kenyataan bahwa Arga adalah milikku sepenuhnya.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkah?" tanya suamiku dengan lantang, seketika Hana mendongak mengangkat dagunya beberapa sentimeter menatap lekat ke arah kami.
"Aku ...."
"Cepat katakan, aku tidak punya waktu untukmu."
"Aku butuh bantuanmu, Ga. Perusahaan papaku sudah di ujung tanduk, kami akan segera terusir dari rumah kami, kau harus bertanggung jawab, semua ini karena perbuatanmu," ujar Hana.
"Hahaha, perbuatanku? bukankah ini semua karena ulahmu?"
"Jika kau tidak menyentuh istriku dan merenggut kebahagiaan kami, tentu saja aku tidak akan berlaku sekejam itu, semua yang aku lakukan pada kalian, tidak sebanding dengan apa yang kau renggut dari hidupku," lanjut suamiku.
"Aku akan melakukan apapun asal kau mau memulihkan kembali perusahaan papaku. Tolonglah, Ga, hanya kamu satu-satunya harapan kami," iba wanita tidak tau malu itu.
Aku berdiri di samping suamiku, merangkul lengannya kuat agar ia bisa mengendalikan emosinya, sebenci apapun aku pada Hana, aku tidak akan sampai hati membiarkannya di lukai oleh suamiku sendiri.
"Aku mohon, Ga. Aku mohon, bantu kami."
"Aku akan melakukan apapun untukmu."
"Papa sudah mengusirku, jika aku tidak bisa membuatmu membantu kami, maka aku benar-benar tidak akan di akui sebagai anaknya," lanjut Hana, ia menangis dan berlutut memeluk kaki suamiku.
"Apakah jika aku membantumu, maka kau bisa mengembalikan keadaan seperti semula, sebelum kau menghancurkannya?" tanya suamiku, ia mendorong tubuh Hana yang sedang memeluk kakinya sampai wanita itu tersungkur.
Aku, hanya menonton adegan dramatis ini, bukannya aku ingin berlaku jahat pada Hana, aku hanya memberinya sebuah pelajaran, sesekali wanita dengan kepercayaan diri tinggi dan kesombongan yang agung itu perlu sedikit di rendahkan.
Hana duduk di lantai marmer berwarna kuning keemasan dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Dia menangis tersedu-sedu, membuat hati kecilku sedikit iba.
"Arga, aku akan memberikan segalanya asal kau mau membantuku, apapun itu!"
"Bahkan jika aku harus menjadi istri keduamu," lanjut Hana.
Apa?
Apakah aku tidak salah dengar? Wanita ini, Ya Tuhan, terbuat dari apa isi kepalanya.
Ingin sekali aku tertawa terbahak-bahak mendengar penawarannya, apakah dia sudah tidak waras?
Menawarkan diri menjadi istri kedua sebagai penebus hutang maksudnya? seperti yang kulakukan dulu?
"Wanita edan," lirih Joe dengan diiringi tawa meledek.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ...